MasukSaat itulah sebuah suara mekanis yang telah lama dinantikannya tiba-tiba bergema di dalam benaknya.[Ding!][Perpindahan data Pengguna berhasil terdeteksi. Sistem Komando Tempur Global resmi diaktifkan.]Raka sontak membuka mata. ‘Akhirnya... Sistem Komando Tempur Global juga.’Semangatnya langsung bangkit. Ia tanpa sadar meluruskan punggung dan memusatkan perhatian pada panel transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.[Sistem Komando Tempur Global][Pengguna: Raka Mahendra][Pangkat Militer: Prajurit (Jasa Tempur: 0/1000)][Poin Jasa Tempur: 0][Hadiah aktivasi sedang didistribusikan…][Selamat! Anda memperoleh hadiah aktivasi: 1 Unit Predator Alpha: Phantom.]Raka sempat terpaku. ‘Predator Alpha: Phantom?'Belum sempat ia mencerna informasi itu, gelombang data dalam jumlah besar langsung mengalir deras ke benaknya seperti banjir yang baru saja membuka bendungan.Barulah saat itu Raka memahami bahwa Phantom sama sekali bukan hewan tempur biasa. Makhluk tersebut merupakan unit biolog
"Universitas Bintang Timur sekarang sudah resmi berada di bawah Komando Garuda Selatan. Walaupun statusnya bukan akademi militer, sistem pengelolaannya hampir pasti akan berubah menjadi semi-militer. Kalian sebaiknya mulai membiasakan diri dengan kenyataan itu."Raka berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Selain itu, kurikulum kampus juga kemungkinan besar akan mengalami perubahan besar. Ke depan, hampir semua program pendidikan akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan militer, teknologi, dan pertahanan."Dia menggeleng pelan. "Sebagian besar materi yang selama ini dianggap penting mungkin tidak lagi menjadi prioritas."Setelah mengatur napas sejenak, tatapan Raka berubah lebih tajam. "Kalimat berikut mungkin terdengar tidak enak didengar, tetapi cepat atau lambat kalian juga akan menyadarinya sendiri.""Di masa perang, hal yang paling berharga bukan lagi gelar atau status... melainkan sumber daya.""Sumber daya yang kumaksud bukan hanya senjata atau amunisi," ujar Raka tenang. "Perse
Saat Raka kembali ke asrama, malam telah turun sepenuhnya.Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.Rio membaringkan tubuh di ranjang sambil menatap kosong ke langit-langit. Jefri duduk di depan meja dengan ponsel di tangan, berkali-kali menyalakan dan mematikan layar seolah sedang menunggu sebuah kabar penting. Hanya Bara yang masih berlatih push-up tanpa henti hingga lantai di bawahnya dipenuhi tetesan keringat.Melihat Raka masuk, ketiganya langsung menghentikan aktivitas masing-masing."Raka, Komandan Unit memanggilmu buat apa? Jangan-jangan kamu kena hukuman?" tanya Bara sambil berdiri.Tanpa banyak bicara, Raka meletakkan map coklat yang dibawanya di atas meja.Ketiga orang itu spontan merapat."Surat Persetujuan Rekrutmen Khusus..." Rio membacanya pelan, tetapi suaranya langsung meninggi di akhir kalimat. "Astaga! Raka! Kamu... resmi masuk dinas militer?"Bara buru-buru merebut dokumen itu lalu membacanya berulang kali, seolah takut salah melihat. Ma
Raka segera menoleh dan mendapati Arman telah berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajah komandan unit itu tampak jauh lebih serius daripada biasanya."Rio, Bara. Kembali ke barisan.""Siap!"Keduanya spontan memberi hormat sebelum berlari meninggalkan lokasi tanpa berani bertanya lebih jauh.Kini hanya Raka dan Arman yang masih berdiri di depan gerbang kamp."Komandan Unit." Raka merapatkan tubuh lalu memberi hormat dengan sikap sempurna.Arman tidak langsung berbicara. Tatapannya menyapu Raka dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan sesuatu. Di balik sorot matanya tersimpan rasa bangga, harapan, dan sedikit kepuasan yang nyaris tak terlihat.Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas dokumennya lalu menyerahkannya kepada Raka.Pada bagian depan map itu tercetak huruf merah menyala—RAHASIA.Tatapan Raka langsung berubah serius. Ia membuka map tersebut dan menemukan sebuah dokumen dengan judul besar yang membuat detak jantungnya melonjak
Hari perpisahan tiba jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan semua orang.Tiga hari setelah pengumuman mobilisasi nasional, gelombang pertama daftar mutasi personel resmi diumumkan.Di dalam daftar itu, nama Tiara Adinata tercantum dengan jelas. Mahasiswi tahun kedua Universitas Garuda Nusantara.[Lokasi penugasan : Komando Garuda Selatan, Grup Angkatan Darat Pertama, Kamp Pelatihan Militer Mahasiswa.]Di depan gerbang kamp, sebuah kendaraan off-road militer dengan pelat Komando Garuda Selatan telah menunggu dalam keadaan mesin mati.Tiara sudah mengenakan seragam latihan baru. Rambut panjang yang dahulu menjuntai hingga pinggang kini dipangkas menjadi model pendek yang rapi. Kesan lembut yang biasanya melekat padanya memang berkurang, tetapi sebagai gantinya muncul aura tegas yang membuatnya terlihat semakin gagah dan percaya diri.Barang bawaannya pun sangat sederhana. Ia hanya memanggul sebuah ransel sebelum berdiri tenang di samping kendaraan.Raka, Bara, dan Rio datang untuk m
Universitas tak lagi menjadi tempat mengejar gelar atau membangun karier biasa. Mulai hari ini, kampus akan menjadi tempat mencetak calon-calon perwira dan personel tempur masa depan."Aku tidak bisa menerima ini!" Seorang mahasiswa baru kehilangan kendali hingga berteriak lantang. "Aku mati-matian belajar supaya bisa masuk universitas, bukan untuk dijadikan tentara!"Suara itu menjadi pemicu.Emosi yang sejak tadi dipendam langsung meledak dari berbagai penjuru lapangan."Benar! Kami adalah generasi penerus bangsa! Kenapa justru kami yang didorong ke garis depan?""Aku mau pulang! Aku tidak mau mati!""Ini tidak masuk akal!"Gelombang protes terus membesar.Para instruktur berusaha menenangkan keadaan sambil mengatur kembali barisan, tetapi kepanikan sudah terlanjur menyebar dan sulit dikendalikan.Saat suasana hampir berubah menjadi kacau, sorot mata Jenderal Guntur di layar mendadak mengeras. "Saya memahami bahwa sebagian dari kalian akan merasa takut. Sebagian lagi mungkin tidak s
Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka
Celine terdiam sesaat. Semakin ia memikirkan perkataan Kevin, semakin masuk akal pula rasanya.Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun Raka selalu berada di sekelilingnya. Ia selalu datang ketika dibutuhkan, selalu membantu tanpa banyak bicara, dan hampir tidak pernah benar-benar menolak apa pun y
Tubuhnya sedikit condong ke depan, lalu memanfaatkan berat badannya sendiri untuk menekan mata sekop ke dalam tanah. Setelah itu, ia menggunakan prinsip tuas untuk mengangkat gumpalan tanah dengan usaha seminimal mungkin.Sekilas terlihat lambat, namun energi yang dikeluarkan jauh lebih kecil diban
Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor







