LOGINKanaya menikah dengan pilihan orang tuanya, ia berharap pernikahannya akan berjalan sesuai perkataan ibunya. Hingga ia tersadar, ia berada di atas bara api pernikahan. Devano hanya memanfaatkan tubuhnya. ia tidak benar-benar mencintainya atau lebih parahnya, devano tidak menganggap kanaya adalah istrinya. Hingga suatu saat, kedatangan Seorang pria bernama Arthur mengubah kehidupan kanaya.
View MoreKanaya Hanania adalah seorang gadis desa yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya. Parasnya manis dengan kulit kuning langsat yang bersih. Wajahnya tirus, dihiasi sepasang mata almond yang sendu. Senyumnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.
Kanaya hanyalah lulusan SMA. Beberapa bulan yang lalu, ia menyelesaikan pendidikannya. Kini, ia membantu kedua orang tuanya mengurus kebun jagung milik keluarga.
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Kanaya sedang memetik beberapa tongkol jagung untuk dijadikan menu makan siang. Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju perlahan menuju rumahnya. Jalan itu hanya mengarah ke satu rumah, yaitu rumah keluarga mereka.
Dengan tergesa-gesa, Kanaya berlari masuk ke dalam rumah.
"Ibu... Ibu..." panggilnya dari depan kamar.
Ibunya keluar sambil membawa selembar pakaian yang sedang dilipat.
"Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.
Belum sempat Kanaya menjawab, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Keduanya saling berpandangan sebelum mengalihkan tatapan ke arah jendela.
"Siapa, ya, Bu?" gumam Kanaya.
Ia segera berjalan menuju pintu dan membukanya, sementara ibunya kembali masuk ke kamar untuk merapikan penampilannya.
Mobil itu berhenti. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi, sementara kebaya yang dikenakannya tampak begitu mewah. Seorang pria berseragam berusia sekitar enam puluh tahun turun dari kursi depan, lalu membukakan pintu dan mengantarnya hingga ke teras rumah Kanaya.
Sesampainya di depan rumah, wanita itu menatap Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilainya. Setelah itu, ia tersenyum tipis dan mengibaskan tangan, memberi isyarat kepada pria berseragam itu untuk kembali ke mobil.
"Selamat siang," sapanya anggun.
Kanaya yang sejak tadi mematung akhirnya menjawab dengan gugup.
"S-selamat siang, Bu. Ibu mencari siapa, ya?"
"Apakah Pak Wibowo dan Ibu Surti ada di rumah?"
"Ada, Bu. Tunggu sebentar."
Kanaya segera berbalik.
"Ibu... ada tamu."
Tak lama kemudian, Ibu Surti keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia berjalan menuju teras dan menyambut tamunya dengan ramah.
"Ibu Melinda, silakan masuk."
Setelah mempersilakan tamunya duduk, Ibu Surti berkata kepada putrinya,
"Kanaya, tolong buatkan teh hangat untuk Ibu Melinda."
Wanita bernama Melinda itu duduk di kursi bambu tua sambil meletakkan tas tangannya di samping. Ibu Surti mengambil tempat di hadapannya dengan senyum ramah.
Sementara itu, Kanaya membuat teh di dapur. Tanpa sadar, ia memasang telinga, berharap dapat mendengar pembicaraan mereka. Namun, yang terdengar hanya bisik-bisik pelan yang tak jelas.
Setelah selesai, Kanaya membawa secangkir teh ke ruang tamu, meletakkannya di atas meja, lalu duduk di samping ibunya.
"Maaf, Bu Melinda. Rumah kami sangat sederhana," ucap Ibu Surti.
Kanaya hanya menundukkan kepala, memandangi rok kuning yang dikenakannya.
"Jangan berkata seperti itu," sahut Melinda lembut. "Oh ya, jadi ini Kanaya?"
Kanaya mengangkat wajahnya, tersenyum kecil, lalu mengangguk. Rasa penasarannya semakin besar. Siapa sebenarnya wanita ini? Mengapa ia datang ke rumah mereka?
"Iya, Bu. Kanaya adalah anak semata wayang kami. Cantik, bukan?" ujar Ibu Surti dengan bangga.
"Ya, cantik."
Wajah Melinda tetap tenang. Tatapannya masih mengamati Kanaya dengan saksama, seolah ingin memastikan sesuatu.
"Apakah Pak Wibowo sudah setuju?" tanyanya kemudian.
Ibu Surti segera mengangguk.
"Sudah, Bu. Sebentar lagi suami saya juga pulang. Kalau Ibu berkenan, saya harap Ibu Melinda bisa menunggunya."
"Saya tidak punya banyak waktu," jawab Melinda singkat.
Ia mengangkat cangkir teh, menghirup aromanya sejenak, lalu menyeruputnya dengan anggun.
Diam-diam, Kanaya mengagumi sosok wanita itu. Meski usianya tak lagi muda, wajahnya masih tampak terawat. Kulitnya putih bersih dan penampilannya begitu elegan. Dalam hati, Kanaya berharap suatu hari nanti ia dapat menua dengan anggun seperti wanita tersebut.
Lamunannya buyar ketika suara sepeda motor terdengar dari halaman.
Ia menoleh ke arah pintu.
Pak Wibowo masuk sambil membawa keranjang kosong. Sepertinya seluruh hasil panen hari itu telah habis terjual. Setelah meletakkan keranjang di belakang rumah, ia kembali masuk ke ruang tamu dan duduk di samping Kanaya.
"Saya kira Ibu akan datang minggu depan," katanya tanpa basa-basi.
Melinda meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Minggu depan saya harus berangkat ke Malaysia. Menurut saya, semakin cepat semuanya diselesaikan, akan semakin baik."
Pak Wibowo memandang wanita itu dengan sorot mata sendu. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya kepada putrinya.
"Ada apa, Pak? Bu?" tanya Kanaya bingung.
"Kalian belum memberitahunya?" tanya Melinda.
Ibu Surti tampak gelisah. Ia menggenggam tangan Kanaya dan mengusapnya perlahan.
"Nak... kamu akan menikah dengan putra Ibu Melinda."
Mata Kanaya membelalak.
Dunianya seakan berhenti berputar.
"Apa? Menikah?" tanyanya dengan suara bergetar.
Ia memandang kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kenapa aku harus menikah sekarang?"
Air matanya mengalir tanpa mampu dibendung.
Melinda memperhatikan pemandangan itu dengan wajah datar. Ia bangkit dari duduknya.
"Tiga hari lagi saya akan datang bersama anak saya. Ini uangnya. Silakan gunakan untuk mempersiapkan segala keperluan."
Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Ibu Surti, lalu menepuk pelan bahunya.
"Jangan terlalu keras kepadanya. Bagaimanapun juga, dia calon menantu saya."
Melinda tersenyum tipis sebelum berjalan keluar. Pak Wibowo dan Ibu Surti mengantarnya hingga ke halaman.
Sementara itu, Kanaya masih terduduk di ruang tamu. Ia menangis sambil meremas rok yang dikenakannya, berusaha menahan sesak atas takdir yang tiba-tiba mengubah seluruh jalan hidupnya.
Kanaya sedang duduk melamun di taman siang itu. Ia memainkan kakinya di atas rumput. Tak lama kemudian Davina datang menghampirinya dengan wajah kesal.“Enak banget kerjaan lo cuma duduk-duduk,” ucapnya kasar.Kanaya menundukkan kepalanya. Selama sebulan ia tinggal di rumah ini, Davina-lah orang yang paling tidak bersahabat dengannya. Seperti sengaja menunjukkan ketidaksukaannya kepada Kanaya secara terang-terangan.“Ada yang bisa saya bantu, Davina?”Kanaya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davina yang sedang bertolak pinggang di hadapannya.“Jemput Ali ke sekolahnya.”“Baiklah.”Kanaya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ia lalu berpakaian rapi menggunakan dress bunga kecil berwarna putih dan cardigan berwarna butter yellow.Ketika ia turun ke bawah dan berjalan ke arah luar, ia mendengar tawa Davina yang sedang bertelepon.“Gue ke café sekarang. Tunggu gue, Ali udah diurus sama ipar kampungan gue itu.”Ia tertawa santai.Kanaya tahu Davina sengaja menghinanya sa
Keesokan harinya Rahma membangunkan Kanaya yang masih tertidur. Tubuhnya masih menggunakan baju yang kemarin ia gunakan. Semalaman ia hanya menangis dan tertidur tanpa membersihkan dirinya.“Non, ayo bangun. Nona harus membersihkan diri dan turun ke bawah. Sebentar lagi Tuan Devano dan Nyonya akan sarapan. Nona harus bersiap dahulu,” ucapnya pelan.Kanaya membuka matanya perlahan. Matanya terasa bengkak. Ia mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Rahma membantunya berdiri. Kepala Kanaya sangat berat. Ia tak sanggup untuk berjalan. Melihat Kanaya yang tampak kesakitan, Rahma membantunya untuk berjalan menuju kamar mandi.Kanaya masuk ke dalam sendirian. Ditatapnya wajahnya yang bengkak dan rambutnya yang acak-acakan di cermin. Ia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya agar ia cepat tersadar. Kemudian ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan cepat.Ketika ia keluar dari kamar mandi, tampak Rahma masih berdiri menunggunya di sana. Sepotong dress berlengan pen
Kanaya mengambil koper kecilnya yang sudah ia isi dengan baju-bajunya. Ia menatap kamarnya, menangis membayangkan ia tidak akan tinggal di sini lagi. Dengan enggan, ia keluar dari kamar karena ibu sudah berulang kali memanggil namanya dari luar.“Kenapa lama sekali, Nak? Suamimu sudah menunggumu,” ucap ibu tak sabaran.Acara pernikahannya tidak berlangsung lama. Sehabis maghrib, Devano dan keluarganya membawa Kanaya untuk kembali ke kota. Kediaman keluarga Atmaja terletak di Kota C, jaraknya sekitar 3 jam dari rumah Kanaya. Mereka mengatakan akan langsung pulang saat itu juga karena ada kesibukan besok harinya. Tapi Kanaya tahu, mana mungkin keluarga ningrat seperti mereka mau menginap di rumahnya yang reot ini. Percuma saja ibu membersihkan seluruh isi rumah ini sampai lupa makan. Kanaya tertawa dalam hati.“Ayo, Nak, kita segera berangkat,” ucap Bu Melinda yang sekarang sudah menjadi mertuanya.Ia menatap Devano yang sudah berganti pakaian dengan t-shirt berkerah yang santai. Ia tam
Sinar mentari pagi mulai menyelinap ke dalam kamar Kanaya melalui celah-celah jendela kayu yang telah memudar dimakan usia. Perlahan, ia membuka matanya. Dari luar kamar terdengar suara orang-orang yang lalu lalang.Ternyata hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kanaya meregangkan tubuhnya. Pandangannya terpaku pada dinding kamar yang tampak kosong."Ibu... Bapak... tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya sedang terjadi...."Suaranya melemah seiring air mata yang kembali mengalir di pipinya.Ibu memeluknya erat sambil mengusap lembut rambut putrinya."Kanaya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Ayah harap kamu mengerti keputusan ayah dan ibu. Semua ini demi masa depanmu," jelas ayah sambil menyalakan sebatang rokok."Tapi kenapa aku dijodohkan dengan orang yang bahkan wajahnya pun belum pernah kulihat? Kenapa Ayah dan Ibu tidak bertanya dulu kepadaku? Apa alasan semua ini, Ayah?" tanya Kanaya sambil terus menangis."Ayah mengenal keluarga Atmaja. Mereka orang terpandang, Nak. Me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.