Bara di Balik Mahar

Bara di Balik Mahar

last updateLast Updated : 2026-06-29
By:  SaniaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kanaya menikah dengan pilihan orang tuanya, ia berharap pernikahannya akan berjalan sesuai perkataan ibunya. Hingga ia tersadar, ia berada di atas bara api pernikahan. Devano hanya memanfaatkan tubuhnya. ia tidak benar-benar mencintainya atau lebih parahnya, devano tidak menganggap kanaya adalah istrinya. Hingga suatu saat, kedatangan Seorang pria bernama Arthur mengubah kehidupan kanaya.

View More

Chapter 1

Perjodohan itu

Kanaya Hanania adalah seorang gadis desa yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya. Parasnya manis dengan kulit kuning langsat yang bersih. Wajahnya tirus, dihiasi sepasang mata almond yang sendu. Senyumnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.

Kanaya hanyalah lulusan SMA. Beberapa bulan yang lalu, ia menyelesaikan pendidikannya. Kini, ia membantu kedua orang tuanya mengurus kebun jagung milik keluarga.

Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Kanaya sedang memetik beberapa tongkol jagung untuk dijadikan menu makan siang. Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju perlahan menuju rumahnya. Jalan itu hanya mengarah ke satu rumah, yaitu rumah keluarga mereka.

Dengan tergesa-gesa, Kanaya berlari masuk ke dalam rumah.

"Ibu... Ibu..." panggilnya dari depan kamar.

Ibunya keluar sambil membawa selembar pakaian yang sedang dilipat.

"Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.

Belum sempat Kanaya menjawab, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Keduanya saling berpandangan sebelum mengalihkan tatapan ke arah jendela.

"Siapa, ya, Bu?" gumam Kanaya.

Ia segera berjalan menuju pintu dan membukanya, sementara ibunya kembali masuk ke kamar untuk merapikan penampilannya.

Mobil itu berhenti. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi, sementara kebaya yang dikenakannya tampak begitu mewah. Seorang pria berseragam berusia sekitar enam puluh tahun turun dari kursi depan, lalu membukakan pintu dan mengantarnya hingga ke teras rumah Kanaya.

Sesampainya di depan rumah, wanita itu menatap Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilainya. Setelah itu, ia tersenyum tipis dan mengibaskan tangan, memberi isyarat kepada pria berseragam itu untuk kembali ke mobil.

"Selamat siang," sapanya anggun.

Kanaya yang sejak tadi mematung akhirnya menjawab dengan gugup.

"S-selamat siang, Bu. Ibu mencari siapa, ya?"

"Apakah Pak Wibowo dan Ibu Surti ada di rumah?"

"Ada, Bu. Tunggu sebentar."

Kanaya segera berbalik.

"Ibu... ada tamu."

Tak lama kemudian, Ibu Surti keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia berjalan menuju teras dan menyambut tamunya dengan ramah.

"Ibu Melinda, silakan masuk."

Setelah mempersilakan tamunya duduk, Ibu Surti berkata kepada putrinya,

"Kanaya, tolong buatkan teh hangat untuk Ibu Melinda."

Wanita bernama Melinda itu duduk di kursi bambu tua sambil meletakkan tas tangannya di samping. Ibu Surti mengambil tempat di hadapannya dengan senyum ramah.

Sementara itu, Kanaya membuat teh di dapur. Tanpa sadar, ia memasang telinga, berharap dapat mendengar pembicaraan mereka. Namun, yang terdengar hanya bisik-bisik pelan yang tak jelas.

Setelah selesai, Kanaya membawa secangkir teh ke ruang tamu, meletakkannya di atas meja, lalu duduk di samping ibunya.

"Maaf, Bu Melinda. Rumah kami sangat sederhana," ucap Ibu Surti.

Kanaya hanya menundukkan kepala, memandangi rok kuning yang dikenakannya.

"Jangan berkata seperti itu," sahut Melinda lembut. "Oh ya, jadi ini Kanaya?"

Kanaya mengangkat wajahnya, tersenyum kecil, lalu mengangguk. Rasa penasarannya semakin besar. Siapa sebenarnya wanita ini? Mengapa ia datang ke rumah mereka?

"Iya, Bu. Kanaya adalah anak semata wayang kami. Cantik, bukan?" ujar Ibu Surti dengan bangga.

"Ya, cantik."

Wajah Melinda tetap tenang. Tatapannya masih mengamati Kanaya dengan saksama, seolah ingin memastikan sesuatu.

"Apakah Pak Wibowo sudah setuju?" tanyanya kemudian.

Ibu Surti segera mengangguk.

"Sudah, Bu. Sebentar lagi suami saya juga pulang. Kalau Ibu berkenan, saya harap Ibu Melinda bisa menunggunya."

"Saya tidak punya banyak waktu," jawab Melinda singkat.

Ia mengangkat cangkir teh, menghirup aromanya sejenak, lalu menyeruputnya dengan anggun.

Diam-diam, Kanaya mengagumi sosok wanita itu. Meski usianya tak lagi muda, wajahnya masih tampak terawat. Kulitnya putih bersih dan penampilannya begitu elegan. Dalam hati, Kanaya berharap suatu hari nanti ia dapat menua dengan anggun seperti wanita tersebut.

Lamunannya buyar ketika suara sepeda motor terdengar dari halaman.

Ia menoleh ke arah pintu.

Pak Wibowo masuk sambil membawa keranjang kosong. Sepertinya seluruh hasil panen hari itu telah habis terjual. Setelah meletakkan keranjang di belakang rumah, ia kembali masuk ke ruang tamu dan duduk di samping Kanaya.

"Saya kira Ibu akan datang minggu depan," katanya tanpa basa-basi.

Melinda meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

"Minggu depan saya harus berangkat ke Malaysia. Menurut saya, semakin cepat semuanya diselesaikan, akan semakin baik."

Pak Wibowo memandang wanita itu dengan sorot mata sendu. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya kepada putrinya.

"Ada apa, Pak? Bu?" tanya Kanaya bingung.

"Kalian belum memberitahunya?" tanya Melinda.

Ibu Surti tampak gelisah. Ia menggenggam tangan Kanaya dan mengusapnya perlahan.

"Nak... kamu akan menikah dengan putra Ibu Melinda."

Mata Kanaya membelalak.

Dunianya seakan berhenti berputar.

"Apa? Menikah?" tanyanya dengan suara bergetar.

Ia memandang kedua orang tuanya secara bergantian.

"Kenapa aku harus menikah sekarang?"

Air matanya mengalir tanpa mampu dibendung.

Melinda memperhatikan pemandangan itu dengan wajah datar. Ia bangkit dari duduknya.

"Tiga hari lagi saya akan datang bersama anak saya. Ini uangnya. Silakan gunakan untuk mempersiapkan segala keperluan."

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Ibu Surti, lalu menepuk pelan bahunya.

"Jangan terlalu keras kepadanya. Bagaimanapun juga, dia calon menantu saya."

Melinda tersenyum tipis sebelum berjalan keluar. Pak Wibowo dan Ibu Surti mengantarnya hingga ke halaman.

Sementara itu, Kanaya masih terduduk di ruang tamu. Ia menangis sambil meremas rok yang dikenakannya, berusaha menahan sesak atas takdir yang tiba-tiba mengubah seluruh jalan hidupnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status