MasukKamila memiliki segalanya. Suami tampan dengan karir yang cemerlang, rumah mewah, kendaraan bagus, dan putri yang cantik. Kehidupan pernikahannya selama 7 tahun baik-baik saja, sampai dia sengaja datang diam-diam ke rumah kontrakan suaminya di luar kota. Apa yang didapatkannya menghancurkan kebahagiaan semu yang selama ini membuatnya jumawa. Suaminya hampir menyetubuhi wanita lain di depan mata kepalanya sendiri. Jalan mana yang harus Kamila pilih? Bercerai, bertahan demi mempertahankan haknya dan putrinya, atau...menciptakan karma untuk suami dan selingkuhannya? Di sisi lain, kakak iparnya selalu memberikan perhatian yang lebih pada Kamila dan anaknya, membuatnya dilema.
Lihat lebih banyak"Jaman sekarang, masalah ranjang pun diposting di medsos."
"Ih, masa sih? Kok nggak malu ya? Jadi nggak ada privasi. Persis seperti perselingkuhan. Malah diumbar di medsos." Kamila melirik dua walimurid yang sibuk bergosip, salah satunya menunjukkan layar ponsel dengan antusias. Dia sama sekali tidak tertarik. Kedatangannya ke sekolah TK anaknya adalah untuk menjemput, karena sebentar lagi waktunya pulang sekolah. Dia tidak terlalu dekat dengan walimurid lain, kecuali dengan dua orang yang sibuk bergosip itu. "Mil, kamu nggak curiga suamimu macam-macam?" Arin, walimurid yang juga tetangga Kamila, menatap Kamila dengan sorot mata penasaran. "Ah, menikah itu harus saling percaya. Dalam agama, nggak boleh terus mencurigai pasangan biar pernikahan langgeng," sahut Dewi, sahabat Kamila sejak SMA. Arin mencibir. "Aku dan mantan suamiku dulu juga saling percaya. Malah kami serumah, nggak LDM seperti Kamila. Tapi tetap saja, dia selingkuh dengan teman kerjanya di pabrik." Kamila tersenyum. "Ya, moga-moga aja suamiku nggak macam-macam. Lagian dia paham agama, pasti bisa menjaga diri dan ngerti kalau zina itu dosa besar." Arin berdecak, lalu mengibaskan tangan. "Jaman sekarang nggak usah terlalu naif. Justru yang paham agama, biasanya yang paling gampang selingkuh. Kalau ketahuan, bilang aja udah nikah sirri. Macam selebriti yang lagi rame kasusnya itu loh, yang merebut suami orang." Kamila memperhatikan penampilan Arin. Janda anak satu itu memang kurang memperhatikan penampilan. Datang ke sekolah saja hanya memakai daster dan tidak ada riasan apa-apa di wajah. Dalam hati, Kamila membatin. Pantas saja mantan suaminya selingkuh. Penampilan Arin memang kurang menarik. Berbeda dengan Kamila yang selalu on point dalam berpenampilan. Dia rutin melakukan perawatan wajah dan tubuh demi suaminya. Dia juga pintar memilih outfit yang membuatnya terlihat selalu stylish. "Udah ah. Ngeri aku kalau membahas soal perselingkuhan," sela Dewi dengan wajah kurang suka. "Nih ya, aku kasih tahu. Laki-laki itu, akan menggunakan alasan sekecil apapun untuk selingkuh. Nggak peduli kamu secantik apa, sepintar apa, bahkan meskipun kamu sudah pro di atas ranjang, mereka tetap punya alasan untuk selingkuh," tutur Arin menggebu-gebu. Kamila menatap layar ponselnya yang menampilkan satu pesan dari Putra, suaminya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk membalas pesannya, apalagi jika itu menyangkut Fiona, putri mereka. "Ck, baru juga anak satu, masih seneng-seneng. Tunggu saja saat suamimu kecantol janda di sana. Kenapa kamu dan anakmu nggak ikut pindah saja? Laki-laki itu harus diawasi biar nggak jelalatan," komentar Arin lagi. Kamila tidak mempedulikan ocehan Arin. Dia sempat membaca notifikasi pesan dari Putra di layar ponsel. [Aku lagi nggak di rumah, sayang. Kamu masuk aja. Kunci....] Ibu jarinya menggeser layar ponsel ke atas, lalu masuk ke aplikasi pesan berwarna hijau. Keningnya berkerut saat mendapati bahwa pesan dari Putra tiba-tiba saja dihapus, padahal Kamila belum sempat membaca seluruh isi pesannya. Dengan cepat, dia mengetik balasan. Hatinya merasa tak nyaman. Kamila : [Kenapa dihapus?] Beberapa detik kemudian, balasan dari Putra masuk. Putra : [Maaf salah kirim, Dek. Tadi teman Mas pinjam hp mau ngirim pesan ke pacarnya.] Kamila langsung percaya. Suaminya memilih untuk kos begitu dipindahtugaskan ke Surabaya, dengan alasan uangnya untuk membangun rumah di kampung mereka. Bagaimana Kamila tidak semakin mencintai sang suami? Mereka sekarang memiliki rumah sendiri yang begitu nyaman. Kamila tidak perlu tinggal serumah dengan mertuanya, meskipun ibu mertuanya baik. "Mil, coba sekali-sekali datangi kos suamimu. Nggak usah ngomong, biar jadi kejutan. Biar kamu lega. Nanti jangan-jangan seperti mantanku yang mampir ke rumah gundiknya...." Kamila menghela nafas panjang dan semakin jengah dengan topik obrolan yang terus dibahas oleh Arin. Dia melirik Dewi yang terlihat begitu serius menyimak sambil sesekali mengangguk-angguk. Dewi adalah istri dari seorang guru PNS yang ditugaskan di kecamatan tetangga. Seperti dirinya, Dewi juga sangat percaya pada suaminya. Setiap hari, suami Dewi selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah neko-neko. "Nggak semua orang seperti mantan suami kamu, Rin. Buktinya, suamiku dan suami Dewi setia," ucap Kamila saat anak-anak mulai berlarian keluar kelas sambil membawa tas. Beberapa ada yang menjinjing sepatu. Arin sempat menanggapi, tapi Kamila lebih memilih untuk mengabaikan. Dia fokus mencari-cari keberadaan Fiona yang tidak ada di antara para siswa. "Mama Fiona!" Kamila menoleh. Seorang walimurid mendekatinya sambil menggandeng seorang anak perempuan. Sepertinya dari kelas TK A. "Ya? Ada apa, Ma?" "Dipanggil Bu Eka. Disuruh ke kantor." "Oh, oke. Makasih ya, Ma." Kamila tersenyum dan langsung melenggang menuju ke kantor guru yang ada di sebelah kelas B. Tidak ada pikiran yang aneh-aneh. Kamila pikir, mungkin ada urusan administrasi atau keuangan yang harus diselesaikan, meskipun dia sudah melunasi semua biaya sekolah. Saat masuk ke kantor, Kamila heran karena Fiona ternyata juga berada di sana. Hanya ada Bu Eka, guru kelas B, yang tersenyum begitu Kamila masuk. "Ada apa ya, Bu?" tanya Kamila mulai khawatir. Dia duduk di sebelah Fiona. Apakah anaknya membully temannya? Tapi, Fiona begitu lemah lembut saat di sekolah. Bukannya menjawab, Bu Eka malah mendorong buku gambar di atas meja. Kamila melihat gambar dua manusia. Laki-laki dan perempuan, dikelilingi oleh warna kuning dan jingga. Dia membaca nama yang tertera di atas gambar. Fiona. "Ada yang salah dengan gambar ini, Bu?" tanya Kamila tak mengerti. "Begini, Ma. Saya menugaskan anak-anak untuk menggambar bebas. Anak-anak lainnya menggambar buah, rumah, gunung, dan lain-lain selayaknya gambar anak-anak. Sementara Fiona....coba bilang ke mama kamu, ini gambar apa, sayang?" Fiona diam. Tidak seperti biasanya, anak itu terlihat sedikit dingin saat menatap gambar hasil buatannya. Kamila mengernyit heran. Belum pernah dia melihat Fiona seperti itu sebelumnya. Selama ini, Fiona selalu ceria dan cerewet. "Gambar apa itu, sayang?" tanya Kamila dengan hati penasaran bukan main. "Papa. Sama tante. Mereka dibakar api."Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de
Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan
Seharian ini, Harsa terlihat murung dan tidak fokus. Kamila tentu saja heran. Padahal, tadi pagi masih baik-baik saja. Mereka masih begitu mesra dan bercanda tawa di atas ranjang. Fiona sampai biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah mereka. "Mas, kamu kenapa? Setelah pulang dari rumah ibuku, kok kamu jadi sering diam?" tanya Kamila sambil menyodorkan secangkir kopi di atas meja. Kamila curiga penyebab kemurungan suaminya adalah perkataan pedas ibunya. Kalimat apa gerangan yang membuat Harsa tiba-tiba murung dan sering melamun seharian ini? Bahkan, Anton yang mengajaknya mengobrol pun tidak terlalu digubris. Begitu juga telpon dari Erik dan Bariono yang dibiarkan begitu saja tanpa diangkat. "Apa ibuku menyakiti kamu? Beliau ngomong apa? Biasanya kamu nggak begitu mikirin perkataan ibuku," tanyanya lagi sambil memijit pundak suaminya. Siapa tahu sang suami sedang kelelahan dan stres. "Nggak ada apa-apa, Dek. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Soal Unilion," jawab Harsa, lalu
Satu tahun kemudian... ------"Mau ke mana, Mas?" Harsa meletakkan sisir di atas meja rias milik istrinya, lalu berbalik untuk melihat Kamila yang sudah cantik paripurna seperti biasanya. Wanita itu akan melakukan siaran live untuk Unilion. Meskipun waktunya tidak selama dulu ketika di awal-awal, tapi tetap saja, Kamila akan tetap bersiap-siap dengan maksimal. "Mau ke rumah ibu, Dek. Mas lupa belum ngasih jatah bulanan," jawabnya sambil mendekati istrinya. "Kamu makin cantik dan seger aja tiap hari. Kalau boleh jujur, aku cemburu karena penonton kamu sekarang lebih banyak laki-lakinya." "Cuma 1 jam aja, Sayang. Kalau kamu keberatan, aku bisa ngambil tawaran kerja secara remote. Kemarin aku iseng ngelamar bagian data entry, ternyata keterima." Harsa berpikir sejenak. "Kenapa nggak ngambil bagian manajer atau yang setara, Dek?" "Ck! Kamu tahu sendiri aku malas berpikir terlalu rumit. Capek tahu, Mas. Aku maunya yang santai aja tapi duitnya banyak. Lagian, aku udah kamu jatah juga
"Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su
Hal yang paling dibenci oleh Harsa adalah menjadi pusat perhatian. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, membuat Harsa diam tak berkutik. Bagaimana mereka bisa tahu tentang perasaannya terhadap Kamila? Apakah sejelas itu? "Maksudnya gimana?" Mereka semua saling pandang. Bahkan para sepupu pun m
Proses pemakaman Putra berjalan dengan lancar. Kamila berdiri sambil merangkul Fiona yang berdiri di sebelahnya. Tidak seperti kematian kakeknya dulu, entah kenapa Fiona hanya diam. Padahal, Kamila sudah ketar-ketir anak itu akan bicara yang tidak-tidak. Apalagi setelah mengatakan tentang kakaknya
Harsa refleks berdiri sambil menggendong Fiona, sampai dia sadar bahwa dia akan kerepotan jika masuk ke dalam kamar adiknya sembari membawa keponakannya. Dengan hati-hati, Harsa meletakkan Fiona di atas sofa dan berucap, "Ham, tolong jagain Fiona." Tanpa menunggu jawaban dari Ilham, Harsa langsun












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan