MasukDada Kamila naik turun menahan amarah. Dia menarik nafas panjang berkali-kali untuk menahan diri agar tidak meledak. Bagaimanapun juga, Bu Karlina adalah ibu kandungnya. "Suamimu mana? Biasanya jam segini udah di rumah. Ini aku bawakan buah salak. Dikasih sama tetangga. Ketimbang nggak dimakan, aku kasih ke kamu aja." Bu Karlina menyelonong masuk dan langsung menuju ke ruang makan. "Kamu masak banyak banget? Ada acara apa?" Kamila menatap ibunya yang terlihat tidak merasa bersalah atau mungkin menyembunyikan sesuatu. Tabiat ibunya yang tidak dia sukai. "Bu, kemarin lusa waktu Mas Harsa ke rumah, ibu ngomong apa saja?" Tidak ada gunanya lagi menahan diri. Dia ingin tahu suaminya kenapa sehingga tidak pulang. "Kapan Harsa ke rumah? Aku nggak menemui dia sama sekali." Bu Karlina menghentikan kegiatannya melihat-lihat lauk di atas meja makan setelah meletakkan sekantong plastik buah salak. Wanita itu mengernyit, terlihat sekali kebingungan. Oke, Kamila harus mengubah pertanyaannya.
Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de
Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan
Seharian ini, Harsa terlihat murung dan tidak fokus. Kamila tentu saja heran. Padahal, tadi pagi masih baik-baik saja. Mereka masih begitu mesra dan bercanda tawa di atas ranjang. Fiona sampai biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah mereka. "Mas, kamu kenapa? Setelah pulang dari rumah ibuku, kok kamu jadi sering diam?" tanya Kamila sambil menyodorkan secangkir kopi di atas meja. Kamila curiga penyebab kemurungan suaminya adalah perkataan pedas ibunya. Kalimat apa gerangan yang membuat Harsa tiba-tiba murung dan sering melamun seharian ini? Bahkan, Anton yang mengajaknya mengobrol pun tidak terlalu digubris. Begitu juga telpon dari Erik dan Bariono yang dibiarkan begitu saja tanpa diangkat. "Apa ibuku menyakiti kamu? Beliau ngomong apa? Biasanya kamu nggak begitu mikirin perkataan ibuku," tanyanya lagi sambil memijit pundak suaminya. Siapa tahu sang suami sedang kelelahan dan stres. "Nggak ada apa-apa, Dek. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Soal Unilion," jawab Harsa, lalu
Satu tahun kemudian... ------"Mau ke mana, Mas?" Harsa meletakkan sisir di atas meja rias milik istrinya, lalu berbalik untuk melihat Kamila yang sudah cantik paripurna seperti biasanya. Wanita itu akan melakukan siaran live untuk Unilion. Meskipun waktunya tidak selama dulu ketika di awal-awal, tapi tetap saja, Kamila akan tetap bersiap-siap dengan maksimal. "Mau ke rumah ibu, Dek. Mas lupa belum ngasih jatah bulanan," jawabnya sambil mendekati istrinya. "Kamu makin cantik dan seger aja tiap hari. Kalau boleh jujur, aku cemburu karena penonton kamu sekarang lebih banyak laki-lakinya." "Cuma 1 jam aja, Sayang. Kalau kamu keberatan, aku bisa ngambil tawaran kerja secara remote. Kemarin aku iseng ngelamar bagian data entry, ternyata keterima." Harsa berpikir sejenak. "Kenapa nggak ngambil bagian manajer atau yang setara, Dek?" "Ck! Kamu tahu sendiri aku malas berpikir terlalu rumit. Capek tahu, Mas. Aku maunya yang santai aja tapi duitnya banyak. Lagian, aku udah kamu jatah juga
[Mil, rame banget penontonmu. Serius kamu udah jadi brand ambassador Unilion? 10rb penonton! Gilaaaa!]Kamila tersenyum saat membaca pesan dari Arin. Sudah seminggu dia menjalani profesi dadakannya sebagai tim online marketing, dan penjualan Unilion langsung meledak, mengalahkan Sayap Biru yang selalu idealis dan jumawa dengan brand ternamanya. Ibu-ibu di negara ini sangat menyukai diskon, apalagi jika itu berupa twin pack. Stok gudang langsung ludes dalam 2 hari, dan bagian produksi sekarang selalu lembur. [Aku cuma bagian marketing online aja, Rin. Nggak ada BA. Kamu juga makin rame gitu. Sukses selalu ya.] Balasnya. Unilion sengaja tidak membuka sistem affiliate. Perusahaan ingin menegaskan pada konsumen bahwa barang yang mereka jual adalah barang original. Meskipun jika melalui affiliate, tetap saja konsumen akan diarahkan untuk membeli langsung di toko official mereka. Tapi Unilion ingin ekslusif. Dan Erik tidak mau karyawannya direpotkan oleh affiliator yang meminta sample g
"Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su
Proses pemakaman Putra berjalan dengan lancar. Kamila berdiri sambil merangkul Fiona yang berdiri di sebelahnya. Tidak seperti kematian kakeknya dulu, entah kenapa Fiona hanya diam. Padahal, Kamila sudah ketar-ketir anak itu akan bicara yang tidak-tidak. Apalagi setelah mengatakan tentang kakaknya
Harsa refleks berdiri sambil menggendong Fiona, sampai dia sadar bahwa dia akan kerepotan jika masuk ke dalam kamar adiknya sembari membawa keponakannya. Dengan hati-hati, Harsa meletakkan Fiona di atas sofa dan berucap, "Ham, tolong jagain Fiona." Tanpa menunggu jawaban dari Ilham, Harsa langsun
Siapa yang merawat Putra? Siapa yang membiayai pengobatannya? Apa sebenarnya hubungan Harsa dengan Unilion? Berbagai pertanyaan muncul di benak Kamila, dan dia menahan diri untuk tidak langsung mencecar Harsa saat itu juga seperti biasanya.Tangannya berjuang untuk membuka gembok gudang yang sudah







