Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 133. Jasa Kecil Kamila

Share

133. Jasa Kecil Kamila

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-07-13 18:18:14

[Mil, rame banget penontonmu. Serius kamu udah jadi brand ambassador Unilion? 10rb penonton! Gilaaaa!]

Kamila tersenyum saat membaca pesan dari Arin. Sudah seminggu dia menjalani profesi dadakannya sebagai tim online marketing, dan penjualan Unilion langsung meledak, mengalahkan Sayap Biru yang selalu idealis dan jumawa dengan brand ternamanya.

Ibu-ibu di negara ini sangat menyukai diskon, apalagi jika itu berupa twin pack. Stok gudang langsung ludes dalam 2 hari, dan bagian produksi sekarang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    138. Berani Speak Up

    Dada Kamila naik turun menahan amarah. Dia menarik nafas panjang berkali-kali untuk menahan diri agar tidak meledak. Bagaimanapun juga, Bu Karlina adalah ibu kandungnya. "Suamimu mana? Biasanya jam segini udah di rumah. Ini aku bawakan buah salak. Dikasih sama tetangga. Ketimbang nggak dimakan, aku kasih ke kamu aja." Bu Karlina menyelonong masuk dan langsung menuju ke ruang makan. "Kamu masak banyak banget? Ada acara apa?" Kamila menatap ibunya yang terlihat tidak merasa bersalah atau mungkin menyembunyikan sesuatu. Tabiat ibunya yang tidak dia sukai. "Bu, kemarin lusa waktu Mas Harsa ke rumah, ibu ngomong apa saja?" Tidak ada gunanya lagi menahan diri. Dia ingin tahu suaminya kenapa sehingga tidak pulang. "Kapan Harsa ke rumah? Aku nggak menemui dia sama sekali." Bu Karlina menghentikan kegiatannya melihat-lihat lauk di atas meja makan setelah meletakkan sekantong plastik buah salak. Wanita itu mengernyit, terlihat sekali kebingungan. Oke, Kamila harus mengubah pertanyaannya.

  • Karma Suami Mendua    137. Masih Belum Ketemu

    Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de

  • Karma Suami Mendua    136. Harsa Tidak Pulang

    Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan

  • Karma Suami Mendua    135. Gagal Lagi

    Seharian ini, Harsa terlihat murung dan tidak fokus. Kamila tentu saja heran. Padahal, tadi pagi masih baik-baik saja. Mereka masih begitu mesra dan bercanda tawa di atas ranjang. Fiona sampai biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah mereka. "Mas, kamu kenapa? Setelah pulang dari rumah ibuku, kok kamu jadi sering diam?" tanya Kamila sambil menyodorkan secangkir kopi di atas meja. Kamila curiga penyebab kemurungan suaminya adalah perkataan pedas ibunya. Kalimat apa gerangan yang membuat Harsa tiba-tiba murung dan sering melamun seharian ini? Bahkan, Anton yang mengajaknya mengobrol pun tidak terlalu digubris. Begitu juga telpon dari Erik dan Bariono yang dibiarkan begitu saja tanpa diangkat. "Apa ibuku menyakiti kamu? Beliau ngomong apa? Biasanya kamu nggak begitu mikirin perkataan ibuku," tanyanya lagi sambil memijit pundak suaminya. Siapa tahu sang suami sedang kelelahan dan stres. "Nggak ada apa-apa, Dek. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Soal Unilion," jawab Harsa, lalu

  • Karma Suami Mendua    134. Sebuah Ujian

    Satu tahun kemudian... ------"Mau ke mana, Mas?" Harsa meletakkan sisir di atas meja rias milik istrinya, lalu berbalik untuk melihat Kamila yang sudah cantik paripurna seperti biasanya. Wanita itu akan melakukan siaran live untuk Unilion. Meskipun waktunya tidak selama dulu ketika di awal-awal, tapi tetap saja, Kamila akan tetap bersiap-siap dengan maksimal. "Mau ke rumah ibu, Dek. Mas lupa belum ngasih jatah bulanan," jawabnya sambil mendekati istrinya. "Kamu makin cantik dan seger aja tiap hari. Kalau boleh jujur, aku cemburu karena penonton kamu sekarang lebih banyak laki-lakinya." "Cuma 1 jam aja, Sayang. Kalau kamu keberatan, aku bisa ngambil tawaran kerja secara remote. Kemarin aku iseng ngelamar bagian data entry, ternyata keterima." Harsa berpikir sejenak. "Kenapa nggak ngambil bagian manajer atau yang setara, Dek?" "Ck! Kamu tahu sendiri aku malas berpikir terlalu rumit. Capek tahu, Mas. Aku maunya yang santai aja tapi duitnya banyak. Lagian, aku udah kamu jatah juga

  • Karma Suami Mendua    133. Jasa Kecil Kamila

    [Mil, rame banget penontonmu. Serius kamu udah jadi brand ambassador Unilion? 10rb penonton! Gilaaaa!]Kamila tersenyum saat membaca pesan dari Arin. Sudah seminggu dia menjalani profesi dadakannya sebagai tim online marketing, dan penjualan Unilion langsung meledak, mengalahkan Sayap Biru yang selalu idealis dan jumawa dengan brand ternamanya. Ibu-ibu di negara ini sangat menyukai diskon, apalagi jika itu berupa twin pack. Stok gudang langsung ludes dalam 2 hari, dan bagian produksi sekarang selalu lembur. [Aku cuma bagian marketing online aja, Rin. Nggak ada BA. Kamu juga makin rame gitu. Sukses selalu ya.] Balasnya. Unilion sengaja tidak membuka sistem affiliate. Perusahaan ingin menegaskan pada konsumen bahwa barang yang mereka jual adalah barang original. Meskipun jika melalui affiliate, tetap saja konsumen akan diarahkan untuk membeli langsung di toko official mereka. Tapi Unilion ingin ekslusif. Dan Erik tidak mau karyawannya direpotkan oleh affiliator yang meminta sample g

  • Karma Suami Mendua    26. Mengeksekusi Rencana

    Pukul 11 malam, Kamila tidak bisa tidur. Dia melirik Fiona yang baru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya terus rewel dan mencari-cari Harsa. Bahkan Toni pun tidak bisa menenangkan gadis kecil itu.Dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Pandangannya menyapu rumah mewah yang terletak di kota. Mes

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status