Masuk'Married to a Man Who Hates Me' Girsa Widjaja tak pernah menyangka bahwa pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan. Istri yang terlihat begitu terobsesi padanya ternyata menyimpan kebencian dingin di balik senyum manisnya. *** Ayura tidak pernah menginginkan Girsa. Sejak awal, dirinya dipaksa paman dan bibinya untuk mendekati Brian—anak majikan mereka. Namun satu kesalahan fatal justru membawa hidup Ayura terjerumus lebih dalam. Ia menghabiskan satu malam dengan Girsa Widjaja, kakak Brian sekaligus pewaris utama perusahaan, dan berakhir terikat pernikahan dengan Pria paling dingin yang selalu membuatnya gemetar. *** Girsa merasa hidupnya berantakan sejak ia pulang. Dikhianati oleh tunangannya sendiri dan dihantam kegagalan bisnis, Girsa berubah menjadi pria dingin dan penuh amarah. Belum lagi paksaan menikah karena kesalahan satu malam. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, Ayura menjadi sasaran kebenciannya—dihina, diabaikan, dan diperlakukan kasar setiap hari. Namun Ayura tidak punya pilihan. Di bawah tekanan paman dan bibinya, ia harus membuat pria yang membencinya itu jatuh cinta...meski hatinya sendiri perlahan hancur. Akankah Ayura bertahan dalam pernikahan penuh luka ini? Atau Ayura memilih menyerah?
Lihat lebih banyakPENGUMUMAN!!! JANGAN LUPA FOLLOW DAN KOMEN DI CERITA INI. KALAU KOMENTAR LEBIH DARI 5 BESOK SIANG UPLOAD BAB BARU LAGI.... YUK RAMAIKAN!!! **********"****** "Apa statusmu sekarang?" Ayura menelan salivanya. "Um, menikah?" "Nama belakangmu?" "Widjaja," jawab Ayura pelan. Ia sudah tahu ke mana arah percakapan ini. Girsa menatapnya tajam. "Jika kau menikah denganku, otomatis kau memilih untuk melepaskan kebebasan masa mudamu, Yura. Kau tidak bisa bertingkah sembarangan di depan publik." Suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung tekanan yang jelas. "Kau menyandang nama Widjaja. Semua orang mengenalmu dan haus akan berita tentangmu. Jika muncul rumor buruk yang menjatuhkan nama keluargaku, apa yang bisa kau lakukan? Menangis? Meminta maaf?" Ayura semakin menunduk. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu membalas. "Sungguh istri yang patuh," sindir Girsa dingin. "Sekarang kau berani keluyuran malam tanpa meminta izin dariku." Ayura mengangkat wajahnya, mencoba membela d
Girsa merotasi bola matanya melihat Heidy sibuk memotret makanan yang terhidang di atas meja. Dia merasa waktu yang dimilikinya terbuang sia-sia. Sejujurnya dia tidak senang dengan perasaan ketika merasa jengkel terhadap Heidy—wanita itu adalah kesayangannya, tapi sekarang? Rasanya berbeda. Girsa mengerutkan kening, menjulurkan tangan untuk menyingkirkan ponsel Heidy yang menghadap ke arahnya. "Jangan memotretku." "Apa?" Alis gadis itu menyatu dengan tajam. "Kenapa?! Aku tidak akan mengunggahnya sebelum kau bercerai, tenang saja." "Aku tetap tidak ingin kau memotret ku, Heidy. Jangan memaksaku," tegas Girsa, memandang dingin Heidy dan membuatnya terintimidasi. Tidak ingin membuat keadaan memanas diantara mereka, Heidy menyerah, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Suasana menjadi kaku dan canggung, membuatnya memakan makanannya dengan berat hati, ia diam-diam melirik Girsa yang sedang menatap ponselnya. Sebuah pemandangan yang familiar sejak dulu. Girsa memang sering kali sibu
Belum lama Girsa terlelap. Ia menikmati kenyamanan dalam dekapan istrinya, tubuhnya yang masih hangat bersandar pada Ayura yang tertidur pulas di sisinya. Untuk beberapa saat yang singkat, pikirannya terasa kosong—bebas dari tekanan pekerjaan, bebas dari intrik yang selama ini menjerat hidupnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian kamar. Girsa mengerang pelan. Dengan malas ia melepaskan satu tangannya yang sedang melingkari tubuh Ayura, lalu meraba meja samping tempat tidur hingga menemukan ponselnya. Alisnya berkerut kesal saat melihat nama yang muncul di layar. Dengan rahang yang mengeras, ia menggeser tombol hijau. “Ada apa?” tanyanya dingin tanpa basa-basi. Dari seberang telepon, suara Heidy langsung menyembur dengan nada tinggi. “Apa kau lupa bahwa sore ini kita akan berkencan untuk pertama kalinya setelah sekian lama?! Kau keterlaluan, Girsa!” Girsa menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat. Suara p
Hari itu Ayura berencana pergi ke kantor Girsa untuk membawakan bekal makan siang. Ia sebenarnya sudah bisa menebak bagaimana akhirnya nanti. Girsa kemungkinan besar akan menolak bahkan sebelum bekal itu sampai ke tangannya. Namun Ayura tetap ingin melakukannya. Ia ingin menunjukkan usaha—setidaknya membuktikan bahwa perasaannya pada pria itu tidak pernah berubah. Ayura menoleh ke arah Largo yang berdiri tak jauh darinya. “Tolong tunggu di sini dan jaga bekalnya. Jangan sampai ada yang menyentuhnya, mengerti? Aku tidak akan lama.” “Ya, Nona.” Ayura lalu berjalan menuju kamar. Hari ini ia harus berdandan lebih dari biasanya. Cantik… bahkan sedikit berani. Selama ini ia hanya sampai di lobi kantor dan bertemu dengan resepsionis untuk menitipkan bekal. Namun kali ini berbeda. Ia akan menemui Girsa langsung di ruang kerjanya. Selama ini Ayura diam-diam memperhatikan sikap suaminya itu. Ia tahu bagaimana cara memancing reaksi Girsa. Pria itu mudah terpancing jika ditant
Elena melebarkan matanya ketika melihat Brian berlari sembari menggendong Ayura yang pingsan. Ia buru-buru mengejarnya. Wanita berkepala lima yang masih lincah karena sering yoga dan berolahraga itu menghentikan Brian dan bertanya dengan raut terkejut. “Ada apa ini, Brian? Apa yang terjadi pada Y
Ayura merasa tidak enak badan, ia tidak flu, tapi tubuhnya lemas dan tidak bertenaga sehingga ia hanya berbaring di sofa tanpa melakukan apa-apa. Ia memeluk perutnya, menahan sakit. Ayura pikir ini wajar setelah melihat bercak darah ketika buang air tadi. Ini adalah hari pertamanya datang bulan
Ayura menatap sekeliling yang begitu ramai. Lampu disko berkelap-kelip, musik menghentak keras, dan bau alkohol yang menusuk membuat perutnya semakin mual. Ia sudah menduga suasana kelab malam akan seperti ini—dan jelas, itu bukan dunianya. Ia lebih menyukai suasana tenang, seperti hujan di pagi h
Ayura terbangun dengan seluruh tubuh yang amat nyeri terutama di bagian sendinya. Matanya terasa bengkak dan panas hasil menangis semalaman. Girsa tidak pernah memberi jeda, meski pertengkaran mereka telah mereda, sikap dinginnya tetap terasa seperti di awal. Tanpa bisa ditahan, air matanya kem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak