INICIAR SESIÓNQarmita Alpha Cygni adalah seorang gadis berusia 18 tahun yang disukai oleh dua orang lelaki sekaligus. Yang satunya adalah teman satu sekolahnya. Sedangkan yang satunya lagi adalah mantan mahasiswa sang Papa. Attalah Barra Samudra merupakan seorang pria dewasa berusia 29 tahun yang berprofesi sebagai seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi di kota Bandung. Menyukai karakter Qarmita yang tampak bijaksana dan mandiri di luar. Namun begitu manja jika bersama keluarganya. Perkenalan pertama mereka diwarnai oleh kejadian kocak dan cukup berkesan bagi keduanya. Barra yang agresif, sedangkan Qarmita tetap diam di tempat. Tidak maju atau pun mundur dari tawaran yang Barra ajukan demi kepentingan masa depan mereka nantinya. Siap menjelajah bersama, untuk menemukan akhir dari cerita ini? Mari kita mulai.
Ver másAda rasa yang tak bisa diutarakan, ada benci yang tak bisa diungkapkan.
“Ayolah, kamu terlihat seperti wanita bodoh yang terobsesi dengan seorang pria,” celetuk salah seorang gadis yang tengah duduk melingkar. “Bukan terobsesi tapi mencintai!” jawab Nadya menyangkal. “Berjuang sendiri itu bukan cinta namanya!” balas Siska lagi, gadis yang sedari tadi duduk di samping kirinya. Mendengar hal itu entah kenapa membuat perasaan Nadya berdenyut nyeri menerima fakta yang terjadi. Kata sederhana yang mampu mengukir sebuah luka. Dia tau betul bahwa temannya itu tidak berniat untuk menyakiti perasaannya. Namun yah, hati kecilnya tidak akan pernah bisa mengelak. “Mengapa kisah cintaku harus berakhir seperti ini?” batinnya tersenyum miris. “Dan kenapa juga aku harus mencintainya saat itu?” Nadya tertawa hambar menikmati segala bentuk penyesalan. Pikirannya pun kembali berputar pada kisah yang amat sangat kentara jelas dalam ingatannya. Kisah dimana dia mulai berharap akan cinta dari seorang pria pujaannya. Hari pertama pembelajaran baru pun seolah menjadi saksi bisu kekagumannya. Teeeng... Bel berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Nadya berlari cepat melewati berbagai ruangan yang tampak sudah cukup ramai. Karena terlambat ia pun harus bersedia menduduki kursi yang masih tersisa. “Untung belom mulai,” gumam Nadya pelan sembari mengontrol deru napasnya. Tiba-tiba seorang guru berkacamata tebal datang sambil membawa setumpuk buku dan duduk di kursi tunggal samping kanan papan tulis tak bernoda. “Haaa kenapa harus fisika diawal pelajaran sih.” Nadya meremas pelan rambutnya sembari merutuki nasib malangnya. “Aku benar benar tidak ahli dalam hal ini.” Tangan Nadya bergerak menghempas buku-buku yang sudah beberapa saat lalu mendekap d dalami tas ranselnya. “Aku bahkan tidak mengerti kenapa sekolahku ini langsung menjalankan pembelajaran dihari pertama.” Tatapan tajam Marisa yang sedari tadi memperhatikan anak didiknya itu kini memandang sosok Nadya dengan kedua mata elangnya. “Kamu!” tunjuknya menggunakan spidol yang baru saja keluar dari tempat tinggalnya. “Ah maaf Bu,” ucap Nadya cepat sembari menundukkan kepalanya sopan. Tanpa terasa waktu berjalan dengan amat sangat cepat. “Akhirnya selesai juga!” Nadya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan senyuman merekah di wajahnya. “Senangnya sudah berakhir,” lontarnya lagi dengan tangan yang terus saja bergerak membereskan buku-bukunya asal. Ia berniat pergi meninggalkan rungan yang penuh dengan rumus itu secepat mungkin. Nadya berjalan dengan bahagia sambil memikirkan apa yang ingin dimakannya hari ini. Tak lama sebuah suara terdengar nyaring memanggil nama indahnya. “Nadya!” Kaki yang sedari tadi melangkah itu pun seketika terhenti dan berbalik. Lengkungan indah kembali terbit dengan hangatnya. Ia berdiam diri menunggu kedatangan seorang gadis berambut hitam legam yang sedari tadi memanggil namanya. “Lelet ih,” gerutu Nadya menarik pelan lengan kanan Frida, sahabatnya. Dia dan Frida memang mulai berteman sejak pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini. Meski keduanya selalu mendapatkan kelas yang berbeda tetapi tak menjadi penghalang untuk hubungannya yang malah semakin akrab. Sekarang Nadya sudah menginjakkan kakinya di kelas dua SMA. Tak usah ditanya, dirinya sendiri pun bahkan tidak menyangka sudah sebesar ini. Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, akhirnya kedua insan tersebut sampai ke tempat tujuan. Mereka bergegas duduk di kursi yang tidak memiliki penghuni. “Mau pesen apa?” tawar Frida setelah mendaratkan bokongnya. “Nasi goreng sama teh dingin aja,” jawab Nadya setelah menentukan pilihannya. Dalam sekejap Frida pun menghilang, memesan makanan yang akan menjadi menu keduanya. “Dia lama sekali.” Nadya bergumam pelan setelah menunggu beberapa saat. Ya, tentu saja, sekolah ini merupakan salah satu dari beberapa sekolah ternama dan pastinya banyak siswa yang bersekolah di sini. Mungkin itulah yang menjadi alasan utama mengapa di kantin mereka harus sabar mengantri. Setelah lama menunggu, akhirnya Frida datang membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan. Dari aromanya saja sudah membuat Nadya mabuk kepayang. Tanpa diperintah sekalipun, kini tangannya sudah bergerak menyendokkan nasi coklat itu kedalam mulutnya dengan lahap. “Kamu belum makan?” tanya Frida setelah berhasil menelan makanan yang baru saja dikunyahnya. “Hm... ” Gumaman kecil keluar dari mulutnya sebagai jawaban. Tak ingin berbicara karena perutnya sudah sangat kelaparan. “Pantes, lihat tuh piringmu tak ada sedikitpun noda.” “Mubajir kalo disisain,” jawab Nadya santai menanggapi ledekan sahabatnya yang masih sibuk mengunyah itu. “Bagaimana kelasmu? Menyenangkan?” Mulut Nadya kembali terbuka setelah pergi menjauh dari riuhnya suasana kantin. “Ya gitu deh.” Frida berucap acuh tanpa ekspresi. Namun tak lama ia kembali bersuara dengan nada ketusnya. “Kamu tau gak sih, aku sekelas lagi sama si biangkerok itu.” “Mira maksudnya?” Nadya mengangkat satu alisnya bingung. “Iya, emangnya siapa lagi kalo bukan dia, aish benar-benar menyebalkan!" rutuk Frida lagi sembari menendang udara di sekitarnya. “Yaudahlah, toh kisahnya aja udah berlalu.” “Gak bisa! Dia itu udah rebut pacar aku” “Pokoknya aku mau bales dia!” ungkap Frida dengan sungguh-sungguh. “Terserah kamu deh, yang penting aku udah ngasih tau ya.” Malas rasanya bagi Nadya untuk memperpanjang permasalahan yang mungkin saja kembali meledak. “Kamu gak akan bela Mira kan?” Mata tajam Frida pun melirik gadis yang masih setia melangkahkan kakinya. “Ya enggalah!” “Lagian aku juga gak mau masuk dilingkarkan itu lagi kali!” Entah kenapa Nadya merasa kesal sendiri mengingat hal yang baru saja ia maksudkan.“Emmm...Kris,sorry. Gue mau diskusi dulu sama Ayi.” Aku langsung menyeret Ayi keluar dari kafe. Ini masalah serius. Aku harus bicarakan masalah ini dulu dengan cewek Larva ini. Sebelum Mulut Toaknya makin berkoar. “Gue nggak bisa, Yi. Mau besok atau kapan pun gue nggak bisa nerima ajakan Krisan. Gue minta lo ngertiin gue.Please, yang satu ini aja. Kalau gue bilang nggak, itu artinya nggak. Lo bisa lihat dari ekspresi gue. Lo kenal baik sama gue. Benar?” Ayi mengangguk, tanpa menyela ocehanku. “Okay!” Aku putuskan untuk berterus terang akan keadaanku saat ini pada Krisan. Tidak termasuk soal aku yang sudah bertunangan. Yang pasti aku berusaha meyakinkan cowok ini untuk tidak terlalu berusaha dalam proses pendekatannya padaku. Tapi, tentunya deng
"Nggak juga sih, Yi. Kedua belah pihak sepakat, kalau aku harus nyelesain pendidikan pilot dulu sebelum kami menikah. Seenggaknya setelah aku resmi menjadi pilot profesional dengan pengalaman kerja satu tahun. Itu pun sudah diusahakan sekali buat diskon. Agar Om Barra tidak terlalu lama menunggu. Walau bagaimana pun, setelah lulus pendidikan, pilot muda belum dibolehkan menikah dulu. Kecuali nanti ada perubahan rencana. Kalau pun aku harus menikah dengan Om Barra setelah lulus pendidikan, aku mesti rahasiakan dulu sampai surat ijin aku kantongi."Kau yakin itu tidak akan mempengaruhi hubunganmu dengan Om Barra? Jam terbangnya pilot kan, padat sekali. Aku tak yakin, aku bisa setangguh kamu, kalau berada di posisi itu. Dan lagi, memangnya Om Barra sanggup pisah sama kau selama beberapa waktu? Minimal kalian tidak ketemu itu tiga hari, Mi."
Dan aku? Hanya bisa melongo. Sumpah, Om Barra memang sungguh misterius. Penuh dengan kejutan. "Eh, kalau setahun yang lalu Barra sudah naksir Tata, kenapa kalian baru dekat sejak satu setengah bulan yang lalu?" Kali ini pertanyaan yang lain terlontar dari bibir Mas Gebyar, sepupu dari pihak Tante Izma-Maminya Om Barra. "Karena kami baru bertemu lagi tepat satu setengah bulan yang lalu. Sebenarnya kurang tepat kalau saya sudah menyukai Tata sejak setahun yang lalu. Waktu itu saya hanya sebatas mengaguminya. Sebagai orang yang berakal sehat, pasti akan merasa takjub dengan sesuatu yang menurut kita luar biasa. Dan menurut saya, apa yang dilakukan Qarmita waktu itu adalah hal yang luar biasa." Dududuh, so sweet-nya calon suamiku.Fix, habis ini aku kardusin saja
Baru saja aku keluar dari pintu kafe, Om Barra sudah muncul saja di depanku dengan senyumnya yang menawan. MasyaAllah, bagaimana aku bisa menolak pesonanya kalau dianya suka sekali bikin hal-hal yang tidak terduga seperti ini. Rencana pembatalan pertunangan pasti tidak akan pernah terealisasikan. Untung Ayi sudah pulang lebih dulu. Jadi, aku tidak perlu merasa awkwarddi depan dia.“Mau pulang?” Aku mengangguk, sembari menebar senyum paling manis yang aku punya.“Senyumnya tidak usah semanis itu lah, kalau sedang di tempat umum. Simpan itu untuk saya, nanti saja setelah kita menikah.”“Hell!” Tiba-tiba satu kata terlarang meluncur begitu saja dari mulutku sambil memutar kedua bola mata, malas.
“Nikah sama saya.” Hah!Guys, aku tidak salah dengar kah, ini? Barusan Om Barra bilang apa? “Nikah sama saya, Qarmita Alpha Cygni. Kamu mau kan? Saya menagih janji kamu waktu itu, loh. Tidak boleh menolak. Janji harus di
Setelah selesai menghapus satu pesan terakhirku di ponsel Om Barra, aku langsung mengembalikan benda itu padanya.“Sudah. Ini! Terima kasih.” Ucapku.
Sesampainya di rumah, aku langsung begitu saja keluar dari mobil Om Barra, lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan dia, aku tinggal berdua dengan Papa yang memang kemujuran sedang berdiri di depan rumah karena menunggu aku pulang.
Nggak terasa matahari mulai semakin terik. Kami semua pun memutuskan untuk menyudahi obrolan di halaman belakang. Lalu memilih masuk ke dalam bangunan villa. Beberapa ada yang masih betah mengobrol di ruang tengah. Dan beberapa ada yang lebih memilih b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas