MasukTatapan mata Arthen yang memerah dan sayu langsung terkunci pada wajah Lucia. Selama beberapa detik, ia hanya diam mematung dengan napas berat. Namun, sebelum Lucia sempat bersuara, Arthen tiba-tiba bangkit, menjatuhkan naskah di tangannya ke lantai, dan langsung menarik tubuh Lucia ke dalam pelukan yang teramat erat. "Arthen... ada apa? Kenapa kau menangis semalaman di sofa?" bisik Lucia terkejut. Tangannya bergerak mengusap punggung lebar suaminya yang terasa sangat tegang. Arthen tidak segera menjawab. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lucia, menghirup aroma istrinya dalam-dalam. "Naskah itu..." suara Arthen terdengar parau dan serak. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, Lucia. Bahkan jika itu hanya sebuah peran di depan kamera." Lucia melirik ke arah bundelan naskah yang tergeletak di lantai, terbuka tepat pada halaman adegan konflik pertengahan episode. Rasa haru seketika membuncah di dadanya. "Itu hanya
Suara deru mesin mobil akhirnya mati saat kendaraan mewah itu terparkir sempurna di basement apartemen baru mereka. Keheningan malam yang pekat menyelimuti kabin. Arthen menoleh ke samping, menatap Lucia yang masih terlelap dalam posisi yang sama, kepalanya bersandar lelah pada kaca mobil dengan napas yang teratur dan halus. Gurat-gurat kelelahan yang samar di wajah cantik istrinya memicu rasa bersalah sekaligus luapan kehangatan yang asing di dada Arthen. Pria itu melepas sabuk pengamannya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia turun dari mobil, melangkah memutari kap, lalu membuka pintu di sisi penumpang dengan gerakan yang amat hati-hati. Tubuh Lucia yang ringkih dan lelah itu langsung diangkatnya ke dalam dekapan hangatnya. Kepala Lucia terkulai pasrah di dada bidang Arthen, refleks mencari kenyamanan di sana tanpa sekali pun membuka matanya. Arthen membawa Lucia melewati lift privat menuju penthouse baru mereka. Begi
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah tirai kelambu suite pengantin perlahan membangunkan Lucia dari tidur nyenyaknya. Ketika ia mengerjalkan mata, rasa hangat langsung menyergap kulitnya. Sepasang lengan kekar milik Arthen masih melingkar protektif di pinggangnya, mengunci tubuh Lucia erat-erat di bawah selimut tebal yang menyelimuti mereka berdua. Lucia tersenyum tipis, menatap wajah tidur Arthen yang tampak begitu damai tanpa gurat ketegangan yang biasa pria itu tunjukkan saat sedang sibuk bekerja. Perasaannya juga terasa lega melihat pria yang kini sepenuhnya menjadi miliknya secara sah. Meskipun ada perasaan tak menyangka juga jika pria ini dulunya pernah sangat ia benci. Lucia hampir terkekeh memikirkannya. ‘Mengingatnya memalukan sekali.’ Namun ditengah pikirannya. saat Lucia melirik jam digital di atas meja nakas yang menunjukkan pukul lima pagi, helaan napas pasrah pelan-
Hari ini adalah hari kedua dari dua hari libur berharga mereka. Hari di mana status di antara dirinya dan Arthen tidak lagi sekadar tentang peran utama di depan kamera, melainkan tentang lembaran hidup yang nyata.Di dalam suite pengantin, kesibukan manis telah dimulai sejak fajar. Ruangan itu dipenuhi aroma melati segar dan wewangian premium. Lucia duduk tegak di depan cermin besar, membiarkan tim perias profesional menyelesaikan sentuhan akhir pada wajah dan rambutnya."Kak Lucia..." Suara Mika memecah keheningan.Lucia menoleh memantulkan senyum lewat cermin. Mika berdiri di sana, penampilannya tidak kalah memukau dengan gaun satin berwarna pastel, dengan rambut yang ditata setengah ke atas. Di samping Mika, Sean perlahan mendorong kursi roda Ibu mereka mendekat.Saat tatapan mata sang Ibu jatuh pada sosok Lucia yang kini telah berbalut gaun pengantin putih bersih berpotongan klasik nan mewah, air mata wanita paruh baya itu langsung merebak. Gaun itu melekat sempurna, memperlihatka
Sinar matahari pagi menembus atap kaca glasshouse eksklusif di boutique hotel milik keluarga Valerius. Bunga-bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat privat, sakral, dan intim.Tidak ada kamera media, tidak ada wartawan. Hari ini khusus dipersembahkan untuk keluarga inti dan orang terdekat mereka saja yang sangat mereka percayai.Lucia melangkah perlahan menyusuri karpet putih. Gaun indah berwarna champagne yang melekat di tubuhnya tampak memikat, dihiasi bros zamrud warisan keluarga Valerius yang tersemat anggun di bagian dada.Di sampingnya, Sean berjalan mendampingi dengan wajah bangga, sementara Ibu Lucia menatap dari kursi roda dengan mata berbinar haru. Mika, adik perempuan Lucia yang duduk di bangku SMA, tampil memukau dengan dress pastel dan pita satin.Mika bertepuk tangan pelan sembari berbisik antusias, "Kak Lucia benar-benar sepert
Sinar matahari sore menerobos celah daun-daun pohon di area taman kota, membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas permukaan set syuting The Last Palette for Clarissa.Hari ini adalah jadwal terakhir pengambilan gambar sebelum seluruh tim produksi diliburkan selama dua hari penuh.Sejak pagi, ritme kerja di lokasi berjalan luar biasa lancar. Setelah konflik ketegangan kemarin mereda, chemistry di antara Arthen dan Lucia semakin memancar begitu alami.Kamera bergerak dinamis menangkap potongan adegan kencan pertama antara Clarissa dan Denny.Dalam draf naskah, Clarissa mulai mengajak Denny seorang seniman lukis berbakat yang sederhana mengunjungi tempat-tempat indah dan melakukan berbagai aktivitas seru yang telah ia susun rapi di dalam buku catatan kecil bernuansa pastel miliknya. Buku itu berisi tepat 50 daftar keinginan (bucket list) yang ingin ia capai bersama pria istimewa di sisa hidupnya.Isi daftarnya sangat beragam, mulai dari hal-hal manis nan romantis hingga hal-hal rand
Arthen berdiri di balkon kamarnya, ponsel menempel di telinga dengan raut wajah yang lebih dingin dari angin laut malam itu."Cari tahu semua hal tentang Martin. Keluarganya, sekolahnya, sasana tinjunya, hingga detail bagaimana dia bertemu Lucia pertama kali," perintah Arthen tanpa basa-
Arthen tidak langsung kembali ke dapur setelah Lucia membawakan hidangan untuk Martin. Pikirannya terus berputar pada getaran halus di tangan Lucia dan raut pucat yang tidak bisa disembunyikan wanita itu. Namun, lebih dari itu, kalimat Martin di meja tadi masih terngiang jelas di telinganya, menghu
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







