Share

Ambivalen

Penulis: NaoMiura
last update Tanggal publikasi: 2025-11-29 20:00:55

Naomi jadi bingung. Matcha itu selalu ada di tempat persediaan. Jika itu punya seseorang pasti akan diberi nama dan sudah pasti diletakkan di laci khusus yang sudah disediakan.

Naomi pun memilih membuat latte. Dia tidak ingin ternyata selama ini dia meminum milik orang lain. Dia kembali ke meja kerja dan bertanya pada Flora.

"Kamu tahu matcha yang selalu ada di pantry?"

"Ya. Kamu sering meminumnya." Jawab Flora yang masih sibuk dengan komputerny

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bilur Bulir Bertaut   Pelukan Kakak

    Vino masih menatap wajah adiknya. Ia tahu Naomi sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan karena jawaban Naomi tidak masuk akal. Melainkan karena sejak kemarin, ia melihat perubahan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata lelah. Namun ia memilih tidak mendesak."Mau pergi makan?" Vino menawari.Naomi langsung menggeleng. "Aku masih ada kerjaan.""Kerjaan bisa nunggu. Tapi kalau kamu tumbang..." Vino mengetuk pelan kepala Naomi dengan ujung jarinya. "...yang repot satu kantor."Vino masih berdiri di samping Naomi, memandangi wajah adiknya yang terlihat semakin pucat di bawah cahaya matahari yang menembus jendela. Vino menghela napas.Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi. Naomi melangkah satu langkah mendekat. Lalu memeluk kakaknya. Begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa sepatah kata.Vino sempat membeku. Sudah lama sekali Naomi tidak memeluknya seperti ini. Sejak mereka sama-sama dewasa, adiknya lebih sering menunjukkan rasa sayang lewa

  • Bilur Bulir Bertaut   Usai Rapat

    Naomi mengucapkannya tanpa ekspresi. Tanpa berusaha mencari belas kasihan. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lelah menjelaskan.Rahaal menelan ludah. Selama beberapa hari terakhir ia memang mendengar banyak gosip. Tentang Leon yang ingin menikahi Naomi. Namun ia menganggap itu hanya rumor kantor. Kini Naomi sendiri yang mengatakannya.Naomi terdiam. Rahaal juga terdiam. Ia merasa tidak punya hak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi Naomi. Mereka tidak terlibat pembicaraan lain.Lift berbunyi pelan. Ting. Pintu terbuka. Naomi lalu berjalan lebih dulu menuju ruang rapat. Rahaal tetap berdiri di dalam lift selama beberapa detik. Pintu hampir menutup kembali ketika ia akhirnya melangkah keluar. Di dalam dadanya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.Bukan karena Naomi akan menikah. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perasaan yang selama ini ia simpan memang harus berhenti sampai di sini. Naomi tidak pernah membe

  • Bilur Bulir Bertaut   Kesibukan

    Suasana kantor kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan obrolan ringan para karyawan yang baru memulai pekan. Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Wajahnya masih terlihat lelah. Namun tidak lagi semurung beberapa hari terakhir.Dia menarik napas panjang sebelum duduk di kursinya. "Hari ini aku harus bekerja."Bukan untuk melupakan. Melainkan agar pikirannya tidak terus berputar pada masalah yang sama. Naomi benar-benar ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Ia menyelesaikan laporan yang tertunda. Membalas email klien. Merevisi desain promosi. Membantu teman mengecek materi presentasi. Bahkan Flora sampai beberapa kali melirik ke arahnya."Hari ini rajin banget."Naomi hanya tersenyum tipis. "Lagi pengin kerja."Flora tertawa kecil. "Kalau setiap hari begini, bos pasti senang."Naomi ikut tersenyum, lalu kembali menatap layar komputernya. Satu per satu pekerjaannya selesai lebih cepat dari biasanya. Saat j

  • Bilur Bulir Bertaut   Berbagi Perasaan

    Vino pun meletakkan cangkir berisi coklat. Dia membuat satu gelas lagi untuk adiknya. Ketika dua gelas coklat hangat sudah di tangan. Dia pun menghampiri adiknya."Minum dulu."Naomi menerima cangkir cokelat hangat yang disodorkan kakaknya. "Terima kasih, Kak."Vino duduk di sofa sebelah. Ia melirik Naomi sekilas. Mata sembap. Wajah pucat. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang terjadi. Pasti ada masalah.Pikiran itu muncul begitu saja. Namun Vino memilih menyimpannya sendiri. Ia mengenal Naomi lebih dari siapa pun. Semakin dipaksa bercerita, adiknya justru akan semakin menutup diri. Dia belum mendapat informasi apa pun dari kaki tangannya."Mau nonton film?"Naomi menggeleng pelan. "Hm... nggak.""Mau main game?""Nggak juga.""Mau denger Kakak main piano?"Naomi akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itu kan minggu lalu."Vino terkekeh pelan. "Iya juga."Keheningan kembali hadir. Namun

  • Bilur Bulir Bertaut   Pulang ke Rumah

    Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika mobil Mareeq memasuki kawasan apartemen Naomi. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang nyaman.Naomi membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia menoleh."Terima kasih untuk malam ini."Mareeq tersenyum tipis. "Jaga diri baik-baik."Naomi mengangguk pelan.Begitu pintu apartemen terbuka, Naomi langsung melihat Leon yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu tampak baru saja mondar-mandir. Begitu melihat Naomi, wajahnya berubah lega."Sayang!" Leon segera menghampirinya. "Kamu ke mana? Aku benar-benar khawatir."Naomi memaksakan senyum kecil. "Aku jalan-jalan sebentar karena butuh hiburan."Leon memperhatikan wajah Naomi. Mata perempuan itu masih sembap. Seolah habis menangis. Namun Leon memilih untuk tidak mendesaknya. Ia hanya menggenggam tangan Naomi."Ayo duduk."Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. L

  • Bilur Bulir Bertaut   Ngidam

    "Aku tidak tahu.""Ketika ban mobilmu kempes. Ketika aku hampir tertabrak. Kamu menarikku." paparnya. "Perutku berkedut. Rasanya aneh.""Hmm." gumam Mareeq. "Pantas saja kamu diam setelah itu."Naomi masih tetap memandang ke luar jendela. "Aku memang mengeluhkan terkait terlambat haid. Ternyata itu karena sesuatu tumbuh di perutku.""Mungkin dia mengenali ayahnya." Ia melirik ke arah Naomi.Naomi tidak langsung menjawab atau bereaksi. Hanya ada satu kata yang keluar. "Mungkin."Sekitar lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai pizza kecil yang masih ramai meski malam semakin larut. Papan neon bertuliskan OPEN 24 HOURS menyala terang. Aroma adonan yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.Di balik etalase kaca, beberapa pizza baru saja keluar dari oven. Keju yang meleleh masih mengepul. Dihias berbagai toping.Naomi berdiri beberapa detik di depan kaca. Tatapannya mengikuti seora

  • Bilur Bulir Bertaut   Mengapa kamu tidak menyukaiku?

    Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.

  • Bilur Bulir Bertaut   Menghindar

    Setelah pertemuan yang memalukan di ruangan itu, Naomi sebisa mungkin menarik diri. Selama Mareeq masih cuti dan tidak ada di kantor, Naomi seolah memiliki misi rahasia: menghindari Rahaal. Ia selalu mencari jalan memutar jika melihat sosok Rahaal dari kejauhan, melewatkan jam makan siang yang bi

  • Bilur Bulir Bertaut   Ramen

    Naomi hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada keputusan pria di sampingnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis karena rentetan ketegangan emosional yang menyelimuti selama gathering.Dia tidak bisa marah pada Mareeq yang melakukan segalanya untuk dirinya. Saat Mareeq baru saja memat

  • Bilur Bulir Bertaut   Doorprize

    Naomi mengangguk pelan, mencoba memercayai perkataan Mareeq. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pantai, di mana Claudia sedang menatap ke arah mereka. Naomi bisa merasakan aura panas darinya."OKE SEMUANYA! Kumpul di depan panggung sekarang! Kita masuk ke acara yang paling ditungg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status