Share

Doorprize

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-01-13 20:00:39

Naomi mengangguk pelan, mencoba memercayai perkataan Mareeq. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pantai, di mana Claudia sedang menatap ke arah mereka. Naomi bisa merasakan aura panas darinya.

"OKE SEMUANYA! Kumpul di depan panggung sekarang! Kita masuk ke acara yang paling ditunggu... pembagian doorprize!" teriak Claudia penuh semangat.

Suasana di pinggir pantai kembali memanas, tapi kali ini bukan karena persaingan fisik, melainkan karena antusiasme terhadap d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Garis Kepastian

    Begitu tiba di apartemen, suasana yang sunyi langsung menyambut Naomi. Naomi melepas sepatu dan meletakkan tas di sofa. Tak ada suara televisi. Hanya dengungan pendingin ruangan yang terdengar pelan.Ia mengeluarkan kantong dari dalam tas. Perlahan, ia mengeluarkan satu per satu isinya. Obat pelancar haid. Lalu... Sebuah kotak kecil bertuliskan test pack.Naomi meletakkannya di atas meja di ruang TV. Tatapannya tidak berpindah. Tangannya perlahan meraih kotak itu. Lalu diurungkannya. Ia menarik napas panjang.Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berharap bahwa ini karena terlalu banyak pikiran. Dia tidak bisa membayangkan jika hasilnya benar positif. Dadanya mendadak sesak.Naomi menutup wajah dengan kedua telapak tangan."Tidak boleh..."Bisiknya lirih.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin cuma telat. Mungkin karena stres. Mungkin karena kecapekan. Semakin banyak kemungkinan yang ia pikirkan, semakin besar pula rasa

  • Bilur Bulir Bertaut   Kekhawatiran

    Mareeq mengencangkan baut roda untuk terakhir kalinya, lalu berdiri sambil mengusap kedua telapak tangannya yang dipenuhi debu. Ban cadangan sudah terpasang dengan baik. Ia menepuk pelan ban itu, memastikan semuanya aman sebelum menutup bagasi.Saat membuka pintu pengemudi, pandangannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi masih duduk di kursi penumpang. Tatapannya mengarah ke luar jendela, tetapi seolah tidak benar-benar melihat apa pun."Naomi."Naomi sedikit tersentak. "Hmm?""Sudah selesai.""Oh..." Ia memaksakan senyum tipis. "Terima kasih."Mareeq masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Namun bukannya langsung menjalankan mobil, ia justru menoleh ke arah Naomi."Kamu kenapa?"Naomi menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa.""Kamu dari tadi diam.""Aku cuma capek."Mareeq memperhatikan wajah Naomi beberapa detik. Biasanya, setelah pekerjaan selesai atau ada kejadian kecil di jalan, Naomi akan mengomenta

  • Bilur Bulir Bertaut   Alarm dan Kekhawatiran

    Sejak pagi, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Lift tak pernah sepi, mesin kopi di pantry bekerja tanpa henti, dan hampir setiap meja dipenuhi tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan.Naomi baru saja meletakkan berkas di mejanya ketika Mareeq muncul di depan meja Naomi sambil membawa map hitam."Naomi, ikut aku meeting sebenter di luar."Naomi kemudian melirik ke arah meja Claudia. Dia ada di sana, tapi tampaknya tidak memperhatikan Mareeq yang memintanya ikut meeting. Sepertinya Claudia mengerjakan hal lain yang lebih urgent.Naomi pun menatap Mareeq dengan senyuman. "Baiklah. Setidaknya ada suasana baru daripada di depan komputer terus.""Kita berangkat sekarang.""Oke."Mereka berpamitan kepada tim sebelum turun ke area parkir.Meeting berjalan hampir dua jam. Diskusi yang awalnya diperkirakan selesai sebelum makan siang ternyata berlanjut hingga beberapa kali membahas revisi anggaran dan jadwal kampanye.

  • Bilur Bulir Bertaut   Terlambat

    Libur panjang benar-benar berakhir. Sejak pukul delapan pagi, lantai divisi pemasaran kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda."Naomi, revisi materi promonya sudah selesai?" tanya Claudia."Hampir." jawab Naomi sekenanya."File untuk klien dari We Food jangan lupa dikirim sebelum jam sebelas.""Itu sudah selesai. Aku kirim sekarang." jawab Naomi."Oke. Terima kasih."Setelah Naomi mengirim berkas pertama, notifikasi lain sudah bermunculan. Deadline demi deadline membuat seluruh tim nyaris tidak sempat mengobrol. Bahkan Claudia yang biasanya paling cerewet pun sejak pagi sibuk menatap monitor di mejanya.Di tengah kesibukan itu, Rian, office boy, muncul di depan ruangan."Permisi, ada yang mau titip camilan? Saya sekalian ke minimarket."Beberapa kepala langsung terangkat."Aku titip kopi.""Tolong belikan aku roti. Sepertinya tidak sempat turun untuk m

  • Bilur Bulir Bertaut   Mimpi dan Gunung

    Selesai menikmati hidangan penutup, Mareeq memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Setelah semua pembayaran selesai, mereka kembali ke mobil. Alih-alih mengantar Naomi pulang, Mareeq membelokkan mobil ke arah jalan yang sudah sangat mereka kenal.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di tepi jalan yang berada di atas bukit. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan.Langit masih berwarna biru muda, perlahan berubah keemasan di ufuk barat. Awan tipis bergerak pelan tertiup angin. Kota di bawah tampak jelas dengan lalu lintas yang masih padat.Tidak ada percakapan. Naomi melirik ke samping. Mareeq duduk diam sambil memandang jauh ke arah kota.Meski berusaha terlihat biasa, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan. Kelopak matanya beberapa kali berkedip lebih lambat. Bahu pria itu pun tampak sedikit turun, tidak setegap biasanya.Naomi menghela napas pelan. "Kamu ngantuk."

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Restoran Jepang

    Libur akhir pekan terasa berjalan terlalu cepat. Naomi masih berada di rumahnya ketika sebuah panggilan masuk. Nama Mareeq muncul di layar. Naomi mengangkat panggilan itu."Halo?""Naomi." Suara di seberang terdengar sedikit serak. "Kamu lagi di mana?""Di rumah.""Mau bertemu?" ujar Mareeq yang lebih terdengar seperti permintaan.Naomi melirik jam dinding. Menjelang siang. Waktu yang tepat untuk makan siang di luar. Naomi tersenyum kecil."Boleh.""Aku akan menjemputmu." Mareeq tanpa basa-basi.Setelah panggilan berakhir, Naomi memasukkan ponselnya ke saku. Dia kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barang yang ingin dia bawa ke apartemen nanti. Tidak banyak. Hanya beberapa baju dan makeup agar tidak mubazir karena hampir kedaluwarsa.Naomi keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan kakaknya. Dia menemukannya di kamarnya sedang bermain game PC."Kakak." Panggil Naomi begitu dia melongok ke dalam kamar. "N

  • Bilur Bulir Bertaut   Proyek Besar

    Pagi itu kantor sudah cukup ramai meski jam kerja baru berjalan beberapa jam. Naomi baru saja selesai mengecek email ketika suara Claudia terdengar dari area pantry. Beberapa staf tampak berkumpul di sana.“…jadi akhirnya meeting langsung ditangani pihak pusat,” kata Cla

  • Bilur Bulir Bertaut   Gosip

    Leon hanya mengangguk singkat. Naomi menatap Maya yang pergi, lalu kembali ke Leon. Beberapa detik hening.“Aku benar-benar mengganggu, kan?” tanya Naomi pelan.Leon menggeleng lagi, kali ini lebih santai. “Kamu hanya datang di waktu yang kebetulan.”N

  • Bilur Bulir Bertaut   Baik-baik Saja

    Pagi dengan ritme yang biasa. Suara keyboard, langkah kaki, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Semua terlihat normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan apa yang Naomi rasakan di dalam dirinya.Ia baru saja duduk ketika melihat sosok Claudia di mejanya. Naomi sedikit terkejut. Cl

  • Bilur Bulir Bertaut   Perjalanan Bisnis

    Setelah rapat selesai, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari ruang meeting menuju lorong kantor. Naomi masih membawa map di dadanya. Langkahnya ringan, meski ia berusaha terlihat biasa saja.Saat melewati lorong, Mareeq justru berhenti di depan vending machine. Naomi ikut berhenti. Mareeq

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status