LOGINNaomi mengirim pesan pada OB itu lagi meminta dijemput untuk membantunya membawa barang. Beberapa menit kemudian OB itu datang dan dengan cekatan membantu membawakan barang.
“Mbak Naomi rajin juga ya ngurus beginian,” kata OB itu sambil berjalan.
Naomi tertawa kecil. “Terpaksa rajin, Mas.”
“Pak Rahaal percaya sama Mbak Naomi berarti.”
Naomi langsung pura-pura fokus melihat daftar belanja di tablet. “Itu karena saya nggak bi
Menjelang sore, Mareeq akhirnya kembali ke kantor setelah menghadiri meeting dengan klien di luar. Ia membawa beberapa dokumen di tangannya. Begitu memasuki area tim, hal pertama yang ia sadari adalah terlalu banyak bunga.Hampir setiap meja perempuan di divisi mereka memiliki setangkai mawar. Ada yang merah. Ada yang putih. Ada yang kuning. Bahkan ada yang sudah dimasukkan ke gelas plastik bekas kopi sebagai vas darurat.Mareeq menggeleng kecil. Ia berjalan menuju meja Claudia dan menyerahkan beberapa dokumen. "Ini revisi dari klien."Claudia langsung menerimanya. "Oke."Mareeq menjelaskan beberapa poin singkat sebelum melanjutkan langkah.Namun saat melewati meja Naomi, langkahnya melambat. Di sana ada mawar putih. Mareeq berhenti.Naomi yang sedang mengetik mendongak. Lalu melebarkan senyum. Mareeq menunjuk ke arah bunga-bunga itu."Jadi para perempuan di sini saling bertukar bunga?"Naomi melihat ke arah mejanya. "Oh, bukan.
Naomi baru saja kembali ke mejanya ketika suara Claudia terdengar dari pintu masuk ke ruangan tim."Selamat Rose Day!" sapa Claudia."Apa itu?" tanya Naomi.Flora yang duduk di sebelahnya ikut mengangkat kepala. "Kamu tidak tahu?"Naomi menggeleng. "Tidak."Claudia langsung terlihat seperti menemukan proyek baru. "Rose Day itu awal dari Valentine Week.""Valentine punya minggu?""Punya dong." jawab Claudia. "Di lobi sudah banyak hiasan. Kalian tidak lihat?""Aku tidak memperhatikan. Tapi, tadi memang lobi sedang dihias." ujar Naomi. "Kenapa harus ada Rose Day jika ada valentine?" tanya Naomi pada entah siapa.Karena tidak ada jawaban logis untuk pertanyaan itu, Claudia memilih melanjutkan penjelasan."Hari ini Rose Day. Orang-orang biasanya memberikan bunga mawar kepada orang yang mereka suka.""Oh." Hanya itu reaksinya.Claudia pun duduk di kursinya untuk memulai pekerjaan.Pagi itu email dar
Naomi bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak terasa berat. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering. Dan tubuhnya tidak sepanas malam sebelumnya. Setidaknya demamnya sudah turun.Namun ada masalah baru. Naomi menatap langit-langit kamar sambil memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan sakit yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tapi rasa keram yang sangat familiar. Rasa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.Naomi menoleh ke kalender di ponselnya. "Oh..."Lalu menghitung cepat. Dan langsung menutup mata lagi. Sudah mendekati waktunya."Pantas."Ketika sampai di kantor, Flora langsung menghampirinya."Kamu hidup."Naomi meletakkan tasnya. "Aku juga senang melihatmu."Flora memperhatikan wajahnya. "Sudah lebih baik?""Sudah."Namun beberapa menit kemudian Flora mulai curiga. Karena Naomi terlihat lebih sering diam. Lebih sering menyandarkan pungg
Tidak berapa lama. Naomi pun pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Dia merasa ngantuk sekali.Sekitar tiga puluh menit kemudian. Makanan mulai berdatangan. Kotak-kotak nasi. Minuman dalam cup plastik.Naomi langsung terdiam. Di atas meja Naomi ada kelapa utuh. Masih lengkap dengan sabutnya. Bahkan ada sedotan kecil yang ditancapkan secara dramatis di bagian atas.Hening. Naomi menatap benda itu. Lalu menatap OB. Lalu kembali ke kelapa."Aku pesan air kelapa."OB mengangguk. "Iya, Mbak. Ini air kelapa."Naomi menunjuk pelan. "Ini kelapa.""Iya, Mbak.""Yang aku maksud airnya."OB terlihat bingung. "Airnya ada di dalam, Mbak."Naomi menutup mata sebentar. Flora sudah mulai menahan tawa. Naomi menarik napas pelan."Apakah aku terlihat seperti di pantai?"OB membuka mulutnya karena baru mengerti. "Oh… maaf, Mbak. Saya kira mau yang segar.""Ini terlalu segar."Flora akhirnya tid
Awal Februari berjalan seperti biasanya. Naomi sudah merasa lebih baik setelah semalam Mareeq memberikan perhatian padanya. Jadi, dia berangkat bekerja.Begitu komputer menyala, notifikasi email masuk bermunculan. Salah satunya berasal dari Divisi HR. Judulnya cukup besar dan mencolok. Pengingat Belanja Valentine – Event Internal PerusahaanNaomi membacanya sekilas. Lalu menyesap tehnya. Lalu menutup email itu. Selesai.Namun tidak bagi Claudia. "Oh!"Suara itu langsung membuat beberapa kepala menoleh. Flora yang baru duduk bahkan hampir menjatuhkan tasnya."Ada apa?" tanya Flora."Valentine!" ujar Claudia semangat. "Lihat pean dari perusahaan."Flora membuka email yang sama. "Oh!"Claudia menatap Flora dengan kecewa. Lalu beralih ke Naomi. "Naomi, kamu baca emailnya?""Sudah.""Itu Valentine!""Iya."Tidak lama kemudian seluruh tim mulai membahas email tersebut. Rupanya perusahaan akan mengadaka
Ketika sampai di depan apartemen Naomi, Mareeq bahkan tidak langsung membangunkannya. Ia mematikan mesin. Lalu duduk diam beberapa saat. Memandangi sosok yang masih tertidur di kursi sebelah.Wajah Naomi memang sedikit pucat. Tetapi sekarang terlihat lebih tenang. Tidak sedang memikirkan pekerjaan. Tidak sedang menyembunyikan rasa lelahnya. Hanya tertidur.Mareeq merapikan sedikit ujung jaket yang menutupi tangan Naomi. Gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Namun tepat saat itu, Naomi bergerak kecil. Matanya perlahan terbuka. Masih setengah mengantuk."Hm...""Kita sudah sampai."Naomi berkedip beberapa kali. Lalu melihat keluar jendela. "Oh.""Kamu tertidur."Naomi masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Tanpa sadar menarik jaket Mareeq sedikit lebih rapat ke tubuhnya. Dan entah kenapa, gerakan kecil itu membuat Mareeq semakin yakin bahwa besok pagi ia harus memastikan Naomi benar-benar tidak masuk kantor dalam kea
Naomi menyesap matcha latte-nya dengan lemas. Satu-satunya awan mendung yang menggelayuti kepalanya hanyalah kerinduan pada Mareeq. Anehnya padahal baru kemarin mereka bersama. Itulah alasan utama mengapa ia langsung mengiyakan ajakan Killa untuk makan siang. Ia butuh pengalihan. Ia butuh mengobr
Naomi hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada keputusan pria di sampingnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis karena rentetan ketegangan emosional yang menyelimuti selama gathering.Dia tidak bisa marah pada Mareeq yang melakukan segalanya untuk dirinya. Saat Mareeq baru saja memat
Naomi mengangguk pelan, mencoba memercayai perkataan Mareeq. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pantai, di mana Claudia sedang menatap ke arah mereka. Naomi bisa merasakan aura panas darinya."OKE SEMUANYA! Kumpul di depan panggung sekarang! Kita masuk ke acara yang paling ditungg
Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakka







