LOGINKetika Naomi pergi ke toilet. Dia melihat Max keluar dari ruang HRD. Apa yang terjadi? Karena penasaran, Naomi menghampirinya dan menyapa.
"Max, lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" Tanya Naomi.
"Aku baik. Bagaimana kabarmu?" Tanya Max balik.
"Aku baik juga. Apa yang kamu lakukan dari ruang HRD?" Tanya Naomi tanpa basa-basi.
"Oh, aku mengajukan pemindahan ke kantor lain." Max pun menjawab dengan to the point.
"Kamu pindah? Claudia akan kehilang
Naomi berjalan melewati area parkir apartemen sambil membawa bunga-bunganya. Tangannya penuh. Belum lagi tas kerja yang menggantung di bahunya. Saat itulah terdengar suara klakson pendek.Tin.Tin.Naomi menoleh. Mobil Mareeq terparkir tidak jauh dari sana. Rupanya dia belum pulang. Jendela pengemudi turun perlahan.Naomi langsung berjalan ke sana. Begitu duduk di kursi penumpang depan, ia meletakkan semua bunga di pangkuannya. Mareeq melirik sekilas. Kemudian menghela napas."Bungamu bertambah."Naomi tersenyum. "Iya. Tadi dapat dari Leon juga."Jawaban itu membuat Mareeq terdiam beberapa detik. Ia mengangguk pelan. "Tentu saja."Naomi memperhatikan ekspresinya. "Kok reaksinya begitu?""Aku harus bagaimana?"Naomi tertawa. "Kamu memberiku buket. Kamu masih merasa tersaingi?""Aku tidak merasa tersaingi." kilah Mareeq."Ya. Baiklah." jawab Naomi menyerah."Bunga putih dari siapa?" tanya Mareeq
Menjelang sore, Mareeq akhirnya kembali ke kantor setelah menghadiri meeting dengan klien di luar. Ia membawa beberapa dokumen di tangannya. Begitu memasuki area tim, hal pertama yang ia sadari adalah terlalu banyak bunga.Hampir setiap meja perempuan di divisi mereka memiliki setangkai mawar. Ada yang merah. Ada yang putih. Ada yang kuning. Bahkan ada yang sudah dimasukkan ke gelas plastik bekas kopi sebagai vas darurat.Mareeq menggeleng kecil. Ia berjalan menuju meja Claudia dan menyerahkan beberapa dokumen. "Ini revisi dari klien."Claudia langsung menerimanya. "Oke."Mareeq menjelaskan beberapa poin singkat sebelum melanjutkan langkah.Namun saat melewati meja Naomi, langkahnya melambat. Di sana ada mawar putih. Mareeq berhenti.Naomi yang sedang mengetik mendongak. Lalu melebarkan senyum. Mareeq menunjuk ke arah bunga-bunga itu."Jadi para perempuan di sini saling bertukar bunga?"Naomi melihat ke arah mejanya. "Oh, bukan.
Naomi baru saja kembali ke mejanya ketika suara Claudia terdengar dari pintu masuk ke ruangan tim."Selamat Rose Day!" sapa Claudia."Apa itu?" tanya Naomi.Flora yang duduk di sebelahnya ikut mengangkat kepala. "Kamu tidak tahu?"Naomi menggeleng. "Tidak."Claudia langsung terlihat seperti menemukan proyek baru. "Rose Day itu awal dari Valentine Week.""Valentine punya minggu?""Punya dong." jawab Claudia. "Di lobi sudah banyak hiasan. Kalian tidak lihat?""Aku tidak memperhatikan. Tapi, tadi memang lobi sedang dihias." ujar Naomi. "Kenapa harus ada Rose Day jika ada valentine?" tanya Naomi pada entah siapa.Karena tidak ada jawaban logis untuk pertanyaan itu, Claudia memilih melanjutkan penjelasan."Hari ini Rose Day. Orang-orang biasanya memberikan bunga mawar kepada orang yang mereka suka.""Oh." Hanya itu reaksinya.Claudia pun duduk di kursinya untuk memulai pekerjaan.Pagi itu email dar
Naomi bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak terasa berat. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering. Dan tubuhnya tidak sepanas malam sebelumnya. Setidaknya demamnya sudah turun.Namun ada masalah baru. Naomi menatap langit-langit kamar sambil memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang.Perutnya terasa tidak nyaman. Bukan sakit yang membuatnya tidak bisa bergerak. Tapi rasa keram yang sangat familiar. Rasa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.Naomi menoleh ke kalender di ponselnya. "Oh..."Lalu menghitung cepat. Dan langsung menutup mata lagi. Sudah mendekati waktunya."Pantas."Ketika sampai di kantor, Flora langsung menghampirinya."Kamu hidup."Naomi meletakkan tasnya. "Aku juga senang melihatmu."Flora memperhatikan wajahnya. "Sudah lebih baik?""Sudah."Namun beberapa menit kemudian Flora mulai curiga. Karena Naomi terlihat lebih sering diam. Lebih sering menyandarkan pungg
Tidak berapa lama. Naomi pun pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Dia merasa ngantuk sekali.Sekitar tiga puluh menit kemudian. Makanan mulai berdatangan. Kotak-kotak nasi. Minuman dalam cup plastik.Naomi langsung terdiam. Di atas meja Naomi ada kelapa utuh. Masih lengkap dengan sabutnya. Bahkan ada sedotan kecil yang ditancapkan secara dramatis di bagian atas.Hening. Naomi menatap benda itu. Lalu menatap OB. Lalu kembali ke kelapa."Aku pesan air kelapa."OB mengangguk. "Iya, Mbak. Ini air kelapa."Naomi menunjuk pelan. "Ini kelapa.""Iya, Mbak.""Yang aku maksud airnya."OB terlihat bingung. "Airnya ada di dalam, Mbak."Naomi menutup mata sebentar. Flora sudah mulai menahan tawa. Naomi menarik napas pelan."Apakah aku terlihat seperti di pantai?"OB membuka mulutnya karena baru mengerti. "Oh… maaf, Mbak. Saya kira mau yang segar.""Ini terlalu segar."Flora akhirnya tid
Awal Februari berjalan seperti biasanya. Naomi sudah merasa lebih baik setelah semalam Mareeq memberikan perhatian padanya. Jadi, dia berangkat bekerja.Begitu komputer menyala, notifikasi email masuk bermunculan. Salah satunya berasal dari Divisi HR. Judulnya cukup besar dan mencolok. Pengingat Belanja Valentine – Event Internal PerusahaanNaomi membacanya sekilas. Lalu menyesap tehnya. Lalu menutup email itu. Selesai.Namun tidak bagi Claudia. "Oh!"Suara itu langsung membuat beberapa kepala menoleh. Flora yang baru duduk bahkan hampir menjatuhkan tasnya."Ada apa?" tanya Flora."Valentine!" ujar Claudia semangat. "Lihat pean dari perusahaan."Flora membuka email yang sama. "Oh!"Claudia menatap Flora dengan kecewa. Lalu beralih ke Naomi. "Naomi, kamu baca emailnya?""Sudah.""Itu Valentine!""Iya."Tidak lama kemudian seluruh tim mulai membahas email tersebut. Rupanya perusahaan akan mengadaka
"Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan tinggal bersama orang yang tidak kamu cintai, Nak. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik," ujar Mama lembut namun tegas.Naomi menghela napas panjang, membiarkan uap hangat dari ruangan itu menyelimuti wajahnya. Ia memutuskan untuk sedikit membuka c
Kehadiran wanita di lobi Legacy menciptakan riak penasaran di seluruh ruangan. Ia berdiri dengan postur sempurna, mengenakan setelan silk berwarna earth tone yang memancarkan aura kelas atas yang tenang. Tak ada satu pun orang di kantor itu yang menyadari bahwa wanita elegan tersebut adalah mama
Udara di sky terrace siang itu terasa sejuk, kontras dengan hiruk-pikuk lantai kantor yang baru saja ditinggalkan Naomi. Ia duduk di salah satu kursi kayu panjang, kedua tangannya melingkari kaleng berisi matcha dingin yang baru saja ia beli dari vending machine.Pandanga
Vino bangkit dari kursinya, lalu menarik tangan adiknya agar ikut berdiri. Ia sengaja mengabaikan map hitam itu sejenak, seolah ingin memberikan ruang bagi Naomi untuk bernapas."Sudah, jangan dipikirkan lagi. Map ini urusan belakangan," ucap Vino sambil merapikan jasnya yang kini tampak s







