Home / Horor / Booking Terakhir / Chapter 60 : Kustodian

Share

Chapter 60 : Kustodian

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-07-30 10:53:41

Tidak ada wajah serta tanpa ada bayangan apapun, namun suara itu terdengar dari seluruh penjuru aula, tetapi anehnya, tidak berasal dari pengeras suara. Mikrofon di meja sidang bahkan masih mati tidak menyala.

Kemudian Lestari memandang ke arah langit-langit."Dia memakai jaringan komunikasi internal..."

Pria berkacamata berseragam hitam menggeleng dengan cepat dan yakin, "Bukan."

Lalu ia berjalan menuju panel audio di samping podium, membuka penutupnya, lantas mencabut seluruh kabel. Tapi suara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 59 : Foto Yang Berbohong

    Kemudian foto itu berpindah dari tangan ke tangan dalam keheningan karena tak seorang pun dari mereka yang berani berbicara. Semua mata yang melihat foto itu pasti tertuju pada sosok samar di dekat papan gambar. Bukan wajahnya yang menarik perhatian, melainkan bayangannya. Raka mengambil kaca pembesar dari meja sekretariat sidang lalu meletakkannya di atas foto."Lihat sepatunya." Semuanya langsung mendekat karena hendak melihat apa yang ditunjukkan oleh Raka.Ternyata bayangan itu mengenakan sepatu kulit mengkilap, sedangkan empat orang lainnya yang sedang rapat memakai sepatu proyek yang penuh debu semen."Dia bukanlah pekerja lapangan di proyek," gumam Bima," Dan dia datang setelah rapat dimulai."Akan tetapi Lestari langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, sepertinya bukan begitu.""Kenapa?" Raka bertanya dengan penuh rasa penasaran."Kalau ia datang belakangan dan berada di dalam ruang rapat, bayangannya akan jatuh ke arah pintu." Lestari berusaha memberi penjelasan sambil menu

  • Booking Terakhir   Chapter 61 : Museum Kehilangan

    Untuk beberapa saat lamanya, tak seorang pun yang mau menyentuh isi kotak itu. Bukan karena takut, melainkan karena tidak ada yang mengerti mengapa benda-benda remeh itu bisa membuat seorang petugas kebersihan begitu yakin dengan pendapatnya sendiri.Kemudian Pria tua itu mengambil jam tangan yang berhenti di pukul 16.17 seraya bertanya, "Boleh saya pinjam?"Raka mengangguk tanpa ragu. Pria itu tidak memutar jarumnya dan juga tidak membuka tutup belakangnya karena ia hanya meletakkan jam itu di atas meja sidang. "Lihat baik-baik."Raka dan kawan kawan pun mendekat dengan rasa penasaran.Ternyata di sisi belakang jam terdapat ukiran kecil yang hampir hilang dimakan karat, bertuliskan:Untuk Ayah. Pulanglah…"Sepertinya Itu bukanlah barang bukti," bisik Mira, "Itu adalah kenangan."Lalu Pria tua itu mengangguk dengan mantap. "Persis."Kemudian Ia mengambil cincin penyok berikutnya. Ternyata di bagian dalamnya terukir dua inisial:A & MKemudian selembar tiket bus yang dibaliknya terdap

  • Booking Terakhir   Chapter 60 : Kustodian

    Tidak ada wajah serta tanpa ada bayangan apapun, namun suara itu terdengar dari seluruh penjuru aula, tetapi anehnya, tidak berasal dari pengeras suara. Mikrofon di meja sidang bahkan masih mati tidak menyala.Kemudian Lestari memandang ke arah langit-langit."Dia memakai jaringan komunikasi internal..."Pria berkacamata berseragam hitam menggeleng dengan cepat dan yakin, "Bukan."Lalu ia berjalan menuju panel audio di samping podium, membuka penutupnya, lantas mencabut seluruh kabel. Tapi suara itu ternyata tetap terdengar. “ Ini suara yang sudah direkam ke dalam sistem bangunan."Semua orang terdiam saat mendengar kalimat itu.Berarti siapa pun si Kustodian, ia tidak sedang berbicara secara langsung, karena kemungkinan besar, bangunan ini sedang berbicara atas namanya."Sebelum kalian mengajukan pertanyaan, ijinkan saya mengoreksi satu kesalahan." Suara itu terdengar tenang, bahkan sopan."Saya ini bukan pemimpin Direktorat dan juga bukan pendiri ataupun orang kelima.”Kemudian Raka m

  • Booking Terakhir   Chapter 58 : Hak Veto

    Kemudian secara pasti pintu aula perlahan terbuka bagai dalam gerakan lambat. Kali ini tidak ada teriakan atau pun senjata yang terlibat. Yang terdengar hanya suara kursi-kursi yang bergeser ketika lebih dari seratus orang berdiri bersamaan.Beberapa saat kemudian Raka memberanikan diri untuk melangkah masuk.Satu, dua, tiga langkah sudah diambil olehnya dengan diiringi tatapan dari seluruh peserta yang hadir disana. Tatapan yang tampak murni tanpa kebencian. Namun ada yang jauh terasa lebih mengganggu perasaan Raka, yaitu gerakan dan gestur mereka semua yang terlihat lega, seolah seseorang yang telah lama dinanti akhirnya datang juga disana.Sementara itu di ujung ruangan, pria berkacamata berseragam hitam berdiri dengan tegap, akan tetapi ia sama sekali tidak tersenyum, namun juga tidak terlihat terkejut."Selamat datang." Terdengar sambutan darinya dengan suara hampir terdengar datar saja apa adanya, sama sekali tidak ada gejolak atau apapun dari reaksinya.Sambutan yang seakan tan

  • Booking Terakhir   Chapter 57 : Sidang Tanpa Terdakwa

    Tiba tiba sirene berhenti dan meninggalkan keheningan yang justru terasa lebih mengancam daripada sebelumnya.Lalu dengan perlahan dan waspada, Surya menutup buku lusuh itu, kemudian memandang Raka tanpa berkedip. "Kalau mereka sampai mengadakan siding, berarti mereka sudah kehilangan sesuatu.""Kehilangan sesuatu? Apakah itu?" Tanya Raka dengan pandangan mata yang tak kalah tegangnya.Tanpa diduga, ternyata Surya menggelengkan kepalanya. "Itu yang harus kita cari tahu."Sementara itu, Paras wajah Bima tampak penuh dengan keraguan."Kalau kita datang ke Ruang Sidang Utama, berarti kita masuk ke sarang mereka.""Kalau kita tidak datang," jawab Surya tenang, "kita membiarkan mereka menentukan cerita tanpa satu pun sanggahan atau perlawanan."Kalimat yang terucap dari mulut Surya itu langsung membuat semua terdiam. Selama ini mereka selalu bergerak diam-diam, mengambil serpihan informasi, lalu melarikan diri. Namun untuk yang kali ini, Surya mengusulkan hal yang berlawanan dan berbeda, ya

  • Booking Terakhir   Chapter 56: Orang yang Menolak Diwarisi

    Kemudian suara perempuan itu dengan cepat menghilang begitu saja menyisakan kesunyian kembali dalam ruangan.Laci-laci baja pun menutup sendiri satu per satu.Klik, Klik, Klik.Seolah seluruh bangunan baru saja mengambil keputusan yang tidak mereka ketahui sama sekali dan justru memunculkan kecemasan baru nan kian mencekam serta mengancam.Sambil berpikir keras, Raka masih memandangi map hitam di tangannya. "Sepertinya ini salah."Ternyata tak seorang pun yang menjawab atau sekadar menanggapi ucapan Raka barusan.Hanya Bima yang merespon dengan mendekati Raka secara perlahan."Justru itu yang membuatku takut.""Maksudnya?""Dalam setiap proyek besar, orang yang paling berbahaya bukan yang mengejar kekuasaan." Ujar Bima seraya menatap mata Raka dengan pandangan tajam. "Tetapi orang yang dikejar oleh kekuasaan itu sendiri.”Lalu Mira mengambil map hitam tersebut dan membolak-balik setiap halaman dengan lebih cermat. Tidak ada tanda tangan, tidak ada stempel, serta tidak ada nama penyusun

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status