แชร์

Bab 48

ผู้เขียน: Pelangi Jelita
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-17 16:00:39
Sore itu, setelah hampir setengah hari membantu Papa Wijaya di bengkel furnitur belakang rumah, Nizam merasa tangannya sedikit pegal, sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini.

Biasanya yang ia pegang adalah laporan keuangan, proposal kerja sama, atau kontrak bisnis bernilai miliaran. Hari ini ia memegang amplas dan kuas pernis.

Aneh, tapi menenangkan.

Papa Wijaya berdiri di sampingnya, memperhatikan detail ukiran pada kaki meja yang sedang mereka haluskan.

“Dalam bisnis, Zam,” ucap Papa pe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bos Galak, I Love U   Bab 66

    Lokasi kecelakaan kembali dipenuhi garis polisi, beberapa anggota tim forensik masih melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangkai mobil yang dikendarai Nizam.Seorang teknisi kepolisian memperhatikan bagian bawah kendaraan dengan saksama. Dahinya berkerut ketika menemukan sesuatu yang tidak biasa. "Pak, coba lihat ini."Samudra, Penyidik senior segera menghampiri. "Ada apa?""Selang minyak rem ini... bukan putus karena benturan."Penyidik itu berjongkok, bekas sayatan tipis tampak begitu rapi, seolah sengaja dibuat menggunakan alat tajam. "Kalau ini benar, berarti sistem pengereman gagal sebelum mobil mengalami tabrakan."Mereka saling berpandangan.Kasus yang semula diduga sebagai kecelakaan tunggal kini mulai mengarah pada dugaan sabotase. "Jangan sampaikan ke media dulu.""Siap, Pak.""Kita pastikan semuanya lewat uji laboratorium forensik."Salah satu anggota mengangguk."Kalau dugaan ini terbukti... berarti ada seseorang yang memang ingin mencelakakan korban."**Di Rumah Sa

  • Bos Galak, I Love U   Bab 64

    Suasana Niaga Perkasa kembali hidup setelah beberapa hari menikmati libur panjang. Sejak pagi, setiap divisi sibuk mengejar pekerjaan yang sempat tertunda. Telepon berdering silih berganti, suara printer tak pernah berhenti, sementara para staf keluar masuk ruang rapat membawa setumpuk dokumen. Di ruang CEO, Nizam menandatangani beberapa berkas terakhir sebelum menutup map berwarna hitam di hadapannya. "Alhamdulillah... satu lagi selesai." Inara yang duduk di seberangnya mengangguk sambil menatap layar laptop. "Masih ada tiga draft kerja sama yang harus dicek. Sisanya tinggal finalisasi di perusahaan rekanan siang nanti." Nizam berdiri lalu merenggangkan tubuhnya. "Berarti sesuai rencana." Saat itu pintu diketuk. "Masuk." Riza masuk membawa beberapa dokumen tambahan. "Bos, draft kerja sama yang kemarin sudah saya revisi." Nizam menerimanya lalu membolak-balik bebe

  • Bos Galak, I Love U   Bab 63

    Mobil Dewa melaju membelah jalanan malam. Lampu-lampu kota berkelebat di balik kaca, tetapi pikirannya justru kembali pada masa belasan tahun silam.Masa yang tidak pernah ingin ia ulangSaat itu ia masih duduk di bangku SMP. Rumah mereka yang dulu penuh tawa berubah menjadi tempat paling sunyi. Pertengkaran Papa dan Mamanya terjadi hampir setiap hari.Hingga suatu malam..."Aku sudah capek hidup sama kamu!" Bentakan papanya masih terngiang jelas.Mamanya hanya menangis. Tak lama kemudian, perempuan lain datang dalam kehidupan papanya. Perempuan itulah yang akhirnya dipilih sang papa. Perceraian pun tak bisa dihindari.Hari ketika papanya pergi meninggalkan rumah menjadi hari paling menyakitkan dalam hidup Dewa. "Ayo ikut Papa."Dewa kecil menggeleng. "Aku ikut Mama."Keputusan itu membuat hidup mereka berubah drastis. Mereka meninggalkan rumah itu, lalu pindah ke rumah kontrakan sederhana. Mamanya bekerja serab

  • Bos Galak, I Love U   Bab 62

    Langit mulai gelap ketika mobil Akbar meninggalkan rumah Adelia. Suasana jalanan ibu kota masih dipenuhi kendaraan yang pulang bekerja. Namun pikirannya justru sibuk mengulang pertemuan sore itu.Sosok Dewa. Cara Adelia tertawa di dekat pria itu. Tatapan hangat keluarga Adelia kepada Dewa, semua itu terus berputar di kepalanya.Ponselnya kembali bergetar.**Kiran Calling...**Akbar hanya melirik layar beberapa detik, lalu menekan tombol *silent*. Panggilan itu berhenti.Beberapa saat kemudian masuk sebuah pesan.> Kiran:Please, Akbar. Aku cuma ingin bicara lima menit.Akbar membaca pesan itu tanpa ekspresi. Perlahan ia mengunci layar ponselnya."Apa lagi yang harus dibicarakan, Kir?" gumamnya lirih.Hubungan mereka telah selesai sejak ia memutuskan kembali ke Indonesia. Bukan karena tidak pernah mencintai, melainkan karena mereka sudah berjalan ke arah yang berbeda. Ia tidak ingin membuka luka lama

  • Bos Galak, I Love U   Bab 61

    Akbar memasuki ruang kerjanya. Semalam, pesan dari Kiran masih memenuhi pikirannya. Ia bahkan belum membalas satu kata pun, bukan karena bimbang, melainkan karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan mereka telah berakhir jauh sebelum ia pulang ke Indonesia. Baginya, keputusan itu sudah final. Akbar mengembuskan napas pelan. "Semoga dia mengerti..." gumamnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Tok... tok... "Mas..." Adelia muncul dengan map berisi beberapa berkas. "Pagi." "Pagi, Lia." "Hari ini jadi ke pabrik induk, kan?" Akbar mengangguk. "Iya. Kita berangkat sekarang." Mobil perusahaan melaju meninggalkan kantor menuju kawasan pabrik induk. Sepanjang perjalanan mereka membahas progres revitalisasi beberapa komponen pabrik yang perlu pembenahan. Sesampainya di lokasi, beberapa karyawan senior langsung menyambut Akbar, sekaligus menyampaikan beberapa unit mesin baru sudah mulai dipasang. Akbar meninjau satu per satu dengan teliti. Sesekal

  • Bos Galak, I Love U   Bab 60

    Malam itu, mobil yang dikendarai Nizam memasuki halaman rumah lama keluarga Gunawan. Lampu-lampu taman menyala hangat, menghadirkan suasana yang selalu membuatnya merasa pulang. Begitu memasuki ruang keluarga, ia mendapati kedua orang tuanya sudah menunggu. Mama Indah tersenyum lembut, sementara Papa Gunawan menutup majalah yang sedari tadi dibacanya. "Alhamdulillah, sudah datang juga," ucap Mama Indah. Nizam menghampiri lalu mencium tangan kedua orang tuanya. "Maaf baru sempat ke sini, Ma." "Nggak apa-apa. Duduk dulu." Mereka pun berbincang santai. Topik yang dibahas tentu saja mengenai rencana keberangkatan ke Semarang untuk melamar Inara secara resmi. "Papa sudah mulai menghubungi keluarga besar," ujar Gunawan. Mama Indah mengangguk. "Mama juga sedang menyiapkan beberapa keperluan." Nizam tersenyum tipis. "Kalau begitu dua pekan lagi kita berangkat?" "Iya," jawab Papa Gunawan mantap. "Insyaallah dua pekan lagi kita datang secara resmi ke rumah keluarga Wijaya." Nizam men

  • Bos Galak, I Love U   Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

    HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja p

  • Bos Galak, I Love U   Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

    “Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Niz

  • Bos Galak, I Love U   Bab 5 # Di Bawah Bulan yang Sama

    Family gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana. Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai

  • Bos Galak, I Love U   Bab 4 # Aura yang Mengusik

    Di rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak. Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status