Tubuh Inara ambruk tepat di depan mereka. INARA Suara panik itu keluar lebih dulu dari mulut Nizam bahkan sebelum siapa pun sempat berucap. Detik berikutnya, ruangan mendadak kacau. Bunga refleks menjerit, Dimas berdiri kaku dengan wajah pucat, Pak Seno langsung melangkah cepat, sementara Riza nyaris menjatuhkan map yang ia pegang. “Inara! Bangun!” Bunga mengguncang bahu gadis itu. Inara tak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, napasnya sangat pelan. “Cepat panggil dokter!” perintah Nizam keras. Semua tersentak. Nizam Respati Anwar. CEO yang biasanya dingin, galak, dan anti kepanikan. kini suaranya meninggi, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal kuat. “Jangan heboh!” lanjutnya. “Kalau karyawan lain tahu, semua bisa panik!” Pak Seno mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya hubungi dokter perusahaan sekarang.” “Riza!” Nizam menoleh tajam. “Bawa dia ke ruang istirahat saya. Sekarang.” Riza tidak bertanya. Ia langsung mengangkat tubuh Inara dengan hati-hati, dibant
Read more