Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekhawatiran. “Belum, yah. Masih dalam pengaruh anestesi,” jawab Akbar pelan. Bunda Indah
Read more