Akbar memasuki ruang kerjanya. Semalam, pesan dari Kiran masih memenuhi pikirannya. Ia bahkan belum membalas satu kata pun, bukan karena bimbang, melainkan karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan mereka telah berakhir jauh sebelum ia pulang ke Indonesia. Baginya, keputusan itu sudah final. Akbar mengembuskan napas pelan. "Semoga dia mengerti..." gumamnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Tok... tok... "Mas..." Adelia muncul dengan map berisi beberapa berkas. "Pagi." "Pagi, Lia." "Hari ini jadi ke pabrik induk, kan?" Akbar mengangguk. "Iya. Kita berangkat sekarang." Mobil perusahaan melaju meninggalkan kantor menuju kawasan pabrik induk. Sepanjang perjalanan mereka membahas progres revitalisasi beberapa komponen pabrik yang perlu pembenahan. Sesampainya di lokasi, beberapa karyawan senior langsung menyambut Akbar, sekaligus menyampaikan beberapa unit mesin baru sudah mulai dipasang. Akbar meninjau satu per satu dengan teliti. Sesekal
Read more