Akbar masih berada di rumah Adelia ketika azan magrib berkumandang. Suaranya menggema lembut dari masjid kecil di ujung perumahan, berpadu dengan suasana rumah yang hangat dan hidup. Bunda Adelia langsung beranjak, mengajak semua bersiap. “Magrib dulu ya, Nak,” ucapnya ramah. Akbar mengangguk. Ia ikut berwudu, lalu berdiri sejajar dengan Ayah Adelia dan Bunda di ruang salat kecil yang tertata rapi. Tidak mewah, tapi bersih dan menenangkan. Hatinya terasa asing, tenang, ringan, seperti pulang ke tempat yang seharusnya. Usai magrib, mereka melanjutkan dengan isya berjamaah. Akbar semakin merasa betah. Ada kehangatan yang tak dibuat-buat. Setelahnya, mereka makan malam bersama di ruang makan. Menu sederhana, tapi penuh rasa dan penuh tawa. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam,” jawab Bunda. Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan masuk sambil tersenyum lebar. “Tumben malam pulang, Nak?” tanya Ayah. “Tadi masih ada tugas tambahan, Yah,”
Read more