登入Mobil yang dikemudikan Ardi langsung melakukan putar balik dengan sigap begitu mendengar perintah tegas dari Sean. Suasana di dalam kabin mobil mendadak berubah drastis dari yang tadinya tenang, kini dipenuhi oleh aura kepanikan tersendiri dari sang kepala keluarga. Sean terus melirik kearah istrinya dari spion tengah, memastikan Fara duduk dengan nyaman meskipun sang istri justru memasang wajah paling kesalnya kali ini. "Mas, kamu ini benar-benar ya! Berlebihan hormonnya! Mangkanya kalau disuruh sudah, tuh sudah. Jangan malah diterusin!" omel Fara dengan nada ketus, melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggungnya kuat-kuat ke jok mobil. "Ini memang bener baru telat beberapa hari, tapu kalau sampai beneran hamil bagaimana? Jaraknya Sefan sama adiknya nanti terlalu dekat sekali! Sefan kan baru jalan lima bulan, masih butuh banyak perhatian kita!" lanjut Fara. Sean yang duduk di kursi depan mengusap wajahnya kasar, lalu berbalik menatap Fara dengan ekspresi tidak kalah dram
Pagi itu, suasana Rumah Sakit langganan keluarga Narendra terasa bersahabat. Seperti bulan-bulan sebelumnya, jadwal imunisasi rutin kembali mengumpulkan keluarga kecil Fara dan Sean dalam perjalanan yang sudah terasa begitu familier. Hari ini, Sean, Fara, dan Sefan tengah dalam perjalanan menuju ruang dokter anak untuk melakukan vaksinasi DPT 2, serta tetes vitamin polio. Yang mana seperti biasa semuana diimpor langsung dari Singapura, demi memberikan proteksi terbaik untuk cucu special keluarga Narendra itu. Ada yang terasa berbeda dari kunjungan klinik kali ini. Suster Nani, perawat telaten yang selama beberapa bulan terakhir membantu merawat bayi kami, sudah resmi berhenti bekerja karena masa kontraknya telah usai. Fara kini telah sepenuhnya pulih dari masa pemulihan pascamelahirkan dan sudah semakin mahir mengasuh putranya sendiri. Awalnya, Sean sempat berniat memperpanjang kontrak bersama Suster Nani. Sebagai suami yang sibuk bekerja, pikiran bahwa Fara akan kewalahan sem
Mentari pagi di Tokyo menyapa dengan sinarnya yang hangat, namun suasana di kamar Home Stay tempat Sean dan Fara menginap justru terasa begitu menegangkan. Jarum jam di dinding sudah menunjuk pukul 06.15 pagi, sementara jadwal penerbangan mereka kembali ke Indonesia dijadwalkan *take off* pada pukul 08.30. Sean terbangun dengan mata terbelalak lebar begitu melihat angka di ponselnya. Sontak ia mengguncang tubuh istrinya. "Fara! Bangun, Sayang! Kita kesiangan!" teriaknya panik. Fara yang baru tidur kurang dari tiga jam mengerang kesal, menarik selimutnya lebih erat, lalu menepis tangan suaminya. Di ruangan sebelah, Sefan, bayi mungil mereka yang kini sudah berusia dua bulan, tampak sudah rapi dan wangi. Suster Nani, pengasuh berpengalaman yang diandalkan keluarga mereka, bergerak cekatan menyiapkan segala keperluan sang bayi. Berkat tangan telaten Suster Nani, Sefan sudah duduk manis di stroller dengan pakaian musim gugur yang menggemaskan, tampak begitu tampan di pagi hari tanpa
"Aku mau yang memimpin," ujar Fara beberapa menit yang lalu, menjadi pembuka kegatan panas mereka berdua malam ini. Kalimat itu terucap spontan, memecah keheningan kamar berornamen Jepang klasik tempat mereka menginap. Fara menatap suaminya dengan mata berbinar campuran antara kelelahan, rasa berani yang tiba-tiba muncul, dan gairah yang lama terpendam. Efek hangatnya air onsen dan sedikit tegukan Shake manis yang mereka nikmati sebelum berendam, tampaknya telah melenyapkan seluruh rasa canggung di antara mereka. Sean merespons melalui tatapan matanya yang sayu. Kelopak matanya setengah terpejam, bukan karena mengantuk, melainkan karena rasa lelah luar biasa setelah hampir setengah hari lebih memegang kamera di jalanan Tokyo, berganti dengan perasaan hangat yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Di balik tatapan sayu itu, ada binar ketertarikan yang dalam. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma minyak aromaterapi hinoki yang membalut udara malam Kyoto. Di kamar sebela
Malam terakhir di Tokyo hadir membawa keheningan yang tenang. Suhu udara di luar kamar ryokan, penginapan tradisional Jepang terus menurun, membuat tirai kayu yang sedikit terbuka mengembun tipis. Setelah perjalanan singkat mereka setengah hari ini mengitari Tokyo, malam ini Sean dan Fara akhirnya bisa bernapas lega. Sefan, putra kecil mereka, sudah terlelap pulas di kamar sebelah bersama Suster Nani setelah kelelahan sepanjang hari. Tanpa suara tangisan bayi atau gangguan jadwal menyusui yang biasanya memenuhi hari-hari Fara, kamar berkonsep Onsen bernuansa Jepang otentik itu mendadak menjelma menjadi pelarian pribadi yang terisolasi dari dunia luar. Kamar itu mengusung interior kayu hinoki yang mengeluarkan aroma alami nan lembut. Di sudut ruangan, sebuah kolam Onsen pribadi berbatu alam mengepulkan uap air panas yang membumbung tipis, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan dinginnya angin malam Kyoto. Cahaya dari lampion Kertas Shoji berpendar temaram, memantulkan bayang
Pagi hari ke lima, sebelum lusa benar-benar waktu mereka pulang kembali ke Indonesia. Matahari di Tokyo menyelinap malu-malu di balik tirai tipis kamar suite di salah satu hotel bintang lima terbaik di kawasan Shinjuku. Kemarin Sean memboyong istri, anak dan susternya Kembali menuju Tokyo. Karena rencananya sebelum benar-benar meninggalkan negara Sakura ini, Sean ingin mengajak jalan-jalan istrinya mengelilingi Tokyo lagi. Suasana kamar terasa hangat dan tenang. Di atas tempat tidur berukuran king, Fara sedang sibuk memeriksa kembali segala perlengkapan untuk putra kecilnya, Sefan, yang masih terlelap nyaman dalam bedongannya. Meskipun hari ini ia dan Sean berencana untuk pergi hunting foto lagi, dan keliling kota selama setengah hari, prioritas Fara sebagai seorang ibu tidak pernah berkurang sedikit pun. Di atas meja dapur kecil suite mereka, Fara sudah menata dengan rapi beberapa porsi ASI perah dalam kantong steril. "Suster Nani," panggil Fara lembut ketika pengasuh keperca
Setibanya di pekarangan rumahnya, Sean mentap sang istri yang masih sesenggukan di sampingnya. "Kenapa sih nangis begitu, bikin Mas khawatir tau nggak." ucap Sean.Fara melirik ke arah suaminya sekilas, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah lagi. "Hey, kenapa malingin wajahnya dari Mas?" bin
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







