Share

2. Di Penjara

Penulis: Freyaa
last update Tanggal publikasi: 2023-09-11 14:18:38

Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. 

“Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya majikannya. 

Mary Helena menatap Pastur yang menolongnya, “Apakah Anda mengenali Jordan, Pastur?” tanyanya pelan dan terlihat sangat sedih pada matanya. 

“Tentu saja. Jordan adalah siswa yang sangat jenius. Seharusnya Jordan adalah Pastur muda dengan nilai paling tertinggi lulus hari ini. Kita juga sudah pernah bertemu sebelumnya, Nyonya Mary Watanabe,” sahut Lukas sopan. 

“Saya Lukas, Lukas Layton.” tambah sang Pastur memperkenalkan dirinya sendiri pada Mary Helena juga Siggy. 

Lukas membawa Mary Helena dan Siggy yang telah selesai memunguti makanan yang tadi dia bawa untuk Jordan, ikut tumpah ke lantai saat anak buah Ben Horik mendorong mereka terjatuh ke lantai.

 

“Katakan Pastur, Jordanku tidak melakukan seperti tuduhan yang disebutkan dalam aula sana. Jordanku tidak melakukan zina dan pembunuhan 'kan, Pastur?” Mary Helena bertanya dengan wajah sangat sedih menatap mata Pastur di depannya yang tetap tersenyum hangat. 

“Saya juga terkejut mendengar pemberitaan tersebut. Tetapi saya juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafkan saya, Nyonya!”

 

Kepala Mary Helena menggeleng dan airmatanya kembali merebak sehingga Siggy segera memberikan sapu tangan ke tangan Nyonya majikannya itu yang selalu anggun dalam bersikap. 

“A-apakah Jordanku dijebak dan dibunuh, Pastur? Kenapa? Apa salah anakku? Apakah salah menjadi murid yang pintar? Jordan tidak mungkin melakukan zina dan pembunuhan, apalagi bunuh diri! Saya tidak bisa percaya …”

“Bunuh diri? Siapa yang mengatakan hal seperti itu pada kalian?”Lukas memotong ucapan Mary Helena dan bertanya pada kedua wanita yang dia tatap bergantian di depannya tersebut.

 

“Penjaga yang tadi mendorong kami mengatakan jika Jordan bunuh diri, Pastur.” Siggy memberikan jawaban. 

Kini kepala Lukas yang menggeleng dengan tatapan rumit. 

“Jordan kabur dan tidak seorang pun yang mengetahui kemana perginya saat dia menginap di luar asrama tadi malam. Semua barang-barang dan pakaiannya ada di kamar dalam asramanya.” tutur Lukas yang kini dia mengetahui seperti ada permainan jebakan untuk murid jenius yang sangat patuh pada perintah Tuhan tersebut. 

Sejak pembicaraan bertiga tersebut, Siggy pulang sendiri ke rumah Mary Helena di pedesaan. Sedangkan Mary Helena bersama Pastur Lukas tidak pernah terlihat lagi juga tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. 

--

“Aku bukan penjahat! Aku tidak berzina juga tidak membunuh!” protes Jordan saat sampan yang membawa dirinya telah tiba dalam lorong di pulau. 

Jordan di dorong oleh pengemudi sampan agar turun ke tanah bebatuan lembab juga sangat licin, dimana tiga orang juga datang menjemputnya turun dari sampan. 

“Ya, kamu bebas berkata apa pun di sini, Jordan Smith Watanabe! Tidak akan ada seorangpun yang percaya pada ucapanmu, mungkin dinding-dinding batu ini juga tidak!” cetus salah satu dari tiga orang yang terlihat berpakaian parlente pada Jordan.

 

“Kenalkan saya adalah Langley tanpa nama belakang, hanya Langley! Well, selamat datang di penjara dimana tempat para penjahat terhebat negri ini berakhir di sini. Mari saya antarkan Anda pada ruangan Anda,” tambah Langley sambil memberi kode pada pengemudi sampan agar segera pergi berlalu. 

Dua orang yang datang bersama Langley, memegangi lengan Jordan dan membawa pria itu menaiki tangga batu serta lorong demi lorong gelap mengikuti Langley yang berjalan paling depan. 

“Bagaimana Jordan? Saya memilihkan ruangan paling bagus untukmu. Di sini kamu bisa melihat sinar matahari, sapa tau kamu ingin berdoa sambil melihat sinar!” cetus Langley setelah dia membuka ruangan yang pastinya berdinding batu dan memiliki jendela sangat tinggi yang bisa melihat sinar matahari di bagian langit-langitnya. 

Jordan terdiam, matanya memindai sekelilingnya yang tidak terdapat apapun dalam ruangan tersebut. 

Tidak ada apapun! Termasuk tempat tidur ataupun kursi duduk kecuali rantai-rantai yang tergantung menjulur dari langit-langit pada salah satu sisi ruangan.

“Oh ya, di penjara ini, kami memiliki peraturan memberikan hadiah pada semua tahanan kami di sini. Hadiah pertama adalah saat kedatangan dan hadiah berikutnya diberikan pada hari ulang tahun masing-masing tahanan.” tutur Langley dengan senyum tipis menyeringai pada bibirnya menatap Jordan yang masih muda tetapi terlihat sangat tampan. 

Satu telapak tangan Langley menengadah ke samping bahunya dan anak buahnya memberikan cambuk ke tangan kepala penjara di pulau tersebut. 

Kedua anak buah Langley menarik tubuh Jordan untuk mengaitkan tangan dan kakinya pada rantai yang membuat tubuh Jordan seperti huruf X dimana kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat pada rantai. 

“Tidak! Aku sungguh tidak bersalah! Aku di jebak!” teriak Jordan namun dirinya tidak kuasa melawan kedua anak buah Langley yang menyeringaikan senyum masam menanggapi perkataan Jordan.

 

“Berteriaklah, panggil Tuhanmu agar dia menolongmu dan membawamu keluar dari sini dalam bentuk kematian!” ucap Langley sinis berdesis jijik pada Jordan. 

Langley mendapat diperintah untuk menghukum Jordan hingga babak belur memohon kematian, sama seperti semua para tahanan yang di penjara pulau ini. 

Langley mengayunkan cambuk di tangannya ke punggung Jordan sebanyak dua puluh dua kali sesuai dengan usia pria muda itu. 

“Bagaimana? Apakah sudah ada tanda-tanda Tuhanmu akan datang?” ejek Langley sinis melihat wajah Jordan sudah banjir keringat bercampur airmata. 

Bibir Jordan sudah tidak bisa lagi berteriak namun dalam hatinya dia memanggil Tuhan dan yakin akan cintaNYA selalu. 

“Ach, saya lupa mengatakan …setiap kamu ulang tahun, hadiah cambukanmu akan bertambah sesuai dengan usiamu.”

 

Selesai berkata pada Jordan, Langley langsung pergi keluar dengan senyum tersungging cerah pada wajahnya dan kedua anak buahnya melepaskan borgol pada kedua tangan dan kaki Jordan yang membuat tubuh pria muda itu jatuh menggelosor pada lantai tanah berbatu. 

“Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk aku pelajari dari kejadian ini?” gumam Jordan sambil merapalkan doa-doa agar dia bisa mengalihkan rasa perih, ngilu dan sakit pada punggungnya yang sudah berdarah-darah dicambuk Langley. 

Mata Jordan melihat ke arah langit-langit ruangannya yang sudah gelap gulita. Tidak ada cahaya apa pun dalam ruangan tempatnya di kurung tersebut yang berarti sudah malam hari. 

“Mama …Tuhan, tolong lindungi dan jaga Mamaku. Hanya dia yang aku punya selain Engkau, Tuhan.” monolog Jordan masih tetap kuat dengan keyakinannya jika Tuhan tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang menyebut namaNYA. 

Pintu baja ruangan Jordan di gedor dari luar dan pada bagian bawah pintu terbuka sedikit yang petugas mendorong kasar mangkuk berisi soup ke dalam ruangan Jordan. 

Sebagian kuah soupnya ikut tumpah karena didorong kasar oleh petugas dan hanya menyisakan sedikit yang tentunya tidak akan mengenyangkan sama sekali. 

“Makan, jika Anda masih ingin hidup dan melihat sinar matahari esok hari!” teriak penjaga dari luar pintu dengan suara keras pada Jordan. 

Dengan merangkak, menahan perih, ngilu dan sakit pada punggungnya, Jordan mengambil manggok dan meminum isinya yang lebih banyak berisi air tersebut sambil tetap menelungkup. 

Jordan tidak bisa bangun berdiri ataupun duduk, tulang-tulang punggungnya sungguh sangat perih akibat dicambuk oleh Langley, seakan tulang belulang pada tubuh Jordan patah dibuatnya. 

Jordan kembali tertidur setelah meminum soup yang seperti air kotor dengan rasa sangat tawar tersebut hingga bangun terperanjat ketika pintu ruangannya kembali di gedor dan hari sudah terang terlihat pada jendela kaca di langit-langit ruangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
rianur378
hiks hiks hiks,,, Jordan
goodnovel comment avatar
senja_awan
kasian sekali kau Jordan......jahat sekali mereka
goodnovel comment avatar
Muhammad Khuselmi
bagus ...banget
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Boss Mafia Tak Terjamah   71.

    Berhari-hari telah berlalu, namun Jordan tetap tidak merasakan sedikit pun keberadaan Zero mendatangi kediamannya maupun berkeliaran di dalam hutan belakang kediaman Jola.Ninja itu seolah menguap ditelan bumi.Meskipun begitu, Jordan tidak ingin lengah. Ia memanfaatkan waktunya untuk berlatih fisik jauh lebih keras dari biasanya."Kenapa sih kau berlatih sekeras ini? Lihat, tanganmu sampai tergores begini!" omel Lagertha lembut sambil meringis pelan saat mengoleskan cairan antiseptik ke lengan Jordan.Akibat latihan keras dan meniru gerakan tupai serta hewan-hewan yang Jordan itu, lengan Jordan juga sedikit mengalami keseleo. Imbasnya, ia agak kesulitan untuk menggendong Joshua.Sementara itu, sang bayi tampan sedari tadi hanya memandangnya dari kereta bayi dengan tatapan polos nan tajam. Kelopak mata bulat Joshua hampir tak berkedip dan bibir mungilnya menolak tertawa renyah karena belum mendapatkan perhatian dari Jordan."Sayang, tolong ambilkan kain gendongan. Aku mau menggendong

  • Boss Mafia Tak Terjamah   70.

    Setelah makan malam, Jordan melakukan rutinitasnya seperti biasa, berpatroli mengelilingi kediaman Jola. Namun, begitu langkah kakinya tiba jauh ke dalam pekatnya hutan belakang, ia hanya merasakan kesunyian yang ganjil.Tak ada tanda-tanda Zero sedang bersembunyi di atas dahan. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang aktif berceloteh, saling bersahutan di sekelilingnya."Ada apa?"Suara berat itu memecah lamunan Jordan. Maximus rupanya berjalan menyusul, mengikuti Jordan dari belakang. Langkah Maximus yang besar kini berhenti tepat di samping Jordan."Gak ada apa-apa. Hanya saja, kesunyiannya terasa lebih mencekam dari biasanya," elak Jordan.Sampai detik ini, Jordan memang belum menceritakan tentang keberadaan Zero pada Maximus ataupun siapa pun di rumah ini.Langkah kaki Jordan kembali bergerak santai, berjalan beriringan kembali ke kediaman dengan Maximus yang matanya tetap waspada, memindai hutan gelap di sekeliling mereka."Lagertha tadi pagi nanya tentang mobil sport i

  • Boss Mafia Tak Terjamah   69

    Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Angin dini hari berembus pelan, membuat dedaunan berdesir lembut di tengah sunyinya hutan. "Apakah kau tak memiliki tempat tinggal? Atau Mister Bough memang tak mampu membayarmu, sampai setiap malam kau datang berkeliaran di hutan ini?" tegur Jordan dingin. Di atas salah satu dahan pohon besar, Zero yang sejak tadi berbaring malas membuka sebelah matanya memandang Jordan di bawahnya. Senyum tipis muncul di balik topeng yang menutupi wajah pria itu. Dengan gerakan ringan, Zero melompat turun dan mendarat tepat tiga langkah di depan Jordan. "Kenapa?" tanyanya santai, "Kau berniat memberiku kamar di kediamanmu untukku tinggal?" Zero memiringkan kepala, "Aku juga tidak keberatan jika kau memintaku tidur sekamar dengan Lagertha, istri kesayanganmu itu." tambahnya dengan nada mencemooh. Jordan tersenyum sinis dan jari-jemarinya terkepal kuat pada sisi tubuh. "Teruslah bermimpi sampai ..." kalimat Jordan terputus dan tubuhnya sudah b

  • Boss Mafia Tak Terjamah   68.

    Sementara itu, di kediaman Jola, malam terasa jauh lebih tenang di permukaan, namun tidak bagi Jordan.Sudah lima hari Jordan tak pernah lagi menapakkan kaki memasuki hutan di belakang kediamannya. Bukan karena ia didera ketakutan, melainkan karena ia tahu, ada seseorang yang selalu datang dan menunggunya di sana.Bahkan, setiap tengah malam, Jordan bisa mendengar suara kecil seperti kerikil yang dilempar pelan ke jendela kamar. Lalu diikuti desingan halus tubuh yang melompat turun dari balkon, nyaris tanpa suara yang tak bisa terdeteksi oleh pendengaran orang biasa, tetapi Jordan bisa menangkap semua kode tersebut. Jordan tak perlu mengintip untuk tahu siapa pelakunya.Zero!Ninja bertopeng yang secara terang-terangan pernah mengatakan bahwa ia akan membunuh Jordan …jika suatu hari kemampuan bela diri mereka berada pada tingkat yang setara.Di atas ranjang, sebuah gerakan kecil membuyarkan lamunan Jordan. Lagertha menggeliat pelan, jemarinya mencengkeram tepian celana Jordan, seolah

  • Boss Mafia Tak Terjamah   67. Dua Bidak

    Amarah Ben Horik meledak seketika saat tubuh asisten kepercayaannya yang sebelumnya mengantarkan dokter pergi keluar dari kediaman setelah memberikan perawatan pada Yuri, kini jatuh terjerembab ke lantai marmer.Suara benturan itu menggema pendek, disusul pemandangan yang membuat seluruh ruangan membeku. Darah hitam kental merembes deras dari hidung, mulut dan telinga sang asisten, mengalir tanpa kendali seperti tinta pekat yang menodai lantai.Sang dokter, sebelum tewas, berhasil menyuntikkan racun mematikan ke dalam tubuh asisten itu. Sebuah prinsip terakhir yang keji, jika ia tak bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Ben Horik, maka orang yang menghalanginya juga tak berhak bertahan hidup.Napas Ben Horik mendadak berat. Dada bidang tebalnya naik turun kasar, seolah amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya menekan paru-parunya sendiri. Urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengatup keras hingga terdengar bunyi berderak halus.Ben melangkah keluar dari ruangan menuju ruang kerjany

  • Boss Mafia Tak Terjamah   66. Lanjut?

    Di ruang bawah tanah sebuah restoran mewah, Mister Bough duduk bersama Tiger, asisten setianya, mengelilingi meja bundar bersama dua pejabat tinggi pemerintahan yang tadi juga ikut rapat bersama Menteri Dalam Negeri. Hidangan di atas meja sudah dingin, hampir tak disentuh. Sebaliknya, minuman keras terus dituang, ke setiap gelas jika sudah tinggal setengah, seolah percakapan yang berlangsung jauh lebih berat daripada rasa lapar mereka."Ceritakan tentang Jordan, bagaimana pria itu bisa membuat Ben Horik membelot?" tanya pejabat yang lebih muda dengan sikap tenang. Pejabat di sebelahnya, yang usianya lebih tua dari Mister Bough, menyalakan cerutu. Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil menatap tajam ke arah Mister Bough dan Tiger, seolah matanya bisa menilai."Saya ragu jika Ben membelot ...tapi pria itu menanam lalat di sekitar kita." ucap Mister Bough dengan nada suara rendah, setelah menyesap seteguk minuman di gelasnya. “Lalu bagaimana mu

  • Boss Mafia Tak Terjamah   9. Keturunan Ninja

    Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan. Namun ... Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan p

  • Boss Mafia Tak Terjamah   8. Pembebasan

    Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun. Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan. Sebaliknya Jordan justru te

  • Boss Mafia Tak Terjamah   7. Putri Sang Bos Mafia

    "Papa!" Lagertha meloncati beberapa anak tangga dan berlari masuk ke ruangan makan sambil memanggil Papanya yang sedang duduk hendak sarapan. "Och, pakaian apa yang kamu pakai, Young Lady?!" protes Priskila pada putrinya yang memakai pakaian serba mini, hanya terlihat menutupi bagian penting pad

  • Boss Mafia Tak Terjamah   6. Pembunuh Kejam

    "Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status