Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 112

Share

BOSS WITH BENEFIT - 112

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-06-22 17:02:07

“Desain yang saya ajukan mengusung konsep kemewahan yang bersifat timeless, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik dan modern yang saling melengkapi,” kata Naila dengan percaya diri, sementara jari-jarinya menekan tombol remote, mengubah slide di layar besar di depannya. Gambar-gambar 3D dari bangunan yang megah, dengan pilar-pilar tinggi yang menampilkan keanggunan arsitektur klasik, berpadu dengan kaca-kaca besar dan lantai marmer yang bersinar di bawah cahaya, mulai terlihat di layar. Nai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
good job naila...proud of you too
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 125

    ”Udah nggak, sih. Kata Mas Rai kalau dia masih ikutin aku, bilang aja sama Mas Rai, nanti Mas Rai yang beresin dia. Jadi aku nggak butuh bodyguard, memangnya aku bocah?”Devan memandang Alfariel yang hanya diam saja.”Nanti kalau dia ganggu lagi, mau nggak mau kamu harus terima pake bodyguard,” putus Alfariel. Dan Aleeta tidak berani untuk membantah.”Oh, ya, film yang kamu tunggu itu udah tayang di Netflix, Alee,” ujar Eve mencoba mengubah topik pembicaraan, “katanya kamu mau nonton?””Yuk, nonton temenin aku. Film horor soalnya,” Aleeta menarik Eve, Naila dan Almeera menuju ruang teater pribadi di rumah Alfariel, Devan, Aksa dan Ravel segera berdiri mengikuti istri-istri mereka.”Ayah nggak ikut nonton?” Naila menatap Alfariel yang kembali meraih bukunya.”Ayah nggak suka film horor, kalian aja. Ayah mau baca buku.”“Ayah tuh sebenarnya penakut,” ledek Aleeta sambil tertawa.Mereka memasuki teater pribadi di lantai dua, ruangan itu mewah dan cukup besar. Dinding-dinding ruangan dihi

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 124

    “Dev ….”Devan membalik tubuh Naila, membuat Naila menungging padanya, kali ini Devan mengambil vibrator yang berbentuk lonjong dengan ukuran kecil, ia menghunjam sambil melumasi vibrator itu dengan pelumas, Devan mengatur getarannya yang lembut.”Rileks,” ujar Devan mulai mengolesi bagian belakang Naila dengan pelumas.”Sayang?!” Naila menoleh melalui bahu.”Rileks, Sayang.” Devan mendorong ujungnya yang bergetar untuk masuk.”DEVAN!” Naila menjerit saat merasakan getarannya. “AH!” Devan dengan mudah mendorong benda lonjong kecil itu masuk sepenuhnya, bagian tali dan pegangannya dibiarkan agar Devan bisa menariknya keluar nanti. “DEVAN!” Naila menghentakkan pinggulnya saat toys di dalamnya bergetar lembut. Ia terengah-engah sementara Devan kembali menghunjam. “S—Sayang, ah! Ah!” Naila ikut menggerakkan pinggulnya saat Devan bergerak, tangannya meremas bantal begitu kuat.Ciuman Devan memenuhi punggung Naila, ia menarik pinggul itu semakin menungging untuknya, sambil terus menghunjam,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 123

    Devan tersenyum samar, Ia menyandarkan kepala ke atas bantal membiarkan dirinya larut dalam pertunjukan yang Naila persembahkan hanya untuknya.Dengan gerakan perlahan, Naila melepas stockingnya satu per satu, memainkan kain tipis itu dengan gaya yang anggun namun menggoda. Ia membungkuk sedikit, memberi Devan pemandangan siluetnya yang sempurna. Tangannya terus bermain di rambut dan pinggulnya, ketika akhirnya Naila mendekatkan dirinya, duduk perlahan di pangkuan Devan dengan tatapan yang intens, Devan tak bisa menahan senyum lebarnya. “Kamu cantik banget.”Naila tertawa kecil, sengaja menarik tali korsetnya lebih longgar agar payudaranya terlihat. Ia menyentuh dan membelai dada dan bahunya dengan tangan yang lentik, gerakan yang mengundang hasrat. Naila lalu melepaskan korset itu perlahan-lahan hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang membungkus tubuhnya. Ia memakai kembali stocking jaring-jaring itu lalu duduk di atas Devan dengan posisi bersimpuh. Dengan perlaha

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 122

    Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 121

    Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 120

    “Gimana, Bun?” tanya Naila sambil memutar pelan.Arabella mengangguk pelan, tapi ekspresinya menyiratkan sesuatu. “Cantik, tapi… belum cukup wow. Kita coba yang lain.”Naila mencoba beberapa gaun lagi, hingga akhirnya ia mengenakan gaun berbahan satin lembut dengan siluet mermaid. Detailnya sederhana namun menonjolkan keanggunan, dengan kerah berbentuk sweetheart dan taburan mutiara di bagian ekor. Saat Naila melangkah keluar, ruangan itu menjadi hening.“Naila ….” bisik Arabella sambil berdiri dari tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca. “Ini cantik banget, Kak.”Aurel tersenyum lebar, puas dengan pilihannya. “Aku juga udah feeling kalau ini bakal cantik banget di tubuh Naila.”Naila menatap dirinya di cermin panjang, merasa sedikit emosional. “Iya, cantik,” bisiknya pelan.Arabella memeluk Naila erat. “Nggak sabar lihat kamu sama Dev nikah.”Naila tersenyum dan membalas pelukan Arabella.”Oh, ya, kita harus pilih gaun buat makan malam dan after party

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 84

    Setelah itu, Arabella melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Naila. “Gimana kalau kita makan sekarang? Tante tahu ada resto enak di sekitar sini, ah jadi ingat masa-masa Tante kerja di sini,” Arabella tertawa pelan. “Tante kenal sama ayahnya Dev juga di kantor ini, dia atasan Tante, sama kay

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 74

    Arabella tertawa ringan, matanya tetap mengikuti langkah Devan dan Naila yang semakin menjauh, tatapannya tertuju pada lengan putranya yang melingkari pinggang Naila. “Iya, cantik banget, warna matanya juga cantik,” jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari pasangan itu. Namun, Arabella tahu betul b

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 58

    ”Kamu juga nggak ke mana-mana, kaki kamu gimana?””Udah nggak apa-apa,” Naila membiarkan Devan menggendongnya ke sofa, “bukannya kamu bilang ada acara di rumah orang tua kamu?””Cuma makan siang biasa,” Devan bersandar, menatap Naila lekat, bagaimana caranya membuat Naila menyadari perasaan Devan u

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 56

    Alexa tetap tenang meski rasa panik mulai menyelinap. “Lo gila, ya?!” Bentak Alexa, “Kalau gue mau dorong dia, kenapa nggak ada yang lihat?” Ia melipat tangan di depan dada, tatapannya berpura-pura bingung. “Kita semua tahu Naila kadang ceroboh. Bisa aja dia nggak hati-hati waktu berdiri.”Edo, yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status