Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 84

Share

BOSS WITH BENEFIT - 84

Author: Pipit Chie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-28 22:45:41

Setelah itu, Arabella melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Naila. “Gimana kalau kita makan sekarang? Tante tahu ada resto enak di sekitar sini, ah jadi ingat masa-masa Tante kerja di sini,” Arabella tertawa pelan. “Tante kenal sama ayahnya Dev juga di kantor ini, dia atasan Tante, sama kayak kamu dan Dev sekarang. Dev pasti sama kayak ayahnya, hobi ngomel, kan?” Arabella menggandeng tangan Naila sambil membawanya melangkah keluar dari lobi, Naila terkejut namun dengan cepat mengikuti,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 122

    Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 121

    Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 120

    “Gimana, Bun?” tanya Naila sambil memutar pelan.Arabella mengangguk pelan, tapi ekspresinya menyiratkan sesuatu. “Cantik, tapi… belum cukup wow. Kita coba yang lain.”Naila mencoba beberapa gaun lagi, hingga akhirnya ia mengenakan gaun berbahan satin lembut dengan siluet mermaid. Detailnya sederhana namun menonjolkan keanggunan, dengan kerah berbentuk sweetheart dan taburan mutiara di bagian ekor. Saat Naila melangkah keluar, ruangan itu menjadi hening.“Naila ….” bisik Arabella sambil berdiri dari tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca. “Ini cantik banget, Kak.”Aurel tersenyum lebar, puas dengan pilihannya. “Aku juga udah feeling kalau ini bakal cantik banget di tubuh Naila.”Naila menatap dirinya di cermin panjang, merasa sedikit emosional. “Iya, cantik,” bisiknya pelan.Arabella memeluk Naila erat. “Nggak sabar lihat kamu sama Dev nikah.”Naila tersenyum dan membalas pelukan Arabella.”Oh, ya, kita harus pilih gaun buat makan malam dan after party

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 119

    Naila mengangguk perlahan. “Ya, keluarga. Dan gue mau lo datang ke nikahan gue bukan sebagai temen, tapi sebagai keluarga gue.”Ucapan itu membuat Agus terdiam. Ia menatap Naila dengan campuran emosi yang sulit dijelaskan, antara haru dan bahagia. “Lo serius, Nai?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Naila mengangguk mantap, menatap Agus dengan penuh keyakinan. “Iya. Gimana? Lo mau?”Agus tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan mantap. “Tentu aja. Gue bakal datang, bukan cuma sebagai keluarga, tapi juga sebagai orang yang bangga sama perjuangan lo.”Naila tersenyum lega, meraih tangan Agus sejenak dan menepuknya ringan. “Thanks, Gus.”Percakapan mereka berakhir dengan kehangatan yang berbeda. Hubungan saudara tiri yang dulu mungkin terasa jauh, kini seolah menemukan tempat baru. Agus menatap Naila dengan rasa bangga yang tulus, sementara Naila merasa sedikit lebih kuat, mengetahui ia punya satu orang lagi yang benar-benar mendukungnya.”Nai, boleh nanya sesuatu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 118

    ”Hah? Nggak, Yah. Itu Dev bercanda, doang.””Tapi Ayah beneran mau ngasih. Ayah udah janji sama diri sendiri, setiap anak Ayah nanti dapat sekian persen saham. Ravel juga dapat, Eve juga sudah Ayah kasih. Nah tinggal Nai sama calon suaminya Aleeta nanti.””I—itu aku nggak ….” Naila diam, menoleh pada Devan. “Aku nggak mau saham,” ujarnya pelan.”Bagiannya Nai buat aku aja kalau begitu,” Devan tertawa saat Arabella memukul bahunya.”Ya udah, bagiannya Dev nanti jadi punya Nai semua,” putus Alfariel.”Hah?! Jangan, Yah!” Naila menggeleng panik. “I—itu kan—“”Nggak apa-apa, semua bagian aku buat kamu juga nggak masalah,” ujar Devan santai.”Ngaco, kamu pikir saham kayak mainan yang bisa dioper sana sini?””Punya aku, punya kamu juga, Sayang.””Kita bikin perjanjian pisah harta aja, punya kamu tetap punya kamu—“”Apaan! Nggak!” tolak Devan tegas. “Nggak ada pisah-pisah harta, punya aku ya punya kamu. Titik! Jangan ajak aku debat soal ini!” tegas D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 117

    Devan dan Naila memasuki kediaman Arabella, melihat kedatangan Naila, Arabella langsung memeluknya.”Bunda baru aja tadi mau telepon kamu, Kak,” akhir-akhir ini Naila semakin sering dipanggil dengan sebutan Kakak oleh Arabella. Entah mengapa, Naila merasa itu panggilan yang istimewa, membuatnya tersenyum lebar setiap kali mendengarnya.”Ada apa emangnya, Bun?””Bunda bikin cheesecake,” Arabella menarik Naila ke dapur, “tadinya mau suruh kamu mampir ke sini, eh kamunya datang duluan.” Arabella menyuruh Naila duduk sementara wanita itu memotongkan cheesecake untuk calon menantunya.Devan menghela napas, bersandar di samping lemari hias, setiap kali ia dan Naila datang ke sini, Arabella akan memperhatikan Naila dan lupa pada Devan, Devan mulai merasa ia anak tiri di rumah ini, namun tentu saja Devan sama sekali tidak mengeluh, ia menyukai bagaimana Arabella sangat memanjakan calon istrinya itu, dan Naila juga tampak begitu nyaman berada di rumah ini.”Gimana?””Enak!” Naila mengangguk-an

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 33

    (Awal mula Devan dan Naila menjalin hubungan)Devan melepaskan dasi yang melingkari leher, pria itu melempar dasinya ke kursi kosong di sampingnya lalu keluar dari mobil untuk memasuki Litera. Devan merasa akhir-akhir ini hidupnya monoton sekali, hari-harinya dipenuhi pekerjaan, baik fisik maupun m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 32

    Devan memang agresif, tapi jika Naila yang lebih dulu agresif, Devan akan selalu menjadi pihak yang patuh, jarang-jarang Naila mau seperti ini, selagi wanita itu menyukainya, Devan akan memasrahkan dirinya. Tangan Naila membuka kancing celana Devan, membebaskan kejantanan itu lalu membelainya naik

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 31

    Nai-nai: Pilihin. Aku bingung.Naila mengirim dua buah foto lingerie, satunya berwarna nude dan satunya berwarna hitam, Devan tersenyum dan menghubungi wanita itu.”Kok, malah telepon?””Kamu lagi belanja?”“Iya, lagi jalan sama Tere, kamu lihat foto yang aku kirim tadi, kan? Pilihin. Aku bingung d

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 30

    Naila menoleh dengan cepat, ekspresinya berubah defensif. “Apa sih, Dev? Aku nggak kenal nomor itu. Lagian, kenapa juga aku harus angkat kalau nggak penting?” Ia tertawa kecil, mencoba terdengar santai, tapi tawa itu tidak cukup meyakinkan. Namun, Devan tidak butuh kata-kata untuk tahu ada sesuatu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status