LOGINZio, duda anak satu terus dituntut anaknya untuk menikah lagi. Bukan tanpa alasan, Ayya-anaknya, begitu menginginkan sosok seorang ibu dalam hidupnya karena sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Akhirnya dalam perjalanan panjang mereka bertemu dengan Inggit, perempuan berhati baik dan sayang kepada Ayya. Namun disisi lain, ternyata Zio masih dibayang-bayangi mantan istrinya. Apakah Inggit bisa menerima itu dan melanjutkan hidup menjadi mama Ayya? happy reading:) by hellosii
View More“Pah, cari mama baru, yuk!”
“Pah, itu ada cewek cantik, mau jadiin mama buat Ayya, gak?” “Pah, kayaknya tante itu baik. Papazi mau gak?” “Tadi temen Ayya ke sekolah pada ditemenin mamanya, Ayya kapan punya mama, pah?” “Papah, temen Ayya suka dibekelin makan masakan mamanya. Ayya kapan dibekelin sama mama, pah?” “Masakan seorang mama itu seenak apa sih, pah? Kok temen-temen Ayya sesuka itu sama masakan mama mereka? Ayya jadi mau coba.” Zio menutup kedua telinganya dengan bantal selalu ketika Ayya sudah kembali bertanya mengenai seorang mama padanya. Jujur, Zio sama sekali tidak kepikiran untuk menikah lagi setelah merasa gagal di pernikahan sebelumnya. “Pah! Jangan pura-pura gak denger, Ayya lagi nanya loh!” “Apalagi, Ay? Papazi kan udah bilang mamanya gak nemu.” “Papazi bohong! Papazi emang gak niat cari mama baru!” tuduhnya. Zio memijat pelipisnya kuat. Rasa pening akibat pekerjaan saja sudah membuat otaknya berantakan ditambah kemauan Ayya yang begitu bertolak belakang dengan dirinya yang ingin sendiri. “Kalo gak dapet-dapet harus gimana?” “Yaudah biar Ayya yang cariin!” Zio langsung menoleh pada anaknya. Bahaya jika Ayya sudah berkata begitu, bisa-bisa seperti dulu. Ayya pernah diizinkan Zio untuk mencari mama baru sendirian karena ia sudah capek dengan ocehan anak itu. Tapi tanpa diduga, Ayya bertanya kepada setiap orang yang kenal dengannya apakah mau menjadi mamanya atau tidak. Zio sudah dibuat malu oleh anaknya sendiri. “Gak usah! Nanti biar papazi yang nyari sendiri!” sangkal Zio. “Bohong! Papazi gak pernah nyari mama baru” “Kali ini papazi janji bakal beneran nyari, tapi Ayya jangan ikut-ikutan nyari!” peringatnya. “Beneran?” “Janji!” “Okey! Tapi kalau papazi nyarinya lama, Ayya akan tetap bantuin!” kekeh Ayya. Zio menepuk dahinya lelah. “Nak, menjadi orang tua tunggal mungkin salah satu bentuk kegagalan papa selama menjadi orang tuamu. Tapi percayalah, kamu tidak akan penah kekurangan apapun.” ~ Dari Papa untuk Ayya ~ *** “Papazi bangun!!” Anak kecil dengan bando mickey mouse di kepalanya, berteriak kencang di telinga Zio yang masih lelap dalam mimpinya. Spontan Zio menutup telinganya dengan selimut dan kembali menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. “Papa! Masih gak mau bangun? Ayya teriakin lagi nih telinganya,” ucap Ayya sudah bersiap menghirup napas banyak-banyak untuk kembali berteriak membangunkan ayahnya. “Pap-” “Iya papa bangun, jangan teriak-teriak lagi. Kepala papa pusing,” ujar Zio seraya membalikkan badannya tapi masih dengan mata terpejam. “Bangun tuh gini, pa. Duduk kayak Ayya,” dengus Ayya sambil menggoyang-goyangkan tangan papanya. “Papa masih ngantuk, Ay. Lagian kan sekarang hari minggu, kenapa Ayya bangunin papa?” tanya Zio dengan suara serak khas bangun tidur. “Papa harus tetep bangun pagi, kata mang Asep, biar rezekinya gak di patok ayam.” Ayya masih ingat perkataan mang Asep – tukang sayur keliling langganan ART-nya. Ayya sepertinya sudah menjadi teman baik mang Asep, karena ia tak pernah absen ikut bi Inem berbelanja di depan rumah ketika mang Asep lewat. “Hm” Zio hanya bergumam menyahuti ucapan anaknya. “Ayo papa! Pagi-pagi harus sarapan,” ucap Ayya kembali menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya supaya terbangun. “Biarin papa tidur lebih lama lagi, ya. Ayya sarapannya sendiri dulu,” sahut Zio sangat tak bisa menahan kantuk yang menyerangnya pagi ini. Apalagi cuaca yang dingin semakin membuat tidurnya nyaman jika tidak diganggu Ayya. “Papa jahat! Kalau papa gak ikut sarapan, Ayya bakal ngambek sampe besok!” Zio langsung terbangun ketika mendengar ancaman maut dari Ayya. Pria itu memaksakan duduk dan membuka matanya yang sebenarnya masih terasa berat. Tapi apa boleh buat jika princessnya sudah mengancam, ia tak boleh main-main. “Iya, iya papa bangun ini, hoaaam ...” Zio menguap seraya menggaruk-garuk lengannya yang tak terasa gatal sama sekali. Rutinitas bangun tidurnya memang begitu. “Nah, gitu dong. Ini baru papazi yang ganteng punya Ayya!” Ayya tersenyum senang melihat papanya menuruti kemauannya. “Ayya tunggu di meja makan ya, pa. Jangan lupa mandi!” Ayya langsung turun dari ranjang Zio setelah memastikan ayahnya bangun. Zio masih mengumpulkan kesadaran dan berharap Ayya segera keluar untuk ia bisa tidur kembali di pagi yang cukup membuatnya merasa beku ini. Namun baru saja sampai di depan pintu, Ayya kembali menoleh ke belakang untuk memastikan Zio tidak tidur lagi. “Papazi jangan tidur lagi ya!” serunya kemudian. Teriakan Ayya berhasil membuat Zio menghela napas pasrah. Dengan terpaksa ia turun dari ranjangnya untuk memberi bukti kepada Ayya bahwa ia benar-benar akan bangun. “Iya, ini papa mau mandi,” sahut Zio sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. “Oke, papa.” Barulah Ayya pergi dari kamarnya. Zio merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum pergi ke kamar mandi. Seperti pagi-pagi biasanya, Zio melakukan semua hal sendirian. Menyiapkan baju sendirian, menyiapkan alat mandi sendirian, handuk tertinggal juga dibawa sendirian, kadang ia juga sering berbicara sendirian di depan cermin mengagumi ketampanannya sendiri. Kehidupan sebagai orang tua tunggal dari seorang anak perempuan berusia 5 tahun memang tidak mudah. Zio harus bisa membagi waktu antara bekerja dan menemani anaknya. Apalagi Ayya sudah mengidap penyakit asma sejak lahir, Zio harus ekstra menjaga dan memperhatikan semua kegiatan Ayya setiap hari. Semua itu Zio jalani dengan bangga. Bangga karena sudah bisa membesarkan Ayya sampai 5 tahun sendirian tanpa seorang istri. Meskipun dalam hati Zio sangat ingin mengejar kembali masa lalunya, tapi apalah daya jika masa lalunya itu tidak bisa menerima anaknya. Sementara Zio sangat menyayangi Ayya. Akhirnya Zio memilih hidup berdua saja bersama Ayya. Dan mungkin jika suatu saat nanti tuhan memberikannya jodoh yang bisa menerima dirinya dan Ayya apa adanya sekalipun, Zio belum pasti bisa menerima. Karena hatinya masih milik Vanya, mantan istrinya. “Wih, sarapan apa kita hari ini?” Zio berbasa-basi seraya langsung duduk tepat di sebelah Ayya yang sudah mulai memakan sarapannya. “Papazi lama!” Zio mengambil satu sandwich dan disimpan di atas piringnya. “Papa kan mandi dulu tadi, kata Ayya supaya papa wangi.” “Percuma wangi, tapi gak ada perempuan yang mau dektin papazi,” kata Ayya masih sibuk melahap sarapannya. “Ada kok. Ayyanya aja yang belum tahu,” jawab Zio ngawur. “Yaudah kenalin sama Ayya, Ayya juga harus kenal sama calon mama Ayya,” ucap Ayya seraya menatap serius ayahnya. “Nanti dikenalin.” Ayya mengernyitkan dahinya. “Papazi bohong ya? Mana ada yang mau sama papazi?” “Jadi papa harus gimana kalau kamu gak percaya?” “Harus dikenalin sekarang!” “Ya gak bisa sekarang juga, Ay. Dia pasti sibuk,” ucap Zio berbohong untuk menutup mulut anaknya itu. Tanpa dikira Ayya malah minta dikenalkan sekarang juga. “Yaudah berarti nanti siang, pokokknya Ayya harus ketemu sama calon mama Ayya hari ini!” Zio menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah sudah terlihat sangat frustasi. Niatnya berbohong hanya supaya Ayya tidak menanyakan lagi tentang calon mamanya, malah jadi semakin panjang urusannya. Terlebih lagi Zio harus memutar otak mencari cara berbohong lagi untuk nanti siang.Semua yang terjadi kemarin ternyata hanya halusinasi Inggit yang begitu menginginkan anaknya sadar dari keadaan koma. Ia baru ingat, semalam sebelum dirinya tak sadarkan diri dokter mengatakan kalau Ayya telah tiada. Setelah mengingat semuanya, Inggit terisak pelan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan yang awalnya pelan langsung terdengar naik oktaf ketika Zio merengkuhnya dengan lembut memberikan ketenangan.“Mas ...” panggil Inggit disela-sela isakannya. “Ayya masih ada, mas ...”Zio hanya terdiam tak bisa melakukan apapun untuk menenangkan perempuan dalam pelukannya itu. Zio begitu mewajarkan kesedihan Inggit karena rasa sayang wanita itu lebih besar kepada Ayya dibanding dirinya. “Mas ... Ayya kemarin bilang supaya kita tetap ada saat dia bangun. Tapi kenapa dia gak bangun lagi?”Isakan dan ucapan Inggit berhasil membuat Zio ikut mengeluarkan air matanya. Sesak yang begitu nyata, sakit yang amat terasa, sekaligus datang mempora-porandakan hatinya. Seakan dada
Suasana sangat hening ketika pemeriksaan oleh dokter dilakukan. Inggit yang terus memejamkan matanya seraya berdo’a dan Zio mengatur napasnya untuk tidak terlihat panik. Tadi Ayya sempat membuka matanya kembali dan Inggit memanggil dokter dengan cekatan.Alhasil sekarang Ayya sedang diperiksa lagi keadaannya oleh dokter. Mata Ayya kini masih membuka, dan Inggit harap mata itu akan terus membuka tidak menutup lagi. “Syukurlah. Keadaannya sudah lumayan membaik, coba ibu bapak untuk ajak dia berinteraksi agar tubuhnya semakin merespon rangsangan,” jelas dokter itu langsung diangguki oleh Inggit dan juga Zio.Setelahnya, para tenaga medis itu keluar meninggalkan mereka bertiga di ruangan. Inggit tersenyum haru seraya menghampiri Inggit dan mengecup pelan dahi anak itu penuh sayang. “Makasih udah mau membuka matamu, nak. Makasih ...” gumam Inggit dengan menitikan satu air matanya.“Mama ...”“Iya sayang?”“Mama jangan nangis” Ayya berucap begitu lemas. Tangannya terangkat ingin mengusap
“Mama ...”Inggit sontak menoleh ketika suara lemas Ayya terdengar di telinganya. Senyuman merekah Inggit langsung terlihat begitu saja ketika melihat Ayya menatap lemas padanya. Anak itu spertinya ingin berkata sesuatu tapi begitu sulit.“Sayang .... kamu sudah bangun?” Mata Inggit nampak berkaca-kaca.Ayya tak lagi bersuara. Mulutnya terbungkam dengan tangan lunglai dan berhenti bergerak. Mata indah yang tadi terbuka kini perlahan menutup kembali. Menutup rapat hinga membuat Inggit sangat panik.“Ayya ... sayang!”Dengan langkah panik, Inggit berlari keluar memanggil dokter untuk mengecek keadaan anaknya. Dokter yang sedang jaga langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Ayya. Selama pemeriksaan, Inggit terus memejamkan matanya berdoa untuk kesembuhan Ayya. “Bagaimana, dok?” tanya Inggit begitu panik.“Begini bu, tadi keadaan anak ibu hanya membaik sesaat. Sekarang keadaannya kembali seperti sebelumnya,” jelas dokter itu.Inggit memejamkan matanya menahan rasa sangat sesak di dad
Dua hari berlalu setelah Ayya masuk ke rumah sakit. Hari ini kondisinya lumayan membaik hingga bisa dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap. Rasa lega Inggit semakin meluas ketika dokter memberikan informasi bahwa Ayya sudah mulai membaik.Namun rasa cemasnyanya masih saja tak berkurang. Melihat Ayya terbaring lemah di atas brankar membuat Inggit seketika merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Ayya hingga tak mampu menjaga kesehatan anaknya itu.“Sayang, masih mau istirahat ya? Cepet sembuh, nak.” Inggit berucap dengan bibir bergetar hebat. Tubuhnya ikut melemas melihat keadaan Ayya yang jauh dari kata baik-baik saja itu.Ia merindukan keceriaan Ayya, merindukan usil Ayya, merindukan pujian Ayya, ia merindukan semuanya tentang Ayya. Rasanya jika bisa, Inggit ingin menggantikan posisi anaknya ini berbaring di atas ranjang rumah sakit. Biarkan dia yang merasakan rasa sakitnya, jangan Ayya.Seketika, satu butir air matanya mengalir di sepanj
“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” j
“Hallo, anak cantik!”Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.“Tante!” serunya menghampiri Inggit.“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menya
Tepatnya 2 hari selanjutnya dari kejadian bertemu Inggit, Ayya sering murung dan tak seceria biasanya. Bahkan yang biasanya bawel minta calon mama kepada Zio, akhir-akhir ini Ayya seperti sudah lupa dengan keinginannya itu.Zio sedikit lega akhirnya Ayya tidak lagi menanyakan calon mamanya, tapi di
“Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon. “Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...”“Gue serius!”“Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” j






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews