Masuk“Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon.
“Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...” “Gue serius!” “Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” jelas Zio terdengar sangat lucu di telinga Arga. “Mampus lu! Udah tau Ayya anaknya tukang nagih!” “Ya gue tadi awalnya asal jeplak aja.” “Jadi, lo butuh cewek buat sandiwara jadi calon mamanya Ayya?” “Kurang lebih, gitu. Gercep ya, lima menit lagi harus udah ada!” “Ya gak bisa langsung lah, Zi. Lu kira nyari orang semudah nyari upil? Sekarang lo dimana?” “Gue di taman. Tadi gue suruh Ayya nunggu dulu sambil main skateboard. Tapi ini gue masih bingung nyari cara berbohong kalau Ayya nanti nanyain lagi.” Ekspresi Zio seperti pria yang sedang mencari cara berbohong kepada pacarnya. “Gini aja, di taman pasti banyak cewek yang lewat pasti kan? Lo ajak aja satu orang buat bantuin kebohongan lo!” “Ah gak bisa basa-basi sama orang baru gue!” “Daripada nunggu cewek dari gue yang belom tentu, mending mana?” “Ck. Oke gue coba cari disini.” Zio menutup teleponnya dengan wajah pasrah. Ia berkacak pinggang seraya berjalan menuju arena tempat bermain skateboard untuk mengecek Ayya. Tapi ketika sampai di pinggir arena, dahi Zio mengerut karena tidak ada Ayya disana. Zio mengedarkan pandangannya mencari-cari dimana anaknya berada. “Ay! Ayya!” teriaknya. Setelah berjalan lama, dari jauh Zio bisa melihat Ayya sedang menangis dengan seorang perempuan terduduk di depannya. “Astaga! Ayya!” teriak Zio seraya berlari menghampiri anaknya. Ayya menoleh dengan wajah basahnya. “Papa ... hiks, kasian tantenya, bantuin .. hiks” Zio semakin bingung. “Kenapa? Ayya jatuh?” Ayya menggeleng. “Tantenya yang jatuh.” Zio menoleh pada perempuan yang tengah meniupi luka di lututnya. Zio ikut berjongkok untuk menyetarakan tinggi dengan kedua orang di depannya. “Tante gak apa-apa, cantik. Jangan nangis, ya” ujar perempuan bernama Inggit itu kepada Ayya. “Ada apa sebenarnya? Kalau tantenya yang jatuh, kenapa Ayya yang nangis?” tanya Zio pusing. “Tantenya jatuh karena Ayya yang nabrak,” ucap Ayya terlihat sangat bersalah. “Astaga, nak. Kata papa juga apa, mainnya di arena aja, kenapa harus nyampe sini?” “Maaf, papa.” “Sudah, tidak apa-apa. Saya juga tadi salah gak lihat-lihat jalan,” bela Inggit supaya Ayya tidak dimarahi ayahnya. “Kamu beneran tidak apa-apa?” tanya Zio memastikan perempuan itu. Inggit mengangguk. Setelahnya, perempuan itu menatap Zio seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Ia menelisik tiap inchi wajah Zio untuk memastikan jika dirinya pernah bertemu sebelumnya. “Kenapa?” tanya Zio yang menyadari tatapan perempuan itu. “Pak Zio, ya?” “Kamu kenal saya?” Inggit mengangguk. “Saya Inggit, pak. Yang kemarin ikut melamar kerja di kantor pak Zio. Wajar sih kalau bapak tidak ingat, kemarin lumayan banyak yang lamar kerja disana,” jawab Inggit seraya memperjelas. “Ah iya, maaf saya tidak ingat. Maafin anak saya tadi, apa kamu perlu pengobatan untuk lukamu?” “Gak usah pak. Ini hanya luka kecil, dikasih obat biasa juga pasti langsung sembuh.” “Atau saya antar pulang?” Perempuan itu menggeleng lagi. “Saya lagi nunggu teman di sini.” “Yasudah kalau begitu, biar saya bantu kamu berdiri,” ucap Zio menyodorkan tangannya menawarkan bantuan. Inggit menerima uluran tangan Zio dan mencoba berdiri seraya meringis pelan. Inggit mencoba bersikap baik-baik saja meskipun lututnya terasa sangat perih. “Tante beneran gak papa? Ayya minta maaf” Inggit membalas dengan senyum tipis. “Tante baik-baik aja, kamu gak usah khawatir ya” “Tantenya cantik, mau gak jadi mamanya Ayya?” “Hah?” beo Inggit. Zio melotot kaget. Bisa-bisanya Ayya melamar orang tanpa memikirkan situasi dan kondisi. Zio jadi merasa malu sendiri ketika anaknya berucap seperti itu kepada perempuan yang baru saja ia kenal. “Git, sorry nih gak bisa lama-lama. Kalau ada sesuatu sama lukanya, kamu bisa hubungi saya. Kita harus pergi dulu,” potong Zio buru-buru sebelum Ayya lebih melebar lagi bicaranya. “Yasudah silakan, pak.” Ayya terlihat kecewa ketika Zio segera menarik tangannya untuk pergi. Anak itu hanya bisa menurut. “Sampai ketemu lagi, tante!” pamitnya. Inggit mengangkat tangannya melambai kepada Ayya yang perlahan menjauh di bawa pergi oleh Zio. Melihat eratnya hubungan antara anak dan ayah itu membuat hati Inggit menghangat. Ia jadi membayangkan bagaimana rasanya mempunyai sosok seorang ayah. “Pak Zio, Kalau bertemu di luar, ternyata seindah itu,” gumam Inggit seraya tersenyum tipis. ***Setelah menerima lamaran dari Zio, bukannya hati Inggit senang, dia malah panik dan tak enak perasaan. Selama menjaga Ayya di dalam, Inggit mondar mandir seraya menggigit jari telunjuknya pelan.Ia kira setelah memutuskan untuk menikah dengan Zio akan hidup lebih makmur, lebih dari itu Inggit memikirkan kembali bagaimana jika teman-teman kantornya mengetahui hal itu. sudah pasti citra Zio yang sudah tinggi itu akan tiba-tiba surut karena telah menikahi karyawan itupun sebagai karyawan pembantu saja.Itu dampak bagi Zio. Dan dampak baginya sudah pasti ia akan menerima cercaan dari orang-orang terutama teman kantornya. Pasalnya, gadis miskin tanpa kelebihan ini bisa-bisanya berani menikahi Zio yang notabenya adalah CEO perusahaan besar.Apa ia harus merahasiakan pernikahannya?Memikirkannya saja membuat Inggit pening. Tapi harus bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menyetujuinya dan tak mungkin ia langsung membatalkan pernikahan itu. Apalagi kemarin setelah ia sepakat menikah, Zio sudah
"Setuju bukan berarti menerima"***"Gue egois gak kalau gak mau nikah lagi?""Egois banget!" sentak lelaki di depannya.Zio menghela napas panjang sembari menaruh ponselnya di atas meja samping kursi yang tengah ia duduki. Kejadian di rumah sakit kemarin sungguh berhasil memukul jiwa raganya bahkan bisa jadi juga mentalnya.Pernikahan bukanlah suatu hal yang main-main. Zio tidak bisa langsung begitu saja menyetujui, apalagi ia baru kenal dengan perempuan itu. Tapi kalaupun ia mencari perempuan lain, tak ada yang lebih dekat dengan Ayya dibanding Inggit. Prosesnya pun pasti memerlukan waktu yang cukup lama."Gue harus gimana?" Pikiran Zio menerawang kemana-mana. "Lo yakin gak mau sama perempuan secantik Inggit?" Zio menoleh. "Ini bukan tentang masalah fisik. Jauh dari itu gue hanya takut salah pilih. Gimana nanti kalau selepas Inggit tahu masa lalu gue, dia bakal pergi layaknya Vanya waktu itu. Jadi sama aja, kan?""Lo banyak overthingking banget jadi cowok! Belum tentu juga Inggit
Kembali ke hari senin. Bisa dibilang hari ini adalah hari pertama Inggit bekerja. Karena kemarin dia hanya datang ke kantor untuk mengasuh anak bosnya. Tapi Inggit sedikit kecewa dengan tempat ia dipekerjakan ini.Perusahan Zio bergerak di bidang perfilm-an. Awal mula Inggit ingin bergabung adalah ingin menjadi divisi perkembangan sekaligus ingin mewujudkan mimpinya membuat film dengan alur yang sudah ia punya. Tapi apalah daya dia disimpan di bagian pembantu saja. Mungkin karena masih anak baru, Inggit terima-terima saja. Tak apa yang penting sudah mendapatkan pekerjaan untuk hidupnya sehari-hari. Tentang bagaimana mewujudkan impiannya, mungkin nanti Inggit bisa mengajukan mandiri sebagai klient, bukan sebagai bagian perusahaan.Sedang sibuk mengerjakan tugas yang diberikan atasannya, tiba-tiba ponsel Inggit berdering pertanda telepon masuk. Setelah dilihat, nama Zio tertera di layar. Segera Inggit mengangkatnya."Hallo, pak!" "Git, kamu masih di kantor?""Iya pak, ada apa?" Dahi I
"Nak, papa kira selama ini sudah cukup menghidupimu dengan baik. Nyatanya, sesempurna apapun yang bisa papa beri, kamu tetap membutuhkan orang tua yang lengkap" ~ Dari Papa untuk Ayya ~***Wangi aroma masakan ala rumahan menyeruak di rongga penciuman Zio. Pria itu masih betah bergulung selimut di atas sofa panjang ruang tamu. Matanya terasa sangat berat untuk dibuka meskipun otaknya menyuruh dia untuk bangun dan segera memeriksa sumber aroma apa yang memenuhi indra penciumannya itu.Lama-lama Zio terganggu sendiri oleh suara perutnya yang berbunyi setelah mencium aroma masakan tadi. Terpaksa ia membuka matanya dan duduk bersandar ke sandaran sofa. Namun ketika matanya terbuka sempurna, Zio merasakan pening yang luar biasa."Argh!" ringisnya sembari memegang kepalanya kuat-kuat.Rasa pengar akibat minum-minum kemarin ternyata masih terasa efeknya sampai pagi. Zio memejamkan matanya sejenak mencoba menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak terasa pening lagi.Zio mengerjapkan matanya beber
“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” jawab Zio dengan mata tertutup.“Lah, anak baru itu?” tanya Arga seraya duduk menghadap kepada Zio yang masih berbaring di sofa.“Kenapa memangnya sama anak baru?”“Langsung percaya aja lo sama dia buat jagain Ayya.” Ucapan Arga berhasil membuka mata Zio kemudian menoleh.“Ayya sendiri kok yang mau, jadi yasudahlah! Ternyata enak juga kalo beres kerja gini gak usah mikirin keamanan Ayya. Agak tenang dikit.”“Rupa-rupanya bos gue ini udah mau buka hati ya?” Arga terkekeh pelan.“Apa maksud lo?”“Itu udah ngode supaya Ayya ada yang jagain selagi lo kerja?”Zio terdiam sebentar. “Gue masih setengah hati mau cari yang baru. Takutnya, dia malah sakit hati gara-gara gue belum bisa lupain Vanya.”“M
“Hallo, anak cantik!”Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.“Tante!” serunya menghampiri Inggit.“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan badan Ayya yang mungil.Ayya mengangguk semangat.Hari kedua Ayya ikut pergi ke kantor ayahnya tidak sia-sia. Zio tidak lagi berbohong tentang keberadaan Inggit di kantornya. Mengingat pesan dari Arga kalau anak bosnya itu ingin bertemu dengannya, Inggit spontan menegur Ayya sewaktu gadis kecil kuncir dua itu melewati ruangan divisinya. Bahkan Inggit tidak menyadari ada Zio di belakangnya. “Tante lututnya gak sakit lagi, kan?” tanyanya polos sembari menoleh ke lutut Inggit yang masih dibalut perban.Inggit menggeleng. “Udah enggak dong, cantik. Katanya ada yang mau ketemu tante, ada apa hm?”“Ayya dari kemarin mikirin keadaan kamu terus. Dia kepikiran sampe gak mau







