Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 85

Share

BOSS WITH BENEFIT - 85

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-28 22:46:34

Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.

“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 123

    Devan tersenyum samar, Ia menyandarkan kepala ke atas bantal membiarkan dirinya larut dalam pertunjukan yang Naila persembahkan hanya untuknya.Dengan gerakan perlahan, Naila melepas stockingnya satu per satu, memainkan kain tipis itu dengan gaya yang anggun namun menggoda. Ia membungkuk sedikit, memberi Devan pemandangan siluetnya yang sempurna. Tangannya terus bermain di rambut dan pinggulnya, ketika akhirnya Naila mendekatkan dirinya, duduk perlahan di pangkuan Devan dengan tatapan yang intens, Devan tak bisa menahan senyum lebarnya. “Kamu cantik banget.”Naila tertawa kecil, sengaja menarik tali korsetnya lebih longgar agar payudaranya terlihat. Ia menyentuh dan membelai dada dan bahunya dengan tangan yang lentik, gerakan yang mengundang hasrat. Naila lalu melepaskan korset itu perlahan-lahan hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang membungkus tubuhnya. Ia memakai kembali stocking jaring-jaring itu lalu duduk di atas Devan dengan posisi bersimpuh. Dengan perlaha

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 122

    Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 121

    Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 120

    “Gimana, Bun?” tanya Naila sambil memutar pelan.Arabella mengangguk pelan, tapi ekspresinya menyiratkan sesuatu. “Cantik, tapi… belum cukup wow. Kita coba yang lain.”Naila mencoba beberapa gaun lagi, hingga akhirnya ia mengenakan gaun berbahan satin lembut dengan siluet mermaid. Detailnya sederhana namun menonjolkan keanggunan, dengan kerah berbentuk sweetheart dan taburan mutiara di bagian ekor. Saat Naila melangkah keluar, ruangan itu menjadi hening.“Naila ….” bisik Arabella sambil berdiri dari tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca. “Ini cantik banget, Kak.”Aurel tersenyum lebar, puas dengan pilihannya. “Aku juga udah feeling kalau ini bakal cantik banget di tubuh Naila.”Naila menatap dirinya di cermin panjang, merasa sedikit emosional. “Iya, cantik,” bisiknya pelan.Arabella memeluk Naila erat. “Nggak sabar lihat kamu sama Dev nikah.”Naila tersenyum dan membalas pelukan Arabella.”Oh, ya, kita harus pilih gaun buat makan malam dan after party

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 119

    Naila mengangguk perlahan. “Ya, keluarga. Dan gue mau lo datang ke nikahan gue bukan sebagai temen, tapi sebagai keluarga gue.”Ucapan itu membuat Agus terdiam. Ia menatap Naila dengan campuran emosi yang sulit dijelaskan, antara haru dan bahagia. “Lo serius, Nai?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Naila mengangguk mantap, menatap Agus dengan penuh keyakinan. “Iya. Gimana? Lo mau?”Agus tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan mantap. “Tentu aja. Gue bakal datang, bukan cuma sebagai keluarga, tapi juga sebagai orang yang bangga sama perjuangan lo.”Naila tersenyum lega, meraih tangan Agus sejenak dan menepuknya ringan. “Thanks, Gus.”Percakapan mereka berakhir dengan kehangatan yang berbeda. Hubungan saudara tiri yang dulu mungkin terasa jauh, kini seolah menemukan tempat baru. Agus menatap Naila dengan rasa bangga yang tulus, sementara Naila merasa sedikit lebih kuat, mengetahui ia punya satu orang lagi yang benar-benar mendukungnya.”Nai, boleh nanya sesuatu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 118

    ”Hah? Nggak, Yah. Itu Dev bercanda, doang.””Tapi Ayah beneran mau ngasih. Ayah udah janji sama diri sendiri, setiap anak Ayah nanti dapat sekian persen saham. Ravel juga dapat, Eve juga sudah Ayah kasih. Nah tinggal Nai sama calon suaminya Aleeta nanti.””I—itu aku nggak ….” Naila diam, menoleh pada Devan. “Aku nggak mau saham,” ujarnya pelan.”Bagiannya Nai buat aku aja kalau begitu,” Devan tertawa saat Arabella memukul bahunya.”Ya udah, bagiannya Dev nanti jadi punya Nai semua,” putus Alfariel.”Hah?! Jangan, Yah!” Naila menggeleng panik. “I—itu kan—“”Nggak apa-apa, semua bagian aku buat kamu juga nggak masalah,” ujar Devan santai.”Ngaco, kamu pikir saham kayak mainan yang bisa dioper sana sini?””Punya aku, punya kamu juga, Sayang.””Kita bikin perjanjian pisah harta aja, punya kamu tetap punya kamu—“”Apaan! Nggak!” tolak Devan tegas. “Nggak ada pisah-pisah harta, punya aku ya punya kamu. Titik! Jangan ajak aku debat soal ini!” tegas D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 32

    Devan memang agresif, tapi jika Naila yang lebih dulu agresif, Devan akan selalu menjadi pihak yang patuh, jarang-jarang Naila mau seperti ini, selagi wanita itu menyukainya, Devan akan memasrahkan dirinya. Tangan Naila membuka kancing celana Devan, membebaskan kejantanan itu lalu membelainya naik

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 31

    Nai-nai: Pilihin. Aku bingung.Naila mengirim dua buah foto lingerie, satunya berwarna nude dan satunya berwarna hitam, Devan tersenyum dan menghubungi wanita itu.”Kok, malah telepon?””Kamu lagi belanja?”“Iya, lagi jalan sama Tere, kamu lihat foto yang aku kirim tadi, kan? Pilihin. Aku bingung d

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 30

    Naila menoleh dengan cepat, ekspresinya berubah defensif. “Apa sih, Dev? Aku nggak kenal nomor itu. Lagian, kenapa juga aku harus angkat kalau nggak penting?” Ia tertawa kecil, mencoba terdengar santai, tapi tawa itu tidak cukup meyakinkan. Namun, Devan tidak butuh kata-kata untuk tahu ada sesuatu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 27

    Devan berdiri di depan ruang pantry, berpura-pura menelusuri layar ponselnya. Namun, sebenarnya matanya diam-diam mengamati Naila di kejauhan. Naila duduk di meja kerjanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Senyumnya terlihat lelah, terlalu dipaksakan, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status