Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 18

Share

BOSS WITH BENEFIT - 18

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-25 17:41:49

Mereka bertemu Pak Heru di lokasi proyek, fokus diskusi mereka saat ini adalah desain taman dan kolam renang yang akan menjadi daya tarik utama hotel tersebut. Di bawah terik matahari siang, mereka berjalan mengelilingi lokasi sambil mendiskusikan rencana yang telah dibuat sebelumnya.

Devan melihat ke arah tanah kosong yang ditandai sebagai area kolam renang, “nah ini area di mana kolam renang akan dibangun. Saya ingin memastikan desainnya tidak hanya estetis, tetapi juga berfungsi maksimal unt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 126

    Begitu Devan menggesekkan ujung kejantanannya, Naila mengerang, menarik leher Devan agar mencium bibirnya. Pria itu menghunjam masuk bersamaan dengan lidahnya menerobos mulut Naila. Istrinya langsung melingkarkan kedua kaki di pinggangnya dan Devan mulai bergerak dengan irama yang pelan, percintaan yang cepat memang favorit Devan tapi gerakan yang lambat akan membuat istrinya tidak sabaran, Devan sangat menyukai bagaimana Naila akan ikut menggerakkan pinggul karena tidak sabar dan pada akhirya Naila akan merengek dengan suara yang manja.“Kenapa pelan banget?” protes Naila sambil mencium jakun pria itu.”Kalau kuat-kuat nanti kamu protes.””Kuat-kuat aja—ugh!” Naila memejamkan mata kala Devan langsung menambah ritme gerakannya. “Iya, begitu, lebih kuat, Sayang.”Devan memeluk pinggang Naila, merapatkan tubuh mereka dan terus menghunjam.”Ah! Lebih kuat, Dev.”Devan memindahkan kaki Naila yang semula melingkari pinggangnya agar diletakkan di bahu, posisi itu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 125

    ”Udah nggak, sih. Kata Mas Rai kalau dia masih ikutin aku, bilang aja sama Mas Rai, nanti Mas Rai yang beresin dia. Jadi aku nggak butuh bodyguard, memangnya aku bocah?”Devan memandang Alfariel yang hanya diam saja.”Nanti kalau dia ganggu lagi, mau nggak mau kamu harus terima pake bodyguard,” putus Alfariel. Dan Aleeta tidak berani untuk membantah.”Oh, ya, film yang kamu tunggu itu udah tayang di Netflix, Alee,” ujar Eve mencoba mengubah topik pembicaraan, “katanya kamu mau nonton?””Yuk, nonton temenin aku. Film horor soalnya,” Aleeta menarik Eve, Naila dan Almeera menuju ruang teater pribadi di rumah Alfariel, Devan, Aksa dan Ravel segera berdiri mengikuti istri-istri mereka.”Ayah nggak ikut nonton?” Naila menatap Alfariel yang kembali meraih bukunya.”Ayah nggak suka film horor, kalian aja. Ayah mau baca buku.”“Ayah tuh sebenarnya penakut,” ledek Aleeta sambil tertawa.Mereka memasuki teater pribadi di lantai dua, ruangan itu mewah dan cukup besar. Dinding-dinding ruangan dihi

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 124

    “Dev ….”Devan membalik tubuh Naila, membuat Naila menungging padanya, kali ini Devan mengambil vibrator yang berbentuk lonjong dengan ukuran kecil, ia menghunjam sambil melumasi vibrator itu dengan pelumas, Devan mengatur getarannya yang lembut.”Rileks,” ujar Devan mulai mengolesi bagian belakang Naila dengan pelumas.”Sayang?!” Naila menoleh melalui bahu.”Rileks, Sayang.” Devan mendorong ujungnya yang bergetar untuk masuk.”DEVAN!” Naila menjerit saat merasakan getarannya. “AH!” Devan dengan mudah mendorong benda lonjong kecil itu masuk sepenuhnya, bagian tali dan pegangannya dibiarkan agar Devan bisa menariknya keluar nanti. “DEVAN!” Naila menghentakkan pinggulnya saat toys di dalamnya bergetar lembut. Ia terengah-engah sementara Devan kembali menghunjam. “S—Sayang, ah! Ah!” Naila ikut menggerakkan pinggulnya saat Devan bergerak, tangannya meremas bantal begitu kuat.Ciuman Devan memenuhi punggung Naila, ia menarik pinggul itu semakin menungging untuknya, sambil terus menghunjam,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 123

    Devan tersenyum samar, Ia menyandarkan kepala ke atas bantal membiarkan dirinya larut dalam pertunjukan yang Naila persembahkan hanya untuknya.Dengan gerakan perlahan, Naila melepas stockingnya satu per satu, memainkan kain tipis itu dengan gaya yang anggun namun menggoda. Ia membungkuk sedikit, memberi Devan pemandangan siluetnya yang sempurna. Tangannya terus bermain di rambut dan pinggulnya, ketika akhirnya Naila mendekatkan dirinya, duduk perlahan di pangkuan Devan dengan tatapan yang intens, Devan tak bisa menahan senyum lebarnya. “Kamu cantik banget.”Naila tertawa kecil, sengaja menarik tali korsetnya lebih longgar agar payudaranya terlihat. Ia menyentuh dan membelai dada dan bahunya dengan tangan yang lentik, gerakan yang mengundang hasrat. Naila lalu melepaskan korset itu perlahan-lahan hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang membungkus tubuhnya. Ia memakai kembali stocking jaring-jaring itu lalu duduk di atas Devan dengan posisi bersimpuh. Dengan perlaha

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 122

    Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 121

    Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 56

    Alexa tetap tenang meski rasa panik mulai menyelinap. “Lo gila, ya?!” Bentak Alexa, “Kalau gue mau dorong dia, kenapa nggak ada yang lihat?” Ia melipat tangan di depan dada, tatapannya berpura-pura bingung. “Kita semua tahu Naila kadang ceroboh. Bisa aja dia nggak hati-hati waktu berdiri.”Edo, yan

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 54

    “Sit on my face,” ujar Devan saat Naila menarik wajahnya.”W—what?”Mata wanita itu terbelalak sementara Devan tersenyum, pria itu menarik lepas gaun tidur dan celana dalam Naila sekaligus, membuat wanita itu telanjang di atasnya.“Dev, kamu jangan gila,” Naila bertumpu pada dada bidang Devan.”Aku

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 46

    ”Devan! Jangan main-main, ih!”Pria itu tersenyum senang, “kenapa? Enak?” Devan mendorong pelan, lalu menariknya lagi. Padahal ia sendiri sudah nyaris gila dengan apa yang ia lakukan, tapi Devan senang membuat Naila ikut gila bersamanya, pinggul wanita itu bergerak ke arahnya dengan tidak sabar, su

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 33

    (Awal mula Devan dan Naila menjalin hubungan)Devan melepaskan dasi yang melingkari leher, pria itu melempar dasinya ke kursi kosong di sampingnya lalu keluar dari mobil untuk memasuki Litera. Devan merasa akhir-akhir ini hidupnya monoton sekali, hari-harinya dipenuhi pekerjaan, baik fisik maupun m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status