LOGINMature content ️ Banyak adegan 21+! sesuaikan usia kalian karena ini bukan bacaan anak remaja apa lagi anak kecil. Grace mengerang karena sentuhan William yang luar biasa menggoda, ia memejamkan matanya menikmati gelenyar-gelenyar nikmat yang mulai menjalari darahnya. Saat lidah William menjilat puncak dadanya, Grace nyaris menjerit karena sengatan rasa yang luar biasa. Namun, belaian lidah William justru seketika mengosongkan otaknya, menggatikan jeritan dengan erangan halus. Seluruh akalnya hilang digantikan oleh gairah yang nyaris tidak terbendung. Instagram @cherry.blossom0311 Facebook : Sakura Hikaru
View MorePagi-pagi sekali Bella mulai melangkahkan kakinya menuju ke sekolah. Saat memasuki gerbang sekolah, suasana masih sepi, belum banyak yang datang.
Bella berjalan sambil menunduk, tangannya ia gunakan untuk memegang tali tas punggungnya. Langkahnya sangat pelan, seperti biasa.Di ujung koridor, Bella melihat lelaki yang bernama Daniel. Lelaki itu adalah cowok yang Bella sukai. Tidak ada yang tahu, Bella terlalu takut untuk bercerita pada orang-orang.Bella menatap Daniel dari kejauhan, lelaki itu sedang duduk sendiri sambil membaca buku. Bella berjalan melewati Daniel, niatnya ingin menarik perhatian Daniel. Lelaki itu bahkan tidak meliriknya sama sekali.Bella mulai masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Dengan cepat, Bella membuka tasnya dan mengambil buku kecil untuk menulis sesuatu. Ya, bisa dibilang seperti Diary.Banyak hal yang Bella tulis, termasuk tentang Daniel tentu saja.Setelah menyelesaikan pekerjaannya itu, Bella merebahkan kepalanya hingga bel masuk berbunyi.Guru sudah masuk ke kelas, pengajar itu memberikan tugas dan pergi setelah itu.Deringan ponsel mengalihkan perhatian Bella. Ada telepon masuk dari Dika, cowok yang selalu merusuhi Bella.Bella membiarkan saja deringan itu hingga mati sendiri. Bella membuka roomchat dengan Dika, lelaki itu meminta jawaban tugas yang baru saja diberikan.Dari ujung sana, Dika berjalan mendekat dan menggebrak meja dengan kasar."Kerjain cepatan!" Bella hanya mengangguk pelan. Ia mulai menuliskan jawaban di bukunya."Kalo udah, pap di gc!" Lagi-lagi Bella hanya mengangguk tidak membantah.Saat itu, Bella mau memainkan ponsel, tiba-tiba saja mendapatkan notif bahwa Dika sudah memasukkan ke group chat bersama teman-temannya itu. Bella bertanya apa alasannya, dengan enteng Dika menjawab agar mudah untuk meminta tugas. Bella hanya mengangguk paham, tidak bertanya lagi. Bella cukup paham, fungsinya hanya untuk mengerjakan tugas Dika dan ketiga temannya itu."Sekalian tulisin punya gue, jangan lupa, awas!" Setelah itu Dika pergi keluar kelas. Sebelum memegang buku Dika, Bella menghela nafas sejenak. Rasanya sedikit letih.Bunyi notifikasi ponsel menandakan ada pesan masuk mengalihkan atensi Bella. Dengan segera Bella membuka pesan itu dan tatapannya berubah malas. Lagi-lagi meminta jawaban."Bel, udah belum? Cepetan elah!" Itu adalah pesan singkat yang dikirim oleh Revan, salah satu anggota group yang dibuat oleh Dika.Bella tidak menjawab, lebih baik ia kembali mengerjakan dan mengirim jawaban kepada mereka.Lagi-lagi bunyi notifikasi pesan membuat konsentrasi Bella hilang. Kali ini pesan yang dikirimkan oleh Andra, salah satu teman Dika."Bel, pap dong!"Bella kembali mengabaikan pesan singkat itu dan melanjutkan pekerjaannya.Gembrakan pada meja Bella membuat gadis itu terpekik, Alfa—lelaki yang paling kasar diantara teman-teman Dika—menghampirinya. Alfa menarik paksa bukunya dan membawanya ke meja tempat lelaki itu duduk. Bella hanya pasrah saja.Gadis ini melanjutkan menulis jawaban pada buku Dika, hanya berbekal ingatan, karena jawabannya sudah diambil paksa oleh Alfa.Bunyi bel sudah berbunyi nyaring, satu per satu teman sekelasnya sudah meninggalkan kelas dan pergi ke kantin. Tapi, Bella berbeda, saat istirahat tiba, dia hanya berdiam diri di kelas. Bella tidak ingin orang-orang merundungnya jika pergi ke kantin. Bella merasa takut.Baru saja ingin merebahkan kepalanya di meja, seseorang menarik rambut panjang Bella. Gadis ini meringis, rasanya sangat sakit, seperti rambut kepalanya tercabut dari kepalanya."Ahhh, sakit. Tolong lepasin..." Orang yang menarik Bella itu ada cewek dari kelas sebelah. Sebut saja Cherry."Kerjain tugas gue, anak yatim! Kalo gue kesini tugas gue harus selesai, ngerti!?" Bella masih mengelus kepala kepalanya pelan. Rasanya masih terasa sakit."Ngerti gak!?" Bella hanya mengangguk terpatah-patah, setelah itu Cherry pergi bersama antek-anteknya.Bella menatap buku yang ada di hadapannya. Totalnya ada empat buku, bagaimana bisa ia menyelesaikannya?Bella mulai mengerjakan tugas di buku yang diberikan oleh Cherry.Sudah lewat lima menit, suasana kelas masih sepi, Bella merebahkan kepalanya pada meja karena merasa sedikit letih. Mata gadis ini terpejam sesaat, sedetik kemudian terbuka dengan terpaksa.
Dika datang dan menarik rambutnya kasar. Bella memukul pelan tangan Dika berharap bisa dilepaskan."Sakit... tolong lepasin..." "Lagi ngapain anak yatim?" Bella mendongak dan menatap mata Dika sejenak."Ditanya malah bengong nih, anak yatim!""Ng-ngerjain tugas..." Ucap Bella tergagu."Punya siapa!?" Dika kembali menjambak rambut Bella kasar. Gadis ini kembali meringis menahan sakit."Ssss... sakit, Dika.." Bella menahan lengan Dika agar tangan lelaki itu mengenai kepalanya lagi."Punya siapa!?" Lagi-lagi Dika mengeluarkan suara dengan nada membentak."Pu... punya, Che--" "Oh, punya cewek gatel itu, iya!?" Bella mengangguk mengiyakan."Siniin bukunya!" Bella menggeleng, kalau bukunya diambil Dika, kemungkinan ia dimarahi Cherry semakin besar."Jangan, Dika... nanti Cherry marah..." Dika menatap tajam Bella, nyalinya menciut.Dengan kasar, Dika mengambil buku Cherry sedikit kasar. Bella membelalakkan matanya saat buku Cehrry yang sudah ada ditangan Dika robek. Lelaki ini merobeknya."Dik, kalo Cherry marah gimana?" Dika hanya tertawa mengejek."Itu urusan lo! Dengerin ini baik-baik, lo gak boleh ngerjain tugas orang lain selain gue dan temen-temen gue!" Bella menunduk takut. Bella hanya mengangguk menuruti.Setelah itu Dika pergi keluar, dan Bella sedikit was-was jikalau Cherry menagih bukunya. Bella berjalan keluar, sepertinya bersembunyi di toilet bisa membuatnya tidak dirundung Cherry dan antek-anteknya. Setidaknya untuk sekarang.Setelah sampai di toilet, dengan cepat Bella masuk kesalah satu bilik dan menguncinya dari dalam.Sampai bunyi bel pulang Bella tidak keluar dari bilik kamar mandi. Setelah di rasa cukup sepi, Bella membuka pintu dan keluar dengan pelan. Betapa terkejutnya Bella, rambutnya langsung dijambak dan kepalanya dijedotkan ke tembok sekolah. Bella hanya menahan lengan gadis sebaya dengannya itu."Sakit... tolong lepasin," ucap Bella pelan. Air matanya tidak bisa dicegah, keluar dengan sendirinya."Oh, sakit? Bayi lo!" Bentak Cherry marah."Lo kayaknya emang minta dirundung kan? Tugas gue gak lo kerjain, SENGAJA!?" Ucap Cherry kembali menjambak rambut Bella dengan kasar. Beberapa helai rambut Bella rontok di tangan Cherry."Sakit, Cher..." Ungkap Bella diikuti rintisan pelan dari bibirnya.
"Tau lo kalo sakit, kenapa gak lo kerjain tugas gue!? Sialan lo!"
"Kerjain hukuman gue! Awas kalo lo kabur lagi, gue bunuh lo, ngerti!?" Bella mengangguk pelan.
"Bersihin toilet sampe bersih, awas kalo guru tau, lo gue bunuh!" Bella kembali mengangguk tergagu-gagu.
"Jangan iya-iya aja, kerjain sana!" Setelah itu Cherry pergi meninggalkan Bella. Gadis ini pun mulai mengerjakan hukuman Cherry sampai malam hari tiba.
Toilet Lit High School sangat banyak. Sekolah SMA ini adalah sekolah favorit di kota ini. Dan Bella sangat beruntung bisa menempuh pendidikan disini. Ya walaupun tidak seperti orang-orang. Tapi, tidak masalah untuknya.
Mendapatkan beasiswa dan dapat merasakan pendidikan dengan fasilitas yang lengkap sangat Bella syukuri.
Bella hanya anak yatim, kehilangan orang tuanya dikala ia masih butuh kasih sayang mereka sangat membuatnya terpukul. Tidak jarang ia merasa sangat insecure jika tersosialisasi dengan teman sebayanya.
Itulah mengapa Bella menutup diri dari orang-orang. Lambat laun, orang-orang sekitar mengira Bella orang aneh, yang menjauh jika ada yang mendekatinya. Dika, lelaki itu adalah orang pertama yang merundungnya.
Setelah Dika, muncullah orang seperti Cherry yang mulai berani menyuruhnya ini dan itu. Dan Bella hanya menuruti saja.
Setidaknya, masih ada orang yang ingin berbicara dengannya walaupun dengan dalih meminta tugas. Bella tidak masalah. Sungguh!
Ah, iya. Sekali lagi, baca terus sampai akhir cerita Bella. Kalian sudah membacanya sampai sini, bacalah sampai akhir agar lebih baik~
EpilogueTidak ada pernikahan yang terburu-buru, Grace yang rencananya ingin membatalkan kontrak dengan brand yang mengontraknya akhirnya menemukan jalan lain yang dirasa lebih baik dan William juga menyetujui dengan syarat semua kegiatan Grace berada di bawah kendalinya. Dimiliki pria yang posesif ternyata tidak buruk. Apa lagi William tahu betul cara memanjakan Grace hingga Grace merasakan jika dirinya merupakan wanita paling beruntung di muka bumi ini. Mereka menyiapkan pernikahan mewah di London tahun ini dan persiapan itu memakan waktu cukup lama hingga kontrak kerja Grace berakhir. William berulang kali menatap wajah cantik Grace di tengah pesta pernikahan mereka. Seluruh anggota keluarga Johanson berkumpul, juga keluarga besar ayah kandung Grace. Nathalia dan Theresia juga ada di sana. Tidak ketinggalan teman-teman Grace & William, mereka semua berkumpul dalam suasana hangat untuk memberikan selamat dan bersuka cita. Semua larut dalam kebahagiaan, Ford datang bersama kekasi
30. EndMeghan tersenyum penuh kemenangan. "Dia menunggumu." "Menunggu?" Sean masih tidak mengerti dengan maksud Meghan."Grace menunggumu di mobil, sopirku tahu ke mana dia harus mengantarkan kalian." Mengumpat, Sean meninggalkan Meghan. Setengah berlari ia menuju mobil yang dimaksud Meghan. Ia membuka pintu belakang dan mendapati Grace meringkuk di sana sambil memeluk lututnya seraya mengerang memanggil William. Ia menutup pintu mobil dengan perasaan frustrasi lalu membuka pintu bagian depan. Kali ini lebih mengejutkan lagi adalah mendapati orang yang duduk di belakang kemudi."Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sean gusar."Aku melakukan tugasku." Sean menutup pintu mobil. "Kau asistennya!" Halifa tertawa pelan. "Bayaran yang Meghan tawarkan seratus kali lipat dari gajiku bekerja menjadi asistennya." "Brengsek!" Sean mengumpat. "Jalankan mobilnya." Sean mendengar dari Meghan jika sepupunya itu akan membantunya untuk mendapatkan Grace. Tetapi, ia belum menyetujui gagasan Meg
Chapter 29CheatingGrace membuka matanya, yang terakhir ia ingat adalah ia meminta bantuan Meghan untuk menemukan William. Kejadian beberapa bulan yang lalu akhirnya kembali terulang di mana ia berakhir di atas ranjang William. Tetapi, kali ini ceritanya berbeda. Entah berada di hotel mana. Tanpa mengenakan apa pun selain selimut yang masih menutupi tubuhnya. Ia juga merasakan jika seluruh tubuhnya terasa sakit dan bagian pribadinya terasa tidak nyaman. Terasa perih. Sebuah konspirasi pasti telah terjadi dan ia tidak tahu siapa dalang dibalik konspirasi itu, ia hanya mampu menduga jika Meghan adalah otak dibalik semuanya. Tetapi, ia sama sekali tidak memiliki bukti jika menuduh Meghan dan sekarang siapa yang akan percaya padanya jika mengatakan telah dijebak?Ia dilemparkan ke atas ranjang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Grace sangat yakin jika orang itu mengingatkan kehancurannya. Kehancuran hidup dan kariernya. Sangat tragis, semua yang ia bangun benar-benar hancur.Dulu ia be
Chapter 28Your BrotherCalvin duduk di ruang keluarga. Matanya mengamati keliling ruangan dengan perasaan masam. Rumah itu ia beli dua bulan sebelum pernikahannya dan Meghan berlangsung. Ah, ia memang hanya pria biasa, manusia biasa yang lemah. Semua orang bisa merencanakan dengan siapa akan menikah, tetapi pada akhirnya tidak ada yang bisa merencanakan kepada siapa akan jatuh cinta. Dulu, ia mengejar Megan seperti hanya ada Meghan seakan hanya ada Meghan gadis di dunia ini. Ia menjadikan Meghan nomor satu, di atas segalanya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan juga hal-hal yang dilewati, hati dan perasaan ternyata bisa berubah. Calvin berlama-lama menatap lukisan dirinya dan Meghan yang terpajang di dinding. Mata Meghan menatapnya, penuh cinta. Ia tahu jelas perasaan istrinya. Dirinyalah yang merusak rumah tangga. Benar kata Meghan, ia menyimpan wanita lain dalam rumah tangga mereka. Calvin sepenuhnya menyadari kesalahannya. Ia bertemu Aida, awalnya hanya k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore