LOGIN"Apa maksud Tuan diam saja? Benar Tuan selalu memberikan Sean makanan yang mengandung kacang?" tuntut Alina, matanya menatap tajam, menuntut jawaban dari pria yang berdiri kaku di depannya. Reynard berdeham kaku, mengalihkan pandangannya sesaat sebelum menjawab dengan nada yang terdengar... terbata-bata. "I-itu... hanya sesekali. Jika dia benar-benar mengamuk dan tidak bisa ditenangkan, saya terpaksa memberikannya sedikit." "Terpaksa Tuan bilang?!" Suara Alina meninggi, memotong ucapan Reynard tanpa peduli jika pria di depannya ini adalah CEO besar yang disegani banyak orang. "Tuan mendengar sendiri kan apa yang dikatakan dokter tadi di rumah sakit? Sean itu memiliki alergi kacang yang sangat parah! Alergi itu bisa memicu sesak napas yang membahayakan nyawanya, Tuan Reynard!" "Saya tahu! Kau tidak perlu menceramahi saya seolah-olah saya ini ayah yang kejam!" balas Reynard, rahangnya mengetat sempurna. Ia tahu dirinya salah dan lalai, namun egonya yang setinggi langit menolak keras
"Apa?! Kenapa saya harus ikut?!" Alina memekik tertahan, menatap Reynard dengan kening berkerut dalam, tidak habis pikir dengan perintah mendadak dari majikannya itu. Reynard tidak langsung menjawab. Pria itu dengan tenang menyesap kopi hitamnya, lalu menatap Alina dengan pandangan mata abu-abunya yang sedingin es. "Karena saya membayar kau untuk mengurus Sean, Alina. Termasuk memastikan dia kooperatif saat diperiksa dokter." "Tapi Tuan, pemeriksaan kesehatan kan urusan Tuan sebagai ayahnya! Kenapa harus melibatkan saya?" protes Alina lagi, memegang pisau dapurnya dengan gemas. "Kau akan tahu sendiri alasannya nanti setelah kita sampai di sana," sahut Reynard datar, lalu berbalik meninggalkan dapur tanpa berniat memperpanjang perdebatan. Dua jam kemudian, Alina akhirnya mengerti dengan sangat jelas apa maksud dari ucapan Reynard. Di dalam ruang periksa anak sebuah rumah sakit swasta yang mewah, atmosfer yang semula tenang mendadak berubah menjadi medan perang. Suara jeritan dan t
"Menelanjangimu? Tolong sadar diri, Tuan Reynard yang terhormat! Pria mesum seperti anda ini sama sekali bukan tipeku!" Alina mencibir keras, sengaja melangkah mundur satu tindakan untuk menjauhkan dirinya dari jangkauan napas hangat pria itu. Wajahnya yang semula memerah karena malu kini berubah menjadi merah padam akibat menahan dongkol yang luar biasa. Reynard justru terkekeh rendah, suara baritonnya yang serak terdengar sangat menyebalkan di telinga Alina. "Mesum? Saya hanya berdiri di ambang pintu rumah saya sendiri, Alina. Kau yang datang sepagi ini dan langsung menatap tubuh saya tanpa berkedip. Jadi, siapa sebenarnya yang mesum di sini?" "Anda yang sengaja membuka pintu dengan penampilan seperti ini untuk memamerkan tubuhmu, kan? Anda pikir saya akan terpesona?" balas Alina, melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan mata yang sengaja ia arahkan ke dinding, enggan menatap dada bidang Reynard lagi. "Saya hanya ingin mengetesmu," ucap Reynard santai, menyandarkan bahu
"Saya bermimpi untuk menginap di rumah Tuan? Oh, astaga, tolong bangunkan diri Tuan dari delusi yang terlalu tinggi itu!" Alina tertawa hambar, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Reynard dengan kilat kemarahan yang tidak lagi ia sembunyikan. Rasa kesal yang sejak tadi menggunung di dadanya kini meledak dalam bentuk sindiran yang tak kalah tajam. "Dengar baik-baik, Tuan Reynard yang terhormat," lanjut Alina, melangkah satu tindakan maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal, "tidak pernah terlintas satu detik pun di dalam benak saya untuk mencari alasan agar bisa menginap, apalagi menggoda Tuan. Uang Tuan memang banyak, tapi itu tidak bisa membeli harga diri saya!" Reynard hanya menaikkan satu alisnya, menatap Alina dengan pandangan meremehkan yang teramat dingin. "Lalu bagaimana kau menjelaskan sikap putra saya yang mendadak tidak bisa lepas darimu dalam waktu satu hari? Kau pasti melakukan sesuatu di belakang saya." "Saya hanya memperlakukannya seperti anak ke
"Hal apalagi yang kau ajarkan pada putraku, Alina?" tanya Reynard, suaranya yang rendah terdengar sangat dingin, mengintimidasi, dan sarat akan tuduhan. Alina mendongak, matanya melebar seketika karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa Tuan bilang? Mengajarkan hal aneh? Tolong jaga ucapan Tuan, ya! Saya tidak pernah mengajarkan hal gila seperti yang ada di dalam otak penuh curiga Tuan itu!" "Lalu kenapa Sean tiba-tiba memintamu menginap, bahkan memintamu tidur di kamar saya?" desis Reynard, melangkah satu tindakan mendekati sofa dengan tatapan mata abu-abu yang menuntut penjelasan. "Jangan pikir saya tidak tahu taktikmu, Alina. Kau sengaja memanfaatkan kepolosan anak saya agar kau bisa punya alasan untuk tinggal di rumah ini, bukan?" "Tuan Reynard yang terhormat!" potong Alina, suaranya meninggi akibat rasa geram yang sudah mencapai ubun-ubun. "Jika Tuan tidak percaya, tanyakan saja langsung pada anak Tuan! Jangan terus-menerus menuduh saya dengan asumsi murah
"Mama... Sean sayang Mama..." Gumaman lirih dari bibir mungil Sean memecah kesunyian malam di dalam ruang tengah yang gelap gulita. Bocah kecil itu mengigau, mengeratkan pelukannya pada paha Alina seolah-olah wanita itu adalah pelabuhan teraman di dalam mimpi indahnya. Suara serak sang anak seketika menyentak kesadaran Alina. Sepasang kelopak matanya terbuka cepat, namun sebelum ia sempat mengumpulkan nyawanya yang baru kembali, ia mendadak membeku. Di dalam keremangan cahaya taman yang menembus jendela kaca, sepasang manik mata abu-abu sedingin es milik Reynard Dirgantara tengah menatap lurus ke arahnya dari jarak yang terlampau dekat. Alina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. "T-Tuan Reynard?!" Reynard langsung menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada dengan rahang yang mengetat sempurna. "Bagus sekali, Nona Alina Delisha. Saya membayar mahal bukan untuk melihatmu menikmati fasilitas sofa mewah saya dan tidur pulas di jam kerja." "Maaf, Tuan, saya b







