Share

Bab 252

Author: Ayesha
Ruang rapat seketika menjadi hening.

Brielle merasakan semua tatapan menusuk ke arahnya, termasuk tatapan mata Raka yang dalam. Tanpa sadar, Brielle menoleh. Dia melihat sikap pria itu sangat dingin dan profesional.

Frederick sudah memprediksi hal ini sejak semalam, sehingga Brielle bisa menghadapi situasi itu tanpa kesulitan. Dia menoleh ke arah Rendy dan berkata, "Kami akan kembali meninjau ulang data, bagaimanapun kerja sama kita dibangun di atas keunggulan yang saling melengkapi."

Mata Rendy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
alurnya santuy .... kejelasan kehamilan Devina ga ada...Raka kyknya ga tau atau gmn....
goodnovel comment avatar
Suryat
ternyata valakor juga takut kalah saing...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1455

    Setelah kembali ke hotel untuk makan siang, mereka menghabiskan sore hari dengan beristirahat di hotel. Brielle juga melakukan panggilan video dengan putrinya.Di seberang layar, Anya sudah sangat merindukannya. Brielle memberi tahu bahwa lusa pagi mereka sudah bisa bertemu. Mendengar hal itu, si kecil langsung kembali ceria.Saat makan malam, Raka mengundang Brielle makan di restoran yang berada di lantai paling atas hotel.Brielle tidak menolak.Itu adalah restoran hidangan laut dengan sajian yang disusun dengan sangat indah. Di kejauhan, cahaya mercusuar bersinar terang, bagaikan pelita di tengah kegelapan yang menuntun orang yang tersesat kembali ke jalan yang benar.Di tengah makan malam, Raka memandang Brielle dengan tatapan yang dalam. Nada bicaranya menjadi jauh lebih serius."Tentang Devina, ada sesuatu yang harus aku jelaskan kepadamu sampai benar benar tuntas. Setelah kita pulang ke dalam negeri, aku akan memperlihatkan semua hal tentang dirinya dan aku pada waktu itu, terma

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1454

    Keesokan paginya, ponsel Brielle menerima pesan dari Raka.[ Pak Elliot sedang dinas ke luar negeri. Jadwal kepulangannya diundur jadi besok. Jadi hari ini kita lanjut istirahat saja. ]Brielle sedikit terkejut. Namun mengingat status Elliot, wajar jika dia adalah orang yang sangat sibuk. Untuk mengundangnya makan bersama tentu harus membuat janji dari jauh-jauh hari sebelumnya.Brielle membalas singkat.[ Baik, terima kasih. ]Tak lama kemudian, pesan lain masuk.[ Ayo sarapan. Aku sudah di depan kamarmu. ]Brielle memang sedang bersiap turun untuk sarapan. Dia membuka pintu kamar, dan benar saja, Raka sudah menunggunya di lorong.Hari ini Brielle mengenakan pakaian kasual yang nyaman. Wajahnya polos tanpa riasan, sementara rambut panjangnya diikat sederhana menjadi ekor kuda. Dibandingkan penampilannya yang anggun semalam, kali ini dia terlihat lebih segar dan santai.Tatapan Raka tertuju padanya dan berhenti sejenak di wajahnya."Tidurmu nyenyak?"Malam sebelumnya dia minum anggur,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1453

    Seolah-olah, dia takut pada detik berikutnya semua ini akan menghilang. Perasaan ini adalah hasrat yang selama ini tak pernah benar-benar lenyap dari lubuk hatinya.Hasrat untuk memiliki Brielle.Akhirnya, satu lagu pun usai.Brielle berkata kepadanya, "Aku ingin keluar menghirup udara segar."Raka memandang pipinya yang mulai sedikit memerah, lalu mengangguk pelan. "Baik, aku temani."Pemandangan di luar aula sangat indah. Tepat di seberangnya terbentang sebuah danau buatan yang berkilauan diterpa cahaya bulan.Brielle berjalan ke bangku panjang di tepi danau, lalu duduk. Raka berdiri diam di sampingnya, menikmati pemandangan malam bersama.Raka melepas jasnya dan menyampirkannya di lengan Brielle. Keningnya dipenuhi butiran keringat tipis. Dia merapikan rambutnya dan untuk pertama kalinya malam itu, dirinya benar-benar merasa rileks.Tiba-tiba Brielle teringat sesuatu. Dia pun mendongak dan bertanya, "Besok, boleh nggak kita mengundang Pak Elliot makan bersama?"Raka tertegun beberap

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1452

    Raka berjabat tangan dengan Ella dengan sopan. Ella kemudian meraih tangan Brielle. "Ayo, ikut ke sana."Sesampainya di tengah sekelompok orang, mereka kembali saling berkenalan. Tak lama kemudian, semua orang mulai mengobrol santai mengenai dunia medis.Raka berdiri di samping mendengarkan. Sesekali dia menyesap sampanyenya, tetapi lebih sering, pandangannya tertuju pada Brielle. Dulu, dia selalu berdiri di sisi Brielle sebagai seorang investor, mendengarkan percakapannya dengan orang lain.Namun, malam ini berbeda. Dia berdiri di sini sebagai seorang teman yang sesungguhnya. Perasaan yang memenuhi hatinya pun sama sekali berbeda.Saat itu Brielle sedang mendengarkan Ella menceritakan kisah lucu dari sebuah eksperimen hingga dia tak kuasa menahan tawa. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dalam.Tatapan itu berasal dari Raka.Pria itu sedikit memiringkan kepala sambil menatapnya. Di bawah sorot lampu, tatapan matanya terasa begitu membara. Brielle segera mengali

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1451

    Brielle mengenakan gaunnya, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara sederhana dari tas rias kecilnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai alami di belakang bahunya. Malam ini adalah jamuan makan malam akademis, jadi penampilan yang sederhana dan pantas sudah cukup.Pukul setengah delapan malam, Brielle turun tepat waktu. Raka sudah menunggunya di lobi.Pria itu berganti mengenakan setelan jas biru tua tanpa dasi. Kerah kemeja putihnya dibiarkan sedikit terbuka, memberi kesan santai tetapi tetap berwibawa.Saat melihat Brielle, sebersit kekaguman melintas di mata Raka. Dia menatap wanita yang melangkah menghampirinya dengan tenang. Jakunnya bergerak pelan.Sudah berapa lama? Sudah berapa lama dia tidak melihat Brielle berjalan menghampirinya seperti ini. Rasanya seolah sudah berlalu satu abad.Dulu, Brielle selalu menghampirinya dengan penuh semangat, berlari memeluknya dengan riang, lembut, dan malu malu. Namun setelah bercerai, sikapnya menjadi dingin dan sengaja menghindarinya. Di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1450

    Jawaban Raka yang lugas dan tidak ragu-ragu membuat kata-kata yang hendak diucapkan oleh Brielle tertelan kembali. Dia menatap pria yang berdiri membelakangi sinar matahari itu.Dengan setelan jas kasual, kesan tajam dan formal yang biasanya dia miliki berkurang beberapa tingkat, digantikan oleh aura yang lebih santai dan mudah didekati. Namun, wibawa tenang yang menjadi ciri khasnya tetap tidak berubah."Kalau begitu ... sampai nanti malam. Aku mau balik ke hotel dulu untuk istirahat," kata Brielle."Makan sesuatu dulu," ujar Raka dengan suara rendah. Memang itulah tujuan kedatangannya, untuk menjemput Brielle.Brielle teringat bahwa konferensi sudah selesai. Seluruh tubuh dan pikirannya terasa jauh lebih ringan. Dia mengangguk. "Oke."Mereka berjalan melewati jalan setapak yang teduh di dalam kampus. Sinar matahari musim panas menembus sela-sela dedaunan, membentuk bayangan belang-belang di atas tanah.Di kejauhan, beberapa pekerja sedang memangkas rumput. Aroma rerumputan yang segar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 155

    Selain itu, di bawah tertera rincian biaya nafkah anak yang harus dibayarkan pihak laki-laki. Brielle melihat jumlah nafkah bulanan yang harus dibayar Raka adalah 6 miliar.Brielle sempat menghela napas lega, tetapi sekarang kembali terkejut. Raka akan memberikan nafkah sebesar itu? Tunggu dulu, hal

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 116

    Brielle langsung menjawab, "Nggak perlu, aku sudah pesan tiket pesawat sore ini buat pulang bareng putriku.""Kita bareng saja!" sahut Raka.Brielle jelas tidak ingin naik pesawat yang sama dengannya. Baru hendak menolak, Anya sudah menggandeng tangannya. "Mama, kita pulang bareng Papa ya!"Brielle

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 126

    Raka tidak menghampiri putrinya untuk menyapa, melainkan langsung pergi. Sepertinya, kekasih di hatinya sudah menempati posisi yang lebih penting daripada putrinya.Beberapa menit kemudian, Lambert datang. Dia tampak sedikit menyesal. "Maaf, tadi macet."Brielle tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, mere

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 149

    Devina menggigit bibirnya, memegang cangkir teh dengan ekspresi sedikit canggung. Dialah guru piano pertama Anya, tetapi sekarang Anya sama sekali tidak menyebut namanya.Melihat Anya mengangkat dagu mungilnya yang bulat, menatap Brielle dengan penuh kekaguman, Devina tak kuasa mencaci dalam hati, '

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status