MasukRaka hanya memandang Brielle dalam diam. Pikirannya dipenuhi perasaan yang rumit.Saat ini, dia sangat berharap ada seseorang yang bisa melihat pemandangan ini. Karena dia yakin, jika orang itu melihat Brielle seperti sekarang, dia pasti akan merasa sangat bangga.Orang itu adalah Adam.Ayah mertuanya.Brielle mewarisi bakat, keteguhan, dan kecintaan terhadap penelitian dari ayahnya dengan sempurna.Saat ini, dia berdiri dengan penuh percaya diri dan ketenangan, mengendalikan jalannya rapat. Dia menjawab setiap pertanyaan dari perwakilan militer dengan lancar dan terus-menerus mendapatkan pengakuan serta apresiasi dari mereka.Pada saat itu, ponsel Raka berdering. Dia melirik layarnya, lalu berdiri dan keluar melalui pintu belakang ruang rapat. Raka berjalan menuju sudut koridor yang tenang sebelum mengangkat telepon."Dokter."Suara Doktor Smith terdengar dari seberang sana, "Pak Raka, maaf mengganggu. Sesuai perjanjian, kami sudah berkali-kali menghubungi Bu Devina untuk memenuhi kew
Setelah insiden fitnah terhadap Brielle terjadi, Lambert membatalkan proyek tersebut dan memecat para insinyur serta peneliti yang terlibat. Pada dasarnya, itu adalah cara untuk melindungi reputasi terakhir laboratorium Chiva.Tentu saja, tanpa disadari, tindakan itu juga membuatnya mendapatkan kesan baik dari Brielle.Pada masa itu, niat Lambert untuk mendekati Brielle terlihat sangat jelas. Saat itulah, Raka benar-benar merasakan tekanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Saat itu, Lambert tanpa ragu berdiri di sisi Brielle. Bahkan dia rela mengorbankan keuntungan bisnis yang sangat besar demi melindunginya. Ketegasan dan keyakinan seperti itu benar-benar mengejutkannya.Saat itu pula, Lambert berhasil melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan olehnya. Memberikan keberpihakan dan perlindungan tanpa syarat kepada Brielle.Namun sekarang, karena dia sudah kembali berada di sisi Brielle, dia tidak akan membiarkan sejarah terulang lagi. Ada beberapa hal yang justru kehilangan m
Lambert hanya akan menjadi seorang pengunjung dalam kehidupan Brielle. Setelah sempat berpapasan untuk sesaat, mereka ditakdirkan melaju ke arah yang berbeda. Meski sudah lama dia menyadari hal itu, saat ini tetap ada rasa kegetiran yang samar yang muncul di dalam hatinya.Tidak terlalu kuat, tetapi cukup jelas untuk dirasakan.Memahami sesuatu secara logis dan benar-benar menerimanya secara emosional memang dua hal yang berbeda. Dia mengagumi bakat Brielle. Dia menghormati keteguhan hatinya. Bahkan tanpa sadar tertarik pada kepercayaan diri Brielle saat bersinar di bidang yang paling dikuasainya.Namun, dia juga tahu dengan sangat jelas bahwa Brielle selalu menjaga jarak yang pas terhadap dirinya. Hanya rasa hormat dan rasa terima kasih sebagai seorang teman.Tidak lebih dari itu.Tadi di depan gerbang sekolah, dia melihat Raka duduk dengan begitu alami di kursi penumpang mobil Brielle. Dia melihat mereka pergi bersama.Kekompakan dan ikatan tak terlihat di antara mereka adalah sesuat
Saat Faye kembali ke rumah, dia melihat ibunya yang tampak sangat lesu. Wajah yang biasanya terawat kini seolah menua beberapa tahun dalam semalam. Saat ini, dia dan ibunya harus menghadapi masalah ini dengan kepala dingin.Apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan Papanya serta Windy membawa kabur uang itu dan hidup santai di luar negeri.Kilatan kejam melintas di mata Faye. Dia sangat paham bahwa Papanya licik dan berpengalaman. Windy juga wanita yang sangat cerdas.Jika hanya mengandalkan kemampuan mereka berdua, Faye dan ibunya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun.Namun, bukti-bukti yang dimiliki Thoriq mengenai penyuapan bisnis dan pemindahan aset ilegal yang pernah dilakukan Papanya bisa menjadi senjata yang mematikan.Sebuah rencana berbahaya dengan cepat terbentuk di benaknya. Dia ingin memanfaatkan Thoriq untuk menekan Papanya dan menuntut uang tutup mulut dalam jumlah besar.Biarkan saja Papanya yang tidak tahu malu itu dan Thoriq saling menerkam satu sama lain. S
Sejak kejadian pertama itu, Thoriq beberapa kali lagi memaksa Faye memenuhi permintaannya. Faye sebenarnya sangat ingin melapor ke polisi. Namun saat itu, Thoriq tidak hanya memegang bukti tentang ayahnya, tetapi juga menggunakan kejadian ketika dia melindungi Faye di MD sebagai ancaman.Faye tahu Thoriq adalah orang gila. Dia tidak berani memprovokasi Thoriq dan hanya bisa berusaha menjauhinya sebisa mungkin.Akan tetapi, malam ini berbeda. Dia harus mendapatkan informasi tentang anak di luar nikah ayahnya. Dia harus tahu siapa wanita yang bisa melahirkan anak diam-diam di bawah pengawasan ketat ibunya.Setelah makan malam yang sama sekali tidak bisa dinikmatinya, Faye akhirnya mengikuti Thoriq kembali ke apartemen yang sangat dia benci. Di bawah tatapan yang setengah mengisyaratkan dan setengah mengancam dari pria itu, dia tidak punya banyak pilihan.Setelah semuanya selesai, Faye menahan rasa tidak nyaman dan mual di seluruh tubuhnya. Dia segera mengenakan pakaiannya lalu bertanya,
Setelah menenangkan ibunya beberapa saat melalui telepon, Faye menarik napas dalam-dalam lalu menelepon Thoriq, "Di mana kita bertemu?"Faye menahan emosinya dan memutuskan untuk menemui Thoriq guna mencari tahu tentang urusan ayahnya. Thoriq pernah bekerja di perusahaan ayahnya selama setahun. Dia pasti tahu cukup banyak rahasia pribadi ayahnya.Di seberang sana, Thoriq tampak sedikit terkejut dengan kesediaannya. Lalu, dia menyebutkan nama sebuah restoran yang berada tidak jauh dari rumahnya."Jam tujuh malam. Jangan sampai nggak datang."Setelah telepon ditutup, Faye kembali duduk di kursinya. Tampaknya informasi dari Thoriq memang benar. Dia tidak menyangka ayahnya benar-benar memiliki anak di luar nikah. Bahkan demi anak itu, ayahnya sekarang rela meninggalkan keluarganya sendiri.Memang benar.Terlahir dalam keluarga yang lebih mengutamakan anak laki-laki, sekeras apa pun dia berusaha, dia tetap tidak akan pernah mendapatkan perhatian khusus dari ayahnya.Saat itu juga, ponselnya
Lambert tersenyum tipis. "Itu berarti aku nggak salah memperkenalkan orang."Brielle ikut tersenyum, lalu berdiri sambil berkata, "Aku ke belakang sebentar. Mau suruh orang siapkan sedikit makanan, kamu duduk dulu."Setelah Brielle pergi, Lambert menatap pemandangan di luar jendela sambil memikirkan
"Wah! Mama, lihat ke sana ... ada kembang api lagi!"Brielle menempelkan pipinya pada wajah kecil Anya sambil tersenyum. "Indah sekali."Pukul sepuluh malam, setelah berhasil menidurkan putrinya, Brielle duduk di sofa dengan piyama yang nyaman sambil membuka majalah medis untuk dibaca.Tiba-tiba, po
Devina menyunggingkan senyum sinis di bibir merahnya, lalu seolah tanpa maksud, mengirimkan foto itu pada Raka.[ Raka, aku baru saja bertemu Brielle dan Lambert. ]Raka tidak membalas. Namun Devina memang tidak butuh balasan, yang dia inginkan hanya agar Raka tahu bahwa Brielle sedang bersama Lambe
Padahal rekan satu timnya sama sekali tidak tinggal di sana. Niro sengaja menyebut alamat itu, supaya bisa menemani Brielle lebih lama di jalan, sekaligus memastikan dia sampai dekat rumah dengan aman.Niro lalu menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumah.Brielle pulang dengan membawa piala. Begi







