Share

Bab 701

Penulis: Ayesha
Setelah turun dari lift, Brielle langsung menegur Gaga, "Lain kali nggak boleh lari sembarangan lagi."

Di mata Gaga yang polos tampak kilatan kebingungan, membuat Brielle hanya bisa membawanya pulang.

"Wah! Gaga!" Anya berlari kegirangan, lalu memeluk leher Gaga dengan erat. Pipi kecilnya menempel di dahi Gaga.

"Mama, Mama nemu Gaga di mana?"

"Di taman bawah," jawab Brielle.

"Kamu nakal, Gaga. Nggak boleh kabur lagi ya!" Anya ikut menasihati Gaga dengan wajah serius.

Lastri melihat Gaga sudah ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
gmna rasa ny Raka melihat mantan istri d kelilingi pria" keren gt, panas ya pasti ny..,
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
sayang bnget hadiah Niro ditolak brielle padahal udah pas itu sepasang anting...biar si Raka kepanasan...skrg kepanasan lg dia..liat harvis bantu lap keringat brielle...wkwkw itu lah yg dirasakan brielle wkt kamu sama devina....kemana2 sampai liburan ke luar negri...kena karma...enak kan rasanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1483

    Lewat pukul sepuluh malam, Anya akhirnya mau naik ke tempat tidur. Saat malam semakin larut, Anya memeluk leher Brielle, lalu tiba-tiba bertanya, "Mama, kapan ya Papa bisa tidur sama kita?"Brielle yang sedang melamun langsung terdiam mendengar pertanyaan mendadak itu. Dia mengusap kepala putrinya sambil mengalihkan topik. "Besok kita pergi lihat rumah baru, gimana?"Anya langsung mengangguk gembira. "Baik! Aku mau vila yang punya taman. Aku mau main bola di tamannya.""Baik." Brielle tersenyum mengiyakan.Keesokan harinya pukul sembilan lewat tiga puluh pagi, Raka mengantar Brielle dan Anya ke sebuah kawasan vila mewah yang berada di dekat sekolah dasar swasta internasional.Kawasan itu memang dibangun khusus untuk kalangan berada. Pepohonannya rindang, suasananya tenang dan elegan, dengan sistem keamanan yang sangat ketat.Mobil Raka berhenti di tempat parkir di samping sebuah vila kembar berukuran besar yang letaknya agak menyendiri.Yang disebut vila kembar itu sebenarnya adalah du

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1482

    Brielle lebih dulu berjalan ke arah lift. Raka melilitkan handuk di pinggangnya, lalu mengikuti dari belakang.Saat pintu lift tertutup, cermin di dalamnya langsung memantulkan sosok pria yang hanya mengenakan handuk di pinggang.Meski mereka bukan lagi anak muda, dan pernah menjadi suami istri selama enam tahun, Brielle tahu betul apa yang pernah dan belum pernah dilihatnya. Dia menundukkan kepala, tetapi tanpa sadar tetap mengalihkan pandangannya.Melalui pantulan cermin, Raka diam-diam mengamati reaksi Brielle. Meskipun Brielle menundukkan kepala, dari sudut pandangnya, daun telinga wanita itu tampak samar-samar memerah.Begitu pintu lift terbuka, Brielle segera bertanya, "Anya di kamar nomor berapa?"Raka menyebutkan nomor kamar dan Brielle pun segera melangkah cepat ke sana.Dua puluh menit kemudian, Brielle, Raline, dan Anya lebih dulu menuju restoran karena Anya sudah lapar.Setelah selesai memesan makanan, Raka datang menghampiri. Kini dia sudah berganti pakaian kasual, membuat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1481

    Keesokan harinya saat makan siang, Brielle sedang makan di rumah. Sore harinya, dia menerima telepon dari putrinya. Raka sedang mengajak Anya bermain air di kolam renang pribadi Hotel Muse dan meminta Brielle datang menemani.Mendengar putrinya merengek manja di seberang telepon, Brielle hanya bisa tersenyum. "Baiklah, Mama datang."Brielle pun berangkat dari rumah dan langsung menuju Hotel Muse. Di lantai tempat presidential suite berada, tersedia sebuah kolam renang pribadi.Dari area parkir bawah tanah, Brielle langsung naik ke lantai tempat kolam renang berada.Begitu tiba, dia melihat Anya sedang bermain di atas pelampung, ditemani Raline di sampingnya. Saat Brielle sedang mencari-cari di mana Raka berada, tiba-tiba dari sisi lain kolam, sesosok tubuh yang kekar keluar dari dalam air dan memercikkan cipratan ke segala arah.Raka mengibaskan rambutnya yang basah kuyup. Tetesan air mengalir dari ujung-ujung rambutnya, membingkai wajahnya yang tegas, lalu meluncur ke bahunya yang bid

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1480

    Saat itu, ponsel Brielle berdering. Dia mengeluarkannya dan melirik layar. Ternyata Harvis yang menelepon.Brielle segera mengangkatnya. "Halo, Kak Harvis.""Brielle, kamu lagi di depan komputer? Ada data yang ingin kuminta kamu cek.""Aku masih di perjalanan pulang. Nanti saja boleh?""Boleh kok. Nggak usah terburu-buru, asal besok siang sudah ada masukannya," kata Harvis."Oke. Sebisa mungkin malam ini akan kukasih masukannya." Usai mengatakannya, Brielle menyadari Harvis di seberang sana juga sedang sibuk. "Kalau begitu, aku tutup dulu ya."Setelah telepon berakhir, Brielle membuka surel di ponselnya. Mata Raka sedikit menyipit. Jakunnya bergerak pelan, jelas sedang berusaha menekan gejolak emosinya.Brielle tampaknya menyadarinya. Ruang di dalam mobil begitu sempit sehingga perubahan sekecil apa pun pada suasana langsung terasa.Brielle mematikan layar ponselnya, lalu melirik pria di sampingnya. Apa karena telepon dari Harvis barusan? Setelah berpikir sejenak, dia tetap tidak tahu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1479

    Tubuh Brielle tiba-tiba terangkat dari tanah. Dia refleks mengeluarkan seruan pelan, sementara kedua tangannya spontan melingkar di bahu Raka."Biar aku gendong sampai sana," ujar Raka dengan suara rendah."Nggak usah." Brielle sedikit meronta, berusaha turun."Jangan bergerak." Raka menunduk menatapnya. Suaranya lembut, tetapi mengandung ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah."Raka ... turunkan aku." Nada suara Brielle juga menunjukkan keteguhannya.Namun, Raka tidak menghiraukannya. Dia tetap menggendong Brielle dan terus melangkah ke depan.Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, masih ada beberapa pengunjung di area dek observasi. Brielle merasa dirinya menjadi pusat perhatian. DiIa hanya bisa sedikit menunduk karena merasa sangat canggung.Raka mempererat pelukannya dan melangkah mantap menuju tempat mobilnya diparkir. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan penasaran dari orang-orang di sekitar. Sementara itu, Brielle hanya berharap keberadaannya tidak terlalu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1478

    Saat ini, Raka telah menanggalkan ketegasan yang selalu melekat padanya di dunia bisnis. Cahaya bulan membingkai wajah tampannya, sementara rambut putihnya justru menambah kesan anggun dan berkelas.Tak lama kemudian, terdengar obrolan beberapa gadis dari belakang Brielle. Salah satu di antara mereka berseru cukup keras."Wah! Rambutnya dicat ya? Putih semua! Keren banget.""Bukan artis, 'kan? Kok ganteng banget?"Suasana di sekitar cukup tenang, sementara para gadis itu sama sekali tidak memelankan suara. Ucapan mereka pun terdengar jelas oleh Brielle dan Raka.Brielle menoleh ke arah pria di sampingnya. Sementara itu, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyuman tipis. Jelas sekali, pujian-pujian itu cukup menyenangkan baginya.Rambut yang sedikit terurai menutupi dahinya, justru membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda, memberi kesan santai dan tanpa beban.Brielle memperhatikan rambut putihnya. Makin lama dilihat, memang ada pesonanya yang khas.Melihat Brielle terus menatapnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 383

    Brielle terdiam sejenak. "Baik, aku akan datang tepat waktu."Belum sempat Raka mengatakan apa pun lagi, Brielle sudah lebih dulu menutup panggilan.Meski dia tidak suka bekerja bersama Raka, demi penelitian dia harus menyingkirkan urusan pribadi. Yang terpenting sekarang adalah memperkuat dirinya s

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 406

    "Mama."Anya mengulurkan tangan ke arah Brielle, lalu langsung berpindah dari pelukan ayahnya ke pelukan sang ibu. Brielle memeluk putrinya dengan erat, lalu menatap Syahira. "Syahira, kita pergi.""Tapi Papa ...." Anya menoleh ke arah Raka dengan mata berkaca-kaca.Raka melangkah cepat mengikuti me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 404

    Anya bertanya pada pelayan itu dengan berani, "Kak, kue ini buat siapa ya? Ada yang ulang tahun di sini?"Melihat gadis kecil yang berpakaian rapi dan mahal, pelayan itu langsung paham bahwa anak ini pasti berasal dari keluarga berada. Dia tersenyum ramah dan menjawab, "Ada seorang wanita cantik yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 401

    "Nggak ganggu kamu lagi, sampai jumpa.""Sampai jumpa." Brielle menunggu sampai pihak sana menutup telepon lebih dulu, tapi siapa sangka Niro juga menunggu dia yang menutup lebih dulu. Akhirnya, pria itu terkekeh pelan. "Kamu duluan tutup."Brielle tertegun sejenak, lalu kemudian menutup telepon.Ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status