MasukDipecat dari pekerjaan, rumah disita bank Semesta karena utang sang mantan kekasih, minta bantuan orang terdekat justru dihina, membuat Marina merasakan sakit yang teramat sangat. Karena tak tahan dia sampai pingsan di jalan dan ditolong oleh seorang pria yang akhirnya memberinya sebuah kontrak dan kesempatan untuk menyelesaikan masalah hidupnya. Namun, apa jadinya ketika dia malah terpaksa harus menikah dengan pria itu? Apakah Marina berhasil membereskan masalah-masalahnya yang ternyata ada sangkut pautnya dengan pria penolongnya tersebut? Image Source : Pexel Edited on Canva by Almerdian Dian
Lihat lebih banyakBau cat semprot, bir murahan, dan keringat menyatu di udara lembab ruang bawah tanah yang dijadikan galeri. Suara musik industrial yang menusuk telinga berdentum dari speaker yang sudah distorsi, memantul dari dinding batu bata yang dipenuhi graffiti. Ini adalah pameran seni jalanan "Chiaroscuro", sebuah parade kegelapan dan cahaya, dan Ares adalah bintang tak resminya.
Dia bersandar pada dinding yang catnya mengelupas, seolah ingin menyatu dengan bayang-bayang. Matanya, warna hijau laut yang keruh, memindai kerumunan dengan sikap acuh tak acuh yang dipoles hingga mengkilap. Di tangannya, ada kaleng bir yang sudah hampir habis. Dia mengenakan jaket kulit yang usang, celana jeans robek yang lebih karena peperangan daripada mode, dan sepatu boots yang telah menyaksikan banyak hal. Di dadanya, di bawah jaket, terdapat tato garis-garis berantakan yang menyerupai sangkar burung. Dia adalah pusat gravitasi yang diam. Beberapa orang meliriknya, berbisik, tapi tidak ada yang berani mendekat. Karyanya—lukisan dinding besar yang menggambarkan seorang figur manusia yang terkoyak antara malaikat dan iblis, dengan coretan kata-kata marah dan puitis—mendominasi satu sisi ruangan. Itu mengundang decak kagum dan rasa tidak nyaman. Di seberang ruangan, berdiri seorang wanita yang sama sekali tidak cocok dengan atmosfer ini. Elara. Dia mengenakan blazer warna taupe yang sederhana namun jelas mahal, celana trousers hitam, dan rambutnya yang pirang terikat rapi dalam sanggul rendah. Di tangannya, tidak ada bir, melainkan segelas air mineral. Dia bukan bagian dari dunia ini; dia seorang pengamat, seorang antropolog yang mempelajari suku yang asing baginya. Tapi matanya, warna abu-abu seperti awan sebelum badai, tidak memandang dengan rasa jijik atau kebosanan. Mereka memindai, menganalisis, merekam setiap detail. Mereka berhenti pada lukisan Ares. Tidak seperti orang lain yang melihat kemarahan atau keindahan yang kacau, Elara melihat sesuatu yang lain: sebuah peta neurologis dari sebuah pikiran yang terluka. Coretan-coretan itu, bagi yang tahu cara membacanya, menyerupai sinapsis yang menyala-nyala atau gelombang otak yang kacau. Dia mendekat, melupakan gelas di tangannya. Jaraknya sekitar sepuluh kaki dari Ares ketika dia berhenti, tenggelam dalam detail lukisan. Jari-jarinya yang halus tanpa sadar mengetuk-ngetuk paha, sebuah isyarat gugup yang hanya dia sendiri yang tahu. Ares memperhatikannya. Dia melihat bagaimana wanita itu berdiri, terlalu kaku, terlalu terkendali. Dia melihat bagaimana matanya tidak berkaca-kaca karena terkesan, tetapi menyipit, seolah-olah sedang memecahkan kode. Itu membuatnya merasa terbuka, terkelupas, dan Ares membenci perasaan itu. Dengan gerakan lambat, dia meninggalkan bayangannya dan berjalan mendekati Elara. Bau leather dan cat semprotnya mendahuluinya. "Ada sesuatu yang menarik?" suara Ares serak, terpotong oleh dentuman musik. Elara tidak tersentak. Dia memalingkan pandangannya dari lukisan kepada pria di depannya dengan pergerakan yang sangat pelan dan terkendali. Analisisnya sekarang diarahkan padanya. Tingginya, posturnya, tatapannya yang menantang, detak nadinya yang terlihat lembut di lehernya. "Komposisinya kacau," ujar Elara, suaranya jernih dan datar, memotong suara bising. "Tapi disengaja. Itu bukan kekacauan karena ketidakmampuan, tapi sebuah representasi dari kekacauan internal. Setiap goresan punya maksud. Setiap percikan cat adalah sebuah letupan emosi yang terkontrol dengan buruk." Ares terdiam sejenak, terkejut. Kebanyakan orang memuji "energi"-nya atau "keberanian"-nya. Tidak ada yang pernah menggunakan kata "terkontrol dengan buruk" dengan nada yang begitu klinis, seolah-olah sedang mendiagnosis. "Kau seorang kritikus seni?" tanyanya, mengejek. "Seorang peneliti," balas Elara. Matanya tak lepas dari mata Ares, mempertahankan kontak yang membuatnya tidak nyaman. "Aku mempelajari pola. Perilaku. Emosi." "Dan apa yang kau lihat di sini?" Ares mengangguk ke arah lukisannya, tantangan dalam nadanya. "Kemarahan. Kesepian. Sebuah kebutuhan yang sangat besar untuk dipahami, tetapi ditutupi dengan keinginan untuk mengusir semua orang yang mencoba." Elara menjawab tanpa ragu, seolah-olah membacakan dari sebuah laporan. "Kau merasa terkungkung. Dan lukisan ini adalah teriakannya." Jantung Ares berdebar kencang. Dia merasa seperti baru saja dirobek pakaiannya di tengah keramaian. Wanita ini, dengan caranya yang dingin dan tajam, telah melihat langsung ke dalamnya hanya dalam hitungan menit. Itu menakutkan. Itu... menarik. Dia melangkah lebih dekat, melanggar batas jarak pribadi. Elara tidak mundur. Dia hanya mengangkat dagunya sedikit, menerima tantangan itu. Ares bisa mencium wangi sabunnya yang bersih, bertolak belakang dengan dunianya yang kotor. "Kau pikir kau tahu segalanya?" desis Ares, nadanya rendah dan berbahaya. "Tidak," jawab Elara. Untuk pertama kalimalah, ada sesuatu yang retak dalam suaranya yang datar: sebuah keingintahuan yang hampir seperti lapar. "Tapi aku ingin tahu." Mata mereka terkunci. Di sekitar mereka, dunia terus berdenyum, tapi bagi mereka berdua, seolah-olah waktu berhenti. Ini bukan ketertarikan romantis yang manis. Ini adalah tarik-menarik antara dua kekuatan yang sama-sama gelap: satu liar dan meledak-ledak, yang lainnya dingin dan terukur. Sebuah pengakuan diam-diam bahwa di dalam diri masing-masing terdapat sesuatu yang rusak, sesuatu yang cocok. Ares mengangkat tangannya, hampir-hampir ingin menyentuh lengan Elara, tapi berhenti. Sebaliknya, dia menunjuk ke gelas air di tangannya. "Kau tidak minum alkohol?" "Alkohol mengaburkan persepsi. Aku lebih suka melihat segala sesuatu dengan jelas," jawab Elara. Sebuah senyum kecil yang pahit muncul di bibir Ares. "Hati-hati. Terkadang melihat segala sesuatu dengan jelas justru hal yang paling menyakitkan." Dia memungut kaleng birnya yang kosong dan membuangnya ke tempat sampah dengan suara berisik. "Mungkin," gumam Elara, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Ares. "Tapi itu satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran." Ares memandangnya untuk sesaat terakhir, lalu berbalik dan berjalan menyusup kembali ke dalam kerumunan, menghilang di antara tubuh-tubuh yang berkeringat dan berdesakan. Tapi energinya masih tertinggal, menggantung di udara seperti ozone setelah petir. Elara tetap diam, menatap tempat dia berdiri tadi. Jari-jarinya berhenti mengetuk. Dia menarik ponselnya dari saku blazernya dan membuka aplikasi catatan. Jempolnya menari di atas layar dengan cepat. Subjek: Ares (nama panggilan, asumsi). Seniman jalanan. Karismatik, destruktif, inteligensi emocional tinggi tetapi diarahkan ke dalam. Mengalami luka emosional dalam yang signifikan. Menunjukkan tanda-tanda klasik penolakan dan ketergantungan yang simultan. Sangat responsif terhadap stimuli emosional. Kandidat ideal. Dia menjentikkan layarnya, dan sebuah gambar muncul—foto lukisan dinding Ares yang dia ambil diam-diam tadi. Pola: kekacauan terstruktur. Emosi: ledakan yang tertahan. Potensi untuk ikatan obsesif: tinggi. Dia mematikan ponselnya dan memandang ke arah Ares menghilang. Di balik ketenangannya, sebuah eksitasi yang aneh dan tidak familiar mulai berdenyut. Ini bukan lagi hanya tentang penelitian. Ini menjadi personal. Pertemuan mereka bukan kebetulan. Tapi dia mulai menyadari bahwa konsekuensinya mungkin di luar perhitungannya. Dan di seberang ruangan, Ares menyalakan sebatang rokok, tangan nya bergetar hampir tidak kasat mata. Dia merasa seperti baru saja ditantang, diuji, dan dia tidak tahu aturan permainannya. Yang dia tahu adalah, wanita itu, Elara, adalah teka-teki yang paling berbahaya dan paling menarik yang pernah dia temui. Dia ingin melukisnya. Dia ingin menghancurkannya. Dia ingin memahami mengapa satu tatapan dari mata abu-abu itu membuatnya merasa paling terlihat dan paling tersesat dalam hidupnya. Percikan telah menyala. Dan di kegelapan galeri bawah tanah itu, api obsesi mulai menyala. TBC“Dari mana aja sih, Reza?”Reza, yang baru kembali dari rumah Marco langsung disambut tanya dari sang mama.“Dari kantor kak Marco.” Dia menyembunyikan satu bagian cerita, tentang singgah ke rumah kakak tirinya demi menyelamatkan Marina.“Lama amat. Jangan sering-sering kelayapan.”“Iya, ma.” Reza mengangguk patuh. Dia memang anak yang penurut. Harus tunduk apa perintah mama. Makanya tak salah Marco menyematkan julukan mama-boys untuknya. “Jadi gimana ma, si Marina udah diamanin?” Mesti pakai bahasa eksplisit agar mamanya tak menaruh curiga sama sekali.Mamanya menjentikkan jari. “Off course.”Muka Reza panik. “Di tempat yang biasa kan, ma?”Mata mamanya menyipit. “Kenapa kamu tanya-tanya begitu?”“Ah ngak kok, ma. Cumanya nanya aja.” Dia memasang ekspresi tenang, seakan tak ada apa-apa. Mata mamanya memicing lagi, tampak masih belum yakin. “Kakak ke mana?” Akhirnya dia mengalihkan perhatian dengan membahas sang kakak yang belum kelihatan batang hidungnya sedari pagi.“Ada
Setelah Marina pingsan, tubuhnya langsung diangkat masuk ke dalam sebuah van yang telah menunggu di ujung gang. Satu dari tiga pria bertopeng itu sebelum masuk ke dalam mobil, menghampiri si nenek tadi.“Ambil ini!” Dia menyerahkan beberapa lembar uang lalu memberi kode seperti mengunci mulut. Harga untuk keberhasilannya memancing Marina ke sarang penyamun.Nenek itu menerimanya dengan hati penuh rasa bersalah. Apalagi saat melihat tiga bungkus roti dalam buntalan kainnya, rasa bersalah itu makin menjadi-jadi. Hanya bisa berdoa dalam hati agar Marina segera dapat pertolongan. Karena sebenarnya dia terpaksa melakukan perbuatan kejam tersebut. Cucunya butuh uang untuk berobat ke rumah sakit.Mobil van melaju meninggalkan gang sempit, masuk ke jalan besar, selap-selip di antara kendaaran lain. Dalam kecepatan 100 km/ jam, hitungan menit saja para penculik telah meninggalkan jalanan ibukota. Masuk ke jalan berbatu sedikit becek sebab hujan semalam. Begitu mulai memasuki kawasan di
“Aduh, harusnya tadi aku tuh naik ojek. Ah ... ternyata minimarketnya jauh. Mana perut masih sakit lagi.”Gadis cantik bergaun cokelat motif bunga-bunga itu, berjalan di trotoar sambil memperhatikan maps mencari lokasi keberadaan minimarket terdekat dari rumah. Meski kesusahan ―karena wanita memang sulit bila berhubungan dengan arah― akhirnya dia sampai juga. Paling yang gempor cuman betisnya saja.Dia berniat membeli beberapa pembalut, sebab berdasarkan perhitungan tanggal dan rasa sakit yang tiba-tiba datang menyerang, sebentar lagi dia akan kedatangan tamu bulanan. Sebagai tamu di rumah Marco, tidak lah mungkin Marco menyiapkan hal-hal seperti itu. Siapa pula yang mau pakai, Marco? Neneknya? Para maid yang rata-rata sudah berumur?Maka dengan inisiatif sendiri Marina pergi membeli keperluannya di minimarket. Dia membeli satu merek yang biasa dipakai setelah itu ke kasir untuk membayar. Pada rak di dekat meja kasir, ada banyak roti dengan berbagai merek. “Sepuluh ribu satu kak
“Kematian pria itu tidak wajar. Harus kita selediki.”“Tetapi, dia ‘kan musuh bos, kenapa sampai segitunya diselidiki? Bisa dibiarkan saja, malah justru bagus dendam bos terbalaskan tanpa perlu mengotori tangan sendiri.”Apa yang dikatakan oleh anak buah Marco, memang benar. Namun itu sebelum dia tahu kalau Nathan adalah salah satu dari permintaan Marina. Terikat kontrak, terpaksa dia harus mengusutnya sampai tuntas.“Lakukan saja apa permintaanku. Selanjutnya biar aku yang urus sisanya. Jangan lupa cari tahu juga tentang asal-usul pria itu.”Pemimpin, salah satu anak buahnya yang dipercayakan berkomunikasi langsung dengan Marco, mengangguk paham. Berputar 180 derajat, meninggalkan Barkley. Setelah anak buahnya pergi, Marco menghubungi sekretarisnya lewat telepon pesawat.“Iya ada apa, pak?” Berselang beberapa menit, sebuah kepala terjulur di balik pintu ruangan kerja Marco. Seorang wanita berpakaian rapi masuk dan membawa beberapa map berwarna. Jalannya sedikit lambat, selain
“Marco itu memang tampan, tapi sayang perangai buruk. Emosinya setipis tisu. Gesekan sedikit saja, emosinya bisa langsung tersulut. Semoga saja tuanya tidak hipertensi kayak kakeknya.”“Jadi nyalahin aku. Aku tekanan darah tinggi bukan karena suka marah-marah loh.” Kakek Marco langsung protes. “Per
“Kenapa bisa lepas?”Sesaat setelah mendapat pesan dari anak buahnya, Marco pergi menemui mereka di rumah sakit. Tepatnya di kamar mayat. Marco yang putuskan sendiri tetap membiarkan mayatnya di autopsi terlebih dulu.“Maafkan kami, bos.”Mereka bisa saja sasaran empuk kemarahan Marco. Namun, tak a
“Kenapa kita ke rumah sakit? Nathan sakit? Dia sakit apa?”Pengkhianatan Nathan memang menyakiti perasaan Marina. Namun, rasa cinta itu tetap ada. Marina mencintainya tulus. Nathan harusnya bersyukur untuk hal ini, bukannya malah berkhianat.Marco melirik, dia pilih tetap diam. Memikirkan bahwa Ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.