Masuk"Apa sebelumnya sudah ada yang memberikan Mireille obat?" Seorang lelaki dengan jas putih, bertanya dengan tatapan serius pada Julian. Hal itu membuat Lyn yang masih panik, jadi makin panik saja. Sang guru beranggapan ada yang salah dengan itu."Saya." Lyn memberanikan diri untuk bicara. "Saya yang meminta Julian untuk menyuntikkan EpiPen, karena berpikir Mira sedang alergi.""Kau bilang apa?" Sang dokter refleks menoleh ke arah perempuan di sebelah kirinya dengan mata membulat."Saya yang meminta Ju ...."Kalimat Lyn terhenti. Kedua matanya membulat, seolah baru tersadar dirinya sudah membuat kesalahan yang sangat fatal."Lanjutkan kalimatmu," pinta sang dokter terlihat sangat antusias. "Aku tidak mendengarnya dengan baik tadi.""Tuan Julian." Lyn dengan cepat memperbaiki kesalahannya. "Saya yang meminta Tuan Julian memberi Mira obat.""Oh, begitu?" Sang dokter kini tampak kecewa."Oliver," panggil Julian disertai embusan napas berat. "Sebaiknya kau memberitahu apa yang t
"Mira." Lyn mendorong Melissa. Cukup keras, sampai perempuan itu nyaris terjungkal. "Sesak," ucap Mira mulai berkaca-kaca."Cepat bawa dia ke rumah sakit." Tiba-tiba saja, Melissa berinisiatif. "Biar aku bantu.""Sebaiknya kau menjauh," hardik Lyn melotot pada rekan kerja, sekaligus musuhnya."Hei, aku hanya mau bantu." Melissa ikut menghardik. "Dia sesak nafas, Lyn. Kalau dibiarkan bisa berbahaya."Lyn tidak menjawab. Dia menatap anak di pangkuannya dengan sekasama. Melihat area bibir, leher dan beberapa bagian lain yang mulai terlihat memerah. Lalu terakhir, Lyn menempelkan telinga di dada Mira."Sepertinya ini bukan sesak napas biasa. Apa ada EpiPen?" Lyn menatap ke arah lelaki di depannya.Kedua alis Julian terangkat. Dia terdiam untuk sekian detik, sebelum mengulurkan tangan ke belakang."Sebastian," panggil lelaki itu, masih menatap Lyn.Tanpa banyak bicara, Sebastian merogoh tas pinggang kecil yang dia bawa. Kebetulan, hari ini sang kepala pelayan memang menggunakan
Lyn melirik ke sekeliling meja makan, yang tidak terlalu ramai itu. Selain dirinya, ada Mira yang makan dengan cukup lahap. Lalu, ada juga dua lelaki yang sejak tadi diam saja. Bahkan, makanan mereka belum tersentuh."Apa makanannya sudah sesuai dengan selera Tuan Vale?" Melissa mendekat tanpa ragu dan langsung mendapat lirikan dari Adrian."Kau yang mengatur ini?" Adrian menoleh pada Lyn."Saya yang mengatur." Melissa dengan cepat menyambar, diikuti senyum lebar. "Tapi saya tidak tahu bagaimana Miss Lyn bisa duduk di sini.""Aku yang minta dia duduk di sini," ucap Julian, melirik Melissa. "Keberatan?"Rahang Melissa sedikit mengeras. Namun, sesaat kemudian senyumnya mengembang lebar. "Tentu saja tidak. Tapi itu artinya Tuan Vale tidak akan keberatan saya juga ikut duduk di sini kan?" tanya Melissa dengan percaya diri. "Aku keberatan."Lyn melirik ke arah suara. Tatapannya terlihat datar, tapi bibirnya nyaris saja membentuk lengkungan. Samar dan tidak lama, tapi Julian masi
Lyn melirik ke arah Julian. Lelaki itu terlihat menggendong Mira dan menjelaskan beberapa hal pada putrinya dengan sabar. Hal yang membuat Lyn makin memikirkan kejadian barusan, saat lelaki itu membiarkannya mengambil keputusan. "Tapi untuk masalah kali ini, aku serahkan padamu," ucap Julian beberapa waktu yang lalu. "Biar bagaimana kau yang paling dirugikan." "Aku tahu kau sedang jatuh cinta, tapi jangan terus melihat Tuan Vale dong." Bisikan di telinganya, membuat Lyn tersentak. Dia menoleh sambil memegang telinga, menemukan Amelie tersenyum sangat lebar. "Jangan bicara ngawur," ucap Lyn berdehem, membersihkan tenggorokannya. "Sama sekali tidak." Amelie mengedikkan bahu. "Setidaknya bagiku kau terlihat seperti sedang jatuh cinta." "Apalagi, tadi Tuan Vale menyelamatkanmu." Amelie mengatupkan kedua tangan seolah sedang berdoa. "Dia bahkan memberimu wewenang penuh untuk mengurus masalah ini, tapi kau malah membiarkan Melissa." Lyn memutar bola matanya, sebelum kembali mel
"Mira." Lyn langsung mendekati anak yang sedari tadi membuatnya bingung itu. Dia mengulurkan tangan, mengambil Mira dari gendongan sang ayah begitu saja. Bahkan, itu sempat membuat Julian menaikkan alis."Kau ke mana?" tanya Lyn lembut. "Kenapa tidak bilang?""Jemput Papa," jawab Mira pelan. "Mira tidak bilang karena cuma sebentar.""Lain kali jangan begitu ya. Miss panik loh."Mira tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, kemudian memeluk pengasuhnya dengan erat.Julian pun tidak banyak bicara. Dia hanya menatap pemandangan di depannya dalam diam. Membiarkan Lyn berinteraksi dengan murid lain, sambil memeluk Mira."Tuan Julian." Suara manis Melissa terdengar lembut. "Saya tidak tahu Anda akan datang.""Benar." Seorang wali murid ikut menimpali. "Kalau tahu kami kan bisa menyambut dengan benar."Alih-alih menanggapi, Julian melepas jasnya. Dia memberikannya pada Sebastian, melepas dasi dan kancing teratas kemeja, juga menggulung lengan kemeja panjangnya. Hal yang membuat beber
"Mira," panggil Lyn sekali lagi.Tatapan Lyn menyapu ke segala arah. Tidak ada Mira dia lihat, bahkan Sebastian pun tidak terlihat."Miss kenapa?" Arga bertanya."Arga lihat Mira tidak?"Anak lelaki tambun itu tidak langsung menjawab. Dia menatap sekitar terlebih dulu, kemudian menggeleng pelan."Tadi ada di sebelah sana, tapi sekarang tidak ada lagi." Arga menunjuk ke sebelahnya."Saya tadi lihat wali Mira pergi ke arah sana." Ibu dari Arga tiba-tiba saja bersuara. "Mungkin sedang mengejar anak itu."Lyn menoleh ke arah yang ditunjuk, tapi tidak menemukan orang yang dicari. Kakinya bahkan sudah melangkah, tapi tertahan. Dia menatap kelompok kecilnya, merasa bimbang.Lyn menggigit pelan bagian dalam bibirnya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa langsung pergi begitu saja. Masih ada Arga dan Rafi bersamanya."Miss?" Rafi memanggil pelan. Anak itu terlihat mulai ikut cemas dan membuat Lyn menarik napas panjang."Oke." Pada akhirnya, dia jongkok di depan k
Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung
"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajah
"Kau akan dikurung di kamar, sampai kau sadar akan kesalahanmu."Itu adalah kalimat terakhir yang Lyn dengar, setelah dirinya dilempar masuk ke sebuah kamar, dan tepat sebelum pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari luar. Padahal, dia baru saja mau mengulurkan tangan untuk minta bantuan, tapi itu
"Ada yang jatuh ke kolam." "Oh, tidak. Kedua nona muda Moore jatuh ke kolam." Suara riuh memenuhi kepala Lyn. Dia bisa mendengar teriakan beberapa orang dan semuanya terdengar panik. Tapi, itu semua terasa jauh dan yang lebih nyata adalah suara kecipak air di sekelilingnya. Air menelan tubuh







