LOGINSatu jam yang terasa menyiksa kemudian, Lucas akhirnya menelepon."Aku ada di bawah jendelamu," katanya.Entah dari mana dia tahu jendela mana yang jendela kamarku, aku hanya berharap dia benar. Seumur hidup aku belum pernah menyelinap ke luar rumah seperti ini. Saat kubuka sedikit jendelanya dan mengintip ke bawah, perutku langsung terasa melilit.Tinggi sekali. Tinggi yang bisa membuat tulang patah kalau sampai jatuh.Aku sedikit menjulurkan tubuh untuk melihat ke bawah. Benar saja, Lucas ada di sana. Dia berdiri santai di bawah gedung rumahku dengan hoodie hitam, kedua tangan dimasukkan ke saku seolah dia tidak punya urusan lain. Tidak terlihat takut. Tidak gugup. Hanya berdiri tenang.Apa dia tidak khawatir orang tuaku melihatnya? Atau memang dia berbeda dari orang kebanyakan?Aku menatapnya ragu. Dia membalas tatapanku dengan wajah datar. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan.[ Aku: Gimana aku turun? ]Dia membacanya. Mendongak ke arahku. Lalu menggeleng.Aku menunggu balasan,
Begitu kembali ke kamarku, aku mulai mencari jejak Lucas. Apa dia sedang berpesta di suatu tempat? Apa ada yang melihatnya?Dengan sedikit bantuan, berkat hubunganku dengan Asher yang sudah diketahui banyak orang, akhirnya aku mendapatkan lokasi yang benar. Nah, ketemu. Rupanya dia sedang mengadakan pesta di rumah pantai milik ayahnya. Jarak tempat itu sekitar 45 menit jika lalu lintas lancar, atau satu jam kalau sedang padat.Aku memikirkannya. Apa aku harus memesan taksi online dan pergi ke sana?Aku tidak mungkin meminta izin kepada orang tuaku. Aku sudah tahu jawabannya. Mereka pasti tidak akan mengizinkanku. Aku harus menyelinap ke luar.Namun, masalahnya bukan sekadar menyelinap ke luar. Yang sulit adalah mencari kendaraan. Meski begitu, aku memutuskan untuk nekat. Aku menelepon Lucas lagi. Dia tidak mengangkat. Tidak apa-apa, memang sudah kuduga.Aku mengiriminya pesan.[ Kamu di mana? ]Dia tidak membalas. Aku menunggu lima menit sebelum mengirim pesan lagi.[ Aku sedang menuju
"Nggak, dia nggak begitu!" bentakku. Namun, seketika aku menyadari kesalahanku saat melihat tatapan di mata Ayah. "Maaf, Ayah. Tapi Asher nggak mungkin melakukan itu padaku ... dia mencintaiku."Ayah menatapku. Matanya dipenuhi rasa iba dan simpati. Dia mengabaikan luapan emosiku, lalu berkata, "Karena Asher nggak jemput kamu hari ini, bersiaplah. Ayah sudah terlambat. Ayah harus berangkat kerja dan sekalian antar kamu.""Ya," jawabku sambil hendak pergi, tetapi Ayah menggenggam tanganku dan berkata, "Setahuku, Asher ada di rumah. Dia baik-baik saja. Ponselnya juga ada padanya. Kalau kamu sudah berkali-kali menelepon dan dia tetap nggak mengangkatnya, anggap saja ini sebagai pertanda ... bahwa kamu harus merelakannya."Aku mengangguk lesu."Maaf ya," ucapnya sambil mengecup punggung tanganku, lalu diam-diam keluar dari kamarku.Begitu pintu tertutup di belakangnya, semuanya kembali menghantamku. Ternyata tidak terjadi apa-apa pada Asher. Dia baik-baik saja. Dia tidak kenapa-kenapa. Dia
Aku terbangun dengan tubuh tersentak, ponselku masih berada dalam genggaman. Hal pertama yang kulakukan adalah melihat layarnya.Tetap tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Tidak ada apa pun dari Asher.Aku langsung panik. Seharusnya dia sudah menelepon.Sekarang aku benar-benar mulai takut. Kami sama-sama tahu apa pekerjaannya. Memang dia tidak pernah menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya dia lakukan. Namun, kami sama-sama tahu kegiatan seperti apa yang dia jalani setiap hari.Pekerjaan itu sangat berbahaya. Dia bisa saja sudah mati. Bisa saja terluka. Bahkan bisa saja jatuh ke tangan musuh.Singkatnya ... aku benar-benar ketakutan. Aku takut terjadi sesuatu pada Asher. Takut dia tidak baik-baik saja. Karena hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dia tidak pernah menghilang tanpa kabar selama ini.Namun sebelum melakukan apa pun, aku langsung berlari menuju kamar orang tuaku dan mengetuk pintunya.Tidak ada jawaban.Aku membuka pintu. Kamarnya kosong."Jam berapa seka
Ruangan kembali sunyi.Lalu Ibu memecah keheningan itu. Kali ini suaranya lebih lembut, tetapi tetap tajam."Ariel, cobalah berpikir dengan waras sekali saja. Ibu melakukan semua ini demi kamu. Demi ayahmu. Demi diri Ibu juga, iya. Tapi juga demi seluruh garis keturunan Keluarga Casyadi. Bukankah kami sudah jelasin semuanya ke kamu? Kami sudah ceritakan semuanya. Kenapa kamu masih keras kepala begitu?"Aku menatapnya tak percaya. "Aku yang keras kepala? Setelah semua yang baru saja Ibu katakan?"Suaraku bergetar. Bukan karena lemah, melainkan karena marah. "Selama ini aku pikir Ibu mencintai Ayah. Tapi, sekarang aku benar-benar mulai meragukan cinta di antara kalian. Apa Ibu pernah mencintainya? Sekali pun?"Saat itulah, Ayah akhirnya angkat bicara. "Ariel," katanya lembut.Aku menoleh kepadanya, dadaku terasa sesak. Aku marah. Aku sedih. Aku terluka. Bahkan lebih terluka untuknya. Untuk pria yang selalu mencurahkan seluruh hati dan jiwanya bagi keluarga kami, tetapi harus duduk diam m
Aku tetap berada di kamar mandi lama setelah Ibu pergi. Sebenarnya aku tidak melakukan apa pun di sana. Aku hanya tidak ingin berada di ruangan yang sama dengannya sementara dia terus berusaha meyakinkanku agar putus dengan Asher.Itu tidak akan terjadi.Aku sudah punya rencana dan rencana itu akan berhasil. Yang tidak kuduga adalah Asher sendiri malah menjadi penghalangnya.Aku tahu dia mencintaiku. Aku bisa merasakannya. Dari cara dia menciumnya, cara dia menyentuhku, dan bagaimana tangannya selalu enggan melepaskanku saat memelukku.Kupikir itu sudah cukup. Kupikir kalau aku menginginkannya, dia juga pasti menginginkannya. Bahkan mungkin lebih daripada aku.Namun, ternyata dia masih ragu. Hal itulah yang menjadi masalah. Meski begitu, aku bisa melihat pertahanannya mulai runtuh sedikit demi sedikit. Aku hanya perlu menunggu saat yang tepat.Di tempat yang tenang. Di tempat yang pribadi. Di tempat yang tidak memungkinkan siapa pun mengganggu kami.Saat akhirnya keluar dari kamar mand







