Masuk“Batalkan pernikahanmu, aku hamil anak calon suamimu!” ucap sahabat dekatku. Kalimat itu bagaikan belati, begitu menusuk, menyakitkan, merugikan. Bukan hanya hati yang dikorbankan. Namun, rumah pun telah tergadaikan demi pesta pernikahan. Kebahagiaan yang diharapkan telah berubah menjadi hutang yang harus segera terbayar. Desakan, tuntutan dari keluarga, ganti rugi harta yang telah keluar demi pesta pernikahan, membuatku nekat pergi jauh untuk bekerja menjadi seorang pelayan untuk pengusaha kaya raya yang menyimpan masa lalu kelam. Dia membenci seorang wanita, dan tidak segan untuk menghabisi. Apakah aku bisa keluar dari kepungan kebencian yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya? Simak cerita selengkapnya!
Lihat lebih banyak“Batalkan pernikahanmu, aku hamil anak calon suamimu!”
Senyuman lebar ini perlahan hambar. Tepat satu hari sebelum pernikahanku bersama Nicky, kabar buruk tiba-tiba datang. Ucapan Diana, sahabatku sejak SMA, bagaikan belati yang menusuk dalam. Aku tertawa getir, kugelengkan kepala ini pelan. “Tapi, Di–” “Maaf, Moza. Aku harus jujur, selama ini aku dan Nicky menjalin hubungan di belakangmu. Maaf, diam-diam aku mencintainya!” ucap Diana. “Tidak, Di. Apa kamu pikir aku harus percaya pada semua ucapanmu? Tidak! Besok adalah hari pernikahan kami. Semua persiapan sudah matang, kamu jangan seenaknya mengerjaiku. Ini tidak lucu!” sanggahku. Aku masih bisa berpikir positif, walaupun tidak kupungkiri, hatiku sakit. “Tapi sayangnya kamu harus percaya, Za. Maaf, aku tidak bisa meneruskan rencana pernikahan kita. Ada anak yang harus aku pertanggung jawabkan di dalam perut Diana. Aku minta maaf!” timpal Nicky. Dia baru saja datang dan membenarkan ucapan Diana. Bagai disambar petir, tubuhku seakan tersentak hebat. Taman yang indah yang tengah kupijak ini menjadi saksi, aku hidup. Namun, aku terasa mati saat ini juga. “Tidak! Tidak mungkin, kalian bercanda, kan? Katakan! Kalian hanya mengerjaiku, kan? Atau bisa jadi aku salah dengar? Nicky, besok kita akan menikah. Keluargaku sudah mempersiapkan acara spesial kita. Kita akan tetap menikah,” ucapku. Kuraih tangan calon suamiku ini. Nicky melepas tanganku, sedikit dia mendorong tubuhku untuk menjauh. “Maaf sekali lagi, Za. Aku sudah membuatmu kecewa. Aku harap kamu menerima keputusanku. Kita putus, pernikahan kita batal, dan aku akan menikahi Diana!” Mereka berdua pergi tanpa menghargai perasaanku. Aku menangis sesenggukan di tengah-tengah taman. Benar kata Ibu dan Ayah, calon pengantin seharusnya tidak boleh keluar sebelum hari-h. Namun, aku telah melanggarnya demi memenuhi ajakan Diana untuk bertemu. Apalagi hari telah malam. “Tega! Kenapa? Kenapa kalian begitu kejam padaku?” Aku terduduk di atas rumput hias, memandangi kepergian mereka yang terus melenggang jauh tanpa menoleh. Rintik hujan mulai berjatuhan, seolah mendramatisir kejadian yang aku alami. Aku bangkit, aku berjalan di antara jatuhnya air hujan yang semakin lama semakin deras. “Kenapa kamu nekat keluar? Sudah Ibu bilang, calon pengantin seharusnya diam di rumah. Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ucapan Ibu?” tegur Ibu. Aku pulang langsung disambut oleh teguran, dengan disaksikan oleh ayah dan kedua adikku, Mitha dan Mondi, serta kerabat Ayah dan Ibu yang jauh-jauh datang dari luar kota demi menghadiri acara pernikahanku bersama Nicky. Aku yang baru saja turun dari motor dengan keadaan basah kuyup, aku hanya bisa berdiri menunduk. Dekorasi dan gemerlap lampu hias, serta bunga-bunga hidup yang menghiasi tenda di halaman rumah, kini bagaikan kuburan yang siap mengubur impianku menikah bersama Nicky. Andai mereka tahu apa yang aku dengar saat di taman, apakah mereka masih akan antusias menunggu hari esok? “Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi!” kataku lirih. “Apa?!” Ibu, Ayah, Mitha dan Mondi serempak bersuara. Mereka tampak terkejut mendengar ucapanku. “Kamu pikir ini lucu? Masuk kamar! Cepat ganti bajumu dan istirahat! Kami sedang tidak ingin mendengar leluconmu!” sanggah Ayah. “Tapi sayangnya aku sedang tidak bercanda, Ayah, Ibu. Apa yang aku katakan ini benar. Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi!” Saat ini juga, aku tidak bisa lagi menahan tangisan di hadapan mereka. Air hujan yang semula menyamarkan jejak-jejak air mata, kini tak bisa lagi menyembunyikannya. “Tapi kenapa, Za?” tanya Ibu. Aku menghela napas dalam, kuusap air mata ini. “Diana hamil, dan Nicky adalah ayah dari anaknya,” ungkapku. “Bu!” Ibu nyaris jatuh ke lantai jika Mondi tidak segera memegangi tangannya. “Tidak! Tidak mungkin. Kamu harus tetap menikah dengan Nicky, Moza. Pernikahan ini harus tetap terjadi!” ucap Ibu. Aku menggeleng kuat, aku tidak mungkin bisa berbagi suami bersama sahabatku sendiri. Terlebih Nicky telah memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami. “Aku tidak bisa, maaf!” ucapku. Kuayunkan kedua kaki ini menuju kamarku. Kutinggalkan mereka yang tengah berdiri syok atas kabar ini. Sebelumnya aku tidak percaya yang namanya hari sial. Namun, kali ini aku dituntut untuk percaya. Keadaanlah yang memaksa. Banyak tamu undangan datang pada keesokan harinya. Namun, terpaksa mereka kembali pulang dengan membawa tanda tanya besar. Sungguh tercoreng muka keluargaku. Ibu sedih, Ayah kecewa sementara aku yang lebih menderita. “Ya Tuhan!” Aku menyibak rambutku ke belakang. Untuk mengadakan pesta pernikahan ini, Ayah dan Ibu rela menggadaikan rumah. Mereka tak segan melakukan hal tersebut demi mendapatkan pujian dari tetangga, bahwasanya aku akan menikah dengan Nicky, anak seorang kaya raya. Namun, impian tinggal impian. Bukan pujian dan uang kondangan yang mereka dapat, melainkan hutang dan malu. “Ibu tidak mau tahu, Za. Kamu harus ganti kerugian yang kita alami. Rumah ini sudah kami korbankan demi kamu, dan sekarang waktunya kamu mengganti. Kami tidak ingin pergi dari rumah ini, tentunya kamu paham apa yang harus kamu lakukan!” Aku berdiam pasrah, impianku menjadi seorang ratu sehari kini hanya sebatas angan-angan. “Aku paham, aku akan mencari kerja untuk melunasi hutang-hutang kita!” jawabku. “Baguslah kamu sadar. Waktu adalah uang, semenit saja kamu berdiam diri, itu sama saja kamu tengah menggadaikan nasib kami,” ucap Ayah. Aku beranjak dari sofa. Mereka tidak membiarkanku diam untuk merenungi apa yang terjadi padaku. Aku sakit hati. Namun, kukubur perasaan ini demi mencari uang yang banyak. Di bawah sinar mentari pagi, aku telah bersiap dengan tas kecil serta amplop coklat berisi berkas lamaran kerja. Kulihat di halaman rumah, beberapa orang tengah membongkar dekorasi pernikahanku. Sedih. Namun, kutahan semampuku. Kuhapus jejak-jejak air mataku yang terlanjur keluar, kuhela napas ini cukup dalam. Aku menaiki motorku, berkeliling kota demi mendapatkan pekerjaan. “Sudah jam segini aku belum menemukan hasil!” gumamku. Di zaman sekarang, mencari pekerjaan seolah mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Dari toko ke toko, rumah makan, bahkan warung pun tidak ada yang mau menerimaku bekerja. Untuk melepas lelah, aku duduk di warung kecil sambil meneguk air mineral dingin. “Bukankah itu ….” Hatiku kembali teriris manakala mataku menangkap dua orang yang sangat aku kenal. “Tega kalian berdua, kalian anggap apa aku selama ini?” batinku, ketika melihat Nicky dan Diana tengah berada di sebuah toko perhiasan yang tak jauh dari tempatku duduk. Aku tidak sanggup melihat kemesraan mereka berdua, akhirnya aku memilih pergi dari tempat ini. Kulajukan motorku menuju arah pulang. Aku sudah sangat lelah, bahkan perutku sangat lapar. Uang yang kumiliki hanya sedikit untuk berjaga-jaga kehabisan bensin. “Tuhan … berikan aku pekerjaan secepatnya. Aku tidak sanggup dengan keadaan ini!” Dari kaca spion, kulihat ada sesuatu yang membuatku waspada. Aku baru sadar, ternyata sedari tadi aku diikuti oleh seorang lelaki. Aku mulai tidak tenang, berpikir jika orang itu berniat jahat padaku. Aku menambah kecepatan motor ini. Berharap orang yang mengikutiku kehilangan jejak, dan aku akan pulang dengan selamat. Sekali lagi, aku dituntut percaya yang namanya hari sial. Motorku tiba-tiba mati.“Ma-maksud Pak Gio apa? A-ku melihat apa?” tanyaku. Ingin sekali aku bersikap biasa saja. Namun, aku tidak mampu mengendalikan ketakutanku. “Kamu gugup?” tanyanya. Fix! Dari caranya bertanya, aku yakin aku ketahuan. Pak Gio tahu aku telah mengintip apa yang dia lakukan bersama wanita itu. Namun, di mana wanita itu sekarang? Apakah Pak Gio sudah mengubur mayatnya, atau bisa jadi Pak Gio telah membuangnya? Yang jadi pertanyaan, siapa wanita itu? Apakah dia pacar Pak Gio, atau justru istrinya? Cepat-cepat aku menunduk, seperti padi yang ditebak angin, tubuhku tidak bisa diam, tubuhku bergerak ke sana kemari. Aku memejamkan mataku beberapa saat sebelum aku berkata jujur. Sudah tertangkap basah, berpura-pura pun rasanya akan sangat percuma. “Aku minta maaf, iya aku melihatnya. Aku tidak sengaja, aku tidak bermaksud melakukannya!” ucapku. Telapak tanganku semakin basah oleh keringat. “Baguslah kalau kamu mengaku salah. Jangan diulangi lagi, karena saya tidak bisa telat makan,” sahut
“Akh!” Bahkan bisa kudengar jelas suara intim dari kamar tersebut. Aku ingin pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatnya. Namun, sekali lagi, tubuhku mengkhianati otakku. Bukannya menjauh, aku malah kembali mendekati pintu. Kedua netra ini kembali mengintip ke dalam kamar. Kusaksikan secara langsung adegan yang membuat tubuhku terasa aneh. Merinding. Namun, tidak sadar aku menikmatinya. Tidak munafik, hal semacam ini bukan yang pertama yang aku saksikan, dulu tidak sengaja aku pernah memergoki adikku, Mondi, menonton video semacam itu di ponselnya. Saat itu aku diam-diam mengintip di balik celah pintu kamar yang tidak dia kunci. Namun, kali ini bukan video yang kulihat, melainkan adegan secara langsung tanpa sensor. “Gio, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan berhenti!” Aku mual mendengar kalimat wanita itu. Ucapannya seperti seseorang yang tengah mengemis. “Ah sial! Kenapa aku malah menikmati di setiap inci adegan ini?” batinku. Aku merutuki diriku sendiri. Kurasakan tubuh ba
Aku terkesiap, aku merinding melihat benda tajam tersebut. Apalagi tatapan yang dilempar pria tua itu terasa menghunus. “Cari siapa?” tanyanya. “Sa-saya … saya lagi mencari pemilik rumah ini. Saya dapat info, kalau di sini sedang membutuhkan seorang pelayan. Apakah benar? Jika benar, saya bermaksud ingin melamar pekerjaan itu!” Pria itu mengangguk-angguk kecil. “Baiklah! Ikut saya sekarang!” ajaknya. Pria itu membalikan badan, lantas mulai melangkah pelan dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan. Tiba-tiba pria itu menoleh ke arahku, mengernyitkan dahinya ketika melihatku masih berdiri di ambang pintu. Jujur, aku masih ragu untuk mengambil pekerjaan ini. “Kenapa diam? Ikut saya!” ucapnya yang kedua kali. Dengan langkah ragu, akhirnya aku mengikuti pria itu masuk ke rumah tersebut. Rumah dengan ukuran yang sangat besar dan luas. Mewah dengan desain interior yang cerah. Namun, sejauh yang kulihat, rumah ini terlalu sepi. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu.
Lelaki yang sedari tadi mengikutiku akhirnya berhasil menyusul, menyalip motorku yang kehabisan bensin. “Ma-mau apa? Jangan macam-macam sama saya atau saya akan teriak!” ancamku. Lelaki yang tidak kukenal itu turun dari motornya, berdiri di hadapanku. “Apa? Mau teriak? Teriak saja, Mbak. Paling ujung-ujungnya kamu juga yang malu!” sahutnya. Aku tidak paham dengan ucapannya. Dia yang jahat, kenapa aku yang harus menanggung malu? “Maksudnya?” tanyaku. “Mbak belum bayar air minum di warung ibu saya. Enak saja main pergi-pergi saja!” jawabnya. “Oh! Em ….” Aku tersenyum kikuk. Aku baru ingat, aku memang belum membayar air minumku. Betapa malunya aku, sudah menuduh lelaki itu sebagai penjahat. “Maaf, Mas. Saya lupa! Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja!” ucapku tak enak hati. Lelaki itu menerima uang tersebut. “Kembalian apanya, Mbak? Uang pas begini!” Untuk kedua kalinya aku mempermalukan diri sendiri. Aku merasa tidak punya muka di hadapan orang ini. “Iya, maaf






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.