LOGIN“Dewa sialan,” desis wanita itu dengan amarah yang tak mampu lagi disembunyikan. “Aku tidak akan patuh hanya karena hukuman ini.” Ia berendam tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tertutup lapisan es hingga ke bahu, namun nyala api biru terus merambat dari kulitnya, berdenyut pelan seolah ingin melahap tubuhnya sendiri. Siapakah sebenarnya wanita itu? Dan rahasia kelam seperti apa yang membuatnya harus menanggung hukuman dari para dewa?
View More“Anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, korban tabrak lari!” teriak sopir ambulans dengan suara panik.
“Satu… dua… tiga… angkat!” perintah dokter itu tegas. Tubuh anak itu dipindahkan dengan cepat. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar. Dokter membuka kelopak matanya, menyorotkan senter kecil, lalu menekan bagian perut dan memeriksa kepalanya dengan hati-hati. “Bagaimana kejadiannya?” tanya dokter tanpa mengalihkan fokus. “Dari saksi mata, anak ini ditabrak dari samping dan terlempar sekitar tiga meter, Dok,” jawab sopir ambulans dengan napas tersengal. “Saat saya tiba, dia masih sadar dan menangis, tapi selama perjalanan kondisinya menurun… sampai akhirnya tidak sadarkan diri.” Dokter itu menghela napas pendek lalu mengangguk singkat. “Baik, terima kasih. Kau bisa kembali.” Sopir ambulans segera berbalik dan menjauh, meninggalkan ketegangan yang masih menggantung di udara. “Dok, kita harus membawanya ke ruang triase terlebih dahulu,” ujar perawat senior dengan nada ragu. Dokter itu tidak langsung menjawab. Tangannya masih bergerak cepat, memeriksa denyut nadi, tekanan pada dada, dan respons pupil. Keningnya berkerut, rahangnya mengeras, seolah waktu terus mendesaknya. “Tidak,” ucapnya tegas. Ia menatap para perawat dengan sorot mata tajam. “Kita langsung bawa ke ruang resusitasi. Kondisinya sangat kritis. Kita tidak punya waktu untuk menunggu.” Perawat-perawat itu saling berpandangan sekejap, lalu mengangguk cepat. “Baik, Dok!” Brankar didorong secepat mungkin melewati lorong IGD. Lampu-lampu putih di langit-langit berkelebat satu per satu, memantul di wajah pucat anak itu. Di saat yang sama, di tempat lain yang jauh dari hiruk-pikuk medis itu, suasana kontras terasa begitu jelas. Di depan meja marmer besar, seorang wanita duduk bersandar. Tatapannya lurus ke depan, kosong, tanpa benar-benar melihat. Udara di hadapannya bergetar tipis. Sebuah api kecil muncul tanpa suara, melayang setinggi mata. Cahayanya berdenyut pelan, lalu melebar dan berubah menjadi selembar surat hitam. Wanita itu melirik sekilas, kemudian meraih kertas itu tanpa ragu. Jemarinya membuka lipatan dengan gerakan ringan, seolah sudah terbiasa. Napasnya keluar pelan. “Mengganggu waktu santai-ku saja.” Ia berdiri. Dalam sekejap, kain di tubuhnya berubah, membentuk gaun hitam yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Dalam satu kedipan, kursi itu kosong. Kembali ke Instalasi Gawat Darurat, tepatnya di ruang resusitasi. Anak itu terbaring kaku di atas ranjang, tubuhnya dikelilingi alat medis. Monitor tanda vital di sampingnya menyala; garis hijau bergerak naik turun dengan ritme yang tidak stabil. Wajahnya tampak pucat, hampir keabu-abuan. Seorang perawat membersihkan darah di kepalanya dengan kasa, gerakannya cepat namun tetap hati-hati. “Tekanan darah delapan puluh per lima puluh, Dok!” Bunyi monitor semakin nyaring, seolah mempertegas kondisi yang memburuk. Dokter itu melangkah mendekat, menunduk untuk memeriksa respons pasien. Jarinya menekan ringan, mengamati reaksi yang nyaris tak ada. “GCS delapan,” ucapnya tegas. Perawat lain segera bergerak. Selang oksigen dipasang, masker menutup hidung dan mulut anak itu. Dada kecil itu naik turun lemah di bawah tekanan udara yang dipaksa masuk. “Pasang jalur infus, cepat.” Jarum menembus pembuluh darah di lengan. Cairan infus mulai mengalir, tetes demi tetes, menjaga tekanan darah agar tidak jatuh lebih jauh. Tangan perawat tetap sigap, berpindah dari satu alat ke alat lain tanpa jeda. Dokter itu mengangkat kelopak mata pasien, menyorotkan cahaya kecil ke arah pupil. “Pupil tidak simetris,” gumamnya pelan. Ia menegakkan tubuh, pandangannya menyapu tim di sekelilingnya. “Diduga cedera otak berat. Siapkan portable echo, cepat!” Peralatan tambahan segera dipasang. Monitor jantung berdetak cepat, alat pengukur saturasi berkedip, manset tekanan darah mengembang dan mengempis secara otomatis. Di sisi lain, seorang dokter mulai menyiapkan alat bantu napas. “Intubasi sekarang.” Selang dimasukkan ke tenggorokan dengan gerakan terlatih. Mesin ventilator menyala, mengatur napas yang tak lagi stabil. Suara mesin berdengung halus, menggantikan ritme alami yang melemah. Beberapa menit kemudian, setelah CT scan dilakukan, hasilnya muncul di layar. Ruangan terasa menegang saat dokter menatapnya tanpa berkedip. “Ada perdarahan di dalam kepala… cukup luas.” Perawat terdiam, hanya suara alat yang masih terdengar. “Ini perdarahan di otak. Tekanan intrakranial meningkat. Kalau tidak segera dioperasi, bisa fatal.” Ia menoleh cepat ke timnya. “Kita tidak punya waktu. Siapkan operasi sekarang.” Sementara itu, di bagian lain rumah sakit, wanita bergaun hitam itu telah tiba. Ia duduk di ruang tunggu. Kakinya bersilang rapi, punggungnya tegak, seolah tidak terganggu oleh hiruk-pikuk di sekitarnya. Matanya bergerak pelan, mengamati tanpa benar-benar fokus pada siapa pun. Udara di sekitarnya terasa tenang, kontras dengan kegelisahan orang-orang di ruangan itu. “Sudah waktunya,” gumamnya. Ia berdiri, lalu melangkah ringan menuju lorong IGD. Di dekat pintu, seorang bayi menangis keras di pelukan ibunya. Wanita itu berhenti sejenak. Telunjuknya terangkat, menyentuh bibirnya dalam isyarat diam. Tangisan itu berhenti begitu saja. Ia melanjutkan langkahnya. Orang-orang di sekitarnya tetap bergerak, berbicara, menatap ke arah lain—tak satu pun menunjukkan tanda menyadari kehadirannya. Di depan pintu bertuliskan “RUANG RESUSITASI”, ia berhenti sejenak. “Di sini rupanya,” gumamnya pelan. Tanpa ragu, ia melangkah menembus pintu itu. Di dalam ruang operasi, waktu seolah berjalan dalam ritme yang berbeda. Dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar meja operasi. Suara alat medis berdenting halus, sementara tindakan terus berlangsung tanpa henti. Wanita bergaun hitam itu berdiri di sudut ruangan, matanya tertuju pada meja operasi. Cahaya lampu bedah memantul di permukaan alat-alat logam, sementara tangan dokter bergerak presisi membuka bagian tengkorak. Darah tampak menggenang, ditangani dengan cepat dan terukur. “Perdarahan aktif… suction.” Alat penyedot berdengung pelan, menarik cairan merah itu sedikit demi sedikit. Area operasi mulai terlihat lebih jelas, memperlihatkan sumber tekanan yang perlahan dikurangi. Udara di ruangan terasa berat, dipenuhi suara mesin dan gerakan cepat tim medis. Wanita itu tetap diam, tubuhnya bersandar ringan pada dinding. Tangannya terlipat di depan dada, sikapnya tenang di tengah kesibukan yang tegang. Ia menatap wajah anak kecil itu tanpa berkedip. Dalam diam, matanya menangkap sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun—kilasan demi kilasan yang melintas cepat, seperti potongan ingatan yang terlepas. “Kau anak yang baik… tapi hidupmu terlalu berat untuk anak seusiamu.” Suasana tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dokter dan perawat terus bekerja, tak satu pun menyadari keberadaan wanita itu. Beberapa waktu berlalu. Di bawah cahaya lampu operasi, tangan-tangan yang sejak tadi bekerja akhirnya melambat. Dokter yang memimpin menghela napas panjang di balik maskernya; bahunya sedikit turun. “Operasi selesai. Kerja bagus, semuanya.” Beberapa anggota tim saling bertukar pandang singkat. Sarung tangan dilepas, alat-alat mulai dirapikan. Untuk sesaat, ruangan terasa lebih ringan. Namun, kelegaan itu hanya bertahan tiga detik. Bunyi bip yang semula ritmis tiba-tiba memanjang menjadi satu nada. Garis hijau di monitor berubah datar. “Henti jantung!” seru perawat anestesi. “Tekanan darah nol, nadi karotis tidak teraba!” Dokter itu segera naik ke pijakan di samping meja operasi. Kedua telapak tangannya bertumpu di tengah dada pasien, menekan dengan ritme teratur. Tubuh kecil itu ikut terangkat setiap kali kompresi diberikan. “Satu, dua, tiga, empat…” hitungnya, napasnya mulai berat. “Siapkan defibrilator! Dua ratus joule!” Di tengah kekacauan yang memuncak itu, hanya satu sosok yang tetap tenang. Wanita bergaun hitam itu berdiri tanpa suara. Ia menghela napas pelan, lalu menjentikkan jarinya sekali. Sesaat kemudian, sesuatu perlahan terangkat dari tubuh anak itu. Wujudnya tipis dan samar, seperti bayangan yang baru saja terlepas. Tanpa suara, sosok tersebut bergerak mendekat ke arahnya. Anak itu kini berdiri di hadapannya, menatap dengan mata yang dipenuhi kebingungan. “Kakak siapa? Kenapa aku di sini?” suaranya kecil dan gemetar. Di belakangnya, suara panik ruang operasi terus bergema.Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya. “Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?” Begitu pintu terbuka, ia m
Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, sementara kilau api biru yang semula menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Namun ada satu hal yang berubah. Rambutnya kini memutih, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yan
Wanita bergaun hitam itu kembali ke ruangan tempat ia pertama kali muncul. Ia duduk di depan meja marmer, punggungnya tegak, napasnya tertahan. Tangan kirinya mencengkeram sesuatu yang berdenyut, berusaha ia tahan agar tidak lepas dari kendali. Pakaiannya telah kembali seperti semula. Namun wajahny
“Kakak datang untuk menjemputmu,” ucap wanita bergaun hitam itu lembut; suaranya seolah mengalun di antara ruang yang terasa asing dan sunyi. Anak kecil itu menatapnya dengan ragu. Bahunya sedikit merapat, jemarinya saling menggenggam di depan dada, seperti mencari perlindungan yang tak terlihat. T












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore