Mag-log in'Assalamu'alaikum, Mas.'
"Wa'alaikumussalam. Sayang tolong lihat di kamar, kayaknya ada berkas aku yang ketinggalan."'Map biru bukan?'"Iya bener. Aku minta karyawan aku kesana buat ambil, kamu tolong kasih ya."'Nggak usah Mas, ini aku udah di jalan buat nganter berkasnya.'"Kamu kesini? Ya Allah, kan tadi aku bilang jangan kemana-mana."'Aku bosen, lagian cuman nganter ini kan. Boleh ya?'"Kamu udah di jalan, baru nanya boleh."Ayyana cengengesan di"Kak Aya, masa Kayla dapat mobil aku enggak sih?""Mobil apa?" Kening Fakhri bertaut dalam tapi tidak ada yang menanggapi pertanyaannya.Vano justru melanjutkan dengan cuek, "Kalau dihitung-hitung, aku justru lebih sering nganterin barang ke Kak Aya. Bahkan selama Bang Fakhri di luar negeri, Kayla cuma beberapa kali doang.""Sirik aja lo, kan gue yang nganterin mobil itu. Lagian juga gue nggak minta, iya kan Kak Aya?" Kayla ikut bersuara.Ayyana hanya terkekeh pelan tapi tak urung mengangguk dan menatap Vano santai, "Kalau kamu juga mau, masih ada satu di rumah. Yang itu buat kamu ajah, Kakak juga nggak pake."Vano langsung berseru heboh, "Thank you, Kak.""Loh, sayang. Itu kan mobil pemberian aku?" protes Fakhri tapi masih juga tak mendapat respon dari sang istri.Dania, Alma dan beberapa anggota keluarga lain yang ada disana hanya bisa saling pandang dan menahan senyum melihat wajah frustasi Fakhri.Tidak berh
Sebulan berlalu, Ayyana tak pernah dapat kabar apapun dari suaminya setelah panggilan terakhir dari ponsel Bayu ketika pria itu pamit hendak berangkat ke luar negeri.Ayyana merasa sudah seperti istri yang tidak dianggap, bahkan mungkin status janda jauh lebih baik ketimbang apa yang tengah dijalaninya kini.Setidaknya jika janda, status mereka jelas tidak seperti Ayyana yang seolah digantung tanpa penjelasan atau apapun itu.Hal menyebalkan lainnya adalah pekerjaan yang digelutinya sebagai penyedia layanan jasa untuk para pasangan yang hendak merayakan hari bahagia dengan mengikat janji suci.Jujur saja, selama bertahun-tahun ia menggeluti pekerjaan ini, rasanya baru kali ini Ayyana begitu sangat ingin berhenti dari pekerjaannya.Berusaha profesional untuk mewujudkan wedding dream banyak orang di tengah masalah rumah tangganya yang tak kunjung ada kejelasan seperti ini adalah tekanan mental tersendiri bagi Ayyana.Sialnya, hal ini bertepatan dengan pernikahan Dita, sahabat dekatnya.
"Lo yakin, Rin?" Ayyana menggenggam erat sabuk pengamannya ketika menatap gedung menjulang di hadapan mereka."Percaya sama gue." Ririn membukakan sabuk pengaman Ayyana dan menarik perempuan itu keluar."Selamat pagi Bu Ayyana, Bu Ririn," sambut resepsionis kantor tersebut dengan ramah meski sempat menampilkan guratan wajah bingung saat mereka mendekat.Mungkin heran karena biasanya jika Ayyana datang, ia akan langsung naik saja ke ruangan Fakhri tanpa perlu melalui perantara mereka.Begitu pula dengan Ririn yang biasanya akan langsung disambut oleh Bayu. Tapi kali ini mereka justru mendatangi resepsionis lebih dulu."Pak Bayu ada?" tanya Ririn basa basi.Si resepsionis mengangguk sopan, "Ada, Ibu. Mau saya panggilkan, atau Ibu ingin langsung naik saja?""Nggak usah. Kalau Pak Fakhri?" tanya Ririn lagi."Oh, kalau Pak Fakhri, beliau tadi keluar menjelang makan siang, Bu. Katanya sih, ada keperluan ke kantor pusat."Kantor pusat yang dimaksud adalah kantor yang dipimpin langsung oleh P
"Loh, Ibu habis keluar?" tanya Ayyana mencomot satu potong brownies coklat yang ada diatas meja makan.Dari packaging-nya, Ayyana bisa tahu bahwa itu adalah kue dari toko langganan keluarga mereka. Tapi tumben-tumbenan Ibunya keluar membeli kue sepagi ini?Ayu mengulas senyum tipis seraya menyimpan nasi goreng yang baru dibuatnya ke atas meja, duduk berhadapan dengan Ayyana seraya menjawab, "Itu kiriman suami mu.""Mas Fakhri?""Iya," angguk Ayu. Tatapannya lalu beralih ke sebuah meja dekat dinding masuk ruang makan, "Itu, dia bawa bunga juga buat kamu."Ayyana mengikuti arah yang ditunjuk Ibunya, ada sebuah buket berukuran lumayan besar disana. Buket berwarna hijau dengan bunga mawar putih didalamnya."Kapan Mas Fakhri ke sini?" Ayyana bertanya seraya beranjak mendekati buket tersebut."Tadi. Dia mampir sebelum berangkat ke kantor."Dengusan pelan terdengar dari Ayyana. Apa sih yang ada di pikiran suaminya itu?
Setelah melepas mukena yang ia pakai untuk sholat Isya, Ayyana menghempaskan tubuh ke ranjang, berbaring dengan tatapan tertuju pada langit-langit kamar.Dulu tempat ini selalu menjadi ruang favoritnya, Ayyana bisa menghabiskan waktu seharian di kamar tanpa merasa jenuh atau bosan.Tapi sekarang semuanya berbeda, tempat ini sudah tergantikan oleh tempat lain bahkan pun ia merasa kamar ini sudah sangat amat membosankan.Ayyana justru malah merindukan suasana kamar dan rumah yang ditempatinya bersama Fakhri setelah menikah, padahal rumah itu baru ia tempati.Ditengah suasana hatinya yang makin kesini makin tak karuan, panggilan masuk dari sang suami terdengar.Ayyana beranjak untuk meraih ponselnya yang tergeletak asal di sofa, menekan tombol jawab atas panggilan video yang Fakhri lakukan tanpa berniat memakai hijab lebih dulu."Assalamu'alaikum, sayang," sapa pria itu dengan senyum manis.Melihat Fakhri yang tampak nyaman
"Gimana kondisi, lo?" tanya Ilham duduk berseberangan dengan Ayyana di sofa ruang tengah.Sejak kembali dari rumah sakit, Ilham memang baru sempat datang ke sana lantaran juga sibuk dengan tugas utamanya sebagai dokter dan tugas tambahan untuk menjadi dokter Jihan, plus membantu Fakhri menemukan Haikal beberapa waktu lalu."Alhamdulillah, baik. Gue bahkan udah masuk kantor beberapa hari ini.""Kalau kondisi hati?" usil Ilham.Ayyana mendelik pelan, "Menurut lo?""Kayaknya lagi butuh perawatan intens," tanggap pria itu disertai kekehan. "Obat sama dokternya kan udah sepaket, kenapa belum sembuh juga?""Gue nggak pernah disamperin sama dokternya, jadi gimana mungkin gue bisa konsumsi obatnya?""Lah, Pak Fakhri nggak pernah temuin lo?" Alis Ilham bertaut dalam."Nggak," sungut Ayyana. "Nggak tau deh itu suami gue kena virus apa, dia setiap saat nelpon gue bilang kangen tapi nggak sekalipun datang ke sini."
Bukannya istirahat seperti yang Fakhri pesankan, Ayyana malah sibuk menjelajahi setiap sudut ruangan itu. Tak ada yang menarik atau spesial, semua penuh dengan berkas perusahaan. Kecuali sebuah bingkai kecil yang berisi foto kedua orang tua Fakhri di meja kerja. Sampai ketukan pelan men
“Dia gadis yang lucu,” Ucap Fakhri tanpa mengalihkan pandangnya.Bayangan sosok gadis dengan seragam khas anak SMP tengah menggebuki seorang siswa SMA dengan ransel putihnya terlintas dalam benak Fakhri, pelan tapi pasti senyum di bibirnya pun kian mengembang.“Katanya nggak pernah menjalin hubunga
“Makasih.” Ucap Dita begitu mobil Daffa berhenti di depan rumahnya.“Sama-sama Kak,” jawab Kayla dan Vano di bangku belakang, sementara Daffa hanya berdehem singkat.Begitu Dita keluar dari mobil, Kayla dan Vano kompak mengulurkan buket yang tadi ditangkap Daffa dan mendorong pria itu ikut keluar.
"SAH!"Ucapan para saksi yang duduk di sisi Fakhri membuat pria itu menghembuskan nafas lega."Alhamdulillah," lirihnya bersama beberapa orang yang lain termasuk Adrie, Raka dan orang tua mereka yang turut menyaksikan akad nikah tersebut.Hilman bahkan meneteskan air mata haru setelah berhasil menj







