Share

BAB 53

Author: Langit Parama
last update publish date: 2025-12-13 08:11:55
“Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi.

Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sama rakyat jelata, tapi pas di sini aku harus satu atap sama dia.”

Sekar tercengang mendengar ucapan blak-blakan itu, meski sejak awal dia tahu wasiat dari sang ayah—Afnand justru meminta cucu bungsu
Langit Parama

Hallo, semuanya ... aku butuh bantuan kalian. Kawal cerita ini sampe menang, ya. Kisah Radja dan Djiwa, dengan mendukung penuh vote GEM, Hadiah, dan meninggalkan jejak ulasan positif dan komen, terima kasih banyak🫰🏻🥰

| 99+
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (35)
goodnovel comment avatar
Botol Semprot
Seorang CEO sudah mnggila tuh kyknya ,sama adik ipar nya .........
goodnovel comment avatar
Allyn
banyak iklanya
goodnovel comment avatar
masnita manurung
seru bikin penasaran ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 654

    Narendra baru saja kembali setelah mengantar Aluna pulang. Begitu melangkah memasuki rumah, ia mendapati Ratu berdiri di tengah ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat di depan dada, seolah memang sengaja menunggunya. Senyum tipis langsung terukir di bibir Narendra. “Belum tidur?” Ratu menggeleng pelan. “Nungguin Mas.” Narendra melepaskan jam tangannya sambil berjalan mendekat. “Kenapa?” Ratu menatap sang kakak beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Mas ... kenal Aluna dari mana?” Langkah Narendra terhenti sesaat. Keningnya berkerut tipis. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” “Penasaran aja.” “Bukannya kita sama-sama satu SMA sama dia?” Ratu mengangguk cepat. “Ratu tahu. Maksud Ratu bukan itu.” “Lalu?” “Dulu waktu sekolah, Mas sama Aluna juga gak deket, kan? Sama kayak Ratu. Kenalnya cuma sebatas tahu orangnya.” Narendra mengangguk pelan. “Benar.” “Nah, terus bisa deket gimana?” Sudut bibir Narendra terangkat samar, seolah mengingat sesuatu. “Tidak sengaja.” “Maksud

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 653

    Ratu menatap kakak sulungnya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Kakak kenal sama Aluna?” Regantara tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser dari Ratu, lalu berhenti pada Aluna. Sesaat kemudian, pandangannya beralih kepada Narendra yang duduk di samping perempuan itu. Aluna tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. “Kami baru saling kenal beberapa waktu terakhir.” Ia menoleh sekilas ke arah Regan. “Kebetulan aku ditunjuk sebagai Lead Interior Designer untuk salah satu proyek yang sedang dikerjakan perusahaan Pak Regan. Jadi kami cukup sering bertemu saat rapat dan presentasi desain.” “Oh, begitu?” Djiwa menimpali seraya tersenyum kecil. “Iya, Tante,” balas Aluna sopan. Regan akhirnya duduk. Seorang pelayan menuangkan minuman ke gelas masing-masing. Dan makan malam akhirnya di mulai, hanya denting sendok makan dan piring yang memenuhi ruangan. Suasana sempat hening. Sampai Radja membuka percakapan. “Jadi ... bagaimana dengan proyeknya? Berjalan lancar?”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 652

    “Biar Daddy sama Mommy cepet punya cucu.” Regan mendengkus pelan, melirik adik bungsunya sekilas. “Kamu yang semangat.” “Ya semangatlah.” Ratu mengangkat bahu. “Daddy kan udah kepala enam. Kasihan kalau nunggu cucunya kelamaan. Umur gak ada yang tahu, Mas.” Regan akhirnya melepas kemejanya, lalu melemparkannya ke keranjang pakaian. Tatapannya kembali jatuh pada sang adik. “Keluar.” Perintah Regan. Dingin, datar. Ratu memonyongkan bibir. “Ih ... pelit amat. Emang Ratu belum pernah lihat?” “Ratu.” Tegurnya tajam. “Iya, iya.” Sambil terkekeh kecil, Ratu turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Sebelum benar-benar keluar, ia masih sempat menjulurkan kepala. “Nanti kalau Mas Naren udah pulang, jangan kabur, ya. Kita tetep rapat.” “Keluar.” “Siap, Bos.” Ratu terkikik sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Baru beberapa langkah meninggalkan kamar Regan, suara pintu utama terbuka dari lantai bawah. Ratu spontan menoleh ke arah foyer. Seorang pria bertubu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 651

    Sebuah mobil mewah baru saja memasuki halaman mansion. Ratu, gadis yang kini sudah dewasa, duduk di teras sambil membaca buku dan menikmati secangkir teh, kini sontak bangkit untuk menyambut pengendara mobil itu. Regan turun dari mobil dengan tenang dan penuh wibawa. Auranya begitu persis dengan sang ayah, Radja. Ratu mengangkat wajah dan tersenyum tipis. “Baru pulang?” “Iya,” jawab Regan singkat. “Gimana meeting hari ini?” “Lancar.” Ratu mengerling jahil. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Kayaknya ... ada yang beda.” Regantara yang baru saja melepas jam tangannya menghentikan langkah. Ia menoleh sekilas. “Apa yang beda?” “Muka Mas.” “Kok muka Mas?” kening Regan mengernyit. “Iya.” Ratu mendekat beberapa langkah, pura-pura mengamatinya dari atas sampai bawah. “Hari ini kelihatan lebih ... cerah, beda dari biasanya.” Regan menghembuskan napas pelan, menahan senyum yang nyaris lolos. “Cerah dari mana?” “Meeting sama perempuan, ya?” Tak ada jaw

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 650

    Ruangan private restoran itu terasa hangat dan elegan. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, memantul di permukaan meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan. Di balik jendela kaca besar, pemandangan kota malam Belanda tampak begitu indah dengan kanal-kanal yang memantulkan cahaya lampu di sepanjang jalan. Ratu duduk di antara kedua kakaknya dengan mata berbinar-binar. “Wah ... banyak banget makanannya,” ucapnya kagum. Ia mengenakan gaun putih, sama seperti sang ibu—namun miliknya jauh lebih sopan khusus anak seusianya. Naren mengangguk cepat. “Ini makan malam paling keren yang pernah aku datengin.” Regan yang duduk lebih tenang hanya tersenyum kecil. “Padahal baru lihat mejanya aja.” “Kan emang keren,” bela Naren. Djiwa tertawa pelan melihat tingkah kedua putranya. Sementara itu Radja duduk di ujung meja, memperhatikan keluarganya satu per satu. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat mereka tertawa sebebas ini. Tidak ada rumah sakit,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 649

    Pagi itu suasana vila yang mereka tempati sudah ramai sejak matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi. “Mommy, ayo cepat!” seru Naren dari ruang tengah. Bocah itu sudah mengenakan mantel tebal berwarna navy, lengkap dengan syal yang melilit di lehernya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel, meniru gaya orang dewasa yang sering ia lihat di sekitarnya. “Aku udah siap dari tadi,” lanjutnya tidak sabar. “Padahal tadi masih nyari kaus kaki,” timpal Regan santai. “Aku cuma lupa taruhnya.” “Lupa atau berantakan?” Naren langsung mendecih. Regan hanya terkekeh pelan. Di lantai atas, Djiwa sedang membantu Ratu mengenakan mantel wol berwarna krem yang serasi dengan topi rajut kecil di kepalanya. “Mommy … Ratu cantik, gak?” tanya bocah itu sambil berputar kecil. “Cantik sekali.” “Kayak princess Belanda?” “Lebih cantik dari princess Belanda.” Ratu langsung tersenyum lebar. “Daddy pasti setuju.” Benar saja. Saat mereka turun ke ruang tengah, Radja yang sudah m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 341

    “Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 333

    “Mas ….” Radja tersentak. Refleks ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, bahkan sebelum sempat memutar rekaman yang baru saja dikirim Sultan. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut, telapak tangannya mengusap pipi Djiwa. “Mau ke kamar mandi, hm?” “Haus,” bisik Djiwa lirih. “Oke,” Radja segera me

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 338

    “Anak-anak sudah berangkat sekolah, sayang?” tanya Radja saat wajahnya muncul di layar ponsel melalui panggilan video. “Udah, Mas. Tadi aku minta Nina yang anter anak-anak,” jawab Djiwa dengan senyum kecil. “Oke, bagus.” Radja mengangguk singkat

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status