Share

BAB 643

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 00:01:14

“Rara, aku mau kenalin kamu sama Riri,” ucap Ratu pagi itu sambil berjongkok di depan alpaca kesayangannya.

Di pelukannya, boneka alpaca berwarna merah muda yang sebelumnya diberikan Kaisar menempel erat di dadanya.

Radja yang berdiri di samping putrinya langsung mengernyit bingung. “Kamu kasih nama boneka itu Riri?” tanyanya.

Ratu mengangguk cepat. “Iya. Biar namanya mirip sama Rara.”

“Hm.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Bagus juga.”

Ratu tersenyum puas, lalu kembali menghadap a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Semesta 88
nangis kan aku baca bab ni..... ;(
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 705

    Pagi itu, ruang keluarga apartemen Inggrit dipenuhi cahaya matahari yang menembus jendela besar. Di sudut ruangan, Anggita tengah mempertahankan posisi high plank, sementara hitungan waktu pada layar ponselnya terus berjalan. Bruk. Beberapa lembar foto jatuh tepat di hadapannya. “Ini yang kamu bilang Sankara dan Ratu tidak punya hubungan apa-apa?” suara Inggrit terdengar datar, tetapi menyimpan nada tajam. Anggita menghentikan latihannya. Ia segera bertumpu pada kedua lutut, lalu meraih salah satu foto itu. Matanya membulat. Satu per satu lembaran itu ia balik. Ada foto Sankara membukakan pintu mobil untuk Ratu. Foto mereka berjalan berdampingan. Foto saat keduanya berada di restoran. Bahkan ada foto Ratu keluar dari gedung kantor Sankara. Jari-jari Anggita tanpa sadar mengerat di tepi foto. “Mama ... memata-matai mereka?” tanyanya lirih. Inggrit menyandarkan tubuh pada sofa sambil menyilangkan kedua kaki. “Awalnya tidak.” “Kalau memang tidak, mana mungkin ada foto sebanyak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 704

    “Kok kamu sudah bahas pernikahan, Mas?” tegur Djiwa lembut, menatap suaminya sekilas. “Ratu dan Sankara saja baru saling mengenal. Bahkan mereka baru resmi menjalin hubungan semalam.” Radja menghembuskan napas pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, menyadari dirinya memang terlalu jauh melangkah dalam pembicaraan. “Benar juga,” gumamnya. “Sepertinya Daddy terlalu terburu-buru.” Ratu yang sejak tadi menikmati sarapannya perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bergantian menatap kedua orang tuanya. “Daddy memang pengen Ratu cepat nikah?” tanyanya hati-hati. “Atau ... Daddy maunya Ratu yang menikah lebih dulu daripada Mas Regan sama Mas Naren?” Radja menggeleng pelan. “Kalau ditanya seperti itu, justru Daddy ingin Regan yang lebih dulu menikah. Dia anak sulung, sudah seharusnya memulai lebih dulu.” “Tapi ... kalau soal kamu,” Tatapan Radja melembut. “Daddy justru belum siap.” “Belum siap?” ulang Ratu lirih. “Karena kamu putri kecil Daddy.” Suara Radja terdengar rendah, tetapi penu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 703

    Tatapan Sankara membeku beberapa detik. Kalimat itu begitu singkat, tetapi cukup membuat sudut bibirnya perlahan terangkat semakin lebar. Tawa kecil lolos dari bibirnya. “Akhirnya ….” Ia menatap lagi pesan itu, seakan memastikan dirinya tidak salah baca. “Jadi ... kamu mau memberiku kesempatan.” Tanpa sadar, jemarinya menggenggam ponsel itu lebih erat, sementara senyum yang selama ini begitu sulit muncul kini benar-benar terlihat jelas di wajahnya. _____ Ratu belum juga berganti pakaian sejak pulang. Ia masih duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang dipeluk erat di dada. Tatapannya beberapa kali jatuh pada layar yang masih memperlihatkan ruang obrolannya dengan Sankara. Senyum tipis tak mampu ia sembunyikan. “Aku gak bisa bikin dia nunggu terlalu lama,” gumamnya pelan. “Nanti kalau kelamaan kasih jawaban, gimana kalau dia malah berubah pikiran?” Jantungnya kembali berdegup lebih cepat ketika mengingat balasan yang baru saja dikirimnya. Refleks telapak tangannya menekan dada

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 702

    “Baru pulang?” sapa Radja saat melihat putri bungsunya baru saja melangkah masuk ke dalam mansion. Pria paruh baya itu masih duduk di ruang tengah. Kedua lengannya terlipat santai di depan dada, sementara piyama satin hitam yang dikenakannya membuat sosoknya terlihat lebih santai dibanding biasanya. Ratu menghentikan langkah di kaki tangga, lalu menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya, Dad.” Tatapannya bergeser sekilas ke arah jam dinding. “Gak kemaleman, kan?” Radja ikut melirik jam antik yang menggantung di dinding. Jarum panjangnya baru saja melewati angka dua, menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. “Tidak,” jawabnya tenang. “Masih cukup awal.” Ratu menghembuskan napas lega. “Tadi sebenarnya Mas Sankara mau turun buat pamit sama Daddy dan Mommy. Katanya mau bilang terima kasih karena udah ngizinin Ratu pergi sama dia.” Ia tersenyum kecil, lalu menggaruk pelipisnya pelan. “Tapi ... Ratu larang.” Satu alis Radja terangkat. “Kenapa?” Ratu menundukkan kepala sesaat. “R

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 701

    Inggrit menyandarkan punggungnya ke kursi makan, jemarinya melingkari gelas teh hangat yang mulai kehilangan uapnya. “Mama akhirnya tahu juga siapa Ratu,” ucapnya pelan, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah lama mengusik pikirannya. Di seberangnya, Anggita yang masih sibuk meninjau berkas di layar iPad hanya melirik sekilas. “Segitunya, Ma?” tanyanya sambil menggeser beberapa dokumen. “Aku cuma bilang mungkin Ratu tipe perempuan yang disukai Sankara. Bukan berarti mereka punya hubungan.” Inggrit menghembuskan napas pelan. “Awalnya Mama juga berpikir kamu bisa belajar sedikit dari cara dia membawa diri.” Sudut bibirnya terangkat tipis, lalu menggeleng. “Tapi setelah Mama melihat lebih dekat, tidak usah. Menurut Mama dia masih terlalu kekanak-kanakan. Terlihat dimanja sejak kecil.” Gerakan jemari Anggita akhirnya berhenti. “Iya sih ...,” gumamnya pelan. “Sekilas memang kelihatan manja.” Inggrit mengangguk. “Wajar.” “Kenapa?” “Karena dia anak perempuan Radja.”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 700

    Sankara masih memandangi Ratu, berusaha mencerna cerita yang baru saja didengarnya. Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Tok. Tok. Tok. “Permisi, Tuan.” “Masuk,” sahut Sankara singkat. Seorang pelayan mendorong troli berisi hidangan yang telah mereka pesan. Satu per satu piring diletakkan dengan rapi di atas meja, disusul dua gelas minuman hangat. “Selamat menikmati.” Setelah pelayan itu keluar dan pintu kembali tertutup, ruangan kembali diselimuti keheningan. Aroma steak, sup hangat, dan roti yang baru dipanggang memenuhi ruangan, namun tak satu pun dari mereka langsung menyentuh makanan. Sankara menatap Ratu beberapa saat. “Maaf.” Satu kata itu keluar begitu saja. Ratu perlahan mengangkat pandangannya, menatap pria itu. “Maaf karena tanpa sengaja saya membuatmu mengingat hal yang menyakitkan,” lanjut Sankara. Ratu menggeleng pelan. “Mas gak salah apa-apa.” “Tetap saja.” Sankara menghela napas tipis. “Saya yang bertanya.” Tatapannya melembut, jau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status