مشاركة

Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar
Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar
مؤلف: Memey Yin

Menggoda pria

مؤلف: Memey Yin
last update تاريخ النشر: 2026-03-26 14:37:31

“Ahh! Um! Jangan begini, nanti ada yang melihatnya.”

“Aku rindu. Seminggu ini kau menjaga jarak denganku.”

“Kau tahu alasannya.”

“Kapan kau akan meninggalkannya? Kau bilang mencintaiku. Apa itu hanya bualanmu saja?”

“Tentu saja tidak. Aku benar-benar mencintaimu.”

Freya berdiri di depan pintu yang tak tertutup rapat. Mendengar obrolan yang tak seharusnya di dengar.

Adegan selanjutnya, suara desah-desah laknat terdengar mendayu.

Dia tak bisa menahan diri lagi.

“Bajingan! Beraninya kau berselingkuh di belakangku.”

Freya berteriak, menyerbu masuk ke dalam ruang perawatan di mana Anthony, kekasihnya, tengah bercumbu panas dengan seorang wanita.

Keduanya memisahkan diri. Anthoni menatapnya kaget. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Memangnya kau tahu aku membayangkan apa?” Wanita itu tertawa. “Kabar itu sudah terdengar lama, sayang baru hari ini aku menyaksikannya langsung. Tidak ada ruang bagimu untuk mengelak, Anthony.”

“Rora, kau salah paham. Dia ini Jane, pasienku. Kau tahu bukan, dia sudah jadi pasienku beberapa tahun ini.”

Freya menatap wanita berwajah pucat itu dengan senyum sinis.

“Aku tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Kita putus!”

“Aku tidak mau!” pekiknya. “Rora, tunggu! Kau tak bisa meninggalkanku. Dengarkan dulu penjelasanku.” Anthony mengejar sang kekasih, menarik tangannya dengan keras untuk menghentikan langkah kakinya.

Namun, dalam sekali sentak, Freya berhasil melepaskan tangan pria itu.

“Apa pun penjelasanmu tak akan mengubah kenyataan jika kau pria bajingan yang suka berselingkuh.”

“Itu karena kau terlalu kuno. Kita akan menikah tahun depan, dan kau masih keukeuh untuk tak mau disentuh. Aku pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis, Rora.”

“Kita sudah membicarakannya dan kau setuju. Aku tidak pernah memaksamu, kau bebas menentukan dan kau tetap memilihku.”

Freya keluar dari ruang perawatan sambil membanting pintu. Dia tidak menangis, tapi tetap saja hatinya terluka.

Menjalin kasih bersama Anthony sudah enam tahun lamanya. Tahun depan mereka berencana mengakhiri masa lajang dan hidup bersama. Namun, rencana itu hanya akan jadi wacana.

Patah hati membawanya ke bar. Duduk diam sambil menikmati alkohol yang diharapkan bisa membuatnya melupakan sakit hati.

“Sudah kubilang berulang kali jika pria itu tidak cocok untukmu. Dia penjahat kelamin.” Bartender itu menggerutu seraya terus menuang minuman ke dalam gelas.

“Jangan membahasnya, Elben,” gumamnya malas.

“Sekarang lihat dirimu. Kau sakit hati, terluka dan berakhir duduk di sini sambil mabuk.”

“Hey! Meski tidak sakit hati, aku rutin mengunjungimu setiap minggu.” Freya mendongak, sorot lampu kelap-kelip membuat kepalanya semakin pusing. “Tambahkan lagi.”

“Sudah cukup. Kau sudah mabuk.”

Freya terkekeh. “Belum, aku masih sadar. Jika aku mabuk, kau takkan bisa mengajakku berdebat, Elben.”

“Freya Aurora!”

Tak ada pilihan, selain terus menuangkan minuman untuk wanita patah hati di depannya. Dia keras kepala dan mungkin akan pergi ke tempat lain jika keinginannya tidak dituruti.

Ketika musik semakin keras, Freya turun menuju lantai dansa. Ikut bergerak dan meliukkan tubuhnya sesuai irama yang menghentak.

Rasa pusing kian melanda, tubuhnya hampir saja terjengkang ke belakang andai tidak ada yang menahan.

“Kau baik-baik saja?” bisikan lembut menyentuh telinganya.

Freya mengangguk. “Sedikit oleng tapi belum cukup mabuk.”

“Mau menari denganku?” Ajakan pria berparas tampan itu tak bisa ditolak. Pesonanya cukup menarik perhatian.

“Sure.”

Freya melingkarkan tangan di leher pria itu, lalu bertanya, “Siapa namamu?”

“Maverick. Dan kau?”

“Aurora.”

“Nama yang cantik. Secantik rupamu, Nona.”

Freya merona. Bukan karena malu, tapi merasa lucu dengan dirinya. Baru saja meratapi nasib karena patah hati, sekarang sudah menggoda pria lain.

Aroma maskulin pria itu menenangkan. Tubuhnya tersentak saat Maverick memeluk pinggangnya, menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka.

Awalnya kaget, tapi Freya menikmatinya.

“Sudah cukup.”

Maverick mengangguk. Dia duduk di sebelah Freya dan meminta minuman yang sama.

Tidak ada obrolan.

Mereka kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal.

Entah sudah berapa gelas yang sudah dihabiskan, tubuh Freya akhirnya limbung. Menjatuhkan kepala di meja sambil memejamkan mata dan meracau tak karuan.

Sementara Maverick diam-diam masih mengawasinya.

“Freya! Aku akan memanggilkan taksi langganan untukmu. Kau jangan ke mana-mana dulu. Oke?” Elden berkata cukup keras di depan gadis mabuk yang sudah pasti tidak akan mendengar suaranya.

Seseorang menyenggol kursi tempat Freya terkapar. Membuat wanita itu kaget dan membuka mata kesal.

“Sialan! Apa kau tidak bisa melihat kursi dan orang sebesar ini,” gerutunya kesal, menatap pria yang ada di depannya.

“Kau mabuk, Cantik. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

“Jangan menyentuhku, Brengsek!” teriaknya saat pria itu dengan lancang menyentuh pipinya dengan gerakan menggoda.

“Jangan jual mahal. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Arlo. Arlo Martin,” katanya dengan sombong memperkenalkan diri.

“Aku tidak peduli siapa namamu, Tuan. Pergilah! Jangan menggangguku,” sahut Freya sinis.

Namun, pria itu tidak menyerah. Dia tetap menggoda Freya hingga wanita itu marah saat payudaranya diremas dengan kasar. “Aku akan memberimu kenikmatan, Cantik. Katakan saja berapa harga yang harus kubayar untuk menidurimu, Jalang?”

Bastard sialan!

“Cuih! Uangmu tak akan mampu membeliku, Bastard!” Freya meludah tepat di kaki. Membuat pria itu marah karena merasa terhina telah ditolak.

“Wanita sialan! Sombong sekali!” Pria itu berniat memukul Freya, tapi sebelum tangan itu mendarat, ada sebuah tangan lain yang mencekalnya. “Siapa kau? Jangan ikut campur.”

“Hanya seorang pecundang yang berani melawan wanita,” ucapnya mengejek.

“Jangan ikut campur!”

“Pergi, atau kau ingin merasakan tanganku dulu?” ucapnya dengan nada mengancam. Pria itu mengeluarkan aura menyeramkan yang membuat lawan bicaranya bergidik ngeri.

Tanpa mengucap sepatah kata, pria itu berlalu.

Freya menatap pria di depannya dengan kening berkerut. Mencoba mengingat wajahnya yang tak asing. Kakinya melangkah maju, dengan gerakan impulsif khas orang setengah mabuk, dia berjinjit lalu memberi kecupan pria di depannya.

“Thanks!”

“Kau harus berterima kasih dengan cara yang benar, Nona.”

Freya memicingkan mata, lalu mendengus, “Ternyata pria sama. Hanya menginginkan tubuh wanita saja.”

“Kau yang memulainya.” Pria itu menarik pinggang sang wanita hingga tubuh mereka semakin menempel sempurna.

“Bagaimana rasanya?” Satu pertanyaan lolos dari bibir ranumnya.

“Jangan katakan kau masih perawan?”

“Apa ada yang salah dengan itu? Kurasa tidak. Di negaraku masih banyak yang menganut sex after married.”

“Dan kau salah satunya?”

Freya mengangguk. Lalu tiba-tiba menggeleng. “Tidak juga, aku ingin mencobanya hanya jika menemukan seseorang yang menarik perhatianku,” jawab Freya berdusta.

“Apakah aku tidak menarik di matamu, Nona? Aku bisa membuatmu melayang dan melupakan masalah. Kau akan berteriak penuh kenikmatan dan menginginkannya lagi dan lagi.”

“Benarkah? Apa kau seorang gigolo yang ingin mencari mangsa.”

Mata sang pria berubah tajam, tapi hanya beberapa detik sebelum dia tersenyum. “Anggap saja begitu, Nona.”

Freya tersenyum. Senyum aneh yang hanya dipahami olehnya. Setidaknya menyewa pria bayaran lebih baik karena kerahasiaannya pasti akan terjamin.

“Kalau begitu. Buatlah aku berteriak kenikmatan Tuan,” tantang Freya seraya memainkan jemarinya di dada bidang pria itu.

Bersambung ✍️

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Putry Sasya
Anthony dasar pria brengsek!
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Akan kubuat hidupmu tidak tenang

    Freya menatap Maverick beberapa saat. Tatapan pria itu memang tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Ujung jarinya bahkan masih menggenggam ponsel terlalu kuat.Dia mengenal Maverick cukup baik untuk tahu satu hal. Pria itu hanya memasang wajah seperti itu ketika ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.“Siapa yang membuatmu setegang ini, Rick?” tanya Freya akhirnya.“Bukan siapa-siapa.”“Rick.”“Aurora.” Maverick balas menatapnya. “Jangan ikut campur.”Freya menghela napas pelan. “Aku hanya bertanya.”“Tidak untuk urusan ini.”“Kenapa?”“Karena aku tidak ingin menyeretmu.”Freya terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa hangat. Maverick memang tidak pernah pandai merangkai kata-kata romantis. Cara pria itu melindunginya selalu terdengar dingin dan memerintah. Namun, Freya tahu maksudnya. Maverick mencium keningnya singkat sebelum berdiri.“Aku harus pergi.”“Sekarang?”“Ada beberapa orang yang harus kutemui.”Freya ikut bangkit. “Hati-hati.”

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Musuh yang mulai menunjukkan diri

    Alula bangun dengan kepala yang pusing luar biasa setelah semalam mengamuk dan menangis sepanjang malam.Matanya bengkak, hidungnya memerah, kantung mata hitam seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari.Pandangannya menyapu ke ranjang di samping yang terlihat rapi dan dingin. Menandakan jika semalam Maverick sama sekali tak mendekati ranjang.“Aku harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hatimu, Maverick?” batin hatinya perih. Dia sudah berusaha, membuang seluruh harga diri untuk memohon pada pria yang menjadi suaminya, tetapi sekalipun pria itu tak pernah menganggap kehadirannya lebih dari pajangan.Alula menghubungi kepala pelayan untuk bertanya tentang Maverick yang ternyata masih tinggal. Mendengar penuturan itu dia segera membersihkan diri dan mematut dirinya dengan cantik, lalu keluar dan menghampiri ruang kerja yang ternyata kosong.“Di mana suamiku?” tanya Alula pada pelayan yang lewat.“Sepertinya ada di ruang gym, Nyonya.”Alula segera membawa langkahnya naik menuju lant

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Harga diri Alula

    “Rick, semuanya baik-baik saja?”“Ya. Kau tidak perlu cemas. Istirahat saja. Aku akan keluar menemui Ryan.”“Kau menginap?”“Jika tidak ada hal penting aku akan kembali.”Sebelum pergi Maverick mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya. Pria itu memutuskan langsung pulang begitu laporan Ryan mengatakan jika salah satu dari mata-mata yang mengikutinya berhasil lolos.Siapa bajingan gila yang berani menguntit kehidupan pribadinya?Sesampainya di dalam mobil, Ryan menyerahkan iPad yang berisi sebuah rekaman video. Salah satu pria duduk terikat di sebuah kursi di ruangan yang tak asing.Maverick menekan tombol play hingga video berdurasi lima menit itu berputar.“Apa menurut Anda, Nyonya Alula yang melakukannya?” tanya Ryan hati-hati.“Tidak. Alula tidak memiliki akses ke sana. Mustahil. Terlalu nekat jika dia sampai melakukannya.”“Kami masih menyelidiki latar belakang pria itu.”“Informasi apa yang dibawa pria yang kabur?”“Hanya informasi tanpa bukti. Kami berhasil mengambil ponsel dan ka

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Mata-mata

    “Kenapa memblokir nomorku, Rora? Dasar tidak tahu diri. Dasar cucu durhaka.”Wajah Areta memenuhi layar ponsel. Wanita tua itu menggunakan video call dengan nomor ponsel Nadya. Ya, sejak terakhir kali wanita tua itu memarahinya, Freya memang memblokir nomornya.“Karena Nenek terlalu berisik. Pasti menghubungiku marah-marah begini setelah mendengar cucu kesayangannya mengadu,” jawab Freya berani.“Freya Aurora, beraninya kau menghina dan mengatakan hal buruk pada Alula. Apa kau sudah gila? Dia saudarimu. Bukannya membantu kau malah membuat kakakmu tertekan.”“Nenek marah-marah kalau aku menghina Alula dan ibunya, tapi kau sendiri sering sekali menghina ibuku. Apa aku sebagai anaknya hanya boleh diam saja? Kalau kau tidak mau dihina, maka jangan suka menghina. Berkaca. Akal dipakai sebelum mulut bicara.”Freya berkata tanpa peduli lagi dengan sopan santun. Toh itu juga tidak akan pernah ada artinya di depan Areta. Apa pun sikap baik yang ditunjukkan, baginya Freya tetap tak pernah benar

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Digempur sampai lemas

    Jujur saja mendengar ucapan Maverick, hatinya berdenyut nyeri. Namun, apa mau dikata, itu memang yang diinginkan.“Kenapa melamun saja?” tanya Maverick yang baru saja membereskan meja makan.“Siapa? Aku tidak.”Freya merebahkan diri di ranjang sambil bermain ponsel, sementara Maverick pergi untuk mandi. Tak lama pria itu keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Pria itu sudah menganggap apartemen Freya seperti rumahnya sendiri.Ranjang sebelahnya bergerak, Freya tak menoleh. Namun, pelukan pria itu membelit perutnya dengan sangat erat. Bibirnya mulai mencumbu tengkuk Freya dengan sangat lihai, membuat Freya menggeliat pelan karena geli.“Jangan menggangguku, Rick,” keluhnya dengan nada kesal.“Aku merindukanmu, Aurora,” katanya dengan tangan yang sudah bergerilya menyentuh tubuh bagian depan Freya.Cumbuan Maverick di lehernya, usapan pria itu di titik-titik sensitif tubuhnya membuat Freya melenguh pelan. Tubuhnya menggeliat dalam rengkuhan sang pria. “Rick,” d

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Kau dapatkan tubuhku, kudapatkan balas dendamku

    “Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula tetap membuat dadanya menegang sepersekian detik.Apakah Alula memergokinya saat tengah berpelukan dengan Maverick tadi? Tidak, tidak mungkin.Alula melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan ekspresi adiknya. Mencari kebohongan yang mungkin saja terlihat.Freya mendengus pelan. “Jadi sekarang semua wanita berblazer krem adalah selingkuhan suamimu?”“Aku serius, Rora.”“Kau seperti melempar tuduhan tanpa bukti padaku. Jika kau tak percaya padaku, silakan tanyakan pada asistenku apa saja jadwalku hari ini.”Freya bersandar di dinding sambil mengamati Alula yang terlihat frustrasi. Wanita yang kemarin memuji suaminya dan mengagungkan hidup sempurna, kini harus menelan ucapannya lagi. N

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Kegilaan apa ini

    Denpasar, Bali — IndonesiaSetelah menempuh perjalanan panjang dari New York, akhirnya dia tiba di rumah.Bangunan dua lantai dengan konsep modern tropis.Freya melangkah turun begitu mobil tiba di halaman.Di teras, sang ayah tersenyum penuh kerinduan. Berjalan cepat, Freya menghambur ke pelukan c

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Aku menginginkanmu

    Malam harinya—Freya berdiri di balkon apartemennya, menatap gemerlap kota yang tak pernah benar-benar tidur.Angin malam menerpa wajah, membawa sedikit ketenangan yang sejak pagi dia cari.Hari itu terasa panjang.Terlalu panjang.Ponselnya bergetar.Nama Anthony muncul di layar.Freya menatapnya b

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Tidak puas bisa diulang

    Sinar matahari tampak mengintip malu-malu melewati tirai jendela. Freya mengerjap pelan saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam.Matanya terbuka, tapi tubuhnya enggan bangun. Seluruh tulangnya seperti bergeser tidak pada tempatnya. Semalam pria itu benar-benar menagih ucapannya untuk menghabisi

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Malam penuh gairah (21+)

    “Tutup matamu.”Freya mengernyit. “Apa?”“Tutup matamu,” ulang pria itu, lebih lembut kali ini.Entah kenapa, Freya menurut. Dunia yang berputar karena alkohol kini terasa semakin samar ketika kelopak matanya menutup. Dia merasakan jemari pria itu menyentuh dagunya, mengangkatnya perlahan. Tidak k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status