LOGINPagi hari di kediaman Jovian. Indra membuka ponselnya dan melirik penunjuk waktu digital yang telah menunjukkan pukul 08.00 pagi.Itu artinya, waktu sudah bergulir ke pukul 11.00 siang di Melbourne, Australia, tempat di mana Andien menetap dan bekerja sebagai seorang desainer interior profesional.Indra segera mencari kontak Andien, lalu memencet tanda panggilan. Ia menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada dering yang bergaung.Ada jeda yang cukup lama sampai beberapa detik kemudian terdengar bunyi klik, dan panggilan pun diangkat."Halo... Ada apa, Adik?" jawab Andien di seberang sana."Kamu sedang sibuk? Kalau iya, aku akan menelepon lagi nanti," ucap Indra pelan, merasa agak sungkan."Tidak terlalu. Katakan saja, ada apa?" balas Andien lagi.Indra terdiam sejenak. Sejujurnya, ia belum pernah membujuk siapa pun dalam hidupnya, sehingga lidahnya mendadak terasa kaku."Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak sering menghubungimu karena jadwalku yang agak padat," cecar Indra memulai
Sore itu, di salah satu sudut kediaman mewahnya yang megah, Jovian menyaksikan Indra sedang duduk di atas sofa sembari menatap layar ponsel di depan wajahnya.Pria muda itu tengah melakukan panggilan video dengan seseorang yang sangat penting baginya."Tumben Noona meneleponku jam segini. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" tanya Indra dengan raut wajah yang dipenuhi rasa penasaran.Di seberang sana, Nabilla mengembuskan napas panjang."Aku hanya merindukanmu. Selain itu, pekerjaanku di sini membuatku pusing," ucap Nabilla dengan raut wajah lelah sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.Sepasang mata Nabilla tiba-tiba menyipit, memperhatikan latar belakang tempat Indra duduk yang terasa sangat asing."Indra... Kamu sedang di mana?" tanya Nabilla menyelidik.Indra seketika menyunggingkan senyuman canggung. "Aku di rumah Kak Jovian, hehe," ucapnya dibarengi tawa kecil yang kaku.Nabilla memiringkan kepalanya, sedikit terkejut. "Kenapa kau di rumah Jovian? Tunggu... Kau su
Dentingan sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen menjadi melodi penutup makan malam mereka.Ririn melirik ke arah seorang pelayan, lalu memberikan anggukan kecil yang tersamar kepada pria itu.Tiba-tiba, pelayan tersebut mendatangi meja mereka dan meletakkan dua cangkir teh herbal hangat di atas permukaan kayu.Ririn menyunggingkan senyuman manisnya, mencoba bersikap sewajar mungkin.Bima mengerutkan keningnya, menatap pelayan itu dengan pandangan menyelidik. "Kami tidak memesan ini," ucap Bima datar.Pelayan itu segera menyunggingkan senyum ramah. "Ini teh herbal spesial Signature Blend dari hotel ini. Hanya disajikan khusus untuk pengunjung malam ini saja. Teh ini memakai ekstrak bunga camomile dan lavender langka. Bagus untuk relaksasi, Pak," terang pelayan itu dengan sopan, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.Bima menatap uap tipis yang mengepul dari cangkir porselen tersebut. Aroma lavendernya sangat pekat, menenangkan, sekaligus terasa asing di
Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul 19.30 di sebuah restoran hotel bintang lima. Tempat ini mengusung gaya glasshouse sanctuary yang memadukan keanggunan arsitektur kolonial klasik dengan kesegaran alam terbuka.Langit-langitnya berupa kubah kaca raksasa yang disangga oleh balok-balok besi putih kokoh, membiarkan keindahan langit malam J-City ikut menjadi latar belakang ruang makan.Fokus utama dekorasi ruangan ini terletak pada instalasi tanaman hijau rimbun yang menyejukkan mata.Puluhan pot tanaman pakis dan dedaunan tropis digantung rapi, menjuntai ke bawah membentuk kanopi alami yang asri di atas area perjamuan, seketika mengingatkan Bima pada hotel bintang lima tempat ia menginap bersama Andien terakhir kali.Bima mengembuskan napas pasrah dengan sepasang mata yang meredup penuh kerinduan sekaligus kesedihan.Sebenarnya, Adrian-lah yang memesan meja di restoran mewah ini. Semua ini murni bagian dari skenario taktis untuk mendekati Ririn demi melumpuhkan spionase Marcus.Bima
Sebelum mengangkat panggilan telepon dari Bima, Ririn berdeham pelan, melakukan ancang-ancang agar suaranya terdengar sesempurna mungkin.Setelah bersiap dengan sebaris senyuman cerah yang dipaksakan, ia dengan taktis memencet tombol hijau di layar ponselnya."Halo, Mas Bima? Makan malam? Mau banget, Mas!" ucap Ririn ceria sembari mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan antusias.Mabelle yang duduk di sebelah Ririn seketika memasang wajah tak percaya. Ia mengernyit heran melihat perubahan drastis nada suara Ririn yang mendadak menjadi sangat keras, renyah, dan dipenuhi keceriaan yang tidak alami."Iya, Mas. See you," tutup Ririn sebelum akhirnya mematikan sambungan ponselnya.Ririn segera bangkit berdiri dari duduknya, melirik sekilas ke arah Mabelle yang masih memperhatikannya."Tante pergi dulu ya, ada jadwal kencan," pamit Ririn dengan langkah yang sengaja dibuat manja, bergegas meninggalkan kediaman mewah Marcus.Mabelle hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian
Pukul 19.00 malam, atmosfer di dalam ruang kerja apartemen Bima terasa begitu mencekam. Hanya ada pendar cahaya biru dari tiga monitor komputer yang menerangi wajah kaku sang ahli cyber.Setelah menerima flashdisk dari Adrian sore tadi, Bima langsung mengisolasinya ke dalam sistem operasi independen yang terputus dari jaringan internet untuk menghindari hantaman malware.Namun, begitu enkripsi file berhasil ditembus, detak jantung Bima seketika berpacu liar. Sepasang matanya melebar sempurna menatap baris-baris data yang terpampang di layar.Bima menyunggingkan senyum sinisnya. "Bukan hanya Saifanny yang dimata-matai, Manggala Tech ternyata selalu mengawasi semua kliennya," desis Bima dengan rahang mengeras menahan amarah.Di dalam dokumen itu, terpampang daftar lengkap klien Manggala Tech di J-City. Namun, yang membuat Bima merinding adalah lampiran skema teknis bertajuk Sub-Routing Extraction.Mekanismenya luar biasa licik sekaligus rapi. Manggala Tech ternyata tidak memasang alat s
Bima melangkah masuk ke dalam apartemen pribadinya dengan rasa pegal yang mendera sekujur tubuh. Hari ini Adrian mendadak mangkir dari kantor, memaksa Bima untuk pontang-panting merampungkan seluruh tumpukan pekerjaan sahabatnya itu seorang diri. Bima meregangkan kedua tangannya ke atas demi mel
Siang itu, di dalam kediamannya yang sunyi, Saifanny sedang menempelkan ponsel di telinga, terlibat dalam obrolan serius bersama Bima mengenai langkah taktis mereka selanjutnya."Itulah yang kemarin kami bicarakan. Aku tidak menyangka Arkana pada akhirnya akan tetap melindungi Adnan. Aku terlalu na
Pagi itu, cahaya mentari yang hangat perlahan membangunkan Nabilla. Ia meregangkan tubuh dan menguap lebar, sebuah telapak tangan hangat tiba-tiba mendarat lembut menutupi mulutnya. Indra berbaring menyamping, menatapnya dengan pandangan kasih sayang. Menyaksikan pemandangan seindah itu di awal ha
Setelah berjam-jam menguras energi dalam latihan vokal dan sesi rekaman yang intens, Indra akhirnya mengizinkan tubuhnya beristirahat.Ia terduduk di kursi ruang latihan, meneguk air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah dipaksa mencapai nada-nada tinggi.Namun, ketenang







