LOGINHari-hari Keyna setelah pertemuan di Kafe Kamu tidak lagi sama. Di rumah, Bu Ratna semakin menjadi mandor.
“Keyna, itu kerupuk jangan dimakan. Nanti tensimu naik.”
“Keyna, jangan duduk silang kaki. Nanti anaknya sungsang.” “Keyna, bangun. Sudah siang. Ibu hamil itu harus jemur badan. Nanti anaknya kuning.”Setiap kalimat Bu Ratna seperti setrika panas yang menempel di telinga Keyna. Keyna begah. Napas pun rasanya harus izin.
Satu-satu
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Rumah terasa sangat sepi. Hanya ada suara detik jam dinding di ruang tamu dan suara AC di kamar utama yang dibiarkan menyala karena Bu Ratna lupa mematikan.Keyna berdiri di depan pintu kamar Bu Ratna. Tangannya berkeringat sampai gagang pintu terasa licin. Sudah lima menit ia mematung di sana, berdebat dengan dirinya sendiri.Di ponselnya terdapat pesan terakhir dari Raka yang masih menyala di layar. “Key, udah. Jangan maksain diri. Aku ikhlas kalau ruko disita. Kamu sama debay yang penting sehat. Maafin aku udah nyeret kamu sejauh ini. Uang 50 juta kamu, nanti secepatnya aku ganti. Semoga saja aku bisa kasih bunga pinjaman untuk kamu ya. Doakan aku dapat pinjaman dan usahaku bisa lancar ya. Terima kasih, Key.”Pesan itu dikirim jam 3 pagi. Keyna membacanya jam 4 pagi, dan sejak itu ia tidak tidur. Bayangan Raka tidur di emperan toko, bayangan karyawan Raka mendatangi rumah ini sambil teriak-teriak un
“Kurang ajar! Kasih zirkon ke Keyna yang lagi hamil anak lo? Biar apa? Biar hemat? Biar kalau cerai nggak rugi?”Raka meninju tembok. Darah menetes. Ia lebih marah karena ini bukan sekadar cincin murah. Ini cincin penuh perhitungan. Bara sengaja. Bara mampu beli berlian, tapi memilih zirkon. Karena Keyna, di mata Bara, hanya “hampir” berharga.Apalagi Raka sangat butuh uang dan kini harapan mendapatkan uang dengan cepat itu hilang begitu saja."ARGH! Aku harus cari uang darimana? 25 juta itu banyak sekali. SIAL! SIAL!" umpat Raka. Pria itu segera menghubungi Keyna lagi. Ia butuh melampiaskan segala amarahnya."Halo ..." sapa Keyna."Keyna! Cincin kamu itu palsu! Palsu! Kamu mengerti tidak? Bahannya titanium! Batunya zirkon! Zirkon, Key! Bukan berlian! Memang mirip, memang kinclong, tapi itu batu sintetis!""Iya." Keyna sudah lemas. Ia malas untuk berteriak atau apapun. Bahkan termasuk malas untuk kecewa dengan Bara.
“Maaf, Pak." tukas ahli perhiasan di toko itu.Raut wajah Raka langsung tak enak kalau ada kata maaf dari orang yang akan dia jual barang pentingnya. Seolah kata untuk menolak saja."A-ada apa? Ini emas putih asli dengan berlian karat tinggi kan?""Maaf, ini bukan emas putih. Memang terlihat seperti emas putih, tapi bahannya adalah titanium. Titanium itu kuat, anti karat, harganya jauh di bawah emas. Dan untuk matanya, ini bukan berlian. Ini zirkon. Kilauannya memang mirip, tapi nilainya... tidak ada, Pak. Dan di toko ini juga tidak menerima batu zirkon dan titanium. Maaf, Pak.”"Pak ... bisa tolong dicek sekali lagi? Mungkin saja ada kesalahan." Raka berharap kalau penjaga toko itu salah mengecek. Rasanya tak mungkin orang sekaya Bara akan memberikan cincin palsu untuk Keyna yang sudah menjadi istrinya dan mengandung anaknya itu."Benar, Pak. Kalau tidak percaya, bapak bisa mengecek ke toko lainnya.""Ja-jadi ... cincin ini kalau aku
Jantung Keyna yang tadi sudah capek berdetak, kembali berpacu. Ia menunduk, mengatur napas, mencari alasan yang paling masuk akal. “Maaf, Ma,” jawab Keyna pelan. Suaranya dibuat lelah. “HP aku lowbat dari siang. Aku tadi ke rumah sakit buat senam hamil, Ma.Pas pulang, jalanan macet parah karena ada pohon tumbang di depan Mall Cipinang. Jadi macetnya parah banget sampai tadi baru lolos.”Bohong. Semuanya bohong. Tetapi Keyna mengatakannya dengan wajah paling memelas. Tangannya mengelus perut. “Debay juga rewel, Ma. Nonstop nendang dari tadi. Makanya aku jalan pelan-pelan.”Bu Ratna menatap Keyna dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti di perut Keyna yang memang sudah membesar. Lalu matanya turun ke tangan Keyna. Ke jari manis yang kosong.Dahi Bu Ratna mengernyit. “Cincin kawin kamu mana?”Mata wanita itu seolah curiga dengan cincin yang biasanya dikenakan dengan bangga oleh Keyna dan hari ini, cincin itu tak terlihat. Hanya ada bekas cincin saja di ja
Raka menghela napas. Ia menatap Keyna lekat. Matanya merah, bukan karena marah, tetapi karena putus asa.“Key, aku mohon. Sekali ini aja. Kamu apa tega lihat aku bangkrut parah? Kamu tega lihat aku jadi gelandangan? Aku nggak minta buat foya-foya. Ini buat hidup, Key. Untuk masa depan yang lebih baik.”Kalimat “masa depan” itu menohok Keyna. Masa depan siapa? Masa depan Raka sendiri, atau masa depan mereka? Keyna tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya sudah naik satu tingkat untuk Raka. Dulu hanya kangen dan butuh teman untuk curhat. Sekarang ia menjadi kasihan. Kasihan yang entahlah akan menjadi berbahaya atau tidak. Apalagi sekarang Keyna sudah menikah dengan Bara.“Aku janji, Key. Sumpah demi apa pun. Kalau uang udah kekumpul, yang pertama aku lakukan adalah nebus cincin kamu. Terus aku balikin semua uang kamu. Lima puluh juta, plus bunga kalau kamu mau.
Raka menunduk.“Aku tahu, Key. Aku nggak berhak minta ke kamu. Kamu sekarang istri orang. Tapi aku bener-bener udah buntu. Aku malu, Key. Harusnya aku yang jadi sandaran kamu, malah aku yang ngerepotin.”Hening. Hanya ada suara AC yang mendengung. Keyna menatap wajah Raka yang lelah. Pria yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum dan kalimat “Ratuku datang”, kini terlihat seperti orang yang akan tenggelam.“Key... tolong aku, Key. Pinjemin aku dulu. Berapa aja. Aku janji ganti. Aku kerja rodi juga nggak apa-apa. Asal usaha aku selamat. Itu satu-satunya yang aku punya,”mohon Raka. Matanya berkaca-kaca.“Aku nggak mau jadi pecundang di depan kamu sama debay.”Keyna menggigit bibir. Otaknya berperang. Tabungannya cuma lima puluh juta. Sisa dari transferan Bara yang ia ku
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







