Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 4 : ASISTEN PENELITIAN

Share

BAB 4 : ASISTEN PENELITIAN

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-06-13 10:11:45

Langkah kaki Dewa yang tegap perlahan menghilang di balik pintu kelas, meninggalkan keheningan yang sedetik kemudian pecah oleh riuh kasak-kusuk mahasiswa. Ruangan yang tadinya tegang kini mendadak bising oleh gosip hangat yang baru saja tercipta.

​"Jen, kayaknya antara Pak Dewa sama Zea ada sesuatu, deh," kompor Vina. Gadis centil itu adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Jenny saat ini, bisa dibilang karena mereka berdua sama-sama menyebalkan.

​"Bisa-bisanya dia kegatelan deketin cowok matang yang jauh lebih tampan dari Arka," cibir Jenny sambil menatap sinis ke arah barisan bangku depan. Matanya berkilat iri menatap kecantikan Zea yang langsung berhasil menyedot perhatian dosen baru mereka.

​Jenny mendengus remeh, lalu melanjutkan dengan nada ketus, "Lihat saja, enggak bakal gue biarin dia ngalahin gue lagi. Kayaknya dia belum kapok, padahal gue udah berhasil merebut pacarnya dengan mudah."

Vina tersenyum puas, merasa berhasil memanaskan suasana. "Bener, Jen. Lo kan lebih tahu cara menaklukkan cowok sekelas Arka. Tapi kalau Pak Dewa... kayaknya tipikal cowok yang mahal dan susah ditembus, deh. Lo lihat aja tadi tatapannya ke Zea, dingin tapi kayak narik perhatian Zea mulu."

​"Alah, paling Zea aja yang caper, makanya milih duduk di depan." Sahut Jenny meremehkan, meski dalam hati dia merasa tidak tenang.

​Sejak dulu, Zea selalu menjadi pusat perhatian di mana pun mereka berada. Dan kenyataan bahwa Arka berpaling kepadanya pun sebenarnya didasari oleh rasa persaingan yang Jenny pendam sejak lama. Baginya, bisa merebut Arka dari tangan Zea adalah sebuah kemenangan besar.

Namun pagi ini, melihat kehadiran Sadewa Adiraja yang karismanya sanggup meredupkan pesona Arka dalam sekejap, ego Jenny kembali terusik. Dia tidak sudi melihat Zea kembali berada di atas angin.

Sementara di barisan depan, Manda langsung memutar tubuhnya menghadap Zea, matanya melotot menuntut penjelasan. "Ze! Fix, ini mah ada yang enggak beres! Lo utang penjelasan sama gue. Sejak kapan lo punya urusan berdua sama dosen sekeren Pak Dewa? sikap lo perlu dievaluasi ulang, apa coba?!"

​Zea tidak langsung menjawab. Ia buru-buru memasukkan buku catatan dan pulpennya ke dalam tas dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Rasa dongkol, malu, dan panik bercampur menjadi satu di dadanya.

​"Nanti gue ceritain di kantin, Man. Gue... gue samperin dulu tuh dosen sebelum dia makin nyari gara-gara," bisik Zea frustrasi. Tanpa menunggu respons Manda, ia langsung menyampirkan tasnya di bahu dan melangkah cepat keluar kelas.

​Sepanjang koridor menuju ruang dosen, pikiran Zea berputar. Ia mencoba menyusun kalimat pembelaan diri. Gue harus tegas, batinnya menyemangati diri sendiri. Semalam itu murni salah paham. Dia juga salah karena mulutnya kasar duluan!

Padahal dia baru saja bilang enggak suka bawa-bawa urusan pribadi ke kampus, tapi nyatanya?! batin Zea terus bergejolak, meneriakkan berbagai sumpah serapah untuk dosen barunya itu.

​Bagi Zea, keributan semalam itu mutlak kesalahan Dewa. Kalau saja mulut pria itu tidak sekasar dan selancang itu pada perempuan, Zea juga tidak akan sudi kehilangan akal sehat sampai nekat menyiramkan air ke wajah tampannya.

​Tok! Tok! Tok!

​Zea mengetuk pintu kayu bertuliskan 'Ruang Dosen Fakultas Hukum' dengan ragu. Setelah mendengar gumaman dari dalam yang mengizinkannya masuk, Zea memutar kenop pintu perlahan.

​Ruangan itu cukup luas, namun hanya ada beberapa dosen yang sibuk di meja masing-masing. Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap langsung ke taman samping kampus, Dewa sedang duduk di kursi kerjanya. Kacamata berbingkai tipisnya sudah dilepas, diletakkan di atas tumpukan map. Kemeja abu-abunya yang rapi membuat ketampanannya sebagai dosen muda tampak begitu menonjol di antara dosen yang lain.

​Zea melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja Dewa. Ia merapatkan kedua tangannya di depan tubuh, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai idola kampus.

​"Permisi, Pak Dewa. Saya memenuhi panggilan Bapak," ujar Zea, berusaha membuat suaranya terdengar seformal mungkin karena Dewa saat ini adalah dosen dari matakuliah penting untuk penelitian skripsinya nanti.

​Dewa tidak langsung mendongak. Ia sengaja membiarkan keheningan beralu selama beberapa detik sambil jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Membuat Zea kembali mengucapkan caci maki pada laki-laki itu, di dalam hatinya.

​Ketika Dewa akhirnya mengangkat kepala, tatapan mata elangnya langsung mengunci manik mata Zea.

​"Duduk, Saudari Natasha Zealina," perintah Dewa datar, mengisyaratkan kursi kosong di hadapannya dengan gerakan dagu.

​Zea menelan ludah, lalu duduk dengan punggung tegak. "Pak, soal kejadian semalam di Kafe Glaze—"

​"Saya tidak ingin membahas masalah pribadi kita di sini," potong Dewa cepat, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. Ia meraih sebuah map tebal berwarna merah dan menggesernya ke depan Zea.

​Zea mengernyitkan dahi. Ia membuka map merah itu dan mendapati lembar-lembar proposal serta draf penelitian hukum yang cukup tebal. Di bagian pojok kanan atas, tertera logo resmi Dekanat Fakultas Hukum.

"Apa ini, Pak?"

​"Mulai hari ini, kamu saya tunjuk sebagai asisten penelitian saya untuk proyek jurnal ilmiah semester ini," lanjut Dewa, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangan di dada.

​Zea terbelalak. "Hah? Maksud Bapak... asisten penelitian?"

​"Kenapa? Keberatan?" Dewa menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Zea.

"Prof. Subroto memberikan rekomendasi nama kamu sebelum beliau pensiun. Beliau bilang, kamu adalah mahasiswi paling cerdas di angkatan ini. Tapi setelah saya tahu mahasiswi yang dimaksud profesor adalah kamu, dan mengingat tindakan kasarmu semalam... saya sempat ragu."

​Zea mengepalkan tangannya di bawah meja. "Pak Dewa, semalam itu murni kesalahpahaman! Saya mengira Bapak adalah—"

​"Saya tahu. Kamu mengira saya adalah laki-laki dari aplikasi pencari jodoh yang mengajakmu bertemu di Kafe itu," potong Dewa lagi, kalimatnya membuat wajah Zea memerah padam karena malu. "Dan karena kekhilafan itu, jaket sweater kesayangan saya harus masuk tempat laundry pagi ini. Air es yang kamu siram semalam meninggalkan noda."

​Zea menggigit bibir bawahnya, benci karena dirinya berada di posisi yang kalah seperti ini. "Saya minta maaf untuk masalah jaket itu, Pak. Saya akan bayar biaya laundrynya. Tapi untuk jadi asisten penelitian..."

​"Tugas pertamamu adalah meringkas putusan pengadilan di bab tiga itu, ketik ulang, dan serahkan ke meja saya besok pagi jam delapan," Dewa mengabaikan penolakan halus Zea, beralih mengambil kembali kacamatanya dan memakainya secara perlahan. "Jika pengerjaannya tidak rapi, jangan salahkan saya kalau nilai ujian tengah semestermu ikut 'ternodai' seperti jaket saya semalam."

​Zea menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak kembali menyiramkan segelas air ke wajah tampan di hadapannya ini. Dosen barunya ini benar-benar memanfaatkan jabatan untuk membalas dendam secara elegan!

​"Baik, Pak. Ada lagi?" tanya Zea dengan nada yang ditekan, menahan kesal.

​"Tidak ada. Selamat bekerja, Asisten Zea."

​Zea langsung menyambar map merah itu, berdiri dari kursi, dan berbalik melangkah pergi dengan hentakan kaki yang sengaja diperkeras. Namun, baru dua langkah menuju pintu, suara berat Dewa kembali menghentikannya.

​"Satu hal lagi, Zea."

​Zea menghentikan langkahnya di dekat pintu, menoleh dengan malas. "Iya, Pak?"

​Dewa mengetuk pulpennya di atas meja, menatap Zea datar. "Besok pagi jam delapan, selain membawa ringkasan putusan pengadilan, bawa juga es teh manis ke ruangan saya. Jangan terlalu manis, dan esnya sedikit. Kalau sampai kemanisan atau esnya terlalu banyak... tugas ini saya anggap gagal."

"Maksud Bapak ap—"

"Silahkan keluar." Potong Dewa tak perduli dengan kekesalan di wajah Zea.

​Zea mengepalkan tinjunya. Pria ini benar-benar gila!

Ia pun menutup pintu ruang dosen dengan hentakan pelan, mengembuskan napas panjang untuk meredakan emosinya. "Dosen gila, otoriter, pendendam!" makinya habis-habisan dengan suara berbisik.

​Tepat saat ia melangkah menjauh dari koridor, ponsel di sakunya bergetar panjang. Zea merogohnya dengan malas, mengira itu pesan dari Manda yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan darinya. Namun, sebaris nama di layar sukses membuat langkah kaki Zea terkunci di lantai.

​Senja: [Zea, maaf soal semalam. Aku tahu kamu marah karena aku telat dan akhirnya kamu pergi. Tapi, apa hari ini kita bisa bicara? Aku sedang ada di kampusmu sekarang.]

​Mata Zea membelalak sempurna. Jantungnya berdegup kencang. Senja... ada di Kampus Erlangga?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 10 : PERINGATAN KERAS

    Tubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. ​"Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. ​Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." ​Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" ​"Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer

  • Chemistry Chapter   BAB 9 : SEPAKAT

    Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. ​"Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" ​Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. ​"Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. ​Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" ​"Keuntungannya,

  • Chemistry Chapter   BAB 8 : BUAT PERJANJIAN

    Mata elang pria itu yang biasanya menatap dingin, mendadak melebar sempurna begitu menangkap sosok gadis bergaun hitam yang duduk di samping Hasan. Cengkeraman tangannya pada ponsel yang ia pegang mengerat seketika. Untuk pertama kalinya, wajah tenang dan berwibawa seorang Sadewa Adiraja runtuh total di depan umum. ​Dewa mematung dengan rahang yang mengeras, isi kepalanya mendadak kosong. Gadis kasar yang menyiramnya di kafe, mahasiswi keras kepala yang baru sore tadi ia marahi habis-habisan di ruang dosen, kini duduk di hadapannya sebagai calon istri yang dipilih neneknya. ​Suasana di ruangan VIP mendadak hening dan tegang. Kedua anak manusia itu saling melempar tatapan syok, tak sanggup menyembunyikan rasa tidak percaya bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. ​"Dewa, ayo duduk. Kenapa malah berdiri melamun di situ?" tegur Dyah heran, memecah keheningan. ​Suara sang nenek seolah menarik Dewa kembali pada kenyataan. Ia berdehem pen

  • Chemistry Chapter   BAB 7 : MAKAN MALAM

    Tepat pukul 07.45 WIB, Zea sudah berdiri di depan pintu ruang dosen dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Di pelukannya, sebuah map merah tercengkeram erat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi dan keberanian sebelum mengetuk pintu. ​Tok! Tok! Tok! ​"Masuk." Suara berat dan dingin itu menyahut dari dalam. ​Zea memutar kenop pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat masih sepi. Namun, Dewa sudah duduk rapi di balik mejanya, kemeja hitam yang ia kenakan hari ini membuat garis wajahnya terlihat semakin tegas dan berwibawa. ​"Selamat pagi, Pak Dewa. Ini tugas ringkasan yang Bapak minta kemarin," ucap Zea seformal mungkin, meletakkan map merah itu tepat di hadapan Dewa. ​Dewa tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu menatap Zea dari balik kacamata berbingkai tipisnya. "Kurang lima belas menit dari waktu yang saya tentukan. Bagus, setidaknya kamu bisa menghargai waktu." ​Dewa membuka map itu, jemarinya membalik lemba

  • Chemistry Chapter   BAB 6 : PERJODOHAN

    Rumah kediaman Hasan malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tengah, Hasan sedang duduk di kursi kayu sambil membaca beberapa berkas kantor, sementara Zea berkutat dengan laptopnya di meja makan, berperang dengan tugas ringkasan putusan pengadilan dari Dewa yang menumpuk sekaligus memikirkan hubungan antara Dewa dan Sagara yang terus menghantuinya. ​Tok! Tok! Tok! ​Suara ketukan pintu dari arah depan memecah keheningan. Hasan mengerutkan dahi, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia berdiri, melangkah menuju pintu depan dan memutar kunci pintu. ​Begitu pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan perhiasan mutiara yang melingkari lehernya berdiri di sana. Di belakangnya, seorang asisten pribadi tampak mengikuti dari belakang. ​Hasan terpaku. Genggamannya pada gagang pintu mengerat, dan suasana di sekitar teras mendadak berubah menjadi sedingin es. ​"Ibu..." desis Hasan, suaranya tercekat di tenggorokan. ​Gar

  • Chemistry Chapter   BAB 5. KEDATANGAN SENJA

    Zea menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya mendadak kaku untuk mengetik balasan. Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh ancaman nilai dari Dewa, kini harus dipaksa mencerna kenyataan bahwa 'Senja'—pria yang selama tiga bulan ini menjadi teman mengobrolnya yang menyenangkan, hanya berada beberapa ratus meter darinya. ​Zea: [Kamu di kampusku? Kok bisa?] ​Balasan dari Senja masuk dalam hitungan detik. ​Senja: [Haha, iya. Kantor hukum tempatku bekerja kebetulan ditunjuk jadi konsultan untuk proyek pembangunan laboratorium baru di Universitas Erlangga. Hari ini aku ada jadwal rapat dengan pihak rektorat. Begitu lewat papan nama Fakultas Hukum, aku langsung ingat kamu kuliah di sini. Kita bisa ketemu sebentar?] ​Zea menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak enak hati karena salah orang di Kafe semalam masih membekas, ditambah lagi saat ini wajahnya pasti masih terlihat berantakan karena menahan amarah dari ruang dosen tadi. Namun, rasa penasaran yang teramat besa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status