Chapter: BAB 47 : BRANKAR IGD"Bagaimana kondisinya sekarang?!" "Pasien saat ini sedang dalam penanganan tim medis kami akibat benturan. Pihak keluarga diminta untuk segera datang ke rumah sakit guna pengurusan tindakan medis lebih lanjut." "Saya segera ke sana," cetus Dewa cepat, langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasan. Dewa menyambar kunci mobil dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak sepucat kertas, diwarnai kepanikan luar biasa yang gagal ia sembunyikan. "Mas Dewa? Ada apa?" Dika berdiri dari kursinya, matanya membelalak melihat ekspresi sang atasan. "Rapat kita gimana? Pembahasan bukti blok C belum selesai—" "Rapat ditunda. Tangani sisanya, Dika," potong Dewa dingin, suaranya penuh akan perintah yang tak bisa dibantah. Tanpa mempedulikan tatapan terperangah dari seluruh tim hukumnya, Dewa membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin menerobos pintu kaca ruang rapat, meninggalkan area perkantoran dengan berlari. *** Langka
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: BAB 46 : KEPANIKAN DEWALangkah kaki Zea yang menghentak keras membelah kesunyian koridor Fakultas Hukum. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya tidak dibiarkan jatuh begitu saja. "Bisa-bisanya!" gerutu Zea seraya mengusap kasar sudut matanya. "Tadi pagi cemburu-cemburu nggak jelas gara-gara Sagara! Nyuruh gue nulis lima lembar resume tulisan tangan sampai jari gue mau copot! Eh, jam dua siang malah ngacir pergi mesra-mesraan sama si Tante Genit!" Zea menghentak tas-nya yang sempat merosot dari bahunya dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju gerbang kampus. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berpikir jernih. Logika dan gengsinya, kalah oleh rasa cemburu dan rasa dikhianati. Kalau Dewa pikir dia bisa mempermainkan perasaan Zea begitu saja, maka Dewa salah besar! BUGH!! "Aduh!" Zea mengaduh kencang saat dahi mulusnya menghantam dada bidang seseorang yang berdiri kokoh tepat di depan gerbang. Benturan yang cukup keras itu membuat Zea terdorong ke belakang dan hampir saja jatuh terl
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: BAB 45 : KERTAS REMUKZea menatap layar ponselnya serius, jemarinya lincah menari-nari mengetik sebuah pesan: [Sagara, bisakah kita berhenti komunikasi? Aku tidak ingin tunanganku marah-marah kalau sampai tahu aku masih komunikasi dengan teman laki-laki.] Tinggal satu sentuhan lagi pada tombol kirim untuk mengakhiri drama "panggilan" ini. Namun, sebelum jempolnya sempat mendarat, sebuah tepukan heboh mendarat mulus di bahunya dari arah belakang! "Kasihan banget temen gue... Minum dulu nih, capek ya habis dibantai?" panggil Manda setengah berbisik, sadar betul kalau mereka saat ini sedang berada di dalam ruang perpustakaan kampus yang tenang. Manda langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Zea seraya menyodorkan segelas minuman dingin boba favorit sahabatnya. "Aaaaa, thanks beb!" sahut Zea girang, refleks mengurungkan niat mengirim pesan dan menyambar minuman itu penuh sukacita. "Btw, Ze... walaupun lo itu asisten penelitiannya Pak Dewa, plis deh jangan lagi-lagi ngelawan dia pakai kalimat
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 44 : ADU MULUTDewa membeku seketika. Pria itu menyipitkan mata, merapatkan wajahnya ke arah kaca film mobil yang gelap. Dari celah luar, ia melihat ponsel milik Zea berpendar terang di atas dasbor. Nama Sagara terpampang jelas di layar yang terus bergetar. Ngapain laki-laki itu menghubungi Zea lagi?! batin Dewa dengan raut wajah memerah, menahan ketegangan yang mendadak membakar dadanya. "Pak Dewa?" tegur Bu Hana lagi, memutar tubuhnya penuh rasa curiga. "Itu suara HP siapa ya di dalam mobil?" Dewa berdehem kaku. "Maaf, Bu Hana. Itu... ponsel saya yang satu lagi tertinggal di dalam. Bunyi alarm pengingat agenda." Bu Hana tertawa nyaring sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aduh, Pak Dewa ini ada-ada saja! Pakai punya dua HP segala, kayak pejabat! Ya sudah kalau begitu, saya ke ruang dosen duluan ya. Jangan lama-lama di parkiran, Pak. Nanti saya kangen!" Bu Hana mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan melangkah pergi. Dewa refleks mengelus dadanya, meng
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 43 : KUCING-KUCINGANZea menggigit croissant cokelatnya penuh penghayatan, mengunyah pelan sembari melirik Dewa berkali-kali dari sudut matanya. Entah mengapa, efek setelah memaafkan kesalahan pria kaku di sampingnya ini sungguh ajaib. Dewa yang sedang fokus mengemudi dengan kemeja tergulung rapi hingga siku itu mendadak kelihatan seratus kali lebih tampan di mata Zea. "Kenapa ngelihatin aku terus?" tanya Dewa tiba-tiba. Tatapannya tetap lurus menatap jalanan di depan, namun ada garis senyum tipis yang geli mengikat sudut bibirnya. Zea tersentak kaget sampai hampir tersedak remahan croissant. "Hah?! Si-siapa yang ngelihatin?!" kilah Zea cepat. Gadis itu mendadak melemparkan pandangannya ke jendela kiri, berpura-pura mengamati deretan pohon dan bangunan di luar dengan ekspresi paling serius seolah-olah ia sedang meneliti tata kota. Dewa menahan tawa renyah di tenggorokannya. Dari pantulan kaca jendela mobil, pria itu bisa melihat dengan sangat jelas betapa merahnya kedua telinga calon istrinya
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 42 : CROISSANT DAN SENYUMANPagi ini suasana hati Zea masih belum sepenuhnya pulih. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat dan kelopaknya yang sembap akibat menangis semalaman. Dengan gerakan lambat, ia bangkit dari tempat tidur lalu melirik jam di atas meja nakas. Baru pukul enam pagi. Zea menguap selebar-lebarnya, sama sekali tak ada anggun-anggunnya. Tangannya naik mengacak-acak rambut panjangnya yang mekar tak beraturan, sukses mengubah penampilannya persis seperti singa jantan yang baru bangun tidur. Dari atas kasur, matanya melirik pantulan dirinya di cermin besar sisi kanan kamar. "Duh... cantik banget sih calon istrinya Pak Pengacara Sadewa Adiraja yang terhormat ini!" gerutu Zea, memuji dirinya sendiri dengan nada manja khas wanita-wanita elegan. Ia menepuk-nepuk pipinya kencang. "Oke, fix! Lu harus semangat hari ini, Zea. Jangan sampai pesona anak muda lu kalah sama tante-tante berumur itu!" Dengan penuh tekad membara, Zea bangkit berdiri... lalu BRUK! Ia sukses tersungkur akibat kakiny
Last Updated: 2026-07-29
ANESTESI RINDU
Devan Alaric, seorang Dokter Spesialis Bedah yang sangat tampan, merasakan dunianya telah hilang bersama kepergian sang kekasih, Rossa, yang meninggal akibat kecelakaan tepat di hari jadi mereka.
Hingga kehadiran seorang residen spesialis bedah di Rumah Sakit Medika Center bernama Vanya Naomi, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, mencoba masuk kedalam hati Devan dan berusaha mengobati rasa trauma masa lalu yang telah menjadikan Devan sosok dingin dan tidak mudah tersentuh.
Perjalanan kisah Vanya mendekati Devan tidak seindah seperti pasangan biasanya, tapi masa lalu yang masih menghantui mereka membawa keduanya pada teka teki misteri kehidupan keluarga penguasa Harrington dan Alaric.
Read
Chapter: SPESIAL CHAPTER 2Suasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. "Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." Bram yang duduk di sebelah mereka
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: EPILOG : AKHIR CERITARuang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. "Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: BAB 150 SPECIAL CHAPTER"Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi."Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia."Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu."Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang.""Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang.""A
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: BAB 149 FINAL CHAPTERSetelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. "Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: BAB 148 KERJASAMA TIMVanya berjalan lunglai menuju ruang tunggu di depan koridor kamar operasi. Tubuhnya masih lemas setelah salah menangkap informasi tentang kecelakaan turis Indonesia berjaket biru yang ia pikir adalah suaminya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, mencoba menata detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal meski tangannya masih sedikit gemetar.Di salah satu sudut bangku yang tidak jauh darinya, ketiga teman korban jatuh itu tampak duduk berkerumun dengan tubuh lemas dan wajah yang sembap karena tangis.Baru saja Vanya hendak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat wanita Jepang dengan seragam bernuansa merah muda lembut melangkah menghampirinya. Di kedua tangannya, perawat itu membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil yang bersih.Perawat itu membungkuk sedikit dengan sopan, memberikan senyuman hangat yang menenangkan sebelum mengulurkan air mineral kepada Vanya."Excuse me, Madam,"
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 147 LICENSE TO OPERATEVanya bergerak secepat yang ia bisa. Mengabaikan penampilannya yang berantakan dan napasnya yang terasa mencekik akibat udara dingin, ia langsung berlari keluar menuju area depan resor ski. Beruntung, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di lobi luar. Tanpa membuang waktu, Vanya langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang."Minamiuonuma Hospital! Please, hurry!" seru Vanya dengan suara bergetar kepada pengemudi taksi, seorang pria paruh baya Jepang.Melihat kepanikan yang luar biasa dari penumpangnya, sang sopir hanya mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan menembus jalanan bersalju Niigata, Vanya tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.Pikirannya terus berputar pada kata-kata petugas informasi tadi. Jaket biru. Turis Indonesia. Kritis. Semua ciri-ciri itu mengarah tepat pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kembali mendera, ketakutan akan kehilangan Devan u
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 51 : KEKECEWAAN KATRINKatrin melangkah tegas mendekati meja kerja suaminya. Suara ketukan sepatunya beradu nyaring di atas lantai marmer, menggema di seluruh penjuru ruangan yang mendadak kembali tegang. Wajah wanita anggun itu mengeras, dihiasi rona merah akibat amarah yang siap meledak. Matanya yang tajam dan dingin menusuk lurus ke arah Elara yang berdiri rapat di balik lindungan lengan Reygan. Mendapat tatapan tajam dari ibunda Reygan, tubuh Elara seketika membeku. Rasa cemas dan ketakutan yang sempat menguap kini mendadak muncul kepermukaan. Hatinya mencelos. Bayangan penolakan Katrin saat mendatangi apartemen Reygan dulu kembali berputar di kepalanya: tuduhan sebagai wanita murahan, memanfaatkan situasi, hingga seseorang yang tak pantas menyandang nama besar Valero. Jemari Elara yang memegang ujung blazernya bergetar pelan. Ia mencengkeramnya rapat-rapat, membuang pandangan ke bawah karena tak sanggup beradu mata dengan Katrin. Rasa percaya diri yang baru saja ia bangun runtuh seketika. Ia t
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: BAB 50 : BABAK BARU"LEPAS! Kalian tidak tahu siapa saya?!" bentak Surya seraya menghentakkan kedua tangannya dari cengkeraman para pengawal. "Saya Surya Mahendra, sahabat dekat Tama Valero!" Pengawal berbadan tegap itu tetap berdiri kokoh memblokir pintu. "Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah untuk melarang siapa pun dari Mahendra Group melangkah masuk ke ruangan Tuan Tama." "Apa kamu bilang?! MINGGIR!" raung Surya, matanya menyalang merah akibat amarah yang tak terkendali. Dengan sisa kekuatannya, Surya terus mendorong dan menerobos barikade penjaga di depan pintu utama ruang kerja Tama. Beberapa menit berlalu, namun benteng itu tak tergoyahkan sedikit pun. Wajah pria paruh baya itu kian memerah padam oleh murka dan keputusasaan yang makin menjadi-jadi. Pintu ganda kayu mahoni di ujung koridor itu akhirnya terbuka bukan karena penjaga yang menyerah, melainkan karena Tama Valero sendiri yang menggesernya dari dalam. Pria paruh baya itu berdiri tegap, mengenakan setelan jas kelabu tan
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 49 : PUTUS KERJASAMA"Bodoh kamu, Sherly! Kenapa kamu biarkan Elara menjalin kerja sama dengan Valero Corps? Kamu tahu apa bahayanya untukku kalau Tama atau Reygan sampai tahu aku menjadi pemasok infrastruktur Adolf Group!" teriak Surya Mahendra dengan amarah yang tidak bisa lagi ia tahan. Suara dobrakan meja kaca di dalam ruangan privat Bar eksklusif itu menggelegar, memantul di dinding-dinding berlapis kayu. Suasana di dalam ruangan VIP itu mendadak amat mencekam. Sherly Adolf tersentak mundur. Napas wanita paruh baya berpenampilan elegan itu memburu, berusaha menyembunyikan rasa takut di balik sapuan makeup tebalnya. "Aku tidak bisa menahannya lagi, Surya! Anak sialan itu memegang kendali penuh atas hak waris Mario sekarang! Dia didukung penuh oleh dewan direksi setelah membongkar perampasan ide proyek Land A milik Reygan Valero dan bukti-bukti hutang perusahaan yang aku limpahkan atas nama Mario, mereka sudah menyelidikinya dan... mereka mencopot jabatanku dari Adolf Group." "Kamu punya Jack
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: BAB 48 : RESTU TAMA VALEROClarissa tersentak kaget. Tubuhnya kaku seketika saat menyadari kehadiran pria yang baru saja mereka bicarakan. Namun, dengan cepat wanita itu menguasai diri, menyunggingkan senyum manja yang dibuat-buat sambil melangkah mendekati Reygan."Rey... kamu sudah selesai rapatnya?" panggil Clarissa dengan suara melunak, mencoba meraih lengan Reygan. "Aku dari tadi menunggumu di sini. Tapi perempuan ini malah datang dan bermaksud membuat keributan—"Sebelum jemari Clarissa sempat menyentuh lengan jasnya, Reygan menarik lengannya bergeser ke samping. Penolakan halus namun sangat terang-terangan itu membuat tangan Clarissa menggantung canggung di udara.Reygan mengabaikan Clarissa sepenuhnya. Langkah kakinya yang lebar justru membawanya langsung menghampiri Elara. Jemari tegapnya terulur, menggenggam jemari Elara yang terasa sedikit dingin, lalu menarik tubuh gadis itu lembut ke balik punggungnya."Kamu baik-baik saja, El?" bisik Reygan lembut. Suaranya berubah seratus delapan puluh deraja
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: BAB 47 : KETEGANGAN DI RUANG KERJATama Valero membanting kertas kerjasama perusahaan pemasok energi untuk Adolf Group. "Apa maksud Surya bergerak bersama musuh di belakangku!" teriak Tama dengan suara menggelegar. Reygan hanya terdiam, membiarkan sang ayah melampiaskan amarahnya. Kertas-kertas dokumen berlogo khusus melayang di udara sebelum akhirnya berserakan di atas lantai marmer hitam ruangan presdir yang megah itu. Bunyi hempasannya beradu nyaring dengan suasana hening mencekam yang menggelayuti seluruh ruangan di lantai teratas Valero Tower. Wajah pria paruh baya yang disegani di dunia bisnis itu memerah padam akibat amarah yang membakar dada. Urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak emosi. Sebagai pemimpin tertinggi Valero Corps yang terbiasa memegang kendali atas kerjasama bisnis nasional, dikhianati oleh sahabat terdekatnya, Surya Mahendra, adalah pukulan telak yang menghantam harga dirinya secara langsung. Reygan hanya terdiam. Pria muda itu tetap berdiri tegap di depan meja kerja sang ayah,
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: BAB 46 : DI BALIK KERJASAMASuasana hangat yang menyelimuti kafe Le Moka seketika menguap, kedatangan Vanda membuat suasana kafe yang santai jadi tegang bagi Elara. Alunan musik akustik yang menenangkan seakan tenggelam karena permusuhan yang terjalin di antara keduanya. Vanda menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan meja kounter. Penampilannya yang modis dengan kacamata hitam yang kini diselipkan ke atas kepala tak mampu menyembunyikan langkah kakinya yang sedikit pincang. Raut wajah gadis itu dihiasi senyum tipis meremehkan yang selalu terlihat menyebalkan di mata Elara. "Wah, sebuah kebetulan yang luar biasa," panggil Vanda dengan nada suara yang sengaja dibuat santai, meski matanya menatap Elara dari atas ke bawah. "Ternyata Kakak tiriku yang terhormat lagi santai di kafe kecil begini? sedangkan Jackson dan Mama sedang berjuang mempertahankan Adolf Group dari kebangkrutan!" Elara perlahan berdiri dari kursinya. Ia merapikan blazer kemejanya dengan gerakan tenang dan anggun. Manik mat
Last Updated: 2026-07-28
Cinta Gita
"Dia pergi demi melindungiku. Dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mengungkap alasan di balik kepergiannya."
Bagiku, Andreas adalah segalanya. Cowok tampan dan paling dipuja di SMA yang memilih menambatkan hatinya padaku, gadis sederhana yang biasa saja. Semua orang percaya kami takkan terpisahkan. Namun di hari menjelang kelulusan, Andreas menghilang tanpa kabar.
Empat tahun berlalu, disaat orang baru telah masuk kedalam hidupku, Andreas muncul kembali. Namun bukan untuk pulang, melainkan bersanding dengan gadis lain.
Saat kebenaran yang menjadi alasan Andreas pergi mulai terungkap, hatiku kembali diuji.
Sanggupkah aku dan Andreas memperjuangkan cinta yang sejak awal tak pernah pergi, atau terpaksa untuk saling merelakan? karena kami sama-sama telah terikat dengan orang baru.
Read
Chapter: EPILOG : TUJUH TAHUN KEMUDIAN"Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. "Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 100 LANGIT MALAM KALIURANG (18+)Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. "Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 99 KEBAHAGIAAN KAMIRestoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. "Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 98 CERITA NANDA"Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 97 KEMBALI KE HARIAN NASIONAL"Gita!" Suara lembut yang sangat kukenali itu seketika membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tidak jauh dari tempatku, Azizah, Bian, dan Nila tengah berjalan menghampiri. Mereka semua melempar senyum hangat ke arahku. Terus terang saja, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku ini. Hubunganku dengan Ale selama ini membuat hubungan persahabatanku ikut berantakan. Dan hari ini, di hari wisuda kami, akhirnya kami bisa bertemu kembali. Azizah dan Nila terlihat sangat cantik dengan kebaya senada berwarna baby pink, warna favorit mereka. Tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Melihat hal itu, Azizah langsung melangkah maju dan merengkuh tubuhku dengan isak tangis yang sama. "Gue kangen banget sama lo, Git. Maafin gue... maafin gue sama Bian yang udah bikin kita jauh selama ini," bisik Azizah di sela tangisnya. Nila yang tidak tahan menunggu giliran, langsung ikut memelukku dan Azizah. Kami bertiga berpelukan dengan teramat erat di teng
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: BAB 96 CALON ISTRI DOKTER"Ndre," Aku memanggil pelan laki-laki yang sedang sibuk mencatat rekam medis pada papan klip di tangannya. Wajah seriusnya seketika mendadak cerah, lalu senyuman yang hangat terbit di wajah tampannya. Menatapnya saat ini, aku merasa seolah baru benar-benar menemukannya kembali setelah empat tahun lamanya kami berpisah. Laki-laki yang dulu selalu datang menjemputku ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan selalu mengajakku menikmati senja di sudut kota Jakarta dalam dekapan hangat di atas motor besarnya. Andreas berjalan pelan menghampiriku. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun, membuat seluruh kecemasan di hatiku menghilang. Akhirnya, aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa. Begitu tiba di hadapanku, ia mengangkat tangannya perlahan, meraih beberapa helai rambutku yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Sudah makan siang belum?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Andreas terdengar begitu lembut di telingaku. A
Last Updated: 2026-06-12