MasukKatrin melangkah tegas mendekati meja kerja suaminya. Suara ketukan sepatunya beradu nyaring di atas lantai marmer, menggema di seluruh penjuru ruangan yang mendadak kembali tegang. Wajah wanita anggun itu mengeras, dihiasi rona merah akibat amarah yang siap meledak. Matanya yang tajam dan dingin menusuk lurus ke arah Elara yang berdiri rapat di balik lindungan lengan Reygan. Mendapat tatapan tajam dari ibunda Reygan, tubuh Elara seketika membeku. Rasa cemas dan ketakutan yang sempat menguap kini mendadak muncul kepermukaan. Hatinya mencelos. Bayangan penolakan Katrin saat mendatangi apartemen Reygan dulu kembali berputar di kepalanya: tuduhan sebagai wanita murahan, memanfaatkan situasi, hingga seseorang yang tak pantas menyandang nama besar Valero. Jemari Elara yang memegang ujung blazernya bergetar pelan. Ia mencengkeramnya rapat-rapat, membuang pandangan ke bawah karena tak sanggup beradu mata dengan Katrin. Rasa percaya diri yang baru saja ia bangun runtuh seketika. Ia t
"LEPAS! Kalian tidak tahu siapa saya?!" bentak Surya seraya menghentakkan kedua tangannya dari cengkeraman para pengawal. "Saya Surya Mahendra, sahabat dekat Tama Valero!" Pengawal berbadan tegap itu tetap berdiri kokoh memblokir pintu. "Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah untuk melarang siapa pun dari Mahendra Group melangkah masuk ke ruangan Tuan Tama." "Apa kamu bilang?! MINGGIR!" raung Surya, matanya menyalang merah akibat amarah yang tak terkendali. Dengan sisa kekuatannya, Surya terus mendorong dan menerobos barikade penjaga di depan pintu utama ruang kerja Tama. Beberapa menit berlalu, namun benteng itu tak tergoyahkan sedikit pun. Wajah pria paruh baya itu kian memerah padam oleh murka dan keputusasaan yang makin menjadi-jadi. Pintu ganda kayu mahoni di ujung koridor itu akhirnya terbuka bukan karena penjaga yang menyerah, melainkan karena Tama Valero sendiri yang menggesernya dari dalam. Pria paruh baya itu berdiri tegap, mengenakan setelan jas kelabu tan
"Bodoh kamu, Sherly! Kenapa kamu biarkan Elara menjalin kerja sama dengan Valero Corps? Kamu tahu apa bahayanya untukku kalau Tama atau Reygan sampai tahu aku menjadi pemasok infrastruktur Adolf Group!" teriak Surya Mahendra dengan amarah yang tidak bisa lagi ia tahan. Suara dobrakan meja kaca di dalam ruangan privat Bar eksklusif itu menggelegar, memantul di dinding-dinding berlapis kayu. Suasana di dalam ruangan VIP itu mendadak amat mencekam. Sherly Adolf tersentak mundur. Napas wanita paruh baya berpenampilan elegan itu memburu, berusaha menyembunyikan rasa takut di balik sapuan makeup tebalnya. "Aku tidak bisa menahannya lagi, Surya! Anak sialan itu memegang kendali penuh atas hak waris Mario sekarang! Dia didukung penuh oleh dewan direksi setelah membongkar perampasan ide proyek Land A milik Reygan Valero dan bukti-bukti hutang perusahaan yang aku limpahkan atas nama Mario, mereka sudah menyelidikinya dan... mereka mencopot jabatanku dari Adolf Group." "Kamu punya Jack
Clarissa tersentak kaget. Tubuhnya kaku seketika saat menyadari kehadiran pria yang baru saja mereka bicarakan. Namun, dengan cepat wanita itu menguasai diri, menyunggingkan senyum manja yang dibuat-buat sambil melangkah mendekati Reygan."Rey... kamu sudah selesai rapatnya?" panggil Clarissa dengan suara melunak, mencoba meraih lengan Reygan. "Aku dari tadi menunggumu di sini. Tapi perempuan ini malah datang dan bermaksud membuat keributan—"Sebelum jemari Clarissa sempat menyentuh lengan jasnya, Reygan menarik lengannya bergeser ke samping. Penolakan halus namun sangat terang-terangan itu membuat tangan Clarissa menggantung canggung di udara.Reygan mengabaikan Clarissa sepenuhnya. Langkah kakinya yang lebar justru membawanya langsung menghampiri Elara. Jemari tegapnya terulur, menggenggam jemari Elara yang terasa sedikit dingin, lalu menarik tubuh gadis itu lembut ke balik punggungnya."Kamu baik-baik saja, El?" bisik Reygan lembut. Suaranya berubah seratus delapan puluh deraja
Tama Valero membanting kertas kerjasama perusahaan pemasok energi untuk Adolf Group. "Apa maksud Surya bergerak bersama musuh di belakangku!" teriak Tama dengan suara menggelegar. Reygan hanya terdiam, membiarkan sang ayah melampiaskan amarahnya. Kertas-kertas dokumen berlogo khusus melayang di udara sebelum akhirnya berserakan di atas lantai marmer hitam ruangan presdir yang megah itu. Bunyi hempasannya beradu nyaring dengan suasana hening mencekam yang menggelayuti seluruh ruangan di lantai teratas Valero Tower. Wajah pria paruh baya yang disegani di dunia bisnis itu memerah padam akibat amarah yang membakar dada. Urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak emosi. Sebagai pemimpin tertinggi Valero Corps yang terbiasa memegang kendali atas kerjasama bisnis nasional, dikhianati oleh sahabat terdekatnya, Surya Mahendra, adalah pukulan telak yang menghantam harga dirinya secara langsung. Reygan hanya terdiam. Pria muda itu tetap berdiri tegap di depan meja kerja sang ayah,
Suasana hangat yang menyelimuti kafe Le Moka seketika menguap, kedatangan Vanda membuat suasana kafe yang santai jadi tegang bagi Elara. Alunan musik akustik yang menenangkan seakan tenggelam karena permusuhan yang terjalin di antara keduanya. Vanda menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan meja kounter. Penampilannya yang modis dengan kacamata hitam yang kini diselipkan ke atas kepala tak mampu menyembunyikan langkah kakinya yang sedikit pincang. Raut wajah gadis itu dihiasi senyum tipis meremehkan yang selalu terlihat menyebalkan di mata Elara. "Wah, sebuah kebetulan yang luar biasa," panggil Vanda dengan nada suara yang sengaja dibuat santai, meski matanya menatap Elara dari atas ke bawah. "Ternyata Kakak tiriku yang terhormat lagi santai di kafe kecil begini? sedangkan Jackson dan Mama sedang berjuang mempertahankan Adolf Group dari kebangkrutan!" Elara perlahan berdiri dari kursinya. Ia merapikan blazer kemejanya dengan gerakan tenang dan anggun. Manik mat







