LOGINBagi Elara, Gunung Saujana hampir menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Namun bagi Reygan itu adalah awal dari segalanya. Pertemuan tak sengaja di tengah badai itu menumbuhkan cinta dalam hati Reygan hanya dalam satu malam. Saat takdir membawa mereka kembali pada kehidupan nyata, akankah ikatan yang terjalin di puncak gunung itu tetap menyala? Atau justru perlahan membeku dan menghilang?
View MoreAdieu, Swiss. Kota yang mengajariku cara tetap tenang meski suhu di luar sana turun hingga nol derajat. Kini, aku sudah berada di dalam kabin pesawat, meninggalkan salju Alpen menuju kehangatan tanah air yang kurindukan.
Sambil menatap puncak-puncak gunung yang memutih dari balik jendela pesawat, aku teringat sebuah pepatah yang sering kudengar selama dua tahun menempuh pendidikan Master of Science in Finance & Wealth Management di Lausanne: "D'Schwiiz isch es bitzeli Himmel uf Ärde." (Swiss adalah kepingan surga di bumi.) - Reygan Valero - *** Pagi ini, Reygan tengah bersiap menyandang carrier hitamnya yang telah terisi penuh dengan segala keperluan mendaki. Beban berat di punggungnya seolah tak terasa, tertutup oleh semangat yang menggebu untuk segera menaklukkan jalur pendakian di puncak gunung Saujana. "Ingat apa kata Mama, jangan lebih dari tiga hari." Peringatan Katrin seakan menulikan telinga Reygan yang bosan mendengar kalimat itu berulang kali keluar dari mulut mamanya. Dua tahun di Swiss merasakan kebebasan, kini ia kembali mendengarkan segala nasehat dan larangan kedua orang tuanya yang mengatur seluruh hidupnya dan dia sudah terbiasa. Bahkan kisah cinta yang harus berakhir hanya karena Mama nya tidak menyukai gadis itu. Reygan hanya diam sambil menikmati roti selai coklat yang sudah disiapkan Katrin di atas piring. Reygan bukan anak manja, namun takdirnya sebagai seorang anak tunggal keluarga konglomerat Valero, membuat Katrin selalu khawatir setiap kali Reygan meminta ijin mendaki gunung bersama ketiga sahabatnya. "Rey, kamu dengar Mama, kan?" Katrin menahan lengan Reygan, menghentikan gerakannya yang baru saja hendak menyuap sepotong roti ke dalam mulut. "Iya, Ma. Reygan dengar. Mama sudah mencemaskan hal ini sejak dua hari yang lalu." "Biarkan saja dia pergi dulu sebelum sibuk di perusahaan, Ma." Tegur sang pemimpin di keluarga Valero. Tama Valero. "Tapi ini gunung, Pa. Mama benar-benar khawatir. Rey... apa tidak bisa di batalkan, Nak? atau biar Lingga ikut denganmu ya?" Lingga adalah asisten pribadi Reygan yang sudah menemaninya sejak Reygan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. "Lingga harus liburan juga, Ma. Kasihan dia." Sahut Reygan menenggak air mineral dalam sekali tegukan. "Sudah, Mama nggak usah khawatir. Rey janji akan hubungi Mama begitu sampai di sana." Tambahnya, bangkit berdiri dan mencium kening Katrin yang sangat mencemaskan putra satu-satunya. Tama hanya tersenyum melihat istrinya yang enggan melepaskan kepergian Reygan. "Hati-hati, Rey. Jangan buat Mama mu khawatir." Ucap Tama memperingati putranya saat Rey berpamitan. "Siap, Pa." Rey pun melesat keluar pintu utama dan membawa Rubicon hitamnya keluar dari halaman luas kediaman Valero. *** Bersama ketiga temannya, Reygan melangkah meninggalkan basecamp saat matahari baru saja mengintip di ufuk timur. Perjalanan menuju Gunung Saujana dimulai dengan candaan ringan yang memecah kesunyian hutan pinus. Trek awal yang landai masih memungkinkan mereka untuk berkali-kali berhenti sejenak, sekedar mengatur napas atau membetulkan tali sepatu. "Saujana tidak akan lari, kawan. Nikmati saja setiap tanjakannya," seru Zavier menyemangati teman-temannya yang mulai berkeringat. Semakin tinggi mereka mendaki, medan menuju puncak mulai berubah. Pohon-pohon tinggi berganti dengan semak cantigi yang rapat, dan suhu udara berubah saat matahari sudah berada di atas kepala mereka. Namun, angin yang terus berhembus terasa lebih menusuk tulang. Di balik kacamata hitamnya, Reygan terus menatap ke depan, memimpin rombongan menembus jalanan setapak yang semakin terjal. "Rey, kita istirahat dulu di pos empat." Teriak Juna yang berjalan dibarisan kedua. "Oke," sahut Rey singkat. Hidung mancungnya kembang kempis menghirup udara sejuk pegunungan. Hingga tiba di pos empat. Matahari sudah semakin bersinar terang di atas kepala mereka. Untung saja, rimbun pepohonan dan udara sejuk Gunung Saujana, membuat siang hari yang terik ini terasa menyenangkan. "Gila, usia baru dua lima tapi kayak udah renta aja gue. Baru sampe di pos empat, kaki udah kayak jelly." Canda Yuda merebahkan tubuhnya diatas dipan kayu. Reygan tertawa kecil melihat tingkah sahabat-sahabatnya. Ia sangat merindukan momen mendaki bersama mereka, sebab selama menempuh pendidikan di Swiss, ia tidak pernah sekali pun pulang ke Indonesia selama dua tahun penuh. "Payah lo! Masa kalah sama Rey? Dia, kan, baru pulang dari Swiss dan sudah dua tahun nggak pernah mendaki," sahut Zavier sambil menenggak air dari botol minumnya. "Jangan disamainlah, lihat aja badannya kayak Ade Rai." Protes Yuda mulai memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus disela pepohonan. "Dingin kabut di Puncak Saujana ini bikin gue ingat sama musim dingin di Lausanne, walaupun dinginnya di sana lebih menusuk tulang karena bisa mencapai dua derajat bahkan nol derajat di malam hari." gumam Reygan pelan, teringat Kota di Swiss, tempatnya menuntut ilmu. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan hitam meraba dahan semak cantigi yang tergeletak kaku di tanah. "Kalau sama Gaby ingat nggak?" ledek Juna nyengir lebar. Rey menoleh kesisi kanan, di mana Juna duduk menatap awan cerah yang hampir tertutup rimbunnya pepohonan. "Gimana kabarnya?" tanya Reygan sambil melepas kacamata hitamnya, lalu menyelipkannya pada ritsleting jaket yang ia kenakan. "Masih sama." "Sama?" ulang Rey mengerutkan keningnya. "Nggak bisa move on dari lo, dia. Kemarin aja nekat mau ikut pas tahu lo bakal ikut kita ke sini," ujar Juna terkekeh. Reygan hanya tersenyum tipis. Benaknya sejenak dipenuhi bayangan wajah cantik Gaby, wanita yang pernah mengisi hari-harinya saat mereka masih menempuh gelar sarjana di Universitas Indonesia. "Lagian, kenapa kalian putus, sih, kalau memang masih sama-sama cinta?" tanya Yuda, menyela obrolan antara Reygan dan Juna. "Kayak nggak tahu aja lo. Tuan Tama dan Nyonya Katrin punya prinsip, 'Pokoknya, Rey harus menikah dengan gadis pilihan orang tua!'" sahut Zavier dengan nada menirukan suara ibunda Reygan yang selalu mengatur setiap jengkal kehidupan sahabatnya itu. "Alah, paling di Swiss Rey bebas pacaran sama cewek-cewek lokal. Apalagi perempuan Swiss cantik-cantik. Makanya dia nggak pulang ke Indonesia sampai lulus." Zavier tertawa renyah. Rey melemparkan dahan kayu kearah Yuda. Namun tiba-tiba, telinganya menangkap suara ranting yang terinjak dari arah belakang mereka. Ia menoleh ke arah sumber suara. Rey bangkit dari duduknya, melangkah pelan mendekati pohon besar dibelakang pos empat. Reygan memicingkan mata, menajamkan indra pendengarannya di tengah desau angin yang berhembus pelan di antara dahan pinus. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Di balik batang pohon raksasa yang kulitnya berlumut itu, Reygan tidak menemukan hewan hutan seperti yang ia duga. Sebelumnya, ia menduga suara di belakang pos empat ini adalah seekor kancil atau babi hutan, namun ia justru mendapati sesosok wanita yang tengah terduduk lemas dengan napas tersengal. Wanita itu mengenakan jaket pendaki yang tampak kebesaran, wajahnya pucat pasi, dan tatapannya tampak kebingungan dan ketakutan. "Siapa?" suara berat Reygan memecah kesunyian, membuat wanita itu tersentak berdiri hingga punggungnya menabrak batang pohon. Wanita itu menatap lurus kearah Reygan. Di bawah sinar matahari yang menyelinap dari celah rimbunan hutan, manik matanya bertemu dengan tatapan tajam Reygan. Ada perasaan takut sekaligus lega. Bibirnya yang mulai membiru karena suhu udara yang kian merosot tampak gemetar, berusaha mengeluarkan kata-kata yang tertahan di tenggorokan. "Saya... saya terpisah dari rombongan," bisiknya parau. Reygan terpaku sejenak. Ia menatap wajah cantik dihadapannya. Akal sehatnya menimbang apakah wanita dihadapannya adalah benar-benar manusia, bukan mahkluk tak kasat mata atau 'penghuni' gunung Saujana. Sementara itu, dari arah dipan kayu, tawa Zavier dan Yuda perlahan mereda saat menyadari pemimpin rombongan mereka tidak kunjung kembali dan justru berdiri mematung di balik pepohonan. "Rey? Ada apa di situ?" seru Zavier sambil beranjak berdiri. Reygan tidak menjawab. Perhatiannya tersedot sepenuhnya pada wanita di hadapannya, seorang wanita yang kecantikannya membekukan isi dalam kepala Reygan, namun memiliki aura ketangguhan yang tersembunyi di balik ketakutannya saat ini karena tersesat sendirian di tengah hutan. Elara mundur perlahan, rasa takutnya semakin besar melihat Rey yang terus menatapnya. Tanpa ia sadari, kakinya yang terluka parah akibat hampir terperosok saat berlari di tengah hutan, kini semakin mengeluarkan banyak darah. "Arrghh!" jerit kesakitan terlepas dari mulut Elara. Ia menunduk, tangannya menekan luka di kakinya. Rey tersentak, matanya kini beralih menatap darah yang membasahi celana cargo hitam gadis itu. "Kamu terluka!" sentak Rey bergegas mendekati. Namun, tanpa ia duga, jeritan gadis itu membahana, menghentikan langkahnya dan memecah keheningan hutan pinus. "Jangan mendekat! PERGI!""Heh, Pria Kantoran!" gertak salah satu pria berkepala plontos, langsung mengayunkan balok kayunya hingga menghantam salah satu kursi kayu kafe sampai patah. Kinan memekik kaget, refleks melangkah mundur hingga menabrak konter kasir. Wajahnya seketika pucat pasi melihat kebrutalan dua orang asing itu. Lingga dengan sigap menggeser tubuhnya, berdiri tegap melindungi Kinan. Kilat matanya seketika berubah jadi sedingin es. Sebagai tangan kanan keluarga Valero, pemandangan seperti ini bukan hal baru baginya. "Kinan, masuk ke ruang belakang. Kunci pintunya," perintah Lingga, suaranya terdengar sangat tenang dan tegas. "Tapi, Bang—" "Masuk!" bentak Lingga tanpa menoleh. Pria plontos itu tertawa meremehkan, menatap kemeja berlapis jas rapi yang dikenakan Lingga dengan pandangan menghina. "Jangan banyak tingkah. Kami tahu kamu orang kepercayaan Reygan Valero! Serahkan Elara kepada kami sekarang juga!" Lingga mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Nama itu seketika memicu i
"Stupid!" teriak Jackson pada kedua anak buahnya yang menunduk kaku karena gagal menemukan keberadaan Elara. "You can't even find a single girl! What am I paying you all this money for?!" bentaknya murka sambil mengempaskan gelas di tangannya dengan keras ke atas meja kaca hingga berdentang nyaring. "Tenang, Jack. Jangan berteriak-teriak seperti orang gila," tegur Sherly, meski wajahnya sendiri sudah memerah menahan amarah. Sudah seminggu lebih Elara berhasil melarikan diri dari rumah, dan Jackson masih saja belum berhasil melacak keberadaan gadis itu. "Sepertinya aku terlalu meremehkan Elara. Dia pasti menyadari kalau aku tidak akan mungkin menghancurkan Adolf Group begitu saja, karena perusahaan itu adalah satu-satunya harta berharga yang tersisa bagi kami," tambah Sherly, sebelum menyesap pelan teh herbal hangatnya yang masih mengepulkan asap tipis. "Bagaimana sekarang? Seharusnya saat ini kami sudah mempersiapkan pernikahan! Kenapa Tante tidak bisa menjaganya dengan bai
Lingga melangkah gontai setelah turun dari mobil, berjalan perlahan menuju Kafe Le Moka, kafe miliknya yang ia kelola bersama Kinan, adik kandung satu-satunya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika akhirnya Reygan mengizinkannya untuk pulang dan beristirahat. Tubuhnya terasa luar biasa lelah setelah berhari-hari menemani sang atasan mencari keberadaan Elara sambil bersandiwara di hadapan Tama Valero untuk menyembunyikan apa yang Reygan lakukan di belakang kedua orang tuanya. Tring! Bunyi bel di atas pintu masuk berdenting nyaring saat pintu kaca itu didorong terbuka. "Selamat datang di Kafe Le Moka. Selamat malam," sapa seorang gadis dengan ramah dari balik meja kasir. Langkah kaki Lingga seketika membeku tepat di depan pintu. Kedua matanya menatap lekat gadis di hadapannya. Wajah cantik yang tidak ia kenali itu jelas bukan milik Kinan, adiknya. Dengan kening berkerut dalam, Lingga melangkah mendekati meja kasir. "Maaf... kamu siapa?" Elara mengul
Ketukan tumit sepatu hak tinggi Clarissa menggema angkuh di atas lantai marmer restoran mewah kawasan Jakarta Selatan. Setiap langkahnya membawa ketegangan. Sore ini, ia memiliki satu agenda penting. Menuntut pertanggungjawaban dari seseorang yang telah memicu Reygan untuk mempermalukannya di hadapan pertemuan dua keluarga besar. Berdasarkan informasi yang berhasil dikoreknya, gadis yang akan ditemuinya ini adalah masa lalu Reygan. Sosok yang beberapa tahun lalu sempat bertahta di hati calon tunangannya, sebelum akhirnya berpisah karena terbentur restu dari keluarga Valero. Clarissa yakin, kalau mantan kekasih Reygan adalah wanita yang masih di cintai laki-laki itu. Pintu kaca restoran bergeser terbuka, dan Clarissa melangkah masuk dengan dagu terangkat. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan yang didominasi dekorasi bernuansa emas dan monokrom, sampai matanya tertuju pada sebuah meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke ramainya jalanan di Kota besar i












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews