LOGIN"Heh, Pria Kantoran!" gertak salah satu pria berkepala plontos, langsung mengayunkan balok kayunya hingga menghantam salah satu kursi kayu kafe sampai patah. Kinan memekik kaget, refleks melangkah mundur hingga menabrak konter kasir. Wajahnya seketika pucat pasi melihat kebrutalan dua orang asing itu. Lingga dengan sigap menggeser tubuhnya, berdiri tegap melindungi Kinan. Kilat matanya seketika berubah jadi sedingin es. Sebagai tangan kanan keluarga Valero, pemandangan seperti ini bukan hal baru baginya. "Kinan, masuk ke ruang belakang. Kunci pintunya," perintah Lingga, suaranya terdengar sangat tenang dan tegas. "Tapi, Bang—" "Masuk!" bentak Lingga tanpa menoleh. Pria plontos itu tertawa meremehkan, menatap kemeja berlapis jas rapi yang dikenakan Lingga dengan pandangan menghina. "Jangan banyak tingkah. Kami tahu kamu orang kepercayaan Reygan Valero! Serahkan Elara kepada kami sekarang juga!" Lingga mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Nama itu seketika memicu i
"Stupid!" teriak Jackson pada kedua anak buahnya yang menunduk kaku karena gagal menemukan keberadaan Elara. "You can't even find a single girl! What am I paying you all this money for?!" bentaknya murka sambil mengempaskan gelas di tangannya dengan keras ke atas meja kaca hingga berdentang nyaring. "Tenang, Jack. Jangan berteriak-teriak seperti orang gila," tegur Sherly, meski wajahnya sendiri sudah memerah menahan amarah. Sudah seminggu lebih Elara berhasil melarikan diri dari rumah, dan Jackson masih saja belum berhasil melacak keberadaan gadis itu. "Sepertinya aku terlalu meremehkan Elara. Dia pasti menyadari kalau aku tidak akan mungkin menghancurkan Adolf Group begitu saja, karena perusahaan itu adalah satu-satunya harta berharga yang tersisa bagi kami," tambah Sherly, sebelum menyesap pelan teh herbal hangatnya yang masih mengepulkan asap tipis. "Bagaimana sekarang? Seharusnya saat ini kami sudah mempersiapkan pernikahan! Kenapa Tante tidak bisa menjaganya dengan bai
Lingga melangkah gontai setelah turun dari mobil, berjalan perlahan menuju Kafe Le Moka, kafe miliknya yang ia kelola bersama Kinan, adik kandung satu-satunya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika akhirnya Reygan mengizinkannya untuk pulang dan beristirahat. Tubuhnya terasa luar biasa lelah setelah berhari-hari menemani sang atasan mencari keberadaan Elara sambil bersandiwara di hadapan Tama Valero untuk menyembunyikan apa yang Reygan lakukan di belakang kedua orang tuanya. Tring! Bunyi bel di atas pintu masuk berdenting nyaring saat pintu kaca itu didorong terbuka. "Selamat datang di Kafe Le Moka. Selamat malam," sapa seorang gadis dengan ramah dari balik meja kasir. Langkah kaki Lingga seketika membeku tepat di depan pintu. Kedua matanya menatap lekat gadis di hadapannya. Wajah cantik yang tidak ia kenali itu jelas bukan milik Kinan, adiknya. Dengan kening berkerut dalam, Lingga melangkah mendekati meja kasir. "Maaf... kamu siapa?" Elara mengul
Ketukan tumit sepatu hak tinggi Clarissa menggema angkuh di atas lantai marmer restoran mewah kawasan Jakarta Selatan. Setiap langkahnya membawa ketegangan. Sore ini, ia memiliki satu agenda penting. Menuntut pertanggungjawaban dari seseorang yang telah memicu Reygan untuk mempermalukannya di hadapan pertemuan dua keluarga besar. Berdasarkan informasi yang berhasil dikoreknya, gadis yang akan ditemuinya ini adalah masa lalu Reygan. Sosok yang beberapa tahun lalu sempat bertahta di hati calon tunangannya, sebelum akhirnya berpisah karena terbentur restu dari keluarga Valero. Clarissa yakin, kalau mantan kekasih Reygan adalah wanita yang masih di cintai laki-laki itu. Pintu kaca restoran bergeser terbuka, dan Clarissa melangkah masuk dengan dagu terangkat. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan yang didominasi dekorasi bernuansa emas dan monokrom, sampai matanya tertuju pada sebuah meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke ramainya jalanan di Kota besar i
Hujan deras masih mengguyur kota malam itu, tetapi atmosfer di depan pintu utama kediaman megah keluarga Valero terasa jauh lebih dingin. Tama berdiri tegak dengan tatapan setajam elang. Sorot lampu mobil Reygan yang baru saja melewati gerbang tinggi otomatis membuat kilat amarah di matanya kian terlihat. Sang kepala keluarga menunggu dengan sisa amarah yang membakar dada akibat dipermalukan oleh putranya di hadapan keluarga Mahendra. Ditambah lagi, malam ini Reygan kembali membangkang dan pulang terlambat. Lingga turun lebih dulu dan bergegas membuka payung besar untuk melindungi Reygan walaupun tubuhnya sudah terlanjur basah kuyup. Pemuda itu tampak kacau setelah menghajar Jackson di jalan, sesaat setelah ia melihat Elara di kegelapan malam. "Selamat malam, Tuan," sapa Lingga hormat dengan suara yang sedikit bergetar menahan cemas. "Apa mobil mewahmu sudah tidak memiliki atap, sampai kamu basah kuyup seperti itu, Reygan?!" sindir Tama tajam, mengabaikan kehadiran Lingga. R
"Get off me, you bastard! Aku bisa saja membawa masalah pemukulan ini ke meja hukum!" ancam Jackson sambil mencengkeram pergelangan tangan Reygan yang menarik kerah mantelnya dengan kuat. Dengan mata memerah karena marah, Reygan melepas cengkeramannya, menghempas kasar tubuh Jackson ke aspal jalanan. Di bawah guyuran air hujan yang semakin deras, pria blasteran itu terjatuh tak berdaya. "Rey! Sudah, cukup!" Lingga berlari menyusul, bergegas memayungi tubuh Reygan yang sudah telanjur basah kuyup, sekaligus menahan pundak sahabatnya yang masih mengeras karena emosi. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Jackson untuk merangkak masuk ke mobilnya dan segera pergi dari hadapan Reygan. "Pria itu mengejar Elara. Apa yang terjadi sebenarnya?" desis Reygan tajam. Matanya menatap penuh amarah pada sedan hitam milik Jackson yang memacu kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. *** KEJADIAN SEBELUMNYA... Pintu kamar Elara dibuka dengan suara pelan. Kali ini, tidak ada keker







