LOGINKarena kesibukan Amina, sang istri, Darto terpaksa berselingkuh dengan Sarinten, pelayan di dalam kediamannya. Darto tak hanya memberikan uang tambahan sebagai imbalan, tapi pria itu juga memberikan belaian yang selama ini tidak dia dapatkan semenjak diceraikan oleh suaminya.
View MorePagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.
Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko perhiasan. Saat menikah dengan Amina Darto sudah memiliki dua orang anak dari istri pertamanya yang sudah meninggal, mereka bernama Wati berusia dua puluh lima tahun baru lulus kuliah dan yang satu bernama Devan. Devan sudah menikah dengan Yuyun. Saat ini Devan masih tinggal bersama Darto karena belum memiliki rumah sendiri. Di dalam kamar Darto.. Kebetulan Amina masih mandi dan bersiap-siap di dalam kamarnya, Darto yang selalu ingin mendapatkan jatah tubuh si istri belum mendapatkannya sejak semalam lantaran Amina pulang larut. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, tubuh Amina yang selalu rutin perawatan dan juga minum vitamin membuat wanita itu terlihat ayu dan awet muda. Amina keluar dari dalam kamar mandi dalam kamarnya hanya mengenakan sehelai handuk. Darto sudah sikat gigi dan cuci muka di westafel samping kamar mandi dalam kamarnya, melihat istrinya keluar dengan penampilan seperti itu, Darto langsung menyerbu dan menciumi lehernya. Amina sendiri juga sangat senang karena gairah suaminya tak pernah kunjung surut. Dengan napas menggebu Amina merangkul kedua bahu Darto sambil membalas ciuman Darto. “Pak, ah, nggak tahan aku.” Suara erangan nikmat Amina terdengar sampai keluar kamarnya. Devan yang memiliki kamar bersebelahan dengan Darto sering juga mendengar rengekan manja ibu dan bapaknya itu. Meski mereka sudah berumur tapi hasrat di ranjang belum surut sama sekali. Malahan semakin menggila dalam beberapa bulan terakhir. Suara erangan Darto terdengar sampai keluar kamar mereka berdua. *** Devan baru saja keluar dari dalam kamarnya, Yuyun istrinya sudah pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan bersama Lili dan Aldi putra-putri mereka. Karena pintu sebelah kamarnya masih terbuka sedikit, iseng-iseng Devan mengintip dalam kamar Darto. Memang dasar anak tidak tahu diri! “Apaan sih? Masa Bapak sama Ibu sudah hampir pukul setengah tujuh masih ....” Devan bergumam lalu melongo menyaksikan betapa buasnya Darto. Amina janda kaya itu bersedia dipinang Darto, mereka berdua baru menikah kurang lebih satu tahun ini. Devan terpaksa menelan ludahnya melihat ibu tirinya begitu seksi dan super hot. Devan terpaksa menelan ludahnya sendiri gara-gara melihat itu. Rupanya Amina diam-diam mengetahui kalau putra sulung tirinya sedang menyaksikan adegan tersebut. Amina membawa Darto menuju ke arah ranjang yang menghadap ke pintu. Amina membuka kedua kakinya sambil bersandar pada sandaran tempat tidur, Amina sengaja mempertontonkan adegan tersebut. Amina menggigit bibir bawahnya sendiri sambil menatap ke arah Devan yang sedang mengintip di luar pintu. Devan tanpa sengaja bertemu tatap dengan ibu tirinya tersebut, pria itu mendapatkan tatapan liar dan penuh nafsu dari sang ibu. Rupanya Amina mengetahui kalau celana yang dikenakan Devan sekarang tidak bisa dikondisikan. Tatapan liar dari sang ibu tiri membuat Devan menelan ludahnya sendiri. “Pak, aku nggak tahan.” Pinta Amina pada Darto. “Iya Bu, aku juga sudah nggak tahan, Bu," Racau Darto. Devan terus melihat tubuh Amina di atas ranjang dalam kamar tersebut. Devan sejak tadi sibuk menelan air ludahnya sendiri, dia tidak bisa melakukan hubungan intim karena istrinya Yuyun akan pergi bekerja, di sana hanya ada Amina dan juga Sarinten si pelayan dapur. Saat itu Sarinten sudah selesai menyiapkan sarapan, jadi dia ingin memanggil Amina seperti biasa untuk segera menikmati sarapan selagi hangat. Baru berjalan setengah jalan, rupanya dia dicegah oleh Devan. Sarinten kaget sekali karena Devan menarik tangannya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sisi samping ruang televisi. “Ten, mau ke mana? Bantuin aku dulu sebentar saja!” pintanya pada si pelayan bahenol itu. Mata Devan tertuju pada bukit kembar Sarinten yang masih terbalut daster warna ungu sepanjang lutut. Sarinten anehnya tidak menolak. Malahan wanita itu membuka kancing dasternya. “Ten, jangan bilang-bilang sama Bapak kalau aku minta bantuan kamu pagi ini.” Perintahnya. *** Di ruang makan Yuyun ingin segera mengantar Lili dan Aldi, tapi Devan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya sejak setengah jam yang lalu. “Mas Devan ke mana sih? Aku kan mau ke kantor masa dia tidur lagi!” Omel Yuyun seraya berdiri dari kursinya. Devan masih di dalam kamar mandi, dia mendengar suara langkah kaki istrinya menuju ke arah kamar. Dengan terburu-buru dia melepaskan Sarinten. “Ten, sudah dulu, Yuyun sepertinya nyariin aku, gawat kalau ketahuan sama dia nanti.” Ucapnya seraya buru-buru menaikkan kembali resleting celana pendek selutut miliknya. Devan mengintip melalui celah pintu. Saat Yuyun melintas dari depan pintu dia buru-buru menutup kembali pintu kamar mandi tersebut.“Ini lanjut atau enggak San?” tanya Samsudin.Santi masih cemberut, dia tidak menjawab pertanyaan Samsudin tapi langsung melengos pergi meninggalkan Samsudin yang kini cengar-cengir seorang diri.Narti keluar setelah menerima gajinya, dan dia berpapasan dengan Susanti di ambang pintu. Narti melihat ekspresi kesal pada wajah Susanti, jelas sekali Susanti menaruh cemburu padanya. Awalnya Narti ingin menegurnya tapi batal karena malas beradu mulut dengan Susanti.Darto di kursi meja kerjanya melihat Santi masuk dan berdiri di depan meja kerjanya. Darto segera menghitung gaji Susanti lalu menyerahkan uang yang sudah dia hitung padanya. Darto melihat Susanti berdiri sambil mengapitkan kedua kakinya rapat-rapat.“Kenapa kamu San?” tanya Darto.“Kepedesan Pak, eh, kebelet pipis Pak, permisi,” jawab Susanti seraya mengambil amplopnya dan pergi dengan terburu-buru.Darto tidak berkomentar, hari sudah sore sudah waktunya dia pulang ke rumah. Sisa gaji pegawai biasanya
*** Saat Yuyun tiba di rumah, hari sudah sore. Yuyun membawa motornya masuk ke dalam garasi. Dia tidak melihat motor Devan, artinya Devan tidak ada di sana. Mobil Amina juga tidak ada, pertanda bahwa Amina belum pulang. “Mas Devan keluar? Tumben? Aku kira dia sudah nggak kerja lagi di kafe sama Wati,” ucapnya. Yuyun menenteng tasnya masuk ke dalam rumah. Dia melihat Sarinten sedang sibuk memasak makan malam di dapur. Sarinten juga mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah dari arah pintu samping. Dia melihat Yuyun masuk ke dalam rumah dengan langkah malas. “Neng Yuyun mau dibuatkan minuman hangat? Teh, kopi?” tawarnya sambil menata piring di atas meja makan. “Nggak usah, Ten, aku lelah pengen istirahat saja dulu di kamar,” jawab Yuyun sambil berjalan pergi menuju ke kamar. Sampai di kamarnya Yuyun melepaskan seluruh baju yang dia pakai lalu meletakkannya ke dalam keranjang pakaian kotor, Yuyun mengganti bajunya dengan sehelai
Selesai makan siang, Yuyun mengerjakan beberapa laporan di dalam ruangan kerjanya. Beruntung Rangga tidak meminta untuk dilayani olehnya lagi, lagi pula mobil Mita masih terparkir di luar kantor pertanda bahwa Mita masih berada di dalam ruangan kerja Rangga.Setelah laporan yang Yuyun kerjakan selesai, Yuyun ingin pulang karena hanya itu pekerjaan yang dia lakukan hari ini. Rangga juga ada jadwal meeting, dan Yuyun pikir dia tidak perlu ikut serta dengan Rangga dalam meeting tersebut karena pekerjaannya hanya mengerjakan laporan pada hari ini.Yuyun berniat memberikan laporan tersebut di dalam ruangan kerja Rangga akan tetapi Mita masih ada di sana, Yuyun sedikit cemas kalau kehadirannya akan membuat Mita kesal. Akhirnya Yuyun menunggu di luar pintu, dan ternyata laporan dalam genggaman tangannya sudah diminta oleh Rangga. Asisten Rangga yang lain mencari Yuyun di dalam ruangan kerja Yuyun.“Kok nggak ada? Ke mana perginya Yuyun? Perasaan tadi dia ada di dalam ruangan ke
“Mita?”“Ya, ini aku! Puas kamu sudah berhasil membuat Mas Rangga pisah sama aku! Aku nggak akan pernah memaafkanmu Yun! Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan dari ulah kamu ini! Padahal kamu sudah punya suami, tapi kamu masih nggak puas dan tetap rebut Mas Rangga dari akuuuuu!” jerit Mita dengan wajah frustasi.Yuyun sangat lapar sekali, jadi dia memilih pergi tanpa berkata apa-apa atau sekedar menjelaskan semuanya pada Mita kalau perceraian antara Mita dengan Rangga sama sekali bukan keinginan dalam hatinya.Setibanya di kafe, Yuyun segera memesan menu.“Menu makan siang satu paket,” ucapnya.Pelayan kafe segera memberikan nomor meja untuknya. Yuyun berjalan menuju ke meja dan menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, Yuyun menopang dagunya. Dia teringat dengan Mita. Ekspresi yang Mita tunjukkan padanya siang ini benar-benar sosok yang sudah putus asa.“Padahal dari dulu Mas Rangga sudah pacaran sama aku sejak aku belum menikah sama Mas Devan. Bahk
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews