LOGIN“Ini lanjut atau enggak San?” tanya Samsudin.
Santi masih cemberut, dia tidak menjawab pertanyaan Samsudin tapi langsung melengos pergi meninggalkan Samsudin yang kini cengar-cengir seorang diri.Narti keluar setelah menerima gajinya, dan dia berpapasan dengan Susanti di ambang pintu. Narti melihat ekspresi kesal pada wajah Susanti, jelas sekali Susanti menaruh cemburu padanya. Awalnya Narti ingin menegurnya tapi batal karena malas beradu mulut dengan Susanti.Darto di kursi mejaDarto tiba di rumah tidak lama setelah Yuyun masuk ke dalam kamarnya. Darto langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, dan makan malam yang disajikan Sarinten juga sudah di atas meja makan. Hari sudah gelap, belum ada tanda-tanda Amina, Devan, atau Wati tiba di rumah. Darto memakai kaos santai serta celana pendek, dia berjalan ke dapur dan bertanya pada Sarinten. “Ten? Orang-orang pada ke mana kok sepi?” tanyanya seraya masuk ke dalam dapur. “Ada Neng Yuyun pulang jam empat tadi, Pak,” jawab Sarinten pada Darto. “Bapak ingin dibuatkan kopi?” tawar Sarinten padanya karena biasanya Darto meminta untuk dibuatkan kopi. Darto tampak sedang memikirkan sesuatu. Pria itu tidak segera menjawab pertanyaan dari Sarinten. “Pak?” tegur Sarinten lagi sambil menatap wajah majikannya agak dekat. Dari tatapan mata Darto, Sarinten tidak mendapati keinginan untuk melakukan hubungan intim seperti biasanya. “Aneh sekali, Pak Darto mel
“Ini lanjut atau enggak San?” tanya Samsudin.Santi masih cemberut, dia tidak menjawab pertanyaan Samsudin tapi langsung melengos pergi meninggalkan Samsudin yang kini cengar-cengir seorang diri.Narti keluar setelah menerima gajinya, dan dia berpapasan dengan Susanti di ambang pintu. Narti melihat ekspresi kesal pada wajah Susanti, jelas sekali Susanti menaruh cemburu padanya. Awalnya Narti ingin menegurnya tapi batal karena malas beradu mulut dengan Susanti.Darto di kursi meja kerjanya melihat Santi masuk dan berdiri di depan meja kerjanya. Darto segera menghitung gaji Susanti lalu menyerahkan uang yang sudah dia hitung padanya. Darto melihat Susanti berdiri sambil mengapitkan kedua kakinya rapat-rapat.“Kenapa kamu San?” tanya Darto.“Kepedesan Pak, eh, kebelet pipis Pak, permisi,” jawab Susanti seraya mengambil amplopnya dan pergi dengan terburu-buru.Darto tidak berkomentar, hari sudah sore sudah waktunya dia pulang ke rumah. Sisa gaji pegawai biasanya
*** Saat Yuyun tiba di rumah, hari sudah sore. Yuyun membawa motornya masuk ke dalam garasi. Dia tidak melihat motor Devan, artinya Devan tidak ada di sana. Mobil Amina juga tidak ada, pertanda bahwa Amina belum pulang. “Mas Devan keluar? Tumben? Aku kira dia sudah nggak kerja lagi di kafe sama Wati,” ucapnya. Yuyun menenteng tasnya masuk ke dalam rumah. Dia melihat Sarinten sedang sibuk memasak makan malam di dapur. Sarinten juga mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah dari arah pintu samping. Dia melihat Yuyun masuk ke dalam rumah dengan langkah malas. “Neng Yuyun mau dibuatkan minuman hangat? Teh, kopi?” tawarnya sambil menata piring di atas meja makan. “Nggak usah, Ten, aku lelah pengen istirahat saja dulu di kamar,” jawab Yuyun sambil berjalan pergi menuju ke kamar. Sampai di kamarnya Yuyun melepaskan seluruh baju yang dia pakai lalu meletakkannya ke dalam keranjang pakaian kotor, Yuyun mengganti bajunya dengan sehelai
Selesai makan siang, Yuyun mengerjakan beberapa laporan di dalam ruangan kerjanya. Beruntung Rangga tidak meminta untuk dilayani olehnya lagi, lagi pula mobil Mita masih terparkir di luar kantor pertanda bahwa Mita masih berada di dalam ruangan kerja Rangga.Setelah laporan yang Yuyun kerjakan selesai, Yuyun ingin pulang karena hanya itu pekerjaan yang dia lakukan hari ini. Rangga juga ada jadwal meeting, dan Yuyun pikir dia tidak perlu ikut serta dengan Rangga dalam meeting tersebut karena pekerjaannya hanya mengerjakan laporan pada hari ini.Yuyun berniat memberikan laporan tersebut di dalam ruangan kerja Rangga akan tetapi Mita masih ada di sana, Yuyun sedikit cemas kalau kehadirannya akan membuat Mita kesal. Akhirnya Yuyun menunggu di luar pintu, dan ternyata laporan dalam genggaman tangannya sudah diminta oleh Rangga. Asisten Rangga yang lain mencari Yuyun di dalam ruangan kerja Yuyun.“Kok nggak ada? Ke mana perginya Yuyun? Perasaan tadi dia ada di dalam ruangan ke
“Mita?”“Ya, ini aku! Puas kamu sudah berhasil membuat Mas Rangga pisah sama aku! Aku nggak akan pernah memaafkanmu Yun! Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan dari ulah kamu ini! Padahal kamu sudah punya suami, tapi kamu masih nggak puas dan tetap rebut Mas Rangga dari akuuuuu!” jerit Mita dengan wajah frustasi.Yuyun sangat lapar sekali, jadi dia memilih pergi tanpa berkata apa-apa atau sekedar menjelaskan semuanya pada Mita kalau perceraian antara Mita dengan Rangga sama sekali bukan keinginan dalam hatinya.Setibanya di kafe, Yuyun segera memesan menu.“Menu makan siang satu paket,” ucapnya.Pelayan kafe segera memberikan nomor meja untuknya. Yuyun berjalan menuju ke meja dan menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, Yuyun menopang dagunya. Dia teringat dengan Mita. Ekspresi yang Mita tunjukkan padanya siang ini benar-benar sosok yang sudah putus asa.“Padahal dari dulu Mas Rangga sudah pacaran sama aku sejak aku belum menikah sama Mas Devan. Bahk
Rangga tergoda dan mulai menikmati tubuh Yuyun kembali. Dilucutinya seluruh baju Yuyun satu-persatu hingga Yuyun kembali telanjang bulat tanpa mengenakan apa pun. Rangga melumat gundukan berbulu di depan hidungnya. Dikecupnya bukit tersebut dengan penuh gairah.“Akhhh, Mas, oukhh,” desah Yuyun sambil menggoyangkan bokongnya maju mundur untuk menikmati sapuan lidah Rangga.Sisi erotis yang dimiliki Yuyun membuat Rangga kecanduan. Rangga merasa gila hingga tidak bisa puas hanya melakukannya sekali.“Seksi sekali, menggairahkan, dan cantik,” pujinya sambil membawa Yuyun rebah di atas tubuh atletisnya.Rasa-rasanya meski sudah menyentuh tubuh asistennya tersebut berulangkali dia masih tetap ingin melakukan hubungan intim dan sangat sulit sekali untuk berhenti.“Mas,” bisik Yuyun sambil mengurut kejantanan Rangga yang sudah tegang sejak Rangga menciumi area intim Yuyun beberapa menit yang lalu.“Kamu nakal banget Yun, bikin aku tegang terus, bangun lagi tongkatku
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







