Beranda / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 44 : ADU MULUT

Share

BAB 44 : ADU MULUT

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 07:51:58
Dewa membeku seketika. Pria itu menyipitkan mata, merapatkan wajahnya ke arah kaca film mobil yang gelap. Dari celah luar, ia melihat ponsel milik Zea berpendar terang di atas dasbor.

​Nama Sagara terpampang jelas di layar yang terus bergetar.

​Ngapain laki-laki itu menghubungi Zea lagi?! batin Dewa dengan raut wajah memerah, menahan ketegangan yang mendadak membakar dadanya.

​"Pak Dewa?" tegur Bu Hana lagi, memutar tubuhnya penuh rasa curiga. "Itu suara HP siapa ya di dalam mobil?"

​Dew
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
kalo aku jadi mahasiswa disitu aku bakal nyeletuk deh "elah, ini bukan lg pembahasan Hukum Pidana Perdata, tp udah maen perasaan. apa2an hubungan bapak dengan zea?" wkwkwkwk kasian amat si Manda, susah hati ngeliat kelakuan sahabat sendiri. Wa cukup2 ngerjain calon bini Wa. ntar nyesal lo. mksh kak
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
masalah hati pake undang²..........kocak emang kamu mas dewa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Chemistry Chapter   BAB 47 : BRANKAR IGD

    "Bagaimana kondisinya sekarang?!" ​"Pasien saat ini sedang dalam penanganan tim medis kami akibat benturan. Pihak keluarga diminta untuk segera datang ke rumah sakit guna pengurusan tindakan medis lebih lanjut." ​"Saya segera ke sana," cetus Dewa cepat, langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasan. ​Dewa menyambar kunci mobil dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak sepucat kertas, diwarnai kepanikan luar biasa yang gagal ia sembunyikan. ​"Mas Dewa? Ada apa?" Dika berdiri dari kursinya, matanya membelalak melihat ekspresi sang atasan. "Rapat kita gimana? Pembahasan bukti blok C belum selesai—" ​"Rapat ditunda. Tangani sisanya, Dika," potong Dewa dingin, suaranya penuh akan perintah yang tak bisa dibantah. ​Tanpa mempedulikan tatapan terperangah dari seluruh tim hukumnya, Dewa membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin menerobos pintu kaca ruang rapat, meninggalkan area perkantoran dengan berlari. *** Langka

  • Chemistry Chapter   BAB 46 : KEPANIKAN DEWA

    Langkah kaki Zea yang menghentak keras membelah kesunyian koridor Fakultas Hukum. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya tidak dibiarkan jatuh begitu saja. ​"Bisa-bisanya!" gerutu Zea seraya mengusap kasar sudut matanya. "Tadi pagi cemburu-cemburu nggak jelas gara-gara Sagara! Nyuruh gue nulis lima lembar resume tulisan tangan sampai jari gue mau copot! Eh, jam dua siang malah ngacir pergi mesra-mesraan sama si Tante Genit!" ​Zea menghentak tas-nya yang sempat merosot dari bahunya dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju gerbang kampus. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berpikir jernih. Logika dan gengsinya, kalah oleh rasa cemburu dan rasa dikhianati. Kalau Dewa pikir dia bisa mempermainkan perasaan Zea begitu saja, maka Dewa salah besar! BUGH!! ​"Aduh!" Zea mengaduh kencang saat dahi mulusnya menghantam dada bidang seseorang yang berdiri kokoh tepat di depan gerbang. Benturan yang cukup keras itu membuat Zea terdorong ke belakang dan hampir saja jatuh terl

  • Chemistry Chapter   BAB 45 : KERTAS REMUK

    Zea menatap layar ponselnya serius, jemarinya lincah menari-nari mengetik sebuah pesan: ​[Sagara, bisakah kita berhenti komunikasi? Aku tidak ingin tunanganku marah-marah kalau sampai tahu aku masih komunikasi dengan teman laki-laki.] ​Tinggal satu sentuhan lagi pada tombol kirim untuk mengakhiri drama "panggilan" ini. Namun, sebelum jempolnya sempat mendarat, sebuah tepukan heboh mendarat mulus di bahunya dari arah belakang! ​"Kasihan banget temen gue... Minum dulu nih, capek ya habis dibantai?" panggil Manda setengah berbisik, sadar betul kalau mereka saat ini sedang berada di dalam ruang perpustakaan kampus yang tenang. ​Manda langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Zea seraya menyodorkan segelas minuman dingin boba favorit sahabatnya. ​"Aaaaa, thanks beb!" sahut Zea girang, refleks mengurungkan niat mengirim pesan dan menyambar minuman itu penuh sukacita. ​"Btw, Ze... walaupun lo itu asisten penelitiannya Pak Dewa, plis deh jangan lagi-lagi ngelawan dia pakai kalimat

  • Chemistry Chapter   BAB 44 : ADU MULUT

    Dewa membeku seketika. Pria itu menyipitkan mata, merapatkan wajahnya ke arah kaca film mobil yang gelap. Dari celah luar, ia melihat ponsel milik Zea berpendar terang di atas dasbor. ​Nama Sagara terpampang jelas di layar yang terus bergetar. ​Ngapain laki-laki itu menghubungi Zea lagi?! batin Dewa dengan raut wajah memerah, menahan ketegangan yang mendadak membakar dadanya. ​"Pak Dewa?" tegur Bu Hana lagi, memutar tubuhnya penuh rasa curiga. "Itu suara HP siapa ya di dalam mobil?" ​Dewa berdehem kaku. "Maaf, Bu Hana. Itu... ponsel saya yang satu lagi tertinggal di dalam. Bunyi alarm pengingat agenda." Bu Hana tertawa nyaring sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aduh, Pak Dewa ini ada-ada saja! Pakai punya dua HP segala, kayak pejabat! Ya sudah kalau begitu, saya ke ruang dosen duluan ya. Jangan lama-lama di parkiran, Pak. Nanti saya kangen!" ​Bu Hana mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan melangkah pergi. Dewa refleks mengelus dadanya, meng

  • Chemistry Chapter   BAB 43 : KUCING-KUCINGAN

    Zea menggigit croissant cokelatnya penuh penghayatan, mengunyah pelan sembari melirik Dewa berkali-kali dari sudut matanya. Entah mengapa, efek setelah memaafkan kesalahan pria kaku di sampingnya ini sungguh ajaib. Dewa yang sedang fokus mengemudi dengan kemeja tergulung rapi hingga siku itu mendadak kelihatan seratus kali lebih tampan di mata Zea. ​"Kenapa ngelihatin aku terus?" tanya Dewa tiba-tiba. Tatapannya tetap lurus menatap jalanan di depan, namun ada garis senyum tipis yang geli mengikat sudut bibirnya. ​Zea tersentak kaget sampai hampir tersedak remahan croissant. "Hah?! Si-siapa yang ngelihatin?!" kilah Zea cepat. ​Gadis itu mendadak melemparkan pandangannya ke jendela kiri, berpura-pura mengamati deretan pohon dan bangunan di luar dengan ekspresi paling serius seolah-olah ia sedang meneliti tata kota. ​Dewa menahan tawa renyah di tenggorokannya. Dari pantulan kaca jendela mobil, pria itu bisa melihat dengan sangat jelas betapa merahnya kedua telinga calon istrinya

  • Chemistry Chapter   BAB 42 : CROISSANT DAN SENYUMAN

    Pagi ini suasana hati Zea masih belum sepenuhnya pulih. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat dan kelopaknya yang sembap akibat menangis semalaman. Dengan gerakan lambat, ia bangkit dari tempat tidur lalu melirik jam di atas meja nakas. Baru pukul enam pagi. ​Zea menguap selebar-lebarnya, sama sekali tak ada anggun-anggunnya. Tangannya naik mengacak-acak rambut panjangnya yang mekar tak beraturan, sukses mengubah penampilannya persis seperti singa jantan yang baru bangun tidur. Dari atas kasur, matanya melirik pantulan dirinya di cermin besar sisi kanan kamar. ​"Duh... cantik banget sih calon istrinya Pak Pengacara Sadewa Adiraja yang terhormat ini!" gerutu Zea, memuji dirinya sendiri dengan nada manja khas wanita-wanita elegan. ​Ia menepuk-nepuk pipinya kencang. "Oke, fix! Lu harus semangat hari ini, Zea. Jangan sampai pesona anak muda lu kalah sama tante-tante berumur itu!" ​Dengan penuh tekad membara, Zea bangkit berdiri... lalu BRUK! Ia sukses tersungkur akibat kakiny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status